Marhaen, Jones, dan Smith

Makam Marhaen

Marhaenisme adalah ajaran Sukarno. Sudah banyak literatur mengenai hal itu. Kalau toh topik itu harus diangkat kembali di sini, lebih karena mengejar kata “afdol”. Tidak afdol kalau blog berisi hal-ihwal tentang Bung Karno, tetapi justru tidak menyinggung sama sekali tentang Marhaen dan Marhaenisme. Bagi yang sudah tahu, anggap saja ini sebuah refreshing. Bagi yang belum tahu, semoga postingan ini bermanfaat.

Mungkin tidak akan terjadi perisitiwa pagi hari itu, kalau saja ia tidak memendam kecewa terhadap praktik pendidikan tinggi yang ditempuhnya. Kecewa terhadap mata kuliah teknik sipil yang dicekokkan dosen-dosen Belanda kepadanya. Hari itu, ia putuskan bolos kuliah. Anda mungkin bertanya, kekecewaan seperti apa yang dia rasakan selama kuliah di THS? Kita bahas dalam kesempatan yang lain.

Sekarang…  kembali ke… Mar….haen. Pagi hari di saat pikiran suntuk, Sukarno muda mengayun langkah, mengambil sepeda onthel, dan mendayungnya tanpa tujuan. Kebetulan saja arah laju sepeda menuju Bandung Selatan, suatu daerah pertanian yang padat. Itu terjadi tahun 1920-an.

Suasana Bandung Selatan ketika itu, adalah suasana daerah pertanian. Petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing-masing luasnya kurang dari sepertiga hektare. Tak dinyana, pandangan Sukarno tertumbuk pada sosok petani muda yang tengah giat mencangkul. Dia seorang diri. Bung Karno pun tertarik menghampiri.

Di pinggir galangan sawah, Bung Karno berdiri termenung, menatap petani muda yang terus dan terus mengayunkan cangkul ke atas-ke bawah. Sejurus kemudian, Sukarno mendekat. Lebih dekat ke arah petani tadi. Demi mengetahui seseorang menghampiri, petani tadi menghentikan aktivitas mencangkul, dan melempar pandang ke arah Sukarno. Terjadilah tegur-sapa, sebuah tegur-sapa ramah khas Indonesia. Tidak ada ekspresi curiga, melainkan seringai sungging senyum pada kedua orang itu.

Saha nu kagungan ieu sadayana nu dipidamel ayeuna ku aranjeun,” tanya Bung Karno dalam bahasa Sunda yang fasih. Artinya kurang lebih, “Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?”

“Saya, juragan,” jawab petani itu.

Bung Karno bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki tanah inibersama-sama dengan orang lain?”

“O, tidak gan. Saya sendiri yang punya.”

“Tanah ini kaubeli?”

“Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

Sejenak Bung Karno terdiam. Demi melihat “tamu sawah” itu diam, si petani pun kembali mencangkul. Menggali dan menggali. Sedangkan Sukarno pun melakukan penggalian mental. Menggali teori. Mencangkul filosofi di otaknya, hingga mengalirkan pertanyaan-pertanyaan lain yang bertubi: “Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah kepunyaanmu juga?”

Petani muda kembali menghentikan kegiatan, dan menjawab, “Ya, gan.”

“Dan cangkulnya?”

“Ya, gan.”

“Bajak?”

“Saya punya, gan.”

“Untuk siapa hasil yang kau kerjakan.”

“Untuk saya, gan.”

“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”

Petani mengangkat bahu mengernyitkan dahi… “Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang istri dan empat orang anak?”

“Apakah ada yang dijual dari hasilmu.”

“Hasilnya sekadar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”

“Kau mempekerjakan orang lain?”

“Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya.”

“Apakah engkau pernah memburuh?”

“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, akan tetapi jerih-payah saya semua untuk saya.”

Kemudian Bung Karno menunjuk sebuah gubuk kecil seraya bertanya, “Siapa yang punya rumah itu?”

“Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”

“Jadi kalau begitu,” kata Bung Karno menyaring pikiran-pikiranya sendiri, “Semua ini engkau punya?”

“Ya, gan.”

Setelah itu, Bung Karno menanyakan nama petani muda itu. Dan petani itu menjawab, “Marhaen”. Nama Marhaen adalah nama biasa. Sama biasanya dengan nama Jones atau Smith di Amerika. Akan tetapi, dari dialog dengan Marhaen yang rakyat jelata itu pula Bung Karno mendapat ilham untuk rakyatnya. “Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu!” Pikir Bung Karno.

Dan sejak itu, Bung Karno menamakan rakyatnya sebagai rakyat Marhaen. (roso daras)

Iklan
Published in: on 17 September 2009 at 08:52  Comments (12)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/09/17/marhaen-jones-dan-smith/trackback/

RSS feed for comments on this post.

12 KomentarTinggalkan komentar

  1. Salam hormat setinggi tingginya untuk mas Rosa Daras.
    Saya sebagi pengagum Bung Karno merasa sangat beruntung berkesempatan mengunjungi dan mengarsip semua yang ada dalam blog ini. Dan kalau Bapak berkenan saya ingin mentautkan blog ini dengan blog saya. Sekali lagi kalau bapak mengijinkan.

    Salam Hormat Saya.

    • Salam hormat pula buat Bung Tony… Senang sekali Anda berkenan dengan blog ini dan menautkan ke blog Anda. Sekali lagi, terima kasih.

  2. Mas, kalau bisa tuliskan juga surat-surat cinta Bung Karno kepada para istri tercintanya. Pasti sangat romantis.

    Salam: Tony

  3. HEBATTTTT!!!!!!!!!!!
    TERIMAKASIH PAK ROSO !!!
    TWO TUMBS UP !!!

  4. BARU TAHU AKU TENTANG KATA MARHAEN YAITU RAKYAT JELATA YANG BANTING TUKANG UNTUK MENGHIDUPI KELUARGANYA

  5. Bangsaku adalah bangsa yang telah diuji selama ratusan tahun untuk bisa mengerti arti menghargai para pemimpin nya.
    Jika saja setiap jengkal tanah negeri ini bisa berkata-kata, maka tidak akan ada kepalsuan yang di torehkan kepada generasi-generasi sesudahnya …..

    Lanjutkan terus kekuatan dasar bangsaku yang menancap dalam di setiap tetes keringat perjuangan untuk menggapai cita cita besar Bung Karno … Sang PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA.

  6. Mas satu lagi sosok penting dalam hidup Sukarno tapi jarang diulas adalah Sarinah. Betulkah dia pengasuh beliau waktu kecil? Dibahas dong mas?

    • Hai Rane…
      Udah kok… klik aja, atau search tag “Sarinah”… pasti kamu jumpai postingan tentang Sarinah, yang mengajarkan nilai-nilai humanisme pada Sukarno kecil…
      Salam!

  7. Ayo kawan kita bersama
    Menanam jagung di kebun kita
    Ambil cangkulmu ambil pangkurmu
    Kita bekerja tak jemu-jemu
    Cangkul cangkul cangkul yang dalam
    Tanah yang longgar jagung kutanam

    tanah kita
    cangkul kita
    jagung kita
    bersama sama kita..

    itulah kekuatan bangsa ini.. milik kita sendiri.. tidak menanam jagung dengan cangkul milik Bank Dunia
    tanah sewaan milik IMF
    dan jagung milik orang kapitalis..

    harus semua dari kita milik kita untuk kita semau.

  8. Harum wangi kemedangan yang memang ditebar olehnya masih terasa sampai sekarang ini… Apakah kita masih menyimpan satu gagasan dengan pemikirannya yang sebenarnya sangat sederhana dan realis… seperti sifat seorang manusia yang selalu memperhatikan apa yang menjadi ciptaan Tuhan-nya. Bung Karno Marhaens Tulen!

  9. hebat bgt artiakel yg pak roso tuangkan dlm blog ini!!!pengetahuan sy ttg bung karno semakn bertambah…thanks bgt yah,,hidup bung karno!!!hidup indonesia!!!

  10. TERIMAKASIH TULISAN DAN INFORMASI DALAM BLOGNNYA, CUKUP BERMANFAAT. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT HARGA BAHAN-BAHAN PERTANIAN, HASIL BUMI BERUPA NILAM, KEMENYAN, KOPI, ADAT-ISTIADAT, PEMBANGUNAN DAERAH DAN LAIN-LAIN DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: