Koesalah Soebagyo Toer, Merayakan Ultah Bung Karno di Moskow

Lagi, sang kala menggulirkan kesempatan kepada saya menjumpai satu tokoh bersejarah, Koesalah Soebagyo Toer. Dia seorang penulis, budayawan, dan tentu saja mantan narapidana yang dijebloskan ke penjara oleh rezim Orde Baru. Kurang lebih 10 tahun waktunya dihabiskan di tahanan mulai dari tahanan di Gunung Sahari V hingga LP Salemba, Jakarta Pusat.

Dijumpai di kediamannya di bilangan Depok, Jawa Barat, Koesalah tampil sederhana. Fisik masih tampak bugar, meski pendengarannya mulai menurun. Berbicara tentang Bung Karno, ekspresi semangat menyemburat dari rona wajah yang penuh gurat sejarah. “Saya Sukarnois!” ujarnya spontan.

Koesalah remaja, diboyong ke Jakarta oleh kakaknya, Pramoedya Ananta Toer bersama dua saudara yang lain. “Setelah ibu meninggal, saya dan dua saudara yang lain tinggal bersama ayah. Nah, ketika ayah saya wafat, kami bertiga langsung diboyong ke Jakarta dan tinggal di rumah mas Pram,” tutur Koesalah menceritakan awal mula ia ke Jakarta.

Oleh Pram, ia diajari menulis… menulis apa saja: cerpen, novel, puisi, prosa, bahkan joke-joke. Ia bahkan diajak serta bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), sebuah sanggar aktivitas seniman-seniwati yang berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia (PKI).ย  Koesalah muda bahkan kemudian terlibat aktif sebagai anggota sebuah ansamble tari dan musik.

Nah, sebagai anggota ensamble tari dan musik itulah, Koesalah dan grupnya beberapa kali tampil di Istana Negara, di hadapan Presiden Sukarno, para pejabat tinggi negara serta para tamu negara. Sudah menjadi kebiasaan, usai acara, Bung Karno akan menghampiri semua seniman untuk menyalaminya satu per satu. Itulah pengalaman pertama kali Koesalah disalami Bung Karno.

Hari-hari berikutnya, Koesalah mengisinya dengan beragam kegiatan. Selain menekuni dunia tulis-menulis seperti kakaknya, Koesalah juga menekuni beragam aktivitas lain, hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa untuk belajar di Moskow. Ia pun belajar ke sana atas beban biaya negara.

Selama di Rusia, ia mengalami banyak peristiwa baik yang menyangkut perjalanan hidup pribadinya, maupun pasang surut Republik Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara. Termasuk mengalami saat-saat hubungan dua negara dan dua kepala negara yang begitu intim: Rusia dan Indonesia, Kruschev dan Bung Karno.

Bahkan pernah suatu ketika di tahun 1958, saat Bung Karno berkunjung ke Rusia, bulannya bulan Juni, melewati tanggal kelahirannya, tanggal 6. Bertepatan peringatan ulang tahun Bung Karno itulah, Kedutaan Besar RI di Moskow menggelar suatu perayaan sederhana. Koesalah sebagai salah satu mahasiswa Indonesia di Rusia, juga hadir. “Lagi-lagi, saya berkesempatan disalami Bung Karno…he…he…he…,” tutur Koesalah pula.

Kembali dari Moskow, ia pun menjadi pegawai Departemen Pendidikan dan Pengajaran sebagai guru dan dosen bahasa Rusia. Sebelum ia dipecat dari statusnya sebagai PNS, setelah dipecat, dan hingga hari ini, kekagumannya kepada Bung Karno tak pernah pupus. “Saya Sukarnois. Saya bangga sebagai bangsa yang pernah memiliki seorang presiden bernama Sukarno,” ujarnya.

Di mata Koesalah, di antara semua pejuang kemerdekaan, di antara semua tokoh pergerakan, Bung Karno-lah yang pantas dan layak ditempatkan pada urutan nomor satu. “Dia berjuang dan berkorban dengan sangat sadar. Dia menerjang risiko sebagai pejuang dengan sangat sadar. Dia menabrak tembok kolonialisme dengan sangat sadar. Terlalu besar pengorbanan Bung Karno bagi bangsa dan negara Indonesia,” ujar Koesalah.

Sayang, kata Koesalah, nama besarnya ditenggelamkan. Gagasan dan ajarannya dinafikan. Lebih disayangkan lagi, manakalnya putrinya, Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden, tidak ada pembelaan dan langkah-langkah pemulihan nama besar dan semua ajaran bapaknya. (roso daras)

Iklan
Published in: on 21 Mei 2010 at 02:25  Comments (4)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/05/21/koesalah-soebagyo-toer-merayakan-ultah-bung-karno-di-moskow/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. hmm… di dinihari mendapat pencerahan soal pahlawan saya. ๐Ÿ™‚

    meskipun saya bukan Sukarnois sejati, namun saya bangga sebagai manusia Indonesia yang pernah memiliki presiden sekelas Bung Karno. ๐Ÿ˜€

  2. Menarik sekali ulasan anda mengenai Pak Koesalah, menurut saya dia tidak sedikit pun kalah besar dari abangnya Promoedya. Ulasan dan terjemahannya selalu menarik dan khas

  3. Apakah saya bisa dibantu untuk memperoleh alamat pa Koesalah Soebagyo Toer. Sudah pernah diberikan alamat di Depok, tapi buku catatan saya hilang, termasuk telepon pa Koes. Terima kasih sebelumnya.

    • Maaf Bung Silaen, sblm balas komen Anda, saya sudah lacak nomor telepon beliau, tetapi tidak ketemu. Catatan alamat beliau pun tidak/belum ketemu. Saya hanya ingat lokasinya. Dari Margonda belok kanan ke arah Perumnas I. Setelah fly over, putar balik. Di samping jembatan fly over belok kiri. Ikuti jalan itu terus (aggak berbelok-belok), sekitar 700 meter. Rumah beliau kanan jalan (tidak jauh dari bengkel mobil). Jangan ragu bertanya masyarakat sekitar. Semoga informasi ini membantu. Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: