Takut Dibenci Anak

Anda tahu apa yang paling ditakutkan Bung Karno dalam hidupnya? Bukan jeruji besi. Bukan intimidasi Belanda. Bukan pembuangan. Bukan pula percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Hanya satu ketakutan Bung Karno, takut dibenci anak. Hingga ajal menjemput, ketakutan itu memang tidak pernah terjadi. Ia begitu disayang putra-putrinya.

Ketakutan dibenci anak, menghinggapi relung sanubari Bung Karno, saat anak-anaknya (terutama dari Fatmawati) beranjak remaja menjelang dewasa. Saat nalar dan naluri berkembang, mereka mulai memiliki kemampuan untuk berpendapat. Saat benak dan otaknya berkembang, mereka mulai berani mengemukakan pendapat.

Ada banyak kejadian, putra-putri Bung Karno menampakkan ketidaksukaannya di saat Bung Karno menghabiskan hari Jumat hingga Senin di Istana Bogor, bersama Ibu Hartini dan dua putranya (Taufan dan Bayu). Sikap-sikap berontak itu disampaikan dengan cara yang berbeda, antara Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh.

Bung Karno bukannya tidak tahu. Dia paham betul. Sekalipun begitu, Bung Karno menyikapi dengan sangat hati-hati. Tidak pernah sekalipun Bung Karno marah atas sikap putra-putrinya yang mulai kritis. Bung Karno tidak pernah mengambil sikap keras apa pun manakala mereka mulai berunjuk rasa.

Terhadap putra-putrinya yang “berontak”, Bung Karno menyikapi dengan lembut, akrab, dan memendam emosi. Bahkan, tanpa sepengetahuan putra-putrinya, Bung Karno sering memanggil para pengasuh mereka. Nah, kepada para pengasuh itulah Bung Karno “curhat”. Penutup curhat tentang kelakuan putra-putrinya adalah sebuah pesan bernada titipan, “Tolong jaga dan beri pengertian anak-anak. Jangan sampai mereka membenci saya.”

Bagi Bung Karno, anak adalah hal utama. Sering terjadi kisah menarik, manakala untuk mengistimewakan anak, terpaksa istri muda harus mengalah. Satu contoh adalah pada saat Bung Karno menggelar wayang kulit di Istana. Protokol sudah mengatur tempat duduk sedemikian rupa. Ketika itu, Bung Karno baru saja memperistri Harjatie, mantan pegawai Setneg yang pandai menari.

Nah, Harjatie sempat tersinggung dan marah kepada Bung Karno, karena disuruh duduk di bangku deretan kedua. Sementara ada satu kursi kosong di sebelah kiri Bung Karno di deret terdepan. Kursi itu dibiarkan kosong sampai akhirnya datang Megawati dan langsung duduk di kursi kosong di samping kiri bapaknya. Ya, Bung Karno lebih mengutamakan putrinya daripada istri mudanya. Karena apa? Ia tidak takut dibenci istri muda, tetapi sangat takut dibenci anak. (roso daras)

Published in: on 23 Maret 2010 at 09:09  Comments (3)  
Tags: , , , , ,

Asap Mengepul dari Rambut Rachma

Rachmawati Soekarnoputri, putra ketiga Bung Karno dari Fatmawati punya banyak kenangan manis tentang bapaknya. Salah satunya adalah kebiasaan Bung Karno di meja makan. Sebab, sarapan bersama putra-putrinya adalah hal yang wajib Bung Karno lakukan jika sedang tidak di luar Istana.

Adalah Rachma yang selalu mengambil kursi di sisi meja sebelah kanan Bung Karno. Sambil sarapan, tidak seperti putra-putri yang lain, maka Rachma sangat intens mencermati cara makan bapaknya. Darinya ia hafal betul, bapak suka sayur sayuran yang segar, menyenangi daging yang empuk, dan menyukai sambal yang digerus halus, dan tanpa biji cabe.

Selesai makan, seperti biasa, Bung Karno mengambil buah-buahan. Selalu dan tak pernah lupa, Bung Karno membagi buah yang dimakannya kepada putra-putrinya. Rachma paling sering mendapat jatah buah yang dimakan bapaknya. “Pendek kata, dalam hal makanan, Bapak memperhatikan mutu,” ujar Rachma.

Terakhir… ritual merokok…. Usai makan dan menyantap buah, Bung Karno mengambil rokok “triple 5” kaleng. Diambilnya sebatang, dinyalakan, dan asap pun berkepul-kepul. Sampai pada tahap ini, Rachma masing sering memandangi Bapaknya. Karenanya ia hafal betul, jarang sekali Bung Karno merokok sampai habis. Ia segera mematikan rokok saat rokok baru setengah terbakar.

Nah, hisapan terakhir inilah yang sering disebulkan di ubun-ubun Rachmawati. Asap yang ditiupkan di rambut Rachma, tentu saja menyisakan kepulan asap dari atas kepala. Apalagi, putri-putri Bung Karno semua memanjangkan rambutnya. “Saya sangat senang kalau Bapak melakukan itu….” ujar Rachma.

Nah, setelah semua asap disemburkan ke ubun-ubun Rachma, biasanya sambil berdiri Bung Karno tertawa dan berkata, “Naaah… rambutnya kebakaran… makanya selalu pirang seperti rambut jagung….” Bung Karno tertawa, Guntur, Mega, Sukma, dan Guruh pun terpingkal-pingkal…. (roso daras)

Published in: on 20 Maret 2010 at 11:22  Comments (4)  
Tags: , , ,

Sasak Rambut pun Dikempiskan

Ini kutipan kisah yang dilansir dari mulut seorang Megawati Soekarnoputri. Moral kisah yang ia kemukakan adalah sebuah pendidikan kepribadian bagi wanita Indonesia. Penuturan ini dikemukakan tahun 80-an, dan penuturan yang ia sampaikan adalah kejadian tahun 60-an, saat ia diajak bapaknya, Bung Karno, menghadiri sebuah acara jamuan yang dihadiri ibu-ibu.

Megawati mengiringi langkah bapaknya yang seperti biasa, berjalan gagah mendatangi barisan para tetamu dan menyalaminya satu per satu dengan sangat ramah. Pada saat itulah, Megawati melihat raut wajah bapaknya memerah seperti menahan marah. Mega yang biasa dipanggil “Gadis” oleh bapaknya, tahu betul bahwa ada sesuatu yang tidak berkenan di benak bapaknya. Apakah sesuatu itu? Mega tidak tahu.

Barulah ketika Bung Karno sampai di depan seorang ibu, berdandan dengan sangat cantik, berkain-kebaya dengan anggun… tapi… ya, tetapi satu hal yang membuat Bung Karno tidak berkenan, yaitu pada tatanan rambutnya yang kelewat menjulang tinggi karena disasak. Spontan usai menyalami ibu-ibu itu, Bung Karno mengangkat tangan kanannya persis ke arah atas kepala ibu itu, dan kemudian menekannya ke bawah. Ya, mengempiskan sasakan rambut ibu itu.

Usai menekan sasak ibu itu, tanpa berkomentar apa pun, Bung Karno langsung bergeser ke ibu-ibu di sebelahnya, dan kembali melanjutkan ritual menyalami sisa barisan yang ada. Megawati menyaksikan itu semua. Dan dia sangat penasaran, sehingga ketika sampai di rumah, ekspresi ketidaktahuan tentang sikap bapaknya tadi, masih membekas.

Bung Karno, tak lama kemudian, memanggil Megawati dan langsung mengemukakan hal yang benar-benar menggantung di saraf gelisah Megawati. “Gadis…,” Bung Karno membuka kata, “Tahu mengapa Bapak marah sama ibu tadi?” Antara tahu dan tidak, Mega menganggukkan kepala. Bung Karno seolah menganggap Mega tidak tahu, sehingga ia pun melanjutkan kalimatnya, “Ibu itu tidak menunjukkan keprbadian Nasional!”

Mega uluk tanya, “Lalu, bagaimana berkepribadian Nasional itu, Pak? Seorang wanita Indonesia, jawab Bung Karno, adalah wanita yang berpakian kain kebaya dan sebagainya, tetapi harus, sekali lagi harus menunjukkan citra keaslian, yaitu berpakaian cantik, rapih, dan serasi, dan tetap cekatan dalam tindakan, tidak terkungkung ruang geraknya. Karena lahiriahnya bebas, batiniahnya juga bebas dan perasaan menjadi enak. “Mereka harus mempunyai jiwa merdeka,” tegas Bung Karno.

Singkatnya, berkain kebaya saja tidak cukup. Sebab, sasakan rambut menjulang jelas tidak masuk dalam terminologi wanita Indonesia yang canti, rapih, serasi tetapi cekatan dalam tindakan. Terhadap wanita seperti itu, Bung Karno menjamin, lahiriah dan batiniahnya tidaklah bebas. Tanpa kebebasan lahirian dan batiniah, maka ia belum berjiwa merdeka. (roso daras)

Published in: on 14 Maret 2010 at 18:35  Comments (4)  
Tags: , ,

Bung Karno alias Soemini

Media massa adalah salah satu alat perjuangan Bung Karno. Tidak lama setelah ia keluar dari penjara Sukamiskin, pada bulan Mei tahun 1932, ia menghidupkan kembali majalah Soeloeh Indonesia Moeda. Tidak lama kemudian, ia menerbitkan majalah Fikiran Ra’jat. Di kedua majalah itu, Bung Karno redaktur kepala (kalau sekarang, namanya Pemimpin Redaksi).

Propaganda menuju Indonesia merdeka ia suarakan melalui berbagai artikel dan karikatur. Pada setiap edisinya, paling sedikit Bung Karno menulis satu artikel. Bahkan yang menarik, di majalah Fikiran Ra’jat, ia sendiri yang mendesain cover dengan coretan karikaturnya yang jelek.

Dibilang jelek, karena memang secara estetis, lukisan karikatur Bung Karno cenderung statis. Sebagai karikaturis, ia menggunakan nama alias yakni Soemini. Kejelekan karya karikatur Bung Karno, juga terletak pada penjabaran panjang lebar mengenai arti karikatur di bawah gambar. Ini, untuk ukuran sekarang, tentu tidak lazim. Sebab, pada galibnya, sebuah karikatur tanpa harus ada keterangan panjang lebar, sudah dapat dicerna maknanya oleh pembaca.

Akan tetapi, karikatur yang jelek itu justru sangat pas pada zamannya. Selain tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, deretan kalimat panjang yang menjelaskan arti karikatur karya Bung Karno “Soemini” itu, bisa menjadi bahan propaganda, bahan provokasi yang efektif. Darinya, semangat rakyat terbakar. Darinya, pemerintah Hindia Belanda kebakaran jenggot.

Seperti contoh karikatur penghias naskah ini. Karikatur itu diberinya judul “Penyatuan Indonesia” yang menggambarkan Jenderal Van Heutsz yang menaburkan benih di ladang, yang lalu bersemi menjadi bendera-bendera merah-putih kecil. Di bawah gambar, ditulis keterangan, “Ia menaburkan bibit penyatuan Hindia Belanda,  lalu Persatuan Indonesia yang bersemi”. (roso daras)

Kalau Hartini Cemburu

Sukarno sebagai seorang suami… luar biasa. Itu kesan khusus Hartini, wanita cantik yang dinikahi Bung Karno sebagai istri ke-4 (setelah Utari, Inggit Garnasih, dan Fatmawati). Salah satu hal luar biasa yang dikemukakan Hartini adalah, “Bapak memperhatikan betul semua keperluan istri-istrinya.”

Sekalipun begitu, Hartini pun tak memungkiri, bahwa sebagai manusia, Bung Karno tentu tak luput dari sudut lemah. “Tidak ada manusia sempurna, demikian pula Bapak. Salah satu ketidaksempurnaan Bapak di mata saya adalah dalam hal wanita cantik,” tutur Hartini.

Nah, sebagai seorang wanita yang berstatus istri, tentu saja tidak nyaman jika ada wanita cantik yang mendekati suaminya, baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Sebagai seorang presiden, sebagai tokoh bangsa terbesar pada zamannya, sebagai lelaki tampan dan simpatik, jamak kiranya jika banyak wanita cantik menggandrunginya. Apa pun dalih dan latar belakangnya.

“Pertengkaran dalam rumah tangga adalah jamak. Dan hal yang selalu saya ributkan dengan Bapak selalu saja soal wanita,” ujar Hartini. Akan tetapi, tidak ada pertengkaran yang tidak berakhir baik. “Bapak begitu mengerti perasaan wanita. Saya hormat sekaligus kagum pada beliau,” tambahnya.

Sekalipun begitu, api cemburu pada dasarnya tidak pernah padam sepenuhnya di dasar lubuk hati Hartini, demi melihat suaminya didekati atau mendekati wanita cantik lain. Hartini, dalam suatu kesempatan, menemukan ide cemerlang untuk “membalas” rasa cemburunya kepada Bung Karno. Caranya? Tunggu saat Bung Karno mengadakan acara dan dilanjutkan dengan menari lenso kegemarannya.

Hartini pasang strategi, menggandeng tamu pria yang lebih muda, serta tampan parasnya. Ia ajak menari lenso bersama-sama para tamu lain, termasuk Bung Karno yang sedang asyik melenso bersama wanita lain, yang tak lain adalah bagian dari tetamu acara itu.

Sembari menari lenso, Hartini menuntun pasangan menarinya berada pada posisi yang terlihat oleh Bung Karno. Tidak berhenti sampai di situ, Hartini biasanya melakukan obrolan akrab bahkan diseling tawa kecil yang terkesan mesra. Itu semua Hartini lakukan dengan sangat sadar untuk membakar bara cemburu di hati suaminya.

Berhasil!!! Bung Karno sejenak berhenti menari lenso, dan berjalan ke arah Hartini yang sedang melenso dengan pria yang lebih muda. Ditariknya tangan Hartini lepas dari si pria tadi.

Tunggu dulu!!! Apakah kemudian Hartini diajak menari lenso oleh Bung Karno? Ada kalanya iya, adakalanya tidak. Nah, jika tidak, maka Bung Karno akan membimbing Hartini dan memasangkannya dengan pria yang jauh lebih tua. Bung Karno? Ia kembali melenso dengan wanita mana saja yang dikehendakinya…. (roso daras)

Published in: on 12 Maret 2010 at 08:37  Comments (14)  
Tags: , ,

Perempuan di Balik Tirai

Alkisah, matahari baru saja usai menerangi jagad. Bung Karno bersama seorang teman dan istri teman itu, bertandang ke salah seorang kenalan di kota Bandung. Kenalannya ini memiliki rumah di tepi jalan. Di bagian depan, digunakannya untuk membuka toko kecil, di bagian belakang digunakan untuk tempat tinggal.

Tuan rumah menerima tiga orang tamunya di dekat meja tulis di bagian belakang toko, berdekatan dengan ruang tempat keluarga itu tinggal. Meluncurlah percakapan basa-basi, tentang “bagaimana kesehatan?”, “bagaimana perdagangan?” dan maksud kunjungan Bung Karno bersama teman dan istrinya. Ya, mereka tidak bermaksud hendak berbelanja, melainkan sekadar bertamu.

Nah, istri teman Bung Karno mendadak menanyakan nyonya rumah, sebab ia ingin sekali berkenalan dan bertukar pikiran dengan nyonya rumah. Bisa jadi, ia merasa risih sebagai satu-satunya perempuan di antara tiga laki-laki. Dengan sedikit gugup tuan rumah menjawab ramah, “O, terima kasih ia baik-baik saja, tetapi sayang seribu sayang, ia kebetulan tidak ada di rumah, ia sedang menengok bibinya yang sedang sakit.”

Bung Karno melihat ekspresi yang aneh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh tuan rumah. Dan tiba-tiba, Bung Karno yang duduk menghadap ke tirai pemisah toko dan rumah tinggal, melihat sesuatu yang aneh. Tirai itu bergerak-gerak, dan Bung Karno melihat sepasang mata mengintip… mata perempuan! Bahkan di bagian bawah tirai, Bung Karno melihat ujung kain seorang perempuan.

Meski begitu, Bung Karno segera memalingkan perhatian ke tuan rumah, dan melanjutkan obrolan ringan. Tak lama, Bung Karno, bersama teman dan istrinya berpamitan. Di tengah perjalanan, Bung Karno tak henti berpikir, mengapa tuan rumah ‘menyembunyikan’ istrinya? Mengapa istrinya tidak diperkenankan bertemu dengan para tamu, bahkan tamu perempuan?

Sejak itulah, sejak Bung Karno melihat perempuan di balik tirai, pikirannya tentang “kemerdekaan” perempuan terus menari-nari di benaknya. Kemerdekaan yang seperti apa yang layak dikenyam perempuan Indonesia? Kemerdekaan yang dikehendaki oleh pergerakan feminismekah? Yang hendak menyamaratakan permpuan dalam segala hal dengan laki-laki? Kemerdekaan ala Kartini? Kemerdekaan ala Chalidah Hanum? Kemerdekaan ala Kollontay?

Maklumlah pada zaman itu, perempuan benar-benar berada pada perlakuan yang unik. Bung Karno memiliki seorang teman di Bengkulu yang sudah berkeluarga. Temannya ini tergolong modern untuk zamannya. Tapi, dalam satu kesempatan, istrinya pernah mengeluh kepada Bung Karno, bahwa ia merasa begitu terkurung di rumahnya sendiri. Ia tak diizinkan keluar rumah, tak diizinkan menemani suami menerima tamu… pendek kata, ia terkurung.

Tak urung, Bung Karno dalam kesempatan yang pas meminta agar temannya itu memberinya sedikit kebebasan kepada istrinya. Apa jawab teman Bung Karno? “Percayalah Bung, saya tidak ada maksud mengurangi kebahagiaannya, saya hargakan dia sebagai sebutir mutiara….”

Begitulah… ketika itu banyak sekali para suami menghargakan istrinya sebagai mutiara. Padahal, sebenarnya ia sedang merusak atau sedikitnya mengurangi kebahagiaan istrinya. Maksud para suami adalah mencintai istrinya sebagai barang yang berharga, memundi-mundikannya laksana mutiara. Di sisi lain, sebagaimana orang menyimpan mutiara di dalam kotak, demikian pulalah para suami ketika itu menyimpan para istri di dalam kurungan atau pingitan.

Bung Karno, di tengah perjuangan kemerdekaan, menaruh concern yang begitu tinggi mengenai peradaban perempuan di Tanah Air. (roso daras)

Published in: on 7 Maret 2010 at 20:11  Comments (3)  
Tags: , , , ,

Sukarno, Sarinah, dan Wanita

Sebenarnya ini tentang –lagi-lagi– buku kuno yang saya dapat sebagai warisan. Setelah terdahulu saya menerima buku “Bung Karno Dihadapan Pengadilan Kolonial”, baru-baru ini satu lagi kawan lama, sesama jurnalis mengejutkan saya dengan memberi sebuah buku lawas berjudul “Sarinah, Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia” karangan Ir. Sukarno… ya Bung Karno presiden pertama kita.

Lagi-lagi, saya tak dapat menyembunyikan antusiasme perasaan saya menerima ‘anugerah’ tersebut. Sekalipun, dalam versi cetakan baru, saya sudah memiliki. Namun, mengoleksi buku terbitan Panitia Penerbit Buku-buku Karangan Presiden Sukarno tahun 1963 ini, sungguh merupakan kebahagiaan tiada tara.

Materi dalam buku ini, sebagian besar merupakan kumpulan materi yang disampaikan Bung Karno ketika mengadakan “kursus wanita” di Yogyakarta, sekitar tahun 1948 – 1949. Benar. Sukarno, sesudah pindah kediaman dari Jl. Pegangsaan Timur ke Istana Negara Yogyakarta, salah satu kegiatan dia yang menonjol adalah menggelar “kursus wanita”.

Pada masa itu, di mana peran wanita masih begitu kecil di percaturan politik nasional, langkah Presiden Sukarno sempat menimbulkan banyak tanya, buat apa Sukarno mengadakan “kursus wanita”. Nah, melalui buku ini, kita menjadi tahu, latar belakang mengapa Bung Karno mengadakan kegiatan tersebut.

Pada awal-awal kemerdekaan, Bung Karno begitu prihatin, karena ranah pergerakan belum banyak menyentuh aspek wanita. Padahal, Bung Karno begitu yakin, kita tidak dapat menyusun negara dan tidak dapat menyusun masyarakat, jika (di antara banyak soal) kita tidak mengerti soal wanita. “Kursus Wanita” adalah salah satu upaya Sukarno menyusun Republik Indonesia seutuhnya. Dan meteri yang ia berikan, kemudian dibukukan dalam buku yang diberinya judul “Sarinah”.

Mengapa “Sarinah”? Judul “Sarinah” adalah wujud terima kasih Sukarno kepada pengasuhnya saat masih anak-anak. Pengasuh Bung Karno bernama Sarinah. “Ia mBok saya,” ujar Bung Karno. Dan dari dialah Sukarno menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari Sarinah pula Sukarno mendapat banyak pelajaran mencintai “orang kecil”. Sarinah sendiri “orang kecil”, tetapi budinya sangat besar. “Semoga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!” tulis Bung Karno dalam pengantar bukunya. (roso daras)

Published in: on 2 Maret 2010 at 17:44  Comments (15)  
Tags: , ,