Irian Barat dan Perempuan Setengah Telanjang

Bung Karno dan Nixon

Ini tentang adat-istiadat. Ini tentang kebiasaan. Ini tentang budaya. Bung Karno terang-terangan mencemooh cara-cara penyambutan tamu ala Amerika Serikat. Maklumlah, hubungan Bung Karno dan Negeri Paman Sam itu memang tidak mesra. Sebagai Presiden sebuah negara yang baru merdeka, Sukarno terbilang “susah diatur” dan “tidak mau didikte”, sekalipun oleh negara adi kuasa Amerika.

Alhasil, ada banyak hal yang Bung Karno lontarkan terkait cara-cara Amerika yang di mata Bung Karno sebagai “kurang berbudaya”, kering, dan menjemukan. Salah satunya, ya itu tadi… dalam hal penyambutan tamu. Sebaliknya, Bung Karno membanggakan budaya Indonesia yang begitu kaya dan aneka ragam, termasuk dalam hal tata cara menyambut tamu kehormatan. Lain ladang lain belalang, lain daerah lain pula adatnya.

Rakyat Aceh misalnya, menyambut orang dari luar daerahnya dengan cara yang unik. Antara lain menobatkannya sebagai keluarga dalam upacara perkawinan. Ini tandanya rakyat menerima tamu tersebut sebagai bagian dari keluarga. Cara ini telah ada turun-temurun dan bertahan hingga hari ini.

perempuan irianDi Irian Barat, seorang gadis setengah telanjang berdiri di jalan masuk desa jika ada tetamu datang dari luar. Para tetamu diharap mencium puting susu gadis itu. Secara simbolis mereka memberi para tamu susu ibu sebagai bentuk persembahan kasih yang paling murni.

Suatu ketika, Bung Karno mengajak seorang kawan bertandang ke Irian Barat. Dan, tamu asing itu pun disambut menurut adat setempat. Mau tidak mau, demi menghormati adat-istiadat, tamu tadi harus mencium puting susu gadis Irian. Setelah itu, ia melontar kelakar, “Haaa… sekarang kami mengerti mengapa Bung Karno berjuang mati-matian untuk memperoleh kembali Irian Barat….!”

Nah, bagaimana cara Amerika menyambut tamu-tamunya? Dengan genderang kebesaran yang memekakkan kuping. “Huh!” kutuk Bung Karno, “Amerika boleh belajar dari Indonesia!” (roso daras)

Published in: on 9 September 2009 at 21:38  Comments (5)  
Tags: , ,

Sosrokartono Meramal Kebangkitan Sukarno

BKSiapakah Raden Sosrokartono? Tidak banyak yang ingat, apalagi mengetahui secara personal tokoh kita yang satu ini. Akan tetapi, Anda pasti akan tercenung dan mahfum ketika saya sebutkan bahwa Sosrokartono adalah kakak kandung Raden Ajeng Kartini. Tokoh emansipasi perempuan kita yang marak diperingati setiap tanggal 21 April itu.

Berhubungan apakah dia dengan Bung Karno? Cukup rapat. Pertama, keduanya berdiam di Bandung semasa pergerakan. Kedua, Sosrokartono bolehlah disebut sebagai salah satu guru spiritual Bung Karno.

Alkisah, ketika 18 Agustus 1930 Bung Karno dihadapkan di depan pengadilan Hindia Belanda di Landraad Bandung, adalah para teman dan pembela Bung Karno yang sejenak terlintas nama Sosrokartono. Pembelaan Bung Karno yang monumental: “Indonesia Menggugat” tak juga meloloskannya dari jerat penjara. Perdebatan sengit Bung Karno dengan tuan-tuan hakim, tak juga melepaskannya dari jeruji besi.

Meski sejatinya, pasal-pasal yang dituduhkan kepada Bung Karno, sangat berlebihan. Bung Karno dijerat dengan Kitab Undang Undang Hukum Pidana Hindia Belanda, pasal 169. Selain pasal itu, Bung Karno juga dituding menyalahi pasal 161, 171 dan 153. Ini adalah pasal-pasal “de Haatzaai Artikelen”, yaitu pasal-pasal pencegah penyebaran rasa benci. Formalnya, ia dituduh “mengambil bagian dalam suatu organisasi yang mempunyai tujuan menjalankan kejahatan di samping… usaha menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda….”

Dalam suatu perdebatan di ruang sidang, Bung Karno menggeledek, “Pengadilan menuduh kami telah menjalankan kejahatan. Kenapa? Dengan apa kami menjalankan kejahatan, Tuan-tuan Hakim yang terhormat? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom? Senjata kami hanyalah rencana….”

Selanjutnya Bung Karno berteriak, “Tujuan kami adalah exorbitante rechten, hak-hak luar biasa Gubernur Jenderal, yang secara peri-kemanusiaan tidak lain adalah pengacauan yang dihalalkan. Satu-satunya dinamit yang pernah kami tanamkan adalah suara jeritan penderitaan kami. Medan perjuangan kami tak lain daripada gedung-gedung pertemuan dan suratkabar-suratkabar umum.”

Berikutnya, Bung Karno makin berani menyuarakan suara hati rakyat Indonesia, “Ya, kami memang kaum revolusioner. Kata ‘revolusioner’ dalam pengertian kami adalah ‘radikal’, mau mengadakan perubahan dengan lekas. Tuan-tuan Hakim yang terhormat, sedangkan seekor cacing kalau disakiti, dia akan menggeliat dan berbalik-balik. Begitu pun kami. Tidak berbeda daripada itu!”

Hakim dan seluruh hadirin di ruang sidang bungkam. Hening. Suara yang membahana di ruang itu hanya suara Sukarno. “Golok. Bom. Dinamit. Keterlaluan! Seperti tidak ada senjata yang lebih tajam lagi daripada golok, bom, dan dinamit. Semangat perjuangan rakyat yang berkobar-kobar akan dapat menghancurkan manusia lebih cepat daripada ribuan armada perang yang dipersenjatai lengkap. Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Akan tetapi suatu bangsa tidak mungkin bertahan tanpa kepercayaan. Ya, kepercayaan, dan itulah yang kami punyai. Itulah senjata rahasia kami.”

Masih mengalun dan bergelombang-gelombang pernyataan-pernyataan Sukarno di persidangan itu. Ia menutupnya dengan kalimat, “Saya menolak tuduhan mengadakan rencana rahasia mengadakan pemberontakan bersenjata. Sungguhpun begitu, jikalau sudah menjadi Kehendak Yang Maha Kuasa, bahwa gerakan yang saya pimpin akan memperoleh kemajuan pesat dengan penderitaan saya, maka saya menyerahkan diri dengan pengabdian yang setinggi-tingginya ke hadapan Ibu Indonesia, dan mudah-mudahan ia menerima nasib saya sebagai pengorbanan yang harum semerbak di atas pangkuan persadanya. Tuan-tuan hakim, saya, bersama-sama dengan rakyat dari bangsa ini, siap sedia mendengarkan putusan tuan-tuan Hakim.”

Nah, di malam sebelum majelis hakim mengetukkan palu putusan, enam orang pembela Bung Karno, diam-diam pergi ke kediaman Dr. R. Sosrokartono. Selain kakak kandung RA. Kartini, lelaki ningrat ini juga dikenal sebagai ahli kebatinan yang sangat dihormati di Kota Kembang. Kisah itu baru diceritakakan kepada Bung Karno kemudian hari.

Malam itu, sekalipun malam telah jauh terbenam, keenam orang itu tetap menuju kediaman Sosrokartono, sekalipun tidak ada janji-temu sebelumnya. Ajaib! Sesampai di depan pintu, belum lagi tangan mengetuk daun pintu, seorang pembantu membukakan pintu dan menyampaikan, “Pak Sosro sudah menunggu….”

Ajaib yang kedua. Di dalam, sudah ada enam kursi setengah melingkar menghadap Raden Sosrokartono. Mata batin Sosrokartono begitu tajam, sehingga ia bisa mengetahui bahwa tengah malam akan datang enam orang kawan-kasan Sukarno. Makin takjub saja keenam orang tadi demi melihat dan merasakan semua yang dialaminya malam itu. Dan… belum lagi ada yang mengucap kata, Sosrokartono langsung membuka kalimat, “Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.”

Apa yang terjadi keesokan harinya? Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Paling berat. Sementara tiga kawan seperjuangan, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata diganjar penjara separuh waktu Sukarno. Upaya banding ke Raud van Justitie gagal. Hukuman Sukarno pun dikukuhkan. (roso daras)

Gd Indonesia Menggugat di Bdg

Published in: on 8 September 2009 at 05:29  Comments (18)  
Tags: , , ,

Istiqlal, Masjid Seribu Makna

masjid istiqlal

Masjid Istiqlal. Menyebut namanya saja terasa sejuk. Apalagi jika Anda mengunjungi dan shalat di sana. Sebuah komplek masjid yang berdiri di atas lahan 12 hektare. Bangunan masjidnya sendiri seluas 7 hektare, dengan luas lantai 72.000 meter persegi, dan luas atap 21.000 meter persegi. Tidak salah jika dikatakan bahwa Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara.

Tidak salah pula jika Masjid Istiqlal kita sebut sebagai icon negeri ini, tak ubahnya Tugu Monas dan Jembatan Semanggi. Yang membuat Istiqlal begitu spesial, itu karena sejak digagas, direncanakan, hingga dibangun, Istiqlal begitu sarat makna dan simbol.

Di antara sekian pemilik jasa atas kokoh-berdirinya Istiqlal, mustahil kita tidak menempatkan Sukarno pada posisi atas. Bukan saja karena dia Presiden yang memutuskan menyetujui pendirian Istiqlal, lebih dari itu, ia juga melandaskan pembangunan Istiqlal secara sangat filosofis, dan sangat teknis. Karena itu pula, masjid ini begitu monumental.

Dalam pemilihan lokasi, misalnya, Bung Karno terpaksa harus berbeda pendapat dengan Hatta. Bung Karno menghendaki, Istiqlal didirikan di atas taman Wilhelmina di lokasi bekas benteng Belanda Frederick Hendrik yang dibangun Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834. Lokasi itu tepatnya terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran.

Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid di Jalan Thamrin. Alasan Hatta, karena lokasi itu dikelilingi kampung. Tidak seperti lokasi taman Wilhelmina yang relatif jauh dari permukiman. Selain itu Hatta juga menganggap pembongkaran benteng Belanda memerlukan waktu yang tidak sebentar, dan dana yang tidak sedikit.

Bung Karno keukeuh pada pilihannya. Ia melandaskan pada filosofi makna “merdeka”. Istiqlal yang bisa diartikan kebebasan, atau kemerdekaan, sangat tepat jika didirikan di atas taman Wilhelmina. Sebab, Ratu Belanda Wilhelmina sebagai representasi penjajahan di bumi Indonesia, menurut Bung Karno, harus dihancurkan, dimusnahkan, dan diganti masjid bernama “kebebasan”, Istiqlal. Simbol dan pemaknaan ini yang membuat siapa pun akhirnya menyetujui sikap dan pilihan Bung Karno.

Tidak hanya itu. Lokasi yang terletak di seberang Lapangan Banteng itu, dipilih karena berdekatan dengan Gereja Kathedral. “Istiqlal di satu sisi, Kathedral di sisi lain, berdiri kokoh dan megah dengan harmonis, adalah perlambang harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia,” begitu kurang lebih Bung Karno memaknai lokasi Masjid Istiqlal.

Makna terakhir, menjadi sangat-sangat dalam, manakala Frederich Silaban, seorang arsitek Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara keluar sebagai pemenang sayembara arsitektur masjid Istiqlal, yang dewan jurinya diketuai Presiden Sukarno. Adapun anggota dewan juri lain adalah Prof.Ir. Rooseno, Ir.H. Djuanda, Prof.Ir. Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Masjid lima lantai, yang melambangkan kewajiban shalat umat Islam lima kali dalam satu hari, akhirnya dimulai pengerjaannya. Namun secara urutan tahun, gagasan pendirian masjid akbar di Ibukota Republik Indonesia itu mencuat tahun 1953. Setahun kemudian, 1954 didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai Tjokroaminoto. Tahun 1955 dilangsungkan sayembara rancang bangun atau arsitektur masjid berhadiah utama uang tunai Rp 75.000 dan emas murni 75 gram, dan diikuti 27 peserta.

Setelah melalui pendalaman desain serta persiapan matang, tepat 24 Agustus 1961, bertepatan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, Presiden Ir. Soekarno yang langsung bertindak sebagai Kepala Bidang Teknik, berkenan melakukan upacara pemancangan tiang pertama pembangunan Masjid Istiqlal.

Sebagai “tukang insinyur”, kita harus tahu bahwa Bung Karno ternyata memiliki suatu obsesi tersendiri terkait kekokohan bangunan masjid. Bung Karno sendiri yang melakukan pengawasan teknis pembangunan masjid sejak fase pembangunan pondasi. Kepada sejumlah orang dekat, bukan sekali-dua Bung Karno mengatakan ambisinya untuk membangun masjid yang kokoh.

“Jika Candi Borobudur yang dibangun leluhur kita untuk mengagungkan Budha bisa tahan ratusan tahun, maka saya ingin Masjid Istiqlal tidak hanya tahan ratusan tahun, tetapi ribuan tahun!” begitu tekad Bung Karno, seraya melanjutkan, “agar kelak anak-cucu kita paham, bahwa Presiden Indonesia yang pertama sangat mencintai Islam.”

Bung Karno Shalat

Suatu ketika, Bung Karno pun membangun Tugu Monumen Nasional (Monas), sebagai icon Indonesia yang lain. Proyek itu, tak urung mengundang pertanyaan orang, termasuk orang-orang dekatnya. Satu di antara mereka ada yang bertanya kepada Bung Karno, tentang skala prioritas pembangunan Monas dan Istiqlal. Apa kata Bung Karno, “Prioritaskan pembangunan Tugu Monas!”

Jawaban itu cukup mengejutkan. Hingga akhirnya ia melanjutkan kalimat, “Mengapa harus Monas yang diprioritaskan? Jika saya mati saat Monas dan Istiqlal dibangun, maka bisa saya pastikan, Istiqlal PASTI selesai. Sebab, membangun masjid adalah membangun rumah Tuhan, sehingga sekalipun saya mati ketika masjid itu belum selesai, tak satu pun yang bisa menghentikan pembangunannya. Tapi tidak demikian halnya dengan Monas. Jika saya mati, belum tentu pengganti saya meneruskan pembangunannya.”

Seperti fatwa pujangga sakti, Sukarno seperti meramal nasibnya sendiri. Pembangunan masjid Istiqlal melambat tahun 1960. Setelah itu, masih banyak proyek mercu suar dibangun, hingga klimaksnya terjadi peristiwa G-30-S. Masjid yang direncanakn memakan waktu pembangunan selama 45 tahun dalam pelaksanaannya jauh lebih cepat. Bangunan utama selesai 6 tahun sejak dipancangkan tiang pertama, tepatnya 31 Agustus 1967 ditandai dengan berkumandangnya adzan maghrib yang pertama.

Saat itu, Sukarno sudah tidak lagi berkuasa. Sukarno benar, pembangunan masjid tidak jalan terus. Secara keseluruhan pembangunan masjid Istiqlal selesai dibangun dalam kurun 17 tahun. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 22 Februari 1978, oleh Presiden Soeharto. Sementara Bung Karno, seperti takdir yang telah tertulis, sudah wafat pada 21 Juni 1970.

Sementara di seberang sana, Tugu Monas tegak berdiri. (roso daras)

Published in: on 5 September 2009 at 09:56  Comments (4)  
Tags: , , ,

“Kompas”, Nama Pemberian Bung Karno

Jakob Oetama

Kamis, 13 Agustus 2009 jam 10.00 WIB, saya berkesempatan “sowan” Jakob Oetama, di ruang kerjanya, lantai 6 gedung Kompas Gramedia. Jurnalis senior yang saya anggap “empu” itu, masih tetap humanis, humble, dan inspiratif. Berbicara dengannya, selalu saja ada tekanan berat, yang membuat siapa pun, termasuk saya, harus membuka mata batin, mata hati, dan mata nalar. Tanpa melakukan itu, kisa bisa melewatkan sebuah wejangan maha penting dari seorang “suhu”.

Saya sendiri berpendapat, hanya dengan usaha keras menyamakan “frekuensi” dengan seorang Jakob Oetama, kita bisa menangkap semua mutiara hikmah yang mengalir dari kedung hati yang bening. Sekalipun mengaku “mulai pikun”, faktanya, memori pria kelahiran Borobudur, Magelang (Jawa Tengah), 27 September 1931 itu masih bagus.

Ia masih lancar bertutur tentang hakikat jurnalis sebagai sebuah profesi. Ia masih runtut bertutur tentang keasyikan menjadi wartawan, karena setiap hari melakukan perang. Perang batin seorang wartawan, bisa jadi terjadi setiap hari. Akan tetapi, melalui peperangan batin setiap hari itulah, profesi wartawan menjadi begitu menantang. Saya pribadi menyimpulkan, dalam urusan perang yang dimaksud, maka Jakob Oetama adalah seorang ksatria wijaya, yang kini bahkan sudah menjelma menjadi pertapa sakti.

Sambil menikmati alunan pitutur dan petuah Jakob Oetama, saya meramunya dengan bayang-bayang Sukarno. Bayang-bayang kelahiran suratkabar paling bersinar di Indonesia saat ini, yang ternyata memiliki keterkaitan erat dengan sang proklamator.

Adalah dua nama: Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong, dua dedengkot pendiri Harian Kompas yang dikenal masyarakat. Dan tahukah Anda, di antara dua nama itu, Bung Karno konon lebih suka kepada Jakob Oetama. Karenanya, saat Harian Kompas terbit, Jakob-lah yang memegang kemudi redaksi. Sementara, PK Ojong berkutat di bagian tata usaha.

Sambung kisah antara Kompas dan Bung Karno, sejatinya memang cukup erat. Sebab, nama “Kompas” itu sendiri adalah nama pemberian Bung Karno. Tentu saja, kisahnya tidak sesederhana itu. Bermula dari suatu kurun bernama tahun 1964, ketika Bung Karno meminta agar Partai Katolik membuat suratkabar. Perintah Bung Karno, langsung ditanggapi positif. Sejumlah tokoh Katolik seperti Frans Xaverius Seda, PK Ojong, Jakob Oetama, R.G. Doeriat, Policarpus Swantoro, dan R. Soekarsono mengadakan pertemuan dengan Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI), Partai Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Katolik dan Perempuan Katolik. Pertemuan ini menyepakati pembantukan Yayasan Bentara Rakyat.

Yayasan itu diketuai Ignatius Joseph Kasimo (Ketua Partai Katolik), wakil ketua Frans Seda (Menteri Perkebunan Kabinet Sukarno), penulis I, F.C. Palaunsuka, penulis II, Jakob Oetama, dan bendahara PK Ojong. Dari yayasan inilah kemudian lahir harian Kompas.

Frans SedaDalam sebuah keterangan, Frans Seda pernah mengatakan ihwal pesan Jenderal Ahmad Yani, agar harian Kompas dapat menandingi wacana yang dikembangkan PKI. Masih menurut Frans Seda, PKI tahu ihwal Kompas yang berpotensi menandingi PKI, maka dilakukanlah usaha penghadangan dan penggagalan penerbitan koran ini. Namun, karena Bung Karno sudah memberi izin, maka praktis upaya PKI sia-sia.

Setelah ada izin Bung Karno, yayasan Bentara Rakyat tidak segera bisa menerbitkan koran dimaksud. Sebab, ia harus pula mengantongi izin dari Panglima Militer Jakarta, yang waktu itu dijabat Letnan Kolonel Dachja. Sang Letnan Kolonel memberi syarat, izin keluar kalau Yayasan Bentara Rakyat mampu mendapatkan sedikitnya 5.000 tanda tangan warga sebagai pelanggan. Frans Seda mengutus para wartawan pergi ke NTT, sehingga syarat itu dengan mudah bisa dipenuhi.

Setelah semua siap, kembali Frans Seda melapor kepada Bung Karno. Kedudukannya sebagai menteri ketika itu, memang memungkinkan setiap saat bisa menjumpai Bung Karno. Saat bertemu, Frans Seda melaporkan kesiapan Yayasan Bentara Rakyat menerbitkan koran Katolik, seperti diminta Bung Karno.

Nah, tahukah Anda, nama koran yang disodorkan kepada Bung Karno ketika itu bukan Kompas, melainkan koran Bentara Rakyat. Setelah mengernyitkan dahi sejenak, Bung Karno lantas mengusulkan agar nama itu diganti menjadi “Kompas” yang berarti penunjuk arah.

“Sabda pandita ratu”, pepatah Jawa. Bahwa titah raja adalah perintah. Bagaikan sebuah titah, maka sabda Bung Karno pun langsung diiyakan Frans Seda. Usul nama dari Bung Karno kemudian dirapatkan di Yayasan Bentara Rakyat. Dan, tanpa perdebatan sengit, usul Bung Karno tadi langsung diterima, sehingga nama koran Bentara Rakyat dikubur, dan dimunculkanlah nama “Kompas” dengan tambahan tagline “Amanat Hati Nurani Rakyat”.

Koran ini terbit pertama kali pada 28 Juni 1965.  Itu artinya, tiga bulan menjelang terjadinya ontran-ontran G-30-S. Pasca tragedi yang merenggut tujuh perwira terbaik TNI-Angkatan Darat, pamor Bung Karno redup atau diredupkan. Namun salah satu “warisan” nama, Harian Kompas, justru makin bersinar. Sinarnya, menerangi jagat media Nusantara hingga hari ini. (roso daras)

Published in: on 3 September 2009 at 23:00  Comments (4)  
Tags: , , ,

Sjahrir Vs Tan Malaka Vs Bung Karno

Sjahrir-Bung Karno-Hatta

Nama-nama Sukarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifudin, Tan Malaka adalah sederet nama dari sebanyak tokoh pelaku sejarah. Titik. Nah, sejauh mana lakon mereka dalam bingkai sejarah bangsa? Percayalah, tidak banyak yang tahu, tidak banyak pula yang mencoba mencari tahu, apalagi melakukan kajian ilmiah.

Alhasil, tidak terlalu mengherankan jika ada yang begitu mengidolakan Bung Karno. Bahkan, tidak sedikit yang menjurus ke kultus individu. Di sisi lain, tidak terlalu aneh jika ada yang menyanjung Hatta, bahkan memujanya laksana manusia setengah dewa. Tidak asing di telinga pula, adanya pengagum Tan Malaka sebagai Che Guevara-nya Indonesia. Pada sekelompok masyarakat lain, barangkali ada pula yang nama Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifudin dalam sudut hati yang dalam.

Apa pun peran yang mereka lakonkan, memang patut dicatat. Seberapa pun besar sumbang sih mereka bagi bangsa dan negara, layak dikenang. Sekalipun, seandainya sejarah mencatat adanya perseteruan ideologi, konsep, dan gagasan perjuangan di antara mereka.

Adalah Bagin, penulis buku “Pemahaman Saya tentang Ajaran Bung Karno” yang secara gamblang memilah para tokoh pergerakan tadi ke dalam tiga kubu. Kubu pertama adalah Sutan Sjahrir, Hatta, dan Amir Sjarifudin di satu pihak. Kubu kedua adalah Tan Malaka, serta kubu ketiga adalah Bung Karno.

Pemetaan tiga kubu yang direpresentasikan oleh para tokoh di atas, nyata sekali menunjukkan betapa para tokoh pergerakan kita ketika itu bergelut dengan konsepsi-konsepsi yang ada kalanya menempatkan mereka pada kutub yang sangat bertentangan.

Kelompok Sutan Sjahrir termasuk Hatta dan Amir Sjarifudin dengan PKI orientasi Belanda, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan sistem demokrasi liberal, di mana terdapat kelompok pemerintahan lawan kelompok oposisi. Sistem ini menganut multi partai, juga multi ideologi. Sedangkan jalan perjuangan yang mereka tempuh adalah melalui jalur diplomasi. Target Sjahrir adalah terbentuknya Uni Indonesia-Belanda.

tan malakaKemudian Tan Malaka. Tokoh progresif ini, gerakan-gerakannya kemudian diteruskan oleh PKI aliran Moskow, yang menerima sistem multi partai. Akan tetapi, itu adalah strategi ketika mereka masih kecil. Sedangkan di saat mereka kuat, dengan sendirinya akan mengebiri partai dan ideologi selain komunis. Doktrin mereka adalah diktator ploretariat. Sedangkan medan perjuangan mereka adalah bertempur sampai menang. Sistem tatanan negara yang diimpikan adalah, masyarakat sosialis murba, tanpa kelas.

Terakhir, kubu Bung Karno, yang mendasarkan perjuangan atas natuur Indonesia dengan watak gotong royong dalam satu partai dan satu ideologi diisi dengan jiwa nasionalisme, agama, sosialisme, yakni ideologi Pancasila. Jalan yang ditempuh Bung Karno adalah bertempur dan berunding sekaligus. Adapun target yang dituju adalah terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia berwilayah dari Sabang sampai Merauke dalam susunan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, di tengah pergaulan internasional yang adil dan beradab.

Sebagai pertempuran ideologi, ketiga kubu tadi tidak ada yang keliru. Akan tetapi, dari ketiganya, hanya gagasan dan ide Sukarno saja yang paling orisinal, khas Indonesia. Sejarah telah membuktikan, sistem liberalnya Sjahrir gagal total, dan menyisakan aneka pemberontakan di dalam negeri. Siasat kiri Tan Malaka, tidak akan hidup di bumi agamis Indonesia. Hanya ideologi Pancasila yang diusung Sukarno yang mampu merekatkan seluruh elemen bangsa hingga hari ini. Bukan kanan, bukan kiri. (roso daras)

Published in: on 2 September 2009 at 17:45  Comments (19)  
Tags: , , , , , ,

Angka 17, Angka Keramat

Bung Karno

Hari ke-15 bulan Agustus 1945, terjadi ketegangan antara para pemuda dengan Bung Karno. Para pemuda yang dipimpin Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, BM Diah, dan sejumlah nama lain, sempat mendesak Bung Karno agar mengumumkan kemerdekaan Indonesia, “Sekarang juga!”

Dengan sabar, Bung Karno menanamkan pengertian. Dengan kalimat gamblang, Bung Karno mencoba memberi alasan mengenai waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan. Apa lacur, para pemuda yang dilingkupi semangat berkobar-kobar, terus mendesak Bung Karno tanpa sabar.

Perdebatan itu berlangsung berjam-jam tanpa ujung. Situasi cenderung memanas. Para pemuda menghendaki merdeka segera, Bung Karno menyatakan belum waktunya. Ketika Bung Karno “menyerah” dan mempersilakan para pemuda jalan sendiri tanpa dirinya, para pemuda justru menolak. Mereka tetap menghendaki Bung Karno sebagai lokomotif.

Yang terjadi kemudian adalah aksi provokasi. Salah seorang pemuda mengejek, “Barangkali Bung Besar kita takut. Barangkali dia melihat hantu dalam gelap. Barangkali juga dia menunggu-nunggu perintah dari Tenno Heika.”

Sejurus kemudian, Wikana, pimpinan pemuda yang lain ikut mengejek Bung Karno. Bahkan tiba-tiba dia menggertak Bung Karno dengan menghunus sebilah pisau ke arah Bung Karno. “Kita tidak ingin mengancammu Bung! Revolusi berada di tangan kami sekarang, dan kami MEMERINTAH Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu….”

“Lalu apa?!” sergah Bung Karno sambil melompat dari kursi, menahan amarah yang menyala-nyala. “Jangan aku diancam. Jangan aku diperintah. Engkau harus mengerjakan apa yang kuingini. Pantang aku dipaksa menurut kemauanmu!”

Tidak berhenti sampai di situ. Bung Karno melompat ke tengah-tengah para pemuda yang masing-masing memegang senjata di tangan. “Ini!” kata Bung Karno mengejek, “Ini kudukku, boleh potong… hayo! Boleh penggal kepalaku… engkau bisa membunuhku… tapi jangan kira aku bisa dipaksa untuk mengadakan pertumpahan darah yang sia-sia, hanya karena hendak menjalankan sesuatu menurut kemauanmu!”

Suasana hening. Para pemuda giliran ketakutan, bercampur perasaan takut dan bingung. Bung Karno lalu menatap tajam ke wajah-wajah para pemuda satu per satu. Tajam sekali tatapan mata Bung Karno. Setajam paku. Dan… satu per satu, para pemuda pun menunduk tertusuk “tatap paku” Bung Karno. Mereka pun menjatuhkan pandangan ke bumi.

Ketika suasana terkendali, barulah Bung Karno kembal ke tempat duduk, dan berbicara dengan nada rendah. “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah pemilihan saat yang tepat. Di Saigon saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17.”

Sukarni, tokoh pemuda pertama yang berani angkat tanya, “Mengapa justru tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?” Meski nada tanya, tetapi nada Sukarni sudah jauh lebih lunak.

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan secara pertimbangan akal mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku bahwa waktu dua hari lagi adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka keramat. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Bukankah begitu?” tanya Bung Karno.

“Ya,” jawab para pemuda serentak.

“Ini berarti saat yang paling suci bagi kita, Bukan begitu?”

“Ya.”

“Hari Jumat ini, Jumat legi. Artinya, Jumat yang berbahagia. Jumat suci. Dan hari Jumat adalah tanggal 17. Kitab suci Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa shalat 17 rakaat sehari? Mengapa tidak 10 atau 20 saja? Oleh karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.”

Bung Karno melanjutkan, “Pada waktu saya mendengar berita penyerahan Jepang, saya berpikir bahwa kita harus segera memproklamasikan kemerdekaan. Kemudian saya menyadari, adalah Kemauan Tuhan peristiwa ini akan jatuh di hari-Nya yang keramat. Proklamasi akan diumumkan tanggal 17. Revolusi menyusul setelah itu.” (roso daras)

Published in: on 1 September 2009 at 22:31  Comments (10)  
Tags: , , , , ,