Lebaran Dulu Yaa…

Selamat Idul Fitri

Iklan
Published in: on 20 September 2009 at 04:56  Comments (4)  

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/09/20/lebaran-dulu-yaa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tiada gembira yang menggelora, tiada senang yang mengangkasa, selain kita telah kembali pada fitrah dan ampunanNya. Taqaballahu mina wa minkum, selamat idul fitri 1430 H, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin

    Dengan kembalinya kita pada titik awal bukan berarti mundur, karena titik akhir kita belum ada selama hayat dikandung badan, kembali kepada fitrinya untuk memulai langkah perubahan yang pasti untuk lebih baik dari titik awal yang lalu.
    (WHS)

    “All of you know, that according to Islam, there are only two holy days for the followers of Islam, Idul Fitri and Idul Kurban. Just those two days, the other and even Friday a day worthy to a celebration.
    I even say, Brother and Sister, Thar although it is Id-Idul Fitri as well as Idul Kurban-a holly day, as far as I know there is not a single sentence, and not even a single word in our Holy Quran which read that on these two days, both Idul Fitri and Idul Kurban, we should have a holly day and should be idle…… It is suggested to honour this day, but there is no word in the Holly Quran as far as I know, that commands us to rest and sit idle, to stop struggling and just have fun on Id-day.”

    (Ir.Soekarno pada Pidato Kenegaraan R.I dalam rangka Perayaan Idul Fitri 8 Maret 1962.)

  2. Maaf lahir dan batin jg pak Roso, atas kesalahan dan kekhilafan baik yg sengaja atau yg tidak sengaja.Minal aidin wal faizin.

  3. Selamat Idul Fitri
    1 Syawal 1430 H

    Taqobbalallahu minna wa minkum
    Taqoballah ya karim
    Minal aidzin wal faizin
    Mohon Maaf Lahir Batin

  4. Syawal adalah akhir. Ia juga permulaan. Akhir dari rital suci Ramadan. Akhir dari keterburu-buruan spiritual yang begitu bersemangat agar tak tertinggal parsel ampunan dan tiket penukar kavling surga. Karena itu, Syawal menjadi awal dari sebuah kefanaan yang kembali pulang. Fana yang terusir sejenak oleh Ramadan.

    Jika Goenawan Mohamad terang-terangan menyebut bahwa yang dirayakan Ramadan adalah kekosongan (Tatal 59), izinkan saya melengkapinya: Syawal diciptakan untuk mengisi kekosongan itu.

    Awal Syawal adalah lebaran. Di Indonesia, yang justru indah dari lebaran ialah bahwa ia tak identik dengan kesucian. Lebaran adalah pesta, perayaan, kegembiraan, bahkan di sana-sini “kemewahan”.

    Hari ini, pesta itu telah usai. Topeng-topeng dengan karakter penuh maaf telah teronggok di pojok kursi cadangan. Ia baru akan berguna lagi pada satu tahun mendatang. Wajah-wajah pun kembali sibuk dengan topeng-topeng yang lain: Topeng yang selama awal Syawal teronggok di kursi cadangan. Topeng serakah, topeng juru culas, topeng pendusta, topeng ahli keji, bla…bla..bla.

    http://kalipaksi.com/2009/09/28/topeng-bulan-syawal/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: