Balada Prihatin

BK Periksa Pasukan

“Prihatin” sebagai sebuah nama, bukan hal aneh, khususnya di tanah Jawa. Para orang tua, memiliki berbagai alasan sebelum memberi sebuah nama buat si jabang bayi yang baru lahir. Ada yang memberi nama anak atas dasar latar belakang keadaan. Misal: Prihatin. Bisa jadi dia dilahirkan dalam situasi yang memprihatinkan. Atau justru dilahirkan dengan doa dan pengharapan, agar kelak ia menjadi pribadi yang prihatin.

“Prihatin” tidak semata berkonotasi sesuatu yang menyedihkan, sengsara, dan nestapa. Prihatin juga memiliki makna “semeleh” atau tawadhu’, rendah hati, dan tangguh menghadapi cobaan hidup. Selain itu, prihatin juga memiliki makna mawas diri, toleran, dan sederhana.

Masih banyak contoh nama lain yang juga mengandung pengharapan dan doa seperti “Slamet” (selamat), “Bejo” (beruntung), “Pangkat” (berkedudukan), dan lain-lain. Coba tanyakan kepada orang tua, apa arti dan maksud nama yang mereka berikan buat Anda?

Kembali ke Prihatin. Kebetulan, tokoh kita yang satu ini terbilang bersejarah, sekalipun letaknya ada ada di pinggiran pusaran sejarah Bung Karno. Benar. Dia cukup dekat dengan Bung Karno, karena dia termasuk salah satu anggota detasemen kawal alias pengawal pribadi Presiden Sukarno. Dia juga terbilang jauh dari Bung Karno, karena jumlah pengawal bukannya sedikit, dan lagi, tidak setiap saat Prihatin mengawal presidennya.

Nama Prihatin mencuat dalam suatu peristiwa yang cukup dramatis. Syahdan, di suatu pagi, Bung Karno memanggil komandan detasemen kawal, Mangil, dan memerintahkan agar dia mengumpulkan semua anak buahnya. Tak lama setelah perintah dilaksanakan, Mangil kembali menghadap dan melaporkan bahwa semua pengawal yang bertugas hari itu, sudah berbaris sikap sempurna di halaman belakang Istana.

Tak berapa lama, Bung Karno berjalan menuju barisan pengawal. Langkahnya sedikit tergesa, ekspresi wajahnya masam cenderung murka. Mangil memendam seribu tanya. Mau bertanya, takut. Tidak bertanya, sejuta tanya meronta-ronta di dada: “Ada apa? Mengapa Bung Karno tampak marah? Kesalahan apa yang telah diperbuat oleh para pengawal?” dan masih banyak tanya yang lain, mengobrak-abrik benak Mangil, yang berjalan tergesa di belakang Bung Karno.

Lebih tercengang Mangil, manakala sesampai di depan barisan pengawal, tanpa berkata satu kata pun Bung Karno langsung melayangkan tamparan ke pipi kanan pengawal. Tanpa kecuali, dari yang berdiri di paling kanan, terus bergeser satu per satu di sebelah kirinya. Semua pengawal mendapat “berkah” tamparan Bung Karno di pagi yang sejuk itu.

Mangil sebagai komandan pengawal memang tidak mendapat “berkah” itu. Justru karena itu ia lebih penasaran, sehingga keluarlah kalimat, “Bapak… sabar dulu Pak…” belum selesai Mangil menuntaskan kalimat, Bung Karno menyergah, “Diam…!!!” Lalu…, laksana patung, Mangil spontan diam sikap sempurna, menghormat, dan mengatupkan mulut rapat-rapat. Serapat-rapatnya.

Plak… plak… plak… plak…. semua pengawal mendapat keplakan Bung Karno. Sampai di pengawal terakhir, Bung Karno berhenti sejenak, memandang tajam ke arah barisan pengawal. Satu per satu pengawal ditatap dalam, dan tidak satu pun yang berani menatap balas. Semua menunduk.

Setelah usai “upacara” penamparan pagi hari, Bung Karno balik badan, berjalan kembali ke dalam Istana. Mangil membubarkan barisan pengawal, dan mengumpulkannya di sebuah ruang. Di situlah dibahas, dari hati ke hati, ada peristiwa apa sebelumnya, sehingga Bung Karno marah sampai menampar para pengawalnya.

Dari referensi yang ada, memang tidak terungkap pokok persoalan. Yang pasti, para pengawal akhirnya tahu, bahwa telah terjadi kesalah-pahaman. Bung Karno telah menerima informasi yang keliru yang melibatkan para pengawal. Kesimpulannya, dalam kasus pagi hari itu, kesalahan bukan terletak pada para pengawal, melainkan Bung Karno yang salah, karena menelan informasi yang keliru secara bulat-bulat.

Rapat darurat para pengawal akhirnya menyepakati, “Harus ada klarifikasi. Harus ada yang melaporkan kepada Bapak, tentang kejadian yang sebenarnya. Bapak harus diberi tahu, bahwa para pengawal tidak salah.”

Sampai pada kesimpulan itu, sungguh bulat pendapat mereka. Tidak ada yang tidak setuju. Problem muncul ketika salah seorang dari mereka menyeruak suasana, “Lantas, siapa yang harus memberi tahu Bapak?” Yang terjadi kemudian adalah saling pandang. Mangil sekalipun, sebagai komandan detasemen kawal, tidak punya nyali untuk menghadap dan mengutarakan pendapat dalam keadaan Bung Karno murka.

Nah. Di sinilah Prihatin ambil peran penting. Mata mereka kemudian ditubrukkan ke sesosok pengawal bernama Prihatin. Ya, hanya Prihatin yang bisa menghadap Bung Karno, berbicara dengan Bung Karno, tanpa membuat Bung Karno lebih marah. Ini sudah teruji dan terbukti. Dalam banyak peristiwa sebelum-sebelumnya, jika Bung Karno sedang tidak dalam suasana hati yang gembira, sementara pengawal harus menyampaikan sesuatu, maka Prihatin-lah orang yang ditunjuk.

Prihatin sendiri orangnya nothing to lose… ia mau-mau saja menunaikan amanat teman-teman pengawal, meski itu sebuah tindakan “nekad”. Meski tak jarang, karena “kenekadannya” Prihatin mendapat dampratan, semprotan, dan tumpahan amarah Bung Karno. Dengan wajah yang polos, Prihatin hanya diam, menunduk, dan tetap correct sebagai pengawal.

Waktu terus berlalu…. Satu masalah selesai, datang lagi masalah, selesai, begitu seterusnya menjadi sebuah siklus rutin, romantika hubungan Bung Karno dengan para pengawalnya. Tiba suatu saat, Bung Karno berkesempatan berdua Mangil, di Istana Tampak Siring, Bali. Di momen inilah nama Prihatin kembali berkibar….

“Mangil…,” kata Bung Karno membuka obrolan, “saya terkadang prihatin dengan Prihatin. Dia tidak bersalah, tetapi karena timing yang tidak tepat, suasana hati yang sedang tidak pas, membuat ia sering menjadi sasaran amarah saya.” Mangil hanya mengangguk, sambil menunggu kalimat Presiden Sukarno selanjutnya. “Mangil…,” Bung Karno melanjutkan kalimat, “saya berjanji, kalau ada kesempatan lawatan ke luar negeri, saya akan mengajak dia.”

Mangil mencatat. Sejarah juga mencatat. Dalam lawatan ke luar negeri berikutnya, nama Prihatin ada di dalam daftar pengawal yang diikutsertakan. Jadilah, Prihatin berkesempatan melihat Kanada yang indah…. (roso daras)

Iklan
Published in: on 30 September 2009 at 08:20  Comments (14)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/09/30/balada-prihatin/trackback/

RSS feed for comments on this post.

14 KomentarTinggalkan komentar

  1. Seandainya prihatin yang lain seperti Budi Anduk prihatin menjadi pengawal Bung Karno gimana dengan amarah Bung Karno nanti ya…!!!!!he..he..he..

  2. Salut untuk bang roso, alur cerita dan gaya penyampaian selalu segar dan mengalir alami bagaikanair.

  3. Mangil itu Sopir Presiden,tolong baca Pengalaman Mangil

    • Terima kasih pak Suarjanto… Apa bapak sudah baca juga buku kesaksian Mangil? Hehehe… Tidak ada yang perlu diralat dari tulisan saya. Nama beliau adalah H. Mangil Martowidjojo… jabatan terakhir Komandan Detasemen Kawal Pribadi Presiden Sukarno.

      • Betul sekali akpb Mangil adalah komandan DKP ikut bung Karno sejak tahun 45… ngawur kalo dia adalah sopir.

  4. Agak aneh juga kalau Bung Karno kayak tentara sampai ngeplak pengawal tentara ,padahal BK kalau marah cuma melototi atau ngomel semua orang pada keder.

  5. Bung Roso, YTH.

    Mengikuti gaya dan plot tulisan anda yang sangat menarik, saya berkesimpulan jika anda adalah seorang penulis profesional. Namun artikel di atas kesannya ada sesuatu yang mengganjal dalam paragra berikut ini :

    “Dari referensi yang ada, memang tidak terungkap pokok persoalan. Yang pasti, para pengawal akhirnya tahu, bahwa telah terjadi kesalah-pahaman. Bung Karno telah menerima informasi yang keliru yang melibatkan para pengawal. Kesimpulannya, dalam kasus pagi hari itu, kesalahan bukan terletak pada para pengawal, melainkan Bung Karno yang salah, karena menelan informasi yang keliru secara bulat-bulat.”

    Sebagaimana yang di alami oleh Bapak Sudarjanto dalam tanggapan beliau di sini, saya pun sulit menerima kebenaran dari kejadian tersebut, yang terkesan sebagai hoax dan bahkan bisa menjadi penistaan sejarah. Dalam buku “Kesaksian Mangil” yang anda baca, seharusnya kasus keplakan (premanisme) yang terjadi pagi itu, sudah mesti terungkap agar buku tersebut patut dan layak dijadikan referensi.

    Sebagai orang yang ingin bersahabat, saya menghimbau pada diri saya dan siapa saja agar tidak gegabah menggunakan referensi buku untuk dipublikasikan, terutama yang bernuansa politis.

    Kemungkinan saya akan sering berkunjung ke site ini untuk belajar cara menulis yang baik.

    Salam kenal.

    • Bung Malik Yth.
      Terima kasih atas atensi Anda.
      Anda tidak harus menerima kebenaran kisah di atas, tetapi juga tidak harus mengklasifikasikannya sebagai hoax, karena sejauh ini buku Mangil belum pernah ada yang menudingnya berisi hoax apalagi penistaan sejarah. Sejarah sendiri tidak membantah kedekatan Mangil dan Bung Karno.

      Saya mengimbau saya dan kita semua untuk menanamkan kesadaran, bahwa tidak ada satu sejarah pun yang selesai dalam satu tarikan nafas. Bahkan satu bentang zaman sekalipun, belum tentu bisa menguak kebenaran suatu sejarah. Maka sebaik-baiknya sikap adalah tidak apriori tetapi juga tidak menelannya bulat-bulat.

      Akan halnya Bung Karno. Dia adalah pribadi yang sudah selesai. Dipuja dan dihujat sekalipun, tidak akan menambah besar maupun mengerdilkannya.

      Moral kisah Prihatin adalah, Bung Karno juga manusia biasa. Ia bisa salah. Dan yang lebih penting, ia mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf, sekalipun kepada anak buah terendah.

      Tak lupa, terima kasih sekali lagi atas kemungkinan Anda akan sering-sering mampir ke site ini. Semoga menjadi persahabatan yang produktif.

      Merdeka!!!

      • Rupanya Cinta rakyat kepada Bung Karno sulit dihilangkan,walaupun dihujat dan dicerca,difitnah pada jaman orde baru,walaupun Bung Karno sudah meninggal,namun ajaran Bung Karno tetap melekat dihati Rakyatnya,ajaran untuk mencintai tanah air,bangsa dan rakyatnya secara jujur dan ikhlas untuk tidak melupakan pengalaman sejarah masa lalu demi menghadapi masa depan.

      • bentakan,gebrakan meja,teriakan bahkan menampar adalah hal biasa kalo bung karno sedang marah. tidak hnya kpd pengawalnya sj tetapi jg kepada dubes negara lain…

  6. salut buat anda bung ……..
    ceritanya benar – benar sangat menarik tuk di baca
    saya ancungkan jempot dan angkat topi tuk anda.

  7. Cerita yang sangat menarik tentang karakter orang yang telah memimpin bangsa tercinta ini.

  8. Ass wr wb,

    salam…
    satu kata dari saya buat seorang SUKARNO, yaitu TIDAK MUNAFIK..!
    tempaan masa keprihatinan dari semenjak beliu kecil, pemuda( dengan tahanan dan pembuangan),jadi Pemimpin dan Presiden(dengan segala pergolakannya), membentuk jiwa raga beliau untuk mengalir tanpa rekayasa dan apa adanya,sebagai Manusia.
    Salut dan bangga buat bung Roso…

    wassalam

  9. haha lagi asik googling nama kakek nemu cerita begini, makasih oom sudah mengangkat cerita tentang eyang prihatin saya jadi bertambah wawasan saya tentang bagaimana eyang saya selama hidup terima kasih banyak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: