Tidak Penting untuk Dibaca

Sungguh ini sebuah perjalanan yang unik. Saya, bersama seorang teman sedia menjumpai seseorang di Purworejo, Jawa Tengah. Apa lacur, “kepancal” orang Jawa Bilang… yang dituju belum lama pergi menuju Surabaya. Mungkin bermaksud tidak mengecewakan, kawan yang sungguh enerjik itu usul, “Bagaimana kalau kita lanjut ke Magelang? Saya kenal putranya sopir Bung Karno….”

Sirna kecewa, muncul semangat baru. Meluncurlah kami ke Magelang. Hingga di pusat kota, kami putar arah, belok kiri, belok kanan, sampailah di sebuah perkampungan pinggiran kota. Kendaraan harus diparkir di tepi jalan, dan perjalanan pun dilanjutkan menuruni undak-undakan yang tidak terlalu curam. Di bawah sana, tampak bangunan ruman sederhana. Itulah rumah yang kami tuju.

Pintu tertutup. Jendela tertutup. Hanya saja “aroma” Bung Karno sudah tercium. Di dinding kaca sebelah kanan, tertempel stiker Bung Karno. “Ah… tidak salah,” gumam saya…, “bakal jadi cerita menarik….”

Pintu diketuk, semenit-dua, seorang perempuan membukakan pintu. Manakala kami mengemukakan maksud kunjungan, tak lama tuan rumah pun keluar. Jeda antara kami duduk menunggu dan kemunculan tuan rumah, cukup bagi saya untuk memotret beberapa objek menark di ruang tamu.

Ada lukisan Bung Karno yang belum selesai diletakkan di lantai, disandarkan begitu saja. Di salah satu dinding, tergantung foto Bung Karno bersebelahan dengan pajangan empat bilah keris. Saya sendiri tidak menangkap kesan magis, kecuali kesan “menarik”.

Tuan rumah keluar, teman saya pun bertukar kabar, berbasa-basi, dan bla…bla…bla…. Saya? Jadi tukang “gong”, mengiyakan, mengangguk, ikut tertawa, dan ikut merokok…. Edan!!! Apa yang saya dapat… tidak ada, kecuali mendengarkan teman saya bertukar kabar, bertukar berita, bertukar pengalaman. Walhasil, berhamburanlah kata demi kata di sekeliling saya tanpa saya bisa memutus.

Kurang lebih satu jam, teman saya pamit. Saya melongo… ikut berdiri, bersalaman, dan pergi…. Dengan hati masygul saya menegur teman saya, “Sampean gimana sih… saya kan belum ngobrol soal suka-duka beliau sebagai putra dari sopirnya Bung Karno. Sekalipun anak sopir, tapi ini sopir istimewa Bung! Sopir Bung Karno! Dan saya ingin tahu banyak tentang bapaknya bersama Bung Karno….”

“Oooh… gampang… besok-besok kesana lagi. Sekarang ayo saya ajak minum dawet hitam yang istimewa….” (roso daras)

Iklan
Published in: on 10 April 2010 at 18:00  Comments (4)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/04/10/tidak-penting-untuk-dibaca/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wow…penggemar sukarno ya….sama dong.
    salam.

  2. Judulnya provokatif banget…ketika dibaca..waduh belum klimaksnya udah di cut..kejam banget…

  3. hehehe….nyebelin ya temennya.

  4. Ada lanjutanya ndak Bung ceritanya….? kok ya jd penasaran pengen tahu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: