Bung Karno di Hadapan Pengadilan Kolonial

Judul di atas adalah judul buku yang baru kemarin saya terima dari petugas Tiki. Buku itu adalah buku lawas, terbitan bersama Lembaga Penggali dan Penghimpun Sedjarah Revolusi Indonesia “Endang” dan “Pemuda” di Jakarta, tahun 1963. Saya menerima buku itu dari seorang sepuh, Sukarnois sejati yang tinggal di Jakarta Timur. Beliau tidak ingin diekspose. Bahkan menyerahkannya pun melalui perantara orang ketiga.

Hanya melalui postingan ini saya mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya buat Bapak yang begitu perhatian, begitu baik kepada saya, sehingga rela “mewariskan” buku bersejarah itu. Serasa bergetar tangan saya demi membuka bungkusan paket dan mengetahui isi buku itu. Lebih bergetar lagi demi mengetahui isi buku yang disusun oleh H.A. Notosoetardjo itu.

Tata letak buku kono setebal hampir 700 halaman itu, masih sangat sederhana. Mengingatkan kita pada “kitab” Di Bawah Bendera Revolusi. Pada halaman-halaman pertama, penyusun mengutip pesan-pesan khusus Bung Karno dalam berbagai kesempatan. Mulai dari pekik “sekali merdeka tetap merdeka”, sampai petuah kepada kaum Marhaen atas terbitnya majalah “Fikiran Ra’jat” sebagai majalah kaum Marhaen.

Yang tak kalah penting, adalah catatan pendek Bung Karno yang diberinya judul “Hukum dan Moral”.  Nantilah… item demi item buku ini akan saya posting di blog ini. Sebab saya sadar betul, ini benar-benar warisan sejarah yang harus segera ditularkan kepada segenap anak bangsa yang lain.

Bila perlu, kata pengantar dari Wakil Menteri Pertama RI Bidang Khusus, Menteri Penerangan, Ketua Panitia Indoktrinasi, Dr. H. Roeslan Abdulgani juga sangat menarik untuk diketengahkan. Pendek kata, saya begitu berbahagia mendapat “warisan” buku Bung Karno Dihadapan Pengadilan Kolonial ini. Sekian dulu. Karena saya begitu tidak sabar untuk melahap buku ini…. (roso daras)