Tukimin Disangka Sukarno

Bung Karno Muda

Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah tonggak. Sebuah tetenger. Sebuah titik dalam rangkaian sejarah panjang “Menjadi Indonesia”. Namun sejatinya, proklamasi bukanlah suatu klimaks. Proklamasi kemerdekaan bukanlah suatu akhir dari romantisme perjuangan panjang.

Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah awal dari suatu babak revolusi bersenjata. Sebuah babak baru brutalisme. Kebrutalan tentara Sekutu yang hendak menjajah kembali, melawan brutalisme laskar pejuang dengan semboyan “Merdeka atau Mati!”  Aksi teror, pembunuhan, bahkan penganiayaan kejam terjadi hampir setiap hari.

Tentara NICA bisa dengan ngawur memuntahkan peluru ke warga sipil tak berdosa di tengah kota Jakarta. Kali lain, mereka menggedor, menyeret seisi rumah, dan mengeksekusinya tanpa ampun. Tidak jarang, tentara NICA masuk gerbong-gerong trem dan kereta api, menjarah dan merampok warga sipil. Itu semua dalam rangka mematahkan semangat perlawanan bangsa yang baru saja merdeka.

Dalam pada itu, para laskar pejuang tak gentar sedikit pun. Jangankan darah tertumpah-usus terburai, nyawa sekalipun siap mereka sabung demi tegaknya Republik. Aksi kejam tentara Sekutu, tak jarang dibalas aksi setimpal. Brutal. Sekelompok pemuda pejuang, bisa dengan beringas mencincang-cincang tentara Sekutu. Kejadian di tempat lain, terjadi perkelahian satu lawan satu. Ada kalanya berakhir dengan kematian pemuda Indonesia. Tak jarang, tentara Sekutu yang meregang nyawa. Bung Karno mencatat, antara September – Oktober 1945 saja, tak kurang 8.000 nyawa pejuang melayang di Jakarta. Belum terhitung jumlah korban di daerah-daerah yang lain.

Seperti pernah kita dengar, “patah satu tumbuh seribu”. Seperti itulah gambaran nyata tentang kebangkitan semangat heroisme pemuda Indonesia guna mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan oleh Bung Karno, atas nama bangsa Indonesia.

Seorang pemuda yang datang memimpin 10 pejuang lainnya, langsung mendapat pangkat kopral. Seorang pemuda lain yang datang memimpin 20 pemuda, langsung dianugerahi pangkat sersan. Dan… seorang pemuda yang datang dengan puluhan senapan, sekotak granat hasil rampasan tentara Sekutu, langsung mendapat pangkat perwira. Itulah sudut kecil revolusi bangsa kita.

Bagaimana nasib Sukarno? Ialah yang paling diincar. Tentara Sekutu pimpinan Inggris menyebar pasukan elite untuk menangkap hidup-hidup Sukarno. Ia harus diadili sebagai penjahat perang, dan kolaborator Jepang. Sementara, tentara Belanda lebih sadis: “Bunuh Sukarno, di mana pun kelihatan!”

Alhasil, Sukarno pada akhir tahun 1945, masuk-keluar rumah sahabat, lewat jalan-jalan bersemak belukar, menjauh sejauh mungkin dari jalan raya, menghindar sejauh mungkin dari tangkapan mata NICA. Tak jarang, Bung Karno menyamar dengan berpakaian surjan Jawa, berblangkon pula. Kala lain, ia menyamar sebagai rakyat miskin yang berjalan dengan gaya terpincang-pincang.

Sekalipun begitu, sebelum fajar merekah, Bung Karno sudah harus berada di Pegangsaan Timur 56, kembali sebagai Presiden Republik Indonesia. Nanti, saat matahari terbenam, ia kembali menyamar dan menuju kediaman sahabat yang lain lagi untuk bersembunyi dari buruan NICA.

Dalam penuturannya kepada Cindy Adams, pernah satu kali rumah persembunyiannya tercium NICA. Tak ayal, rumah itu pun diberondong tembakan membabi buta. Sukarno yang kebetulan tidur meringkuk dalam tikar di ubin yang lembab, lolos. Si tuan rumah, segera melarikan Bung Karno dari pintu samping, menghilang di kegelapan.

Paginya, ia sudah berada di Pegangsaan Timur, memimpin sidang-sidang kabinet serta rapat-rapat darurat. Mengatur jalannya Republik. Begitulah yang dilakukan Sukarno berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, sebelum akhirnya “hijrah” ke Yogyakarta.

Nah, ada satu peristiwa di antara masa itu, yakni ketika Bung Karno dan Bung Hatta memimpin rapat kabinet, membahas situasi Ibukota yang makin runyam, serta ulah tentara Sekutu yang makin ngawur. Rapat berlangsung serius, intens, hingga larut malam.

Rapat berlangsung tanpa hidangan roti ataupun secangkir kopi. Waktu itu, Presiden belum digaji. Para menteri belum bergaji. Siapa pula yang mau menggaji?

Sejauh ini, mereka hidup secara gotong-royong. Para simpatisan kemerdekaan yang hidup berkecukupan, akan menyokong kebutuhan mereka. Akan tetapi, jika tidak ada yang menghubungkan antara kebutuhan dan bantuan simpatisan, maka sama artinya tak ada bantuan. Itu dipahami benar oleh Tukimin.

Tukimin adalah pembantu Bung Karno yang setia. Ia membantu, mengawal, tak jarang menjadi sopir Presiden. Nah, demi melihat tuannya rapat tanpa kopi dan sepotong roti, ia berinisiatif mencari bantuan. Tanpa izin formal, Tukimin segera keluar Pegangsaan Timur membawa mobil Bung Karno. Satu tujuannya: hendak mencarikan bantuan kopi dan makanan untuk rapat darurat malam itu.

Setelah mobil keluar halaman Pegangsaan Timur, pasukan berani mati segera menutup jalan masuk, dan  berjaga-jaga dari kemungkinan sergapan musuh. Merekalah, ya… pasukan berani mati itulah perisai hidup yang menyediakan tubuhnya untuk melindungi Bung Karno dan para pemimpin negeri ini.

Lain adegan, kembali ke perjalanan Tukimin. Rupanya, begitu “Mobil Sukarno” keluar dari Pegangsaan, para intel NICA langsung mengabarkan kepada markas besar mereka. Kejadian selanjutnya sungguh mengerikan. Sebuah truk NICA dengan sengaja ditubrukkan ke mobil yang dikendarai Tukimin, dengan satu asumsi, di dalamnya terdapat Sukarno. Musuh nomor satu Sekutu, terlebih Belanda.

Mobil itu hancur. Kalau Sukarno ada di dalamnya, tentu hancur pula. Bagaimana nasib Tukimi? Ia bisa lebih hancur, kalau saja kelompok pemuda tidak segera datang dan membawanya ke rumah sakit. (roso daras)

Iklan
Published in: on 13 September 2009 at 15:26  Comments (5)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/09/13/tukimin-disangka-sukarno/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sangat disayangkan hingga kini tidak ada satu pun jalan di Indonesia yang bernama Jl.Tukimin No.1, atau bahkan Tukimin Award, apabila melihat solidaritas dan pengabdiannya kepada para pahlawan revolusi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. saya yakin para pahlawan yang duduk merapat dan berdikusi pada rapat2 kenegaraan tersebut memiliki inspirasi dan pikiran yang cemerlang bisa disebabkan dari secangkir kopi dan makanan ringan yang disediakan oleh Tukimin. Namun itulah egosentris para historitor yang hanya menggambil seutas benang yang hanya agar sebuah benang merah tersambung dan dapat dijadikan untaian kilas balik. hiroik sejatinya takan pernah terungkap.
    Godbless Mr. Tukimin for to be cargoman, and Godbless for you all that they have courage like Mr.Tukimin.

  2. perjuangan orang2 yang lebih kecil, memang sangat mendukung orang2 besar yang menjadi pemimpin bangsa ini..

    mereka layak diberi sejarah dan juga cerita yang jelas dan membanggakan

  3. Tukimin..ah rasanya gak pantas kalo tidak pake bapak Tukimin, anak sekarang jarang nyebut bapak/ibu lagi, gak tau apa alasannya, menurut saya bapak sangat pemberani melebihi pasukan berani mati BK.

  4. oh….haru dan heroiknya…
    saya sbg generasi muda seakan lupa zaman saat itu…
    penuh energi nasionalisme….energi yg sekarang ini searasa raib entah kemana….

  5. Berkacalah penguasa2 sekarang terhadap masa lalu. Pendahulumu bekerja tanpa pamrih. Bahkan menjadi presiden pun Mr. Soekarno ikhlas menerima. Walahhh…kok jaman sekarang ini malah kuwalik alias terbalik. Mo jadi pejabat aja sudah mesti ngluarin duit. Sudah kayak karyawan pabrik aja. Ada calonya juga lho…gemana mo mikir buat rakyat kecil yg berjasa buat negeri ini seperti kepada Mr. Tukimin.
    So pasti, mereka akan mikirin balikin modal gue dulu…masalah rakyat…gampang, sambil jalan…
    Hai penguasa2 Indonesia sekarang…rakyat berseru pada kalian…tauladanilah para pendahulumu. Bekerjalah yg ikhlas, yg ngga DPR atau MPR atau dewan yg lainnya…yang ngga presiden atau para pembantunya…SEMUA SATU TUJUAN…WUJUDKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT INDONESIA YANG BERKEADILAN SOSIAL. CIPTAKAN INDONESIA YANG MAKMUR DAN BERMARTABAT. Bangkitlah bangsaku dari tidur panjangmu.
    Merdekaaaaaa………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: