Bung Karno, Pelukis “Ngeyel”

Tentang Sukarno sebagai pelukis… sudah beberapa kali saya tulis…. Tentang Bung Karno sebagai penulis naskah drama (tonil), juga sudah beberapa kali disenggol. Tentang Bung Karno sebagai penari (lenso), banyak kita lihat di foto-foto. Tentang Bung Karno sebagai pencipta lagu? Kita tahu lagu “Di Timur Matahari” yang cukup ngetop…. Tentang Bung Karno sebagai penyair, teramat banyak puisi yang ditulisnya…. Belum termasuk jika kita memasukkan surat-surat cintanya yang terkadang begitu puitis dan liris.

Sudahlah. Capek juga menderet talenta Bung Karno dan karya-karya yang dilahirkan dari hati, otak, dan tangannya. Sejatinya, Bung Karno adalah genius. Tetapi kalau ada yang keberatan dengan sebutan itu, baiklah kita sebut saja Bung Karno sebagai sosok serba-bisa. Rasanya yang ini tak terbantahkan.

Nah, ihwal kebiasaan dan kebisaannya melukis, diakui bukan saja oleh orang awam, tetapi juga oleh para pelukis ngetop pada zamannya. Sebut saja Dullah. Ia kita kenal sebagai pelukis Istana Kepresidenan pada era 1950 – 1960. Selain Dullah lengser, masuk Lee Man-fong dan Lim Wasim, sebagai pelukis Istana periode berikutnya.

Dullah pernah bertutur, Bung Karno bukan saja pengagum lukisan, tetapi juga seorang pelukis yang baik. Dullah mengaku pernah didaulat menjadi pembimbing Bung Karno, khusus dalam hal seni melukis. “Meski kenyataannya sering kebalik, yang dibimbing justru berbalik membimbing pembimbingnya…he… he… he… he… lha wong Bapak kan orangnya suka ngeyel (membantah-red),” tutur Dullah.

Sejumlah lukisan karya Bung Karno sempat dipublikasikan. Sepanjang hayatnya, Bung Karno sejatinya adalah pelukis yang cukup produktif. Terlebih jika kita gunakan patokan sejak ia masih menjadi aktivis pergerakan kemerdekaan dengan mengasuh majalah Fikiran Ra’jat maupun Soeloeh Indonesia. Di kedua media massa cetak yang ia pimpin itu, Bung Karno acap merilis lukisan karikatur karya pribadinya. Untuk karya karikatur, ia sering menggunakan nama samaran.

Kebiasaan melukis juga terasah manakala ia hidup di pembuangan. Bahkan di Ende ia sempat melahirkan sejumlah karya lukis. Di museum Bung Karno yang ada di Ende, Pulau Bunga, hingga kini masih ada lukisan karya Bung Karno. Lukisan itu tentang ritual pemujaan masyarakat Hindu Bali di sebuah pura.

Masih di Ende, ingatkah kita bahwa ia juga seorang sutradara dan penulis naskah tonil yang hebat? Bukan hanya itu. Sebagai pimpinan tonil, sutradara, sekaligus penulis naskah, Bung Karno juga melukis background atau kain latar pertunjukan tonil dari grup tonil Kelimutu yang dipimpinnya.

Jika ditanya, bagaimana kondisi lukisan-lukisan karya Bung Karno saat ini? Ada yang utuh dan bertahan, tetapi tidak sedikit yang raib. Lukisan yang hilang, bisa karena diambil oleh yang bukan berhak, atau karena rusak. Sebab, seperti dituturkan Dullah, dalam berbagai kesempatan senggang, Bung Karno menulis di atas kertas menggunakan car air. Nah, lukisan jenis ini, banyak yang sudah rusak. (roso daras)

About these ads
Published in: on 2 Juni 2010 at 13:41  Komentar (3)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/06/02/bung-karno-pelukis-ngeyel/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. bung karno memang sosok yang jarang ada, biasanya kalau orang hebat bisa apa aja.

  2. begitu besar jasa bung karno untuk bangsa ini, sebagai generasi bangsa, kita harus mengenalnya, salah satunya dengan membaca kisah ataupun biografi Ir. Soekarno. Dengan begitu, mungkin kita bisa terinspirasi oleh kisah heroik beliau.

  3. Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya.
    Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah.
    Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.

    Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
    Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
    Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.
    Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.
    Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.
    Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
    Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.
    Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
    Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 327 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: