Bung Karno dan Ahmadiyah

Semoga bukan sesuatu yang usang jika “hare gene” bicara soal Ahmadiyah. Akan tetapi, topik Ahmadiyah rasanya memang tidak akan pernah usang. Terlebih jika ini berkaitan dengan sosok proklamator Bung Karno. Bahwa ternyata, sejak Indonesia belum merdeka hingga hari ini –dan niscaya hingga kapan pun– persoalan Ahmadiyah tidak akan pernah ada habisnya.

Bayangkan, entah untuk maksud diskredit, atau maksud mencari dukungan, Bung Karno pernah dikabarkan sebagai pendiri Ahmadiyah dan propagandis Ahmadiyah di bagian Celebes (Sulawesi). Bagi yang anti-Sukarno, berita itu bisa dijadikan alat untuk mendiskreditkannya. Sementara bagi penganut Ahmadiyah, “mencatut” nama besar Bung Karno sebagai pendiri Ahmadiyah, bisa menjadi alat propaganda yang luar biasa.

Kabar itu ditiupkan sekitar tahun 1935, tahun di mana Bung Karno (dan keluarga) hidup dalam pembuangan di Endeh. Kabar itu dibawa kawan Bung Karno yang baru datang dari Bandung. Ia mengabarkan bahwa suratkabar Pemandangan telah memasang entrefilet atau semacam maklumat yang menyebutkan bahwa Bung Karno telah mendirikan cabang Ahmadiyah sekaligus menjadi propagandis Ahmadiyah bagian Celebes (Sulawesi).

Saat kabar itu diterima, suratkabar Pemandangan belum lagi sampai di Endeh. Tapi Bung Karno percaya dengan si pembawa kabar. Karenanya, ia berpesan kepada temannya itu untuk langsung melakukan counter, bantahan. “Katakan, bahwa saya bukan anggota Ahmadiyah, jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya. Apalagi buat bagian Celebes! Sedangkan pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh!” tegas Bung Karno.

Bung Karno sendiri menengarai, dikait-kaitkannya nama dia dengan Ahmadiyah, sangat mungkin karena intensitasnya mempelajari agama (Islam) selama di Endeh. Ia bersurat-suratan dengan H. Hassan, seorang ulama dari Persatuan Islam yang tinggal di Bandung. Surat-surat keagamaan antara Bung Karno dan Hassan bahkan menjadi kajian yang sangat menarik bagi para pemerhati Islam.

Sekalipun begitu toh, dalam salah satu surat Bung Karno kepada A. Hassan ia menyampaikan terima kasihnya kepada Ahmadiyah. Entah terima kasih untuk apa. Yang jelas, dalam surat tersebut, Bung Karno juga menuliskan sikapnya, “Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang nabi dan belum percaya pula bahwa dia seorang mujadid.” (roso daras)

Iklan
Published in: on 1 Mei 2010 at 16:26  Comments (4)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/05/01/bung-karno-dan-ahmadiyah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ahmadiyah oh Ahmadiyah……

  2. Selamat hari senin Juragan..
    Semoga apa yang Juragan alami pada hari senin ini membawa kebahagiaan dalam hidup Juragan..

    Salam AnakBangsa..
    Salam Perubahan..

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2010/04/30/peraturan-sederhana-hidup-bahagia/

  3. http://sinarislam.wordpress.com/2007/08/17/soekarno-tentang-ahmadiyah/

    Assalamualaikum, wr. wb.,

    Apa kabar Indonesia, apa kabar semuanya

    Bagaimanakah penilaian Sang Proklamator Republik Negeri ini tentang Ahmadiyah?

    Kliping pertama dari Juru tik ini tidak bermaksud meraih simpati anda karena teraniaya-nya “kami Ahmadi” di negeri yg sudah merdeka ini, namun agar anak2 negeri sedikit-banyak mendapatkan informasi yang benar dari sumber ahmadiyah sendiri, seperti bagaimanakah tokoh proklamator ini mengenal ahmadiyah? karena itu perlu juga disampaikan pandangan beliau tersebut.

    Judulnya : Soekarno tentang Ahmadiyah, terbitan Sinar Islam bulan Nubuwwah 1356 HS (Nopember tahun 1977). Tulisan sembilan halaman (hal.2-10) dari salah seorang ahmadi ini diberikan sebagai jawaban pihak ahmadiyah atas tulisan Fawzy Sa’ied Thaha yg telah memotong-motong beserta membuat kesimpulannya sendiri tentang pandangan sang proklamator (Di Bawah Bendera Revolusi) itu terhadap ahmadiyah di majalah Al-Muslimun, No.84 hal.47-51. Ustadz bernama Fawzy Sa’ied Thaha itu telah berusaha mendiskreditkan hubungan Ahmadiyah dengan Soekarno.

    Soekarno adalah seorang yang terpelajar dimasa itu. Sikap baik sangkanya lah yg telah meninggalkan goresan tintanya dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi … Mudah2an tulisan seorang ahmadi ini dapat memberikan informasi tambahan buat pembaca. Selamat membaca… !

    [] Sinar Islam bulan Nubuwwah 1356 HS/Nopember tahun 1977) No.11 – Th XLVI

    Soekarno tentang Ahmadiyah

    oleh Syafi R. Batuah

    Sebagaimana pada tiap tanggal 17 Agustus pada tahun-tahun sebelumnya juga pada tanggal 17 Agustus tahun ini telah dibacakan kembali dengan khidmat proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Hal ini insya Allah akan berlaku seterusnya dalam masa datang.

    Dengan begitu dalam sejarah Republik Indonesia akan tetap dicatat bahwa yang telah berjuang dan menghantar Indonesia ke kemerdekaan adalah kedua tokoh itu. Hal ini tidak berkurang nilainya, sekalipun Soekarno sebagai Presiden pertama dari negara merdeka Indonesia kemudian telah melakukan tindakan penyelewengan, sehingga badan tertinggi yang mewakili segenap rakyat Indonesia terpaksa memecatnya dari kedudukannya sebagai Kepala Negara.

    Bagi Soekarno sendiri hasil perjuangannya untuk kemerdekaan tanah airnya tentu memberi kepuasan kepadanya. Kadang-kadang ia menengok kepada masa silam yang puluhan tahun lamanya di waktu mana dalam perjuangan untuk kemerdekaan itu ia bukan saja bergulat melawan kekuatan penjajah yang sangat besar, tetapi kadang-kadang ia juga mendapat tikaman belakang dari sebagian bangsanya sendiri yang tidak suka dengan sikap dan cara perjuangannya. Dalam pidato-pidatonya sewaktu ia memegang jabatan Presiden Indonesia ia sering mengemukakan usaha-usaha yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak setuju dengan siasat yang dilakukannya untuk pembebasan bangsa dan tanah airnya dari belenggu penjajahan.

    Perjuangan Soekarno disalahkan
    Dalam salah satu pidatonya itu ia menyebut-nyebut seorang ulama Islam terkenal yang dikatakannya peranakan keling atau India. Ulama itu mengatakan di masa perjuangan kemerdekaan pada tahun-tahun tigapuluhan bahwa perjuangan Soekarno berdasarkan kebangsaan tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Islam. Meskipun Soekarno tidak menyebut-nyebut nama ulama itu namun orang yang sedikit saja mengikuti sejarah kemerdekaan Indonesia akan mengetahui bahwa ulama yang dimaksud Soekarno itu ialah A.Hassan, pemimpin Persatuan Islam. Karena ulama inilah yang mengeluarkan pendapat demikian terhadap Soekarno pada masa penjajahan. Maka itu dapatlah dimengerti kalau Soekarno sesudah kemerdekaan dalam pidatonya itu menyindir-nyindir ulama itu seakan-akan hendak mengatakan: Perjuangan saya yang kamu salahkan itu ternyata berhasil dan kamu sendiri dengan golonganmu ikut juga menikmati kemerdekaan yang kuperjuangkan.

    Soekarno boleh lebih puas dengan suatu kenyataan lain. Sekalipun ia bukan pemimpin Islam dan hanya seorang pemimpin kebangsaan yang beragama Islam ia berhasil melakukan ibadah haji dalam masa kemerdekaan. Sebaliknya A.Hassan yang mengaku pemimpin yang membela Islam tidak sampai jadi naik dan hanya sampai di Jiddah saja.

    Dalam usahanya menentang Ahmadiyah A.Hassan merembet-rembet hubungan Soekarno dengan Ahmadiyah. Ia tidak senang terhadap sikap dari Ahmadiyah yang sejak tahun-tahun tiga puluhan menghargai perjuangan yang dilakukan oleh Soekarno untuk kemerdekaan Indonesia, lebih-lebih atas hubungan yang baik antara Ahmadiyah dan Soekarno.

    Karena penghargaan yang baik ini pihak Ahmadiyah pernah bermaksud mencalonkan Soekarno menjadi ketua dalam suatu perdebatan dengan Pembela Islam. Atas ini Pembela Islam mengejek-ngejek, “Oleh sebab menerima kasih dan tha’at kepada kaum-kaum asing yang memerintah itu, nabi tuan-tuan katakan wajib, maka tidakkah lebih baik tuan-tuan beri nasihat kepada sahabat tuan-tuan, tuan Soekarno, supaya beriman kepada ‘wahyu’ dari ‘tuhan’ yang ‘mengutus’ tuan-tuan punya Mirza?” (Risalah Mirza-iyah 3, hal. 56, Persatuan Islam, 1933).

    Insinuasi
    Kini juga seorang penulis, Fawzy Sa’ied Thaha, yang berustadz kepada A.Hassan dalam tulisannya pada Al-Muslimun, No.84 hal.47-51 berusaha mendiskreditkan hubungan Ahmadiyah dengan Soekarno. Ia menginsinuasikan seakan-akan Soekarno adalah lawan Ahmadiyah. Ia mengutip tulisan Soekarno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, jilid I. Tetapi cara pengutipannya dilakukannya dengan curang. Ia berbuat seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi, sebagaimana dikatakan oleh Al-Qur’an. Seperti orang-orang Yahudi yang menukar-nukar kalimat demikian pula Fawzy memotong-motong kalimat pemimpin besar Indonesia itu. Ia hanya menyebutkan bagian kalimat yang pertama dan meninggalkan bagian yang kedua. Padahal seluruh kalimat itu bermula dengan perkataan “Maka oleh karena itulah, walaupun ………. “. Siapapun yang pernah belajar bahasa Indonesia mengerti bahwa sesuatu kalimat memakai perkataan “walaupun” menghendaki bagian kalimat yang bersifat pelengkap. Bahkan tekanan arti seluruh kalimat terletak pada bagian kalimat yang merupakan pelengkap itu. Tetapi Fawzy telah membuang bagian kalimat yang bersifat pelengkap itu. Dengan begitu ia berusaha hendak memfokuskan perhatian orang pada bagian permulaan saja dari kalimat itu. Tetapi pemalsuannya itu tidak akan berhasil memperdayakan orang-orang.

    Kalimat Soekarno itu seluruhnya berbunyi, “Maka oleh karena itulah, walaupun ada beberapa pasal dari Ahmadiyah tidak saya setujui dan malahan saya tolak, misalnya mereka punya “pengeramatan” kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan mereka punya kecintaan kepada imperialisme Inggris, tokh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rationeel, modern, broadminded dan logis itu” (hal.346)

    Bagian yang dicetak miring ini dibuang dalam kutipan Fawzy. Justru bagian itu tidak kurang pentingnya, bahkan bagian itu adalah konpensasi buat bagian yang terdahulu. Tetapi Fawzy, sesuai dengan prinsipnya “het doel heiligt de middelen”, emmebuang bagian kalimat penting itu, karena ia kuatir bahwa para pembaca akan terpengaruh oleh makna positif dari kalimat itu.

    Salut penghormatan

    Kutipan berikut ini, yang diambil dari buku Di Bawah Bendera Revolusi itu juga (jilid I), menunjukkan bagaimana pandangan Soekarno tentang Ahmadiyah. Ia menulis, “Ya,……. Ahmadiyah tentu ada cacadnya, – dulu pernah saya terangkan di dalam suratkabar Pemandangan apa sebabnya saya tidak mau masuk Ahmadiyah – tetapi satu hal adalah nyata sebagai batukarang yang menembus air laut: Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya. Buat jasa ini – cacad saya tidak bicarakan di sini – ia pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. Salut penghormatan dan terima kasih itu, marilah kita ucapkan kepadanya di sini dengan cara yang tulus dan ikhlas” (hal.389).

    Mengenai pengaruh Ahmadiyah terhadap pemikiran orang-orang terpelajar Indonesia, Tempo dalam edisinya 21 September 1974 berkata, “Bila seorang khatib muda naik di mimbar Jum’at dan ‘mengupas” Bibel dan mengutip Muhammad Ali, atau kadang Mirza Basyiruddin tanpa menyebut sumber, dan dengan itu telah mengesankan keluasan berfikir yang cukup, galibnya ia tidaklah bermaksud mempropagandakan Ahmadiyah. Fikiran-fikiran Ahmadiyah itu telah demikian saja merupakan satu bagian tak terpisahkan dari pemikiran Islam mutakhir” (hal.50. Hasil dari penulis, Sinyalemen ini berlaku juga terhadap Soekarno. Pahamnya mengenai Islam banyak terpengaruh oleh ajaran-ajaran Ahmadiyah, dan ia sangat berterima kasih atas itu, namun ia bukanlah orang Ahmadiyah seperti dikatakanya.

    Kalau orang membaca tulisan-tulisan atau mendengar pidato-pidato dari Soekarno mengenai yang berhubungan dengan agama Islam dengan teliti orang sering akan menemukan bahwa sumber pendapatnya itu adalah buku-buku Ahmadiyah. Soekarno sering menyebut-nyebut ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin di waktu menunjukkan tingkat-tingkat pengetahuan manusia. Pembagian tingkat-tingkat ini diambilnya dari buku The Teachings of Islam buah tangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.

    Membantu Ahmadiyah
    Terhadap ilmu-ilmu yang dikembangkan oleh Ahmadiyah dengan buku-buku penerbitannya, Soekarno bukan saja berterima kasih, bahkan ia bertindak lebih jauh lagi, yakni membantu Ahmadiyah secara moril bila Ahmadiyah berada dalam kesulitan. Bantuan ini diberikannya terutama sekali diwaktu ia sudah menjadi Presiden Republik Indonesia. Hal ini tidak bisa dibukakan di waktu ia emmangku jabatannya itu, karena tindakan itu akan menyulitkan kedudukannya. Kini hal itu dapat diterangkan dan keterangan-keterangan ini terutama sekali diperolah dari Sayyid Shah Muhammad Al Jailani, bekas Amir Mubaligh Jem’aat Ahmadiyah Indonesia, seorang sahabat dan kenalan baik dari Soekarno. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan dan umur yang panjang kepadanya.

    Pada waktu akan bertemu pertama kali dengan Soekarno di Yogya Syah Muhammad menyediakan sebuah buku untuk dipersembahkan kepada Kepala Negara R.I itu yang judulnya ialah Ahmadiyat or The True Islam karangan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. Di waktu menyerahkan buku itu Shah Muhammad berkata kepada Soekarno dengan ucapan: “Jika keterangan-keterangan dalam buku ini dapat menembak hati Paduka Yang Mulia dan Paduka Yang Mulia mengakui kebenaran keterangan-keterangan itu maka saya mohon agar Paduka Yang Mulia, sebagaimana Paduka Yang Mulia dengan berani telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, juga berani memproklamasikan keimanan Paduka Yang Mulia berdasarkan keterangan-keterangan itu.” Ucapan yang berani tetapi tulus ikhlas ini dari seorang mubaligh Ahmadiyah sangat menyentuh hati sanubari Soekarno. Ia segera bangun dari duduknya dan dengan mata digenangi air mata ia menjabat tangan Shah Muhammad sambil berkata berkali-kali: “La hawla wala quwwata illa billahil azhim. Do’akanlah.”

    Sementara mereka minum-minum Soekarno mengatakan kepada Shah Muhammad “Saya sangat terharu dan berterima kasih sedalam-dalamnya atas pernyataan dan bantuan Y.M Imam Jem’aat Ahmadiyah mengenai perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang disiarkan oleh Antara dan dimuat dalam harian-harian Indonesia, antaranya harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Beliau sangat bijaksana dan kami bangsa Indonesia merasa berutang budi kepada beliau atas bantuan moral yang tidak ternilai itu.” Yang dimaksud Soekarno ialah Kedaulatan Rakyat 10-12-1946. Selanjutnya Soekarno berkata “Saya sangat gembira dan terima kasih kepada tuan atas segala bantuan dan perjuangan serta darma bakti pada bangsa kami dan pemerintah di daerah kabupaten Kebumen.” Kemudian Soekarno menganjurkan kepada Shah Muhammad supaya pindah dari Kebumen ke Yogyakarta agar keduanya sering dapat bertemu dan bertukar pendapat mengenai agama, lagi pula karena di Yogya lapangan dan kesempatan untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia lebih luas. Sesuai dengan anjuran ini Shah Muhammad pindah ke Yogya.

    Sikap Soekarno yang berhati terbuka terhadap Ahmadiyah ini sampai diketahui juga oleh Imam Jem’aat Ahmadiyah. Oleh karena itu ketika beliau mendengar bahwa Presiden Indonesia itu akan berkunjung ke Pakistan beliau memerintahkan kepada Shah Muhammad, yang ketika itu sudah menjabat Amir Mubaligh Ahmadiyah Indonesia dan berkedudukan di Jakarta, supaya menyampaikan undangan beliau kepada Soekarno agar dalam rangka kunjungannnya ke Pakistan itu Presiden Soekarno dapat juga datang berkunjung ke Rabwah, pusat Jem’aat Ahmadiyah.

    Oleh Shah Muhammad undangan dari Imamnya itu segera disampaikan secara lisan kepada Soekarno. Soekarno bersedia menerima undangan itu dan menyarankan agar Jema’at Ahmadiyah di Pusat (Pakistan) menghubungi Pemerintah Pakistan dan minta kepadanya supaya dalam acara kunjungan resmi Presiden Soekarno ke Pakistan dicantumkan kunjungan ke Rabwah. “Tentu mereka akan mengirimkan acara itu kepada saya untuk meminta persetujuan saya. Dari pihak saya okey,” demikian kata Soekarno. Tetapi oleh karena kesulitan-kesulitan teknis Soekarno tidak jadi mengunjungi Rabwah. Namun Soekarno memerintahkan Duta Besarnya di Karachi, Dr. Haji Rasyidi, supaya berkunjung ke Rabwah. Kepada Shah Muhammad ia juga memerintahkan supaya berangkat segera ke Pakistan untuk mendampingi Haji Rasyidi dalam kunjungan itu.

    Sambutan Rabwah
    Secara besar-besaran dan dengan kibaran bendera merah putih pada setiap rumah, Rabwah menyambut kedatangan Duta Besar Haji Rasyidi yang disertai oleh istri dan seorang puterinya. Ia berada di pusat Jema’at Ahmadiyah itu selama tiga hari sebagai tamu Jema’at Ahmadiyah.

    Pada suatu jamuan resmi yang khusus diadakan untuk menghormati Haji Rasyidi dan dihadiri pemimpin-pemimpin dan ulama-ulama Ahmadiyah, Haji Rasyidi memberikan suatu kata sambutan yang isinya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada pejuang Ahmadiyah sebagi suatu golongan Islam. Dalam pidato itu Haji Rasyidi begitu jauh dihanyutkan emosinya sehingga ia mengucapkan kata-kata berikut ini sambil menunjuk kepada Shah Muhammad yang duduk di sampingnya dan kepada Almarhum Malik Aziz Ahmad Khan dan Almarhum Abubakar Ayyub yang duduk agak didepannya: “Jika tidak karena orang-orang semacam saudara-saudara ini serta kawan-kawannya maka Jawah Tengah sudah lama ditelan Kristen.” Pidato bernyala-nyala dari Haji Rasyidi itu sangat menarik hadirin pada pertemuan itu. Shah Muhammad sendiri membuat notulen dari isi pidato itu dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Urdu. Pemimpin harian Al-Fadhal di Rabwah minta pertimbangan Haji Rasyidi apakah pidatonya boleh dimuat dalam hariannya. Haji Rasyidi menyerahkan keputusan tentang hal itu kepada Shah Muhammad. Shah Muhammad berpendapat bahwa pidato itu tidak usah disiarkan karena hal itu akan menyulitkan kedudukan Haji Rasyidi sebagai Duta Besar. Hal ini terjadi pada akhir bulan September 1957.

    Zafrullah mencela Raja Faruk
    K.H. Wahid Hasyim dalam sebuah karangannya, yang termuat dalam buku Sejarah Hidup K.H.A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar yang dihimpun oleh H. Abubakar, berceritera tentang keadaan Raja Faruk. Antara lain ia menceriterakan bahwa Zafrullah Khan, ketika itu Menteri Luar Negeri Pakistan, datang berkunjung kepada Raja Faruk dengan suatu rencana untuk menyelenggarakan suatu pertemuan antara Perdana Menteri negara-negara Islam. Wahid Hasyim berkata: “Kepadanya (Faruk, pen.) beliau (Zafrullah, pen.) memajukan uraian pendek menyatakan bahwa kini dunia telah memandang negara-negara Islam itu sebagai faktor penting dalam menentukan politik Internasional. Dalam pada itu beliau menyatakan penyesalannya, bahwa penghargaan dunia pada negara-negara Islam itu kadang-kadang lalu mendapat gambarakn jelek karena beberapa pembesar negara Islam kurang berhati-hati dalam hidup privenya. Orang boleh bersenang-senang tetapi janganlah menyolok mata. Waktu itu Faruk berdiri seketika dan meninggalkan tempat dan tidak kembali lagi hingga si tamu (Zafrullah Khan) keluar dengan tidak dapat berpamitan. Besoknya Faruk memanggil Syekh Al-Azhar, disuruhnya menyatakan bahwa Zafrullah itu seorang pengikut Ahmadiyah Qadian, yang menganggap nabi Ghulam Ahmad, mengapa pemerintah Pakistan memakai orang yang ke luar dari Islam itu buat menjadi Menteri Luar Negeri?” (hal.716).

    Rupanya perkataan Zafrullah Khan itu sangat menyinggung perasaan Raja Faruk. Sama sekali ia tidak menduga bahwa Zafrullah, seorang “Qadian”, akan berani terus-terang menegur sikap seorang raja negara Arab yang besar, seorang tokoh yang oleh sebagaian kaum Muslim pernah dicalonkan untuk menjadi Khalifah Islam. Tetapi sejarah kemudian membenarkan apa yang dituduhkan Zafrullah kepada Faruk. Sesudah Faruk digulingkan oleh suatu revolusi yang mula-mula dipimpin Najib dan kemudian diteruskan oleh Nasser terbongkarlah rahasia kemewahan dan kekotoran cara hidup calon khalifah itu. Dan dibawah bantal di tempat tidurnya terdapat pistol dan gambar-gambar porno.

    Sambutan Natsir
    Pernyataan Syekh Azhar atas perintah Faruk itu tersiar ke seluruh dunia dan mendapat sambutan hangat pada golongan-golongan yang menentang Ahmadiyah, terutama sekali di Pakistan. Dari ulama-ulama yang anti Ahmadiyah di negara itu datanglah desakan bertubi-tubi kepada Perdana Menteri Pakistan supaya ia segera mencopot Zafrullah Khan dari kedudukannya sebagai Menteri Luar Negeri. Berita pernyataan Syekh Al-Azhar itu dan agitasi ulama-ulama Pakistan terhadap Zafrullah Khan itu sampai pula ke Indonesia. Di samping yang menyokong kedua hal itu di Indonesia ada pula yang tidak setuju dengan itu. Di antaranya majalah Hikmah 19 Juli 1952 yang dipimpin oleh M.Natsir.

    Majalah itu memuat suatu tulisan redaksional yang membela Zafrullah dari serangan-serangan keji itu. Antara lain tulisan itu berkata, “mencap kafir kepada sesama kawan Islam itu saja sudah cukup besar dosanya, maka alangkah besarnya dosa orang yang mencap kafir kepada kawan seagama justru pasa waktu kawan itu sedang dalam pergulatan membela keagungan Islam?” Kursif dari penulis.

    Karena tulisan itu bersifat redaksional maka pemimpin umum majalah yang memuatnya bertanggung jawab penuh terhadap tulisan itu dan menyetujui sepenuh isinya. Jadi M. Natsir adalah setuju dengan isi tulisan itu. Bahkan boleh dikatakan bahwa tulisan itu adalah buah: tangan Natsir sendiri. Hal ini dapat dilihat dari perkataan “kawan itu” yang dipakai dalam tulisan itu. Perkataan ini hanya dapat dipakai oleh seorang yang menganggap dirinya setaraf atau sederajat dengan Zafrullah Khan yang berkedudukan menteri itu. Dalam segenap staf Hikmah itu hanya Natsir sendirilah yang dapat memakai perkataan itu sehubungan dengan Zafrullah Khan.

    Jadi pada waktu itu M. Natsir mengagggap Ahmadi Zafrullah Khan khususnya dan semua Ahmadi umumnya sebagai sesama kawan Islam dan kawan seagama dan mereka bergulat untuk membela keagungan Islam. Ini terjadi pada tahun 1952. Tetapi dua puluh dua tahun kemudian yakni pada tahun 1974 pendapat M. Natsir berobah seratus delapan puluh derajat. Dalam berita yang disiarkan oleh Panji Masyarakat 15 Mei 1974 M. Natsir mengatakan bahwa Qadianisme, maksudnya Ahmadiyah, adalah golongan yang memusuhi Islam. Kenapa timbul perobahan ini? Adakah suatu perobahan pada ajaran atau sikap Jema’at Ahmadiyah sehingga pandangan M. Natsir terhadap golongan itu berobah pula? Sama sekali tidak. Zafrullah yang dibelanya pada tahun 1952 itu masih tetap Ahmadi sebagaimana semula. Dan kaum Ahmadi umumnya masih teteap mempunyai kepercayaan dan sikap sepertu dulu-dulu juga.

    Dalam berita yang disiarkan oleh Panji Masyarakat 15 Mei 1974 itu disiarkan bahwa M. Natsir antara lain berkata, “Kami menghadapi bermacam-macam arus yang memusuhi Islam, baik yang berupa Zionisme, komunisme, Qadianisme dan misi asing.” Perkataan ini dikutip oleh brosur Pernyataan Tentang Peristiwa Ahmadiyah di Pakistan, 1974. Penulis Fawzy Sa’ied Thaha itu mengutip pula dari brosur Pernyataan … (Al-Muslimun, No.84, hal.48). Tetapi ia telah melakukan kecurangan lagi. Kata “memusuhi” ia tukar dengan perkataan “memasuki”. Lalu ia bertanya apakah Negarawan Muslim Indonesia ini, maksudnya M. Natsir, termasuk pula ke dalam “lawan Ahmadiyah?”

    Dalam perkataan yang dikutip secara putar balik oleh Fawzy itu memang tidak terlihat bahwa Natsir adalah lawan Ahmadiyah. Tetapi dalam perkataan aslinya jelas bahwa M. Natsir menganggap Ahmadiyah adalah lawannya, bahkan lebih lagi, karena ia menggunakan perkataan “memusuhi”. Sebelum itu tak ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa M. Natsir adalah memusuhi Ahmadiyah. Malahan sebaliknya ia membela Ahmadiyah, dalam hal ini Zafrullah, dari serangan-serangan kaum anti Ahmadiyah. Kenapa Natsir kemudian berobah radikal dalam pendiriannya terhadap Ahmadiyah, hanya dia sendiri yang tahu.

    Bertindak
    Mengetahui agitasi yang dilakukan oleh ulama-ulama Pakistan terhadap Zafrullah Khan dan juga sambutan yang dilahirkan oleh lawan-lawan Ahmadiyah terhadap pernyataan Syekh Al-Azhar itu maka S. Shah Muhammad segera bertindak untuk menangkis serangan-srangan itu. Ia mendatangi beberapa tokoh terkenal di Indonesia yang jujur dan tidak takut mengemukakan kebenaran, sekalipun akan dimusuhi oleh orang-orang lain. Antara lain ia menemui Mr. Jusuf Wibisono seorang tokoh Masyumi yang jujur dan berani. Menurut pengakuannya ia banyak membaca buku-buku Ahmadiyah dan banyak hal-hal yagn dikemukakan dalam buku-buku itu dibenarkannya, tetapi ia sendiri bukan seorang Ahmadi (Tempo, 21 September 1974). Sebagai hasil dari pembicaraan Shah Muhammad dengan Jusuf Wibisono maka yang belakangan ini menulis serangkaian karangan dalam Harian Mimbar Indonesia yang isi pokoknya mengeritik Pemerintah Pakistan, padahal Zafrullah sudah berjasa besar untuk dunia Islam, khususnya Paksitan.

    Tidak lama sesudah tulisan-tulisan Jusuf Wibisono itu tersiar Shah Muhammad diminta datang oleh Duta Besar Pakistan di Jakarta, Choudry Muddabbir Husein. Dengan suara merendah Duta Besar itu memohon kepada Shah Muhammad supaya ia menghentikan usaha-usahanya mengkeritik Pemerintah Pakistan. Ia berkata: Apa yang ditulis dalam Mimbar Indonesia itu telah menimbulkan akibat yang berat bagi Paksitan. Ia sudah dipanggil menghadap oleh Presiden Indonesia. Dengan nada keras Presiden Soekarno menyalahkan kejadian hura-hura anti Ahmadiyah dan Zafrullah Khan dan menyesalkan Pemerintah Pakistan atas sikap mas bodohnya terhadap Zafrullah Khan. kemudian Presiden Soekarno berkata Duta Besar Pakistan itu: Sampaikan segera kepada pemerintahmu, kalau Pemerintah Pakistan terus membiarkan keadaan itu berlarut-larut dan tidak berusaha mengatasinya dengan segera, maka kami akan meninjau kembali apa perlu pemerintah Indonesia melanjutkan hubungan diplomatik dengan pemerintah semacam itu.

    Duta Besar itu mengatakan pada Shah Muhammad bahwa ia telah meneruskan peringatan Presiden Soekarno itu ke Karachi. Oleh karena itu ia minta dengan sangat kepada Shah Muhammad supaya menghentikan usahanya mengkeritik Pemerintah Pakistan itu dan berkata bahwa akibat yang sudah ada sudah cukup berat bagi Pakistan. Dan Duta Besar itu berkata pula bahwa ia sendiri sangat menghomati Zafrullah Khan. Untuk membuktikan perkataanya ia mengeluarkan dari sakunya sehelai kertas dan mencium kertas itu. Ia menjelaskan kepada Shah Muhammad bahwa kertas itu adalah sebuah surat Zafrullah kepadanya yang disimpannya sebagai kenang-kenangan yang amat berharga.[]

    Waalaikumsalam, wr. wb.,

  4. BUNG HATTA, Putra Utama Bangsa Indonesia
    Diterbitkan 14 Maret, 2009 Al-Quran , ahmadiyah , bung , bung hatta , hatta , indonesia , islam , majalah , merdeka , sejarah , tokoh 1 Comment

    [] Sinar Islam bulan Ihsan 1359 HS/Juni tahun 1980) No.6 – Th XLVIII, hal. 40-46.

    Mengenang Pribadi Besar, Sederhana, dan Jujur

    BUNG HATTA Putra Utama Bangsa Indonesia

    oleh : Sayyid Shah Muhammad al-Jaelani – Mubaligh Ahmadiyah

    Di dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 27 dan 28, Allah swt. berfirman: “Segala sesuatu di atas bumi akan binasa. Dan yang akan tetap tinggal untuk selama-lamanya hanya Wujud Tuhan engkau, Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan”.

    Sesuai dengan firman Allah di atas, seorang hamba Allah, Dr. Mohammad Hatta, telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada tanggal 14 Maret 1980. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Berita kemangkatannya bagaikan petir di siang hari bolong. Itulah suratan takdir, bahwa setiap orang yang dilahirkan pasti akan mengalami saat ketika ia harus minum piala maut. Dengan perasaan haru dan sedih, saya segera mengirimkan telegram menyatakan rasa dukacita dan belasungkawa kepada Ibu Rahmi Hatta atas musibah yang menimpa keluarganya.

    Saya mengenal almarhum secara pribadi sejak permulaan tahun 1947, ketika untuk pertama kalinya saya menghadap beliau di kediaman beliau yang terletak di samping Gedung Kepresidenan di Jogjakarta. Waktu itu saya menghadiahkan sebuah kitab berjudul Ahmadiyyat or True Islam, karya Hadhrat Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II.

    Dalam perjumpaan untuk pertama kali itu saya mendapat kesan, bahwa kepribadian yang beliau miliki amat menarik: ramah, jujur dalam ucapan dan tindakan, dan sederhana.

    Perkenalan dengan beliau lebih diakrabkan setelah saya pindah dari Kebumen ke Jogjakarta atas ajakan almarhum Bung Karno*, untuk turut aktif dalam perjoangan kemerdekaan tanah air Indonesia, selama masa perjoangan di Jogjakarta dengan restu Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dengan karunia Allah. Selama kurang lebih tiga tahun saya mendapat kesempatan yang berbahagia berjumpa dan berkomunikasi lewat percakapan yang intim dengan beliau, kalau tidak ratusan mungkin puluhan kali. Saya sangat terkesan bukan saja oleh keterpelajarannya, tetapi juga disiplin pribadi beliau menjaga waktu, menepati janji, mentaati peraturan Allah, dan menjunjung tinggi etika pergaulan.

    Saya dapat mengenangkan kembali peristiwa, tatkala pihak Belanda melancarkan agresinya yang ke-2 dan menduduki ibukota sementara RI, Jogjakarta, Dwi Tunggal – Bung Karno dan Bung Hatta – beserta beberapa pimpinan lainnya ditawan dan diasingkan ke pulau Bangka oleh pihak Belanda. Saat itu sungguh merupakan saat yang pahit bagi perjoangan bangsa Indonesia. Mengetahui bahwa Bung Hatta gemar membaca buku-buku agama, saya mengirimkan kepada beliau di tempat pengasingan itu beberapa buah kitab agama terbitan Jemaat Ahmadiyah melalui Palang Merah Internasional.

    Pada tahun 1949 tiba saatnya Dwi Tunggal, Bung Karno dan Bung Hatta, beserta pemimpin-pemimpin lainnya — di antaranya, almarhum Haji Agus Salim, Mr. A.G.Pringgodigdo, Laksamana Udara Suryadarma, dan Mr. Ali Sastroamijoyo — kembali di tengah-tengah masyarakat Jogjakarta dengan mendapat sambutan yang menggelora. saya sendiri, sebagai anggauta Panitia Pemulihan Pemerintahan RI Pusat ( yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantoro) mendapat kehormatan menjemput pemimpin-pemimpin bangsa itu di lapangan terbang Maguwo. Saya tidak lupa akan saat ketika saya menjabat tangan Bung Hatta; beliau sempat mengucapkan terima kasih atas bingkisan buku-buku yang pernah saya kirimkan kepada beliau tempo hari itu.

    Seorang Pencinta Al-Qur’an

    Setelah penyerahan kedaulatan dari pihak Belanda ke tangan RI, pusat pemerintahan RI pindah dari Jogjakarta ke Jakarta.

    Sekitar tahun 1950 saya berkesempatan menghadiahkan kepada almarhum kitab The Holy Quran with English Translation and Commentary, Jilid I. Saya persembahkan kitab itu atas nama Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Kitab itu merupakan kitab tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Inggris, terdiri dari 10 juz pertama, disusun oleh beberapa sarjana dan ulama Jemaat Ahmadiyah dibawah asuhan Hadhrat Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II r.a. Dua tahun kemudian, yakni tahun 1952, saya sempat menghadiahkan lagi jilid keduanya, yang terdiri dari 5 juz berikutnya.

    Sekitar tahun 1959 beliau jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, menempati bagian pavilium Cendrawasih. Sekali perisitwa saya bersama istri saya memerlukan melayat beliau. Ketika kami sampai di paviliun Cendrawasih, kami dapati seorang jururawat wanita duduk di depan kamar beliau. Ketika kami nyatakan maksud kami, ia menunjuk kepada sebuah tulisan pada sebuah papan yang tergantung di pintu kamar, berbunyi : Dr. Mohammad Hatta, tidak diperkenankan menerima tamu selain keluarganya. Prof. Dr. Aulia.

    Dengan perasaan sedikit kecewa kami terpaksa harus kembali. Tetapi, sebelum meninggalkan tempat itu kami minta kepada perawat itu sehelai kertas dan saya menuliskan nama saya pada kertas itu dengan berpesan kepada perawat itu agar secarik kertas itu disampaikan kepada Bung Hatta dan menitipkan salam dari kami berdua. Kami melangkah ke luar dari pavilum itu. Baru saja kami melangkah sejauh 100 meter, terdengar langkah-langkah orang setengah berlari dari belakang dan memanggil-manggil nama saya, “Bapak Sayyid …. Bapak Sayyid!”

    Ketika saya menoleh kebelakang, barulah saya mengetahui yang memanggil-manggil itu kiranya jururawat Bung Hatta. Ia menyilahkan kami kembali, karena Bung Hatta menghendaki sendiri berjumpa. Maka masuklah kami ke kamar tempat beliau berbaring. Kami diterima beliau dengan wajah berseri-seri dan keramahan yang khas beliau.

    Di tengah percakapan beliau berucap, “Tafsir Al-Qur’an dua buah yang telah Pak Sayyid berikan kepada saya itu saya bawa di sini. Dan saya suka membacanya di sini,” seraya jari beliau menunjuk ke sebuah pojok kamar, tempat sebuah meja kecil terletak, yang di atasnya terdapat kedua kitab Tafsir yang beliau maksudkan. Hal itu cukup memberikan citra betapa beliau cinta kepada Kalam Allah. Tak ada hiburan yang beliau anggap lebih mengasyikkan dalam keadaan beliau sakit selain menelaah firman Allah. Yang beliau pilih justru tak lain ialah Kitab Tafsir dari Jemaat Ahmadiyah. Suatu peristiwa yang sungguh melegakan hati saya.

    Ketika kami hendak minta diri akan pulang, beliau mengatakan supaya kami jangan pulang dahulu dan menunggu sampai tibanya istri beliau (Ibu rahmi Hatta) yang baru saja pulang ke rumahnya dan sebentar akan datang, dan beliau juga memang tidur di Cendrawasih. Karena sudah lebih setengah jam kami sudah berada di situ, maka kami mohon diri dan sebelum meninggalkan kamar beliau saya berjanji akan mengirimkan beberapa buah kitab karya Jemaat sebagai bahan bacaan bagi beliau.

    Sesuai dengan janji itu, esok harinya saya kirim satu bingkisan berisi buku-buku karya Hadhrat Khalifatul Masih II dan para alim ulama Jemaat. Bingkisan tersebut diantarkan oleh Sdr. Hamid Ahmad Sukarjo. Ketika Sdr. Sukarjo sampai di paviliun Cendrawasih di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, kebetulan Bapak I. Wangsa Widjaja, Sekretaris pribadi Bung Hatta, ada di sana. Beliau menanyakan kepada Sdr. Sukarjo mengenai isi bingkisan itu, dan beliau agak keberatan untuk menyampaikannya kepada Bung Hatta, khawatir bisa menganggu ketenangan beliau, sebab beliau, menurut dokternya, diharuskan beristirahat betul-betul. Tiba-tiba Prof. Dr. Aulia muncul dan langsung menanyakan kepada Pak Wangsa, “Ada apa itu?” Pak Wangsa menjawab bahwa ada yang mengirimkan setumpukan buku-buku. Prof. Aulia melihat sepintas lalu bingkisan tersebut dan mengatakan kepada pak Wangsa “Berikanlah saja ini kepada Bung Hatta, ini merupakan makanan baginya.”

    Maka bingkisan tersebut akhirnya disampaikan kepada Bung Hatta. Esoknya Pak Wangsa Widjaja menyampaikan kepada saya salam dan rasa terima kasih dari Bung Hatta atas kiriman bingkisan “makanan” tersebut itu.

    Bingkisan yang dikirimkan itu berisi lebih dari dua puluh kitab, di antaranya: Introduction to the Study of the Holy Quran, Life of the Holy Prophet Muhammad, The Economic Structure of Islamic Society, New World Order, Where Did Jesus Die?, Message of Ahmadiyah, Islam and Communism, Forty Gems, The Hadits, Meaning of Khataman Nabiyyin, Our Teaching, Tafsir Surah Al-Fatihah, Mi’raj dan Isra Nabi saw., Menyingkap keraguan dan Fatwa Allama Mahmud Syaltut, Apakah Ahmadiyah itu, dan lain-lain.

    “Sudah saya baca”

    Sekitar tahun 1962 saya mendapat karunia Tuhan untuk sekali lagi mempersembahkan Tafsir Al-Qur’an jilid ketiga, terdiri dari 10 juz lanjutan. Beliau pun menerimanya dengan suka cita dan tak lupa beliau emngucapkan terima kasih.

    Sekitar tahun 1968 Bapak Sahibzada Mirza Mubarak Ahmad, kepala departemen dakwah Islam dari Jemaat Ahmadiyah Pusat, berkunjung ke Indonesia dari Rabwah, Pakistan. Dalam kunjungan itu beliau memerlukan berkunjung kepada almarhum Bapak Dr. Mohammad Hatta di kediaman beliau, Jl. Diponegoro 57, Jakarta. Delegasi terdiri dari Sahibzada Mirza Mubarak Ahmad, sekretaris pribadi beliau M. Basyarat Ahmad, Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Moertolo SH, Sdr. H.S. Yahya Pontoh, Sdr. R. Haji Hadi Iman Sudita SH, dan saya sendiri. Delegasi diterima beliau dengan segala senang hati, meski pun beliau baru bangun dari sakit beberapa minggu sebelumnya.

    Di tengah percakapan mengenai kegiatan dakwah Ahmadiyah di Eropa dan lain-lain negeri, almarhum langsung berkata kepada saya, “Pak Sayyid, Tafsir dua puluh lima juz dulu sudah saya baca. Saya menunggu-nunggu yang lima juz terakhir. Sampai kini belum saya terima.” Bapak Mirza Mubarak Ahmad Sahib, setelah saya berikan penjelasan apa yang diucapkan Bapak Hatta, berkata dalam bahasa Inggeris, “It is now waiting for you” (Kitab itu sekarang menantikan Anda). Karena itu saya mengeluarkan dari tas saya Kitab Tafsir yang beliau maksudkan, yaitu terdiri dari 5 juz terakhir, lalu saya menyerahkannya kepada Sahibzada Sahid untuk beliau serahkan kepada Bung Hatta. Bung Hatta bangkit dan berjalan menuju ruang tengah dan kembali membawa ketiga jilid Tafsir yang sudah lebih dahulu beliau terima. Beliau menerima jilid yang terakhir dengan senang hati dan langsung membuka dan melihat-lihatnya dengan penuh minat (seperti nampak pada foto). Nyata benar betapa jiwa beliau merindukan sekali bacaan yang berkenan dengan keagamaan dan betapa cinta beliau kepada Kitab Allah.

    Orang Besar dengan Jiwa Besar

    Saya mempunyai pengalaman pribadi yang mencerminkan watak beliau. Beliau dengan saya adalah seibarat gunung dengan sebuah batu kerikil. Namun, alangkah besar perhatian beliau terhadap seorang kenalan yang tidak berarti sebagaimana halnya saya.

    Sekitar tahun 1976 saya jatuh sakit, kena serangan jantung. Oleh dokter yang biasa merawat saya, malam hari itu juga saya disuruh masuk ke ruang ICCU, tempat penderita penyakit jantung gawat, di RSUP Dr. Cipto Mangunkusuma. Secara kebetulan sekretaris pribadi Bapak Hatta, Bapak I. Wangsa WIjaya memergoki saya di eawat di sana. Rupa-rupanya beliau menceriterakan hal itu kepada Bung Hatta, ternyata dari kedatangan Bung Hatta secara tak terduga bersama Ibu melayat saya. Masih segar diingatan saya kata-kata beliau menghibur saya. Betapa besar saya merasa terharu mengingat beliau seorang besar, putra utama bangsa indonesia, ko-proklamator kemerdekaan di samping Bung Karno. Beliau siapa dan saya siapa! Tetapi budi luhur dan jiwa besar beliau menggugah hati beliau memerlukan menjenguk seorang kenalannya yang hina sedang menderita sakit. Hal itu cukup menunjukkan kerendahan hati beliau yang murni. Kemudian saya mendapat layatan lagi 2 kali dari beliau bersama-sama Pak Wangsa. Jadi selama 22 hari saya dirawat di ICCU saya mendapat kehormatan kunjungan beliau tiga kali.

    Akhlak beliau serupa itu sesuai dengan ajaran Nabi Besar Muhammad saw., bahwa, “Jika di antaramu ada yang sakit tengoklah dia, dan jika ada yang wafat di antaramu antarkanlah dia ke kuburan.”

    Bung Hatta adalah milik bangsa Indonesia. Nama yang diberikan oleh ayahnya adalah Athar, artinya wangi-wangian. Secara alamiah beliau benar-benar seorang Aththaar — pembuat, penjual, dan penyebar wangi-wangian. Beliau sudah tiada, namun beliau yang harum menyebarkan wangi semerbak ke mana-mana. Di samping beliau seorang pecinta Al-Qur’an dan agama Islam, beliau adalah penyebar dan pendekar patriotisme, penggembleng nasionalisme berdasarkan demokrasi kerakyatan. Beliau berhasil dalam cita-cita perjoangan bangsanya dan mendapat karunai dari Tuhan menjadi ko-proklamator kemerdekaan bersama rekan perjoangannya, Bung Karno.

    Kita, 140 juta bangsa Indonesia, sungguh berhutang budi kepada kedua-dua putera utama bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta. Semoga Tuhan memberi kesadaran dan taufik kepada bangsa Indonesia yang telah dinaikan derajatnya oleh kedua beliau ke puncak kemuliaan, supaya dapat meneruskan dan mensukseskan cita-cita perjoangan mereka. Semoga Tuhan memberi pahala yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa mereka kepada bangsa dan tanah air Indonesia.

    Satu hal yang patut kita catat ialah, pernah Rasulullah saw. bersabda, “Ceriterakanlah yang baik mengenai saudaramu yang meninggal dunia,” maka sesuai dengan ajaran itu setelah Bung Karno wafat, tidak pernah keluar dari mulut Bung Hatta sepatah kata pun yang mengecilkan nama baik dan kehormatan Bung Karno. Suatu sifat yang sungguh patut ditiru oleh setiap mukmin.

    Pada saat-saat golongan tertentu dan orang-orang vested interest sibuk memalsukan serta menggelapkan sejarah mengenai filsafat negara RI “Panca Sila”, maka Bung Hatta dengan tegas dan secara jujur membongkar usaha pemalsuan tersebut dengan menyatakan dan disertai bukti-bukti bahwa Panca Sila itu adalah inspirasi pribadi Bung Karno yang dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di muka sidang Badan “Dokuritzu Zyunbi Tyoo Sakai” (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) di bawah pimpinan Ketua Badan tersebut almarhum Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, dicetuskannya sebagai Filsafat Negara Indonesia Merdeka.

    Almarhum Bung Hatta pada detik-detik akhir hayatnya pun tetap menunjukkan sikap juur serta korektif mengenai sejarah perjoangan Bangsa Indonesia secara murni. Beliau segera angat suara, untuk membantah hal-hal yang sekiranya sengaja atau tidak sengaja hendak memalsukkan sejarah perjoangan Bangsa Indonesia.

    Bung Hatta tetap berada di tengah-tengah rakyat dengan wasiatnya yang terakhir minta agar beliau dimakamkan di tengah-tengah rakyat jelata. Jasadnya sudah tiada, namun namanya yang harum akan tetap hidup selama bangsa dan tanah air Indonesia ada.

    Hidup Indonesia!

    Hidup Soekarno-Hatta!
    http://sinarislam.wordpress.com/2009/03/14/bung-hatta-putra-utama-bangsa-indonesia/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: