Balada Prihatin

BK Periksa Pasukan

“Prihatin” sebagai sebuah nama, bukan hal aneh, khususnya di tanah Jawa. Para orang tua, memiliki berbagai alasan sebelum memberi sebuah nama buat si jabang bayi yang baru lahir. Ada yang memberi nama anak atas dasar latar belakang keadaan. Misal: Prihatin. Bisa jadi dia dilahirkan dalam situasi yang memprihatinkan. Atau justru dilahirkan dengan doa dan pengharapan, agar kelak ia menjadi pribadi yang prihatin.

“Prihatin” tidak semata berkonotasi sesuatu yang menyedihkan, sengsara, dan nestapa. Prihatin juga memiliki makna “semeleh” atau tawadhu’, rendah hati, dan tangguh menghadapi cobaan hidup. Selain itu, prihatin juga memiliki makna mawas diri, toleran, dan sederhana.

Masih banyak contoh nama lain yang juga mengandung pengharapan dan doa seperti “Slamet” (selamat), “Bejo” (beruntung), “Pangkat” (berkedudukan), dan lain-lain. Coba tanyakan kepada orang tua, apa arti dan maksud nama yang mereka berikan buat Anda?

Kembali ke Prihatin. Kebetulan, tokoh kita yang satu ini terbilang bersejarah, sekalipun letaknya ada ada di pinggiran pusaran sejarah Bung Karno. Benar. Dia cukup dekat dengan Bung Karno, karena dia termasuk salah satu anggota detasemen kawal alias pengawal pribadi Presiden Sukarno. Dia juga terbilang jauh dari Bung Karno, karena jumlah pengawal bukannya sedikit, dan lagi, tidak setiap saat Prihatin mengawal presidennya.

Nama Prihatin mencuat dalam suatu peristiwa yang cukup dramatis. Syahdan, di suatu pagi, Bung Karno memanggil komandan detasemen kawal, Mangil, dan memerintahkan agar dia mengumpulkan semua anak buahnya. Tak lama setelah perintah dilaksanakan, Mangil kembali menghadap dan melaporkan bahwa semua pengawal yang bertugas hari itu, sudah berbaris sikap sempurna di halaman belakang Istana.

Tak berapa lama, Bung Karno berjalan menuju barisan pengawal. Langkahnya sedikit tergesa, ekspresi wajahnya masam cenderung murka. Mangil memendam seribu tanya. Mau bertanya, takut. Tidak bertanya, sejuta tanya meronta-ronta di dada: “Ada apa? Mengapa Bung Karno tampak marah? Kesalahan apa yang telah diperbuat oleh para pengawal?” dan masih banyak tanya yang lain, mengobrak-abrik benak Mangil, yang berjalan tergesa di belakang Bung Karno.

Lebih tercengang Mangil, manakala sesampai di depan barisan pengawal, tanpa berkata satu kata pun Bung Karno langsung melayangkan tamparan ke pipi kanan pengawal. Tanpa kecuali, dari yang berdiri di paling kanan, terus bergeser satu per satu di sebelah kirinya. Semua pengawal mendapat “berkah” tamparan Bung Karno di pagi yang sejuk itu.

Mangil sebagai komandan pengawal memang tidak mendapat “berkah” itu. Justru karena itu ia lebih penasaran, sehingga keluarlah kalimat, “Bapak… sabar dulu Pak…” belum selesai Mangil menuntaskan kalimat, Bung Karno menyergah, “Diam…!!!” Lalu…, laksana patung, Mangil spontan diam sikap sempurna, menghormat, dan mengatupkan mulut rapat-rapat. Serapat-rapatnya.

Plak… plak… plak… plak…. semua pengawal mendapat keplakan Bung Karno. Sampai di pengawal terakhir, Bung Karno berhenti sejenak, memandang tajam ke arah barisan pengawal. Satu per satu pengawal ditatap dalam, dan tidak satu pun yang berani menatap balas. Semua menunduk.

Setelah usai “upacara” penamparan pagi hari, Bung Karno balik badan, berjalan kembali ke dalam Istana. Mangil membubarkan barisan pengawal, dan mengumpulkannya di sebuah ruang. Di situlah dibahas, dari hati ke hati, ada peristiwa apa sebelumnya, sehingga Bung Karno marah sampai menampar para pengawalnya.

Dari referensi yang ada, memang tidak terungkap pokok persoalan. Yang pasti, para pengawal akhirnya tahu, bahwa telah terjadi kesalah-pahaman. Bung Karno telah menerima informasi yang keliru yang melibatkan para pengawal. Kesimpulannya, dalam kasus pagi hari itu, kesalahan bukan terletak pada para pengawal, melainkan Bung Karno yang salah, karena menelan informasi yang keliru secara bulat-bulat.

Rapat darurat para pengawal akhirnya menyepakati, “Harus ada klarifikasi. Harus ada yang melaporkan kepada Bapak, tentang kejadian yang sebenarnya. Bapak harus diberi tahu, bahwa para pengawal tidak salah.”

Sampai pada kesimpulan itu, sungguh bulat pendapat mereka. Tidak ada yang tidak setuju. Problem muncul ketika salah seorang dari mereka menyeruak suasana, “Lantas, siapa yang harus memberi tahu Bapak?” Yang terjadi kemudian adalah saling pandang. Mangil sekalipun, sebagai komandan detasemen kawal, tidak punya nyali untuk menghadap dan mengutarakan pendapat dalam keadaan Bung Karno murka.

Nah. Di sinilah Prihatin ambil peran penting. Mata mereka kemudian ditubrukkan ke sesosok pengawal bernama Prihatin. Ya, hanya Prihatin yang bisa menghadap Bung Karno, berbicara dengan Bung Karno, tanpa membuat Bung Karno lebih marah. Ini sudah teruji dan terbukti. Dalam banyak peristiwa sebelum-sebelumnya, jika Bung Karno sedang tidak dalam suasana hati yang gembira, sementara pengawal harus menyampaikan sesuatu, maka Prihatin-lah orang yang ditunjuk.

Prihatin sendiri orangnya nothing to lose… ia mau-mau saja menunaikan amanat teman-teman pengawal, meski itu sebuah tindakan “nekad”. Meski tak jarang, karena “kenekadannya” Prihatin mendapat dampratan, semprotan, dan tumpahan amarah Bung Karno. Dengan wajah yang polos, Prihatin hanya diam, menunduk, dan tetap correct sebagai pengawal.

Waktu terus berlalu…. Satu masalah selesai, datang lagi masalah, selesai, begitu seterusnya menjadi sebuah siklus rutin, romantika hubungan Bung Karno dengan para pengawalnya. Tiba suatu saat, Bung Karno berkesempatan berdua Mangil, di Istana Tampak Siring, Bali. Di momen inilah nama Prihatin kembali berkibar….

“Mangil…,” kata Bung Karno membuka obrolan, “saya terkadang prihatin dengan Prihatin. Dia tidak bersalah, tetapi karena timing yang tidak tepat, suasana hati yang sedang tidak pas, membuat ia sering menjadi sasaran amarah saya.” Mangil hanya mengangguk, sambil menunggu kalimat Presiden Sukarno selanjutnya. “Mangil…,” Bung Karno melanjutkan kalimat, “saya berjanji, kalau ada kesempatan lawatan ke luar negeri, saya akan mengajak dia.”

Mangil mencatat. Sejarah juga mencatat. Dalam lawatan ke luar negeri berikutnya, nama Prihatin ada di dalam daftar pengawal yang diikutsertakan. Jadilah, Prihatin berkesempatan melihat Kanada yang indah…. (roso daras)

Published in: on 30 September 2009 at 08:20  Comments (14)  
Tags: , , , ,

Dewi Ngambek, Bung Karno Lolos dari Pembunuhan

Dewi dan SukarnoGerakan 30 September atau G-30-S, atau ada yang lebih suka menyebut Gerakan 1 Oktober atau Gestok, pada hakikatnya sama, yakni sebuah tragedi berdarah yang merenggut tujuh perwira TNI-AD. Catatan sejarah mengenai peristiwa kelabu itu, ditandai dengan episode sebuah aksi terkutuk yang diprakarsai Partai Komunis Indonesia (PKI). Karenanya, istilah G-30-S selalu diikuti dengan garis miring PKI.

Berbagai publikasi mengenai perisitwa tersebut sudah banyak beredar. Bahkan, berbagai diskusi, seminar, sarasehan acap digelar. Khususnya menjelang akhir September. Serpihan sejarah bermunculan, mulai dari keterlibatan CIA hingga keterlibatan –langsung atau tidak langsung– mantan penguasa Orba, Soeharto. Dalam pada itu, beredar pula publikasi yang mencoba mengukuhkan stigma bahwa Sukarno juga telibat, langsung atau tidak langsung dalam peristiwa tersebut.

Yang pasti, pasca G-30-S, pasca Gestok, yang secara kasat mata membenturkan Dewan Revolusi dan Dewan Jenderal, berakibat pada upaya sistematis menjatuhkan kredibilitas Sukarno sebagai Presiden. Adapun tujuh perwira yang menjadi korban kebrutalan oknum pasukan Resimen Cakrabirawa itu, adalah Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI Harjono MT, Brigjen TNI Sutojo Siswomihardjo, Mayjen TNI  S. Parman, Brigjen TNI D.I.Panjaitan dan Lettu Pierre Tendean.

Nah, tahukah Anda, bahwa di balik itu semua, sejatinya Dewan Revolusi juga mengancam nyawa Presiden Sukarno? Kesaksian ini diungkapkan Moch. Achadi, mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi (Mentranskop) Kabinet Dwikora. Mengurai kesaksiannya ihwal peristiwa genting itu, sungguh laksana membayangkan sebuah lakon drama yang mencekam.

Kisah bermula dari Rapat Teknik, 30 September 1965 malam di Istora Senayan, Jakarta. Sesuai jadwal, usai memberi pidato, Bung Karno kembali ke Istana, karena esok paginya, 1 Oktober 1965, ia harus menerima sejumlah tamu untuk urusan negara.  Memang, dalam skenario gerakan, malam itu semua “objek” diatur sedemikian rupa supaya pada malam 1 Oktober 1965 ada di rumah masing-masing.

Ratna Sari Dewi SukarnoItulah mengapa, penculikan para jenderal berlangsung mulus, karena pada malam itu memang semua ada di rumah masing-masing. Bagaimana dengan Bung Karno? Inilah yang terkait erat dengan judul di atas… ya… terkait dengan ngambeknya Ratna Sari Dewi, istri Bung Karno nan jelita yang berdarah Jepang itu.

Syahdan, tanggal 29 September 1965 malam adalah giliran Bung Karno mengunjunginya di kediaman Wisma Yaso, sekarang Museum Satria Mandala di Jl. Gatot Subroto. Namun karena kesibukan yang luar biasa, Bung Karno lupa tidak mengunjungi Dewi. Maka, Dewi pun ngambek dibuatnya. Nah, esok malamnya, 30 September 1965, Dewi mengajak Ny. Sjarief Thayeb, istri Menteri Perguruan Tinggi, bersenang-senang di klub malam Hotel Indonesia.

Peristiwa itu diketahui oleh Letkol (Tit) Suparto. Dia adalah sopir, sekaligus orang dekat Bung Karno, khususnya pada hari itu. Dalam perjalanan dari Istora Senayan menuju Istana, melalui obrolan ringan, Suparto melapor ke Bung Karno. “Bu Dewi ngambek lho pak….” Awalnya hanya pernyataan pancingan. Namun ketika Bung Karno merespons antusas, barulah Suparto melanjutkan, “Bapak kan kemarin harusnya mengunjungi Bu Dewi, tetapi Bapak tidak ke sana.”

Atas laporan Suparto, Bung Karno makin antusias menyelidik dan mencari tahu cerita selanjutnya. “Yaaa… sekarang Bu Dewi sedang di kelab malam di Hotel Indonesia bersama Ibu Sjarief Thayeb.” Spontan Bung Karno mengeluarkan perintah dadakan, dan hanya Suparto yang tahu perintah itu. Intinya, “Lekas kembali ke Istana. Tukar mobil dan tukar pakaian, langsung keluar lagi ke Hotel Indonesia, jemput Bu Dewi.”

Itulah peristiwa 30 September 1965 malam. Sekembali ke Istana, Bung Karno bertukar pakaian, lalu keluar lagi bersama Suparto menjemput Dewi di Hotel Indonesia. Sesampai di pelataran parkir, Bung Karno menyuruh Suparto masuk, menjumpai Dewi dan memberi tahu ihwal kedatangannya menjemput.

Demi mendapati kedatangan Suparto dan informasi yang disampaikan, Dewi pun bergegas keluar kelab malam dan menemui Bung Karno yang sudah menunggu di dalam mobil. Cerita berlanjut ke Suparto membawa pasangan Bung Karno – Dewi ke Wisma Yaso. Di sanalah Bung Karno menghabiskan malam berdua istrinya yang jelita.

Kisah berlanjut pagi hari, ketika Brigjen Supardjo datang ke Istana hendak menjumpai Bung Karno. Sebagai pentolan Cenko (Central Komando) PKI, Supardjo mendapat tugas untuk meminta persetujuan Bung Karno atas gerakan Dewan Revolusi yang menghabisi apa yang disebut Dewan Jenderal. Perintah Cenko PKI kepada Supardjo adalah, kalau Bung Karno menolak menandatangani persetujuan pembantaian Dewan Jenderal, maka Supardjo harus membunuh Bung Karno pagi itu juga. Seketika.

Apa yang terjadi? Bung Karno tidak ada di Istana. Ajudan dan pengawal yang ada di Istana pun tidak tahu di mana Bung Karno berada. Bisa dimengerti, karena yang mengetahui peristiwa malam itu hanya Bung Karno dan Suparto, sopir dan orang dekat yang mendampingi Bung Karno 30 September 1965.

Sementara itu, pada episode yang lain, Bung Karno bersama Suparto meninggalkan Wisma Yaso pagi hari hendak kembali ke Istana. Apa yang terjadi? Di luar Istana tampak keadaan yang mencurigakan, banyak pasukan tak dikenal. Pengawal spontan membelokkan arah mobil Bung Karno ke Slipi, ke kediaman istri yang lain, Harjatie. Dari Slipi itulah pengawal dan ajudan berkoordinasi mengenai situasi genting yang sedang terjadi.

Satu hal yang bisa dipetik dari peristiwa 30 September 1965 malam, adalah, kalau saja Dewi tidak ngambek…. Kalau saja Suparto tidak melaporkan kepada Bung Karno ihwal ngambeknya Dewi…. Kalau saja Bung Karno tidak berinisiatif menjemput Dewi di Hotel Indonesia dan pulang ke Wisma Yaso…. Bung Karno pasti sudah ditembak mati Supardjo. Mengapa? Semua kalkulasi tidak akan menyimpulkan Bung Karno tunduk pada Supardjo dan menandatangani persetujuan gerakan Dewan Revolusi. Dan ketika Bung Karno menolak tanda tangan, sudah jelas apa yang terjadi, Supardjo harus menembak mati Bung Karno saat itu juga.

achadi2Bagaimana rangkaian kisah di atas tersusun? Adalah Moch. Achadi, yang secara kebetulan adalah paman dari Sutarto, sopir Bung Karno pada 30 September 1965, sehingga ia mengetahui dari Sutarto langsung peristiwa tadi. Kemudian, secara kebetulan pula, ketika Achadi ditahan penguasa Orde Baru, ia berdekatan dengan sel Brigjen Supardjo yang bertugas mengeksekusi Bung Karno seandainya tidak memberi restu kepada Dewan Revolusi. Begitulah sejarah terbentuk. Begitulah kebenaran mengalir menemukan jalannya sendiri.  (roso daras)

Guntur Main Yoyo Bersama Julia

guntur dan julia, anaknya wapres Nixon main yoyo washington 56

Umur 12 tahun, Guntur diajak serta dalam kunjungan perdana Bung Karno ke Amerika Serikat. Dalam kunjungan selama kurang lebih tiga pekan itu, Guntur mengikuti hampir seluruh agenda non-formal bapaknya.Termasuk mengunjungi Hollywood, Disneyland, dan tempat-tempat lain.

Tidak hanya itu, Guntur juga sempat bersosialisasi dengan keluarga Wakil Presiden Nixon. Bahkan seperti tampak pada foto, Guntur tengah bermain yoyo bersama Julia, putri Wakil Presiden Nixon. Entahlah, apakah Guntur masih menjalin komunikasi dengan Julia Nixon? (roso daras)

bersam guntur di Disnayland

Published in: on 25 September 2009 at 05:20  Comments (1)  
Tags: , , , ,

Pilih Muso atau Bung Karno

muso dan logo PKIBerat nian perjalanan Republik Indonesia. Ibarat Gatotkaca, sesaat setelah kelahirannya, ia harus digembleng di kawah candradimuka. Nasib republik benar-benar menjadi pertaruhan dan pertarungan sengit antarelemen bangsa yang hendak memaksakan ideologi dan kepentingannya.

Di saat Sekutu mendarat. Di kala Sukarno mengungsi ke Yogya. Pemerintah Republik Indonesia seperti sebuah sampan di tengah samudera. Diombang-ambingkan gelombang, dihempas badai. Sekelompok elite ingin memaksakan sebuah bentuk negara Uni Belanda. Pelopornya adalah Sutan Sjahrir. Di sisi lain, ektremis kanan menghendaki sebuah bentuk negara Islam. Sementara, tokoh kiri seperti Muso, Alimin, Amir Sjarifuddin, berusaha agar komunis menjadi ideologi negara.

Pertentangan tadi terus memuncak. Masing-masing pihak “bergerilya” dengan caranya. Yang kanan mencoba cara-cara kanan. Yang kiri mencoba cara-cara kiri. Yang bukan keduanya, mencoba dengan aneka cara. Bung Karno? Dia final dengan Pancasila sebagai ideologi negara.

Akan tetapi, dalam suasana gelombang pasang, maka pasang-surut keadaan menjadi begitu dinamis. Sementara kelompok Sutan Sjahrir melakukan lobby-lobby tertentu dengan Belanda, maka para tokoh komunis menjalin sebuah poros ke Uni Soviet.  Sedangkan, Sukarno sendiri masih menjadi incaran polisi Belanda. Sukarno masih menghadapi ancaman-ancaman pembunuhan dari polisi Belanda. Sukarno masih berjuang menegakkan pemerintahan republik yang masih compang-camping.

Sang kala menginjak hari ke-18 bulan September tahun 1948 ketika Muso, Alimin, Suriono dan para tokoh kiri lain memproklamasikan Pemerintah Komunis Uni Soviet di Indonesia. Deklarasi itu dikumandangkan di Madiun, Jawa Timur, sebagai sebuah bentuk makar, sebagai sebuah ingkar atas negara proklamasi 17 Agustus 1945. Ironinya, proklamasi pemerintahan komunis itu justru didukung oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin. Bung Karno shock dibuatnya.

Di tengah kejaran polisi Belanda, di tengah kondisi pemerintahan transisi di Yogyakarta, Bung Karno segera mengambil sikap tegas atas peristiwa yang disebut “Madiun Affair” itu. Melalui siaran radio nasional, Bung Karno bertanya kepada seluruh rakyat Indonesia, “Pilih Muso atau Bung Karno”. Dalam konteks kalimat yang lebih lengkap, Bung Karno mengumandangkan situasi aktual tentang peristiwa Madiun dan menyuruh rakyat menentukan pilihan, “Pilih Sukarno-Hatta atau Muso dengan PKI-nya”.

Tidak butuh waktu lama, ketika Sukarno mendapat jawab, rakyat masih solid di belakang dwitunggal Sukarno-Hatta. Maka Sukarno pun langsung memerintahkan Divisi Siliwangi di bawah pimpinan AH Nasution untuk menumpas pemerintahan komunis Soviet di Indonesia pimpinan Muso. Hanya dalam tempo sebulan, Oktober 1948 Divisi Siliwangi menggempur pemerintahan komunis pimpinan Muso.

“Suwe mijet wohing ranti”… tidak memerlukan waktu lama, pemberontakan itu berhasil ditumpas. Muso sendiri tewas dalam suatu “pertempuran kecil sekali”. Pemberontakan pun padam dengan lekas. Sejumlah pentolan yang tertangkap hidup-hidup seperti Amir Sjarifuddin, Suriono dan lain-lain, digelandang ke ibukota negara, Yogyakarta untuk diadili.

Amir dan Suriono Tertangkap

Selesaikah persoalan bangsa dan negara muda bernama Republik Indonesia? Ah, jauh panggang dari api. Sesaat setelah itu, Bung Karno dan sejumlah tokoh politik negeri, ditangkap Belanda dan dibuang ke Sumatera. Ya, tiga bulan setelah “peristiwa Madiun”, sejarah kita memiliki peristiwa penting yang lain lagi. (roso daras)

Sukarno Setengah Dewa

Bung Karno dengan Paku Buwono XII 1946

Gelar “Raden” di depan nama Jawa, adalah simbol status sosial yang tinggi: Ningrat alias Bangsawan. Itu artinya, Raden Sukarno adalah trah manusia dari kasta berdarah biru. Di zaman manusia masih memuja batu, trah ningrat identik dengan keturunan dewa. Bagi sebagian rakyat jelata, Raden Sukarno digolongkan sebagai manusia setengah dewa karena keningratannya. Kaum bangsawan, memang dipercaya merupakan khafilah di muka bumi. Lahir dan dilahirkan dengan kodrat menjadi pemimpin bagi bangsanya.

Paham seperti itu, tidak hanya berlaku di bumi Nusantara, tetapi juga di berbagai belahan dunia yang lain. Simak saja sejarah kekaisaran Roma, dinasti-dinasti Tiongkok, khafilah-khafilah Timur Tengah, peradaban tua Yunani, hingga kehidupan primitif di pedalaman Amazon.

Adalah Putra Sang Fajar, yang lahir dengan kodrat menjadi pemimpin bagi bangsanya. Adalah Kusno, yang kemudian diganti nama menjadi Sukarno, sang pembebas negeri dari cengkeraman durjana penjajah. Adalah Bung Karno, lelaki pecinta keindahan, yang terlahir sebagai ikon perubahan peradaban. Dialah yang mempreteli “alur dewa” pada dirinya. Dia sendirilah yang mencopot gelar raden di depan namanya.

Perubahan tidak dilakukan dalam hitungan kedipan mata. Namun setidaknya bisa dicatat, tonggak kesadaran Sukarno tadi, terjadi sesaat setelah lulus kuliah, tahunnya berkisar 1926. Pada waktu itu, Sukarno muda mulai bergulat dengan sebuah persimpangan. Simpang jalan antara bekerja mengamalkan ilmu teknik sipilnya, atau bekerja membangun pondasi sebuah bangsa yang merdeka.

Sejarah mencatat, ia melakukan keduanya. Pada 26 Juli 1926, ia membuka biro teknik yang pertama, bekerja sama dengan teman sekelasnya di THS, Ir. Anwari. Pada rentang kurun yang sama, Sukarno juga makin jauh terseret dalam gerakan politik. Gerakan kebangsaan. Ia berpidato, berkhotbah, melancarkan propaganda kebangsaan bagi jiwa-jiwa kerdil yang telah ratusan tahun direndahkan, ditekan, diinjak, dihinakan.

Sebagai lelaki 25 tahun, semangat Sukarno masih menyala-nyala. Ia mengkhotbahkan nasionalisme terpimpin. Ia cekoki rakyat-rakyat di pinggir jalan, rakyat-rakyat di pedalaman, rakyat-rakyat pemakan bangku sekolah dengan kesadaran nasional. Ia tidak hanya mencekoki kesadaran berbangsa, tetapi juga tampil menjadi pemimpin di antara rakyatnya.

Nah, tahukah Anda, hal apa yang pertama kali ia cekokkan ke otak bangsanya? Tak lain adalah paham demokrasi sebagai ganti feodalisme yang telah bercokol berabad-abad. Benar. Ia mulai dari sana.

Raden SukarnoBegini antara lain bunyi khotbah Bung Karno, “Kita memerlukan persamaan hak. Kita telah mengalami ketidaksamaan selama hidup kita. Mari kita tanggalkan pemakaian gelar-gelar. Walaupun saya dilahirkan dalam kelas ningrat, saya tidak pernah menyebut diriku raden dan saya minta kepada saudara-saudara mulai dari saat ini dan untuk seterusnya supaya saudara-saudara jangan memanggil saya raden. Mulai dari sekarang, jangan ada seorang pun menyebutku sebagai tedaking kusuma rembesing madu — keturunan bangsawan. Tidak. Aku hanya cucu dari seorang petani. Feodalisme adalah kepunyaan masa lalu yang sudah dikubur. Feodalisme bukan kepunyaan Indonesia di masa yang akan datang.”

Gamblang benar sikap Bung Karno terhadap feodalisme, sekalipun ia berasal dari sana. Gamblang pula apa yang ada di benaknya. Perjuangan yang dilandaskan atas perbedaan kelas, tidak akan melahirkan sebuah bangsa demokratis. Perjuangan mencapai Indonesia merdeka, tidak akan kokoh tanpa pondasi keterlibatan rakyat semesta. Karena itu pula, yang pertama Bung Karno lakukan adalah menaikkan derajat rakyat yang selamanya hanya mengenal sistem feodalisme, ditingkah imperialisme yang dholim.

Langkah demi langkah mewujudkan perjuangan tanpa perbedaan kelas, dimulai dari pendekatan bahasa. Sukarno tidak mungkin melanggengkan bahasa Jawa, bahasa ibu, karena ia tahu betul, dalam bahasa Jawa terdapat 13 tingkatan yang pemakaiannya tergantung pada siapa yang menjadi lawan bicara. Belum lagi fakta, bahwa Nusantara memiliki ratusan bahasa daerah, dengan ribuan dialeknya.

Pada saat yang sama, bahasa Indonesia (Melayu), hanya dipakai oleh kaum ningrat, tidak oleh rayat biasa. Itulah satu celah yang ditangkap Sukarno dengan jitu. Maka, ia pun berseru, “Mulai hari ini, menit ini, mari kita berbicara dalam bahasa Indonesia.” Ya, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat dari yang paling ningrat hingga yang paling sudra, untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Suatu cara mengangkat derajat bangsa, dan meninggalkan feodalisme.

Dengan bahasa Indonesia, Bung Karno menekankan pesan penting, “Hendaknya rakyat Marhaen dan orang bangsawan berbicara dalam bahasa yang sama. Hendaknya seseorang dari satu pulau dapat berhubungan dengan saudara-saudarnya di pulau lain dalam bahasa yang sama. Kalau kita, yang bernak-pinak seperti kelinci, akan menjadi satu masyarakat, satu bangsa, kita harus mempunyai satu bahasa persatuan. Bahasa dari Indonesia Baru.” (roso daras)

Published in: on 21 September 2009 at 06:53  Comments (1)  
Tags: , , , , ,

Lebaran Dulu Yaa…

Selamat Idul Fitri

Published in: on 20 September 2009 at 04:56  Comments (4)  

Marhaen, Jones, dan Smith

Makam Marhaen

Marhaenisme adalah ajaran Sukarno. Sudah banyak literatur mengenai hal itu. Kalau toh topik itu harus diangkat kembali di sini, lebih karena mengejar kata “afdol”. Tidak afdol kalau blog berisi hal-ihwal tentang Bung Karno, tetapi justru tidak menyinggung sama sekali tentang Marhaen dan Marhaenisme. Bagi yang sudah tahu, anggap saja ini sebuah refreshing. Bagi yang belum tahu, semoga postingan ini bermanfaat.

Mungkin tidak akan terjadi perisitiwa pagi hari itu, kalau saja ia tidak memendam kecewa terhadap praktik pendidikan tinggi yang ditempuhnya. Kecewa terhadap mata kuliah teknik sipil yang dicekokkan dosen-dosen Belanda kepadanya. Hari itu, ia putuskan bolos kuliah. Anda mungkin bertanya, kekecewaan seperti apa yang dia rasakan selama kuliah di THS? Kita bahas dalam kesempatan yang lain.

Sekarang…  kembali ke… Mar….haen. Pagi hari di saat pikiran suntuk, Sukarno muda mengayun langkah, mengambil sepeda onthel, dan mendayungnya tanpa tujuan. Kebetulan saja arah laju sepeda menuju Bandung Selatan, suatu daerah pertanian yang padat. Itu terjadi tahun 1920-an.

Suasana Bandung Selatan ketika itu, adalah suasana daerah pertanian. Petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing-masing luasnya kurang dari sepertiga hektare. Tak dinyana, pandangan Sukarno tertumbuk pada sosok petani muda yang tengah giat mencangkul. Dia seorang diri. Bung Karno pun tertarik menghampiri.

Di pinggir galangan sawah, Bung Karno berdiri termenung, menatap petani muda yang terus dan terus mengayunkan cangkul ke atas-ke bawah. Sejurus kemudian, Sukarno mendekat. Lebih dekat ke arah petani tadi. Demi mengetahui seseorang menghampiri, petani tadi menghentikan aktivitas mencangkul, dan melempar pandang ke arah Sukarno. Terjadilah tegur-sapa, sebuah tegur-sapa ramah khas Indonesia. Tidak ada ekspresi curiga, melainkan seringai sungging senyum pada kedua orang itu.

Saha nu kagungan ieu sadayana nu dipidamel ayeuna ku aranjeun,” tanya Bung Karno dalam bahasa Sunda yang fasih. Artinya kurang lebih, “Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?”

“Saya, juragan,” jawab petani itu.

Bung Karno bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki tanah inibersama-sama dengan orang lain?”

“O, tidak gan. Saya sendiri yang punya.”

“Tanah ini kaubeli?”

“Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

Sejenak Bung Karno terdiam. Demi melihat “tamu sawah” itu diam, si petani pun kembali mencangkul. Menggali dan menggali. Sedangkan Sukarno pun melakukan penggalian mental. Menggali teori. Mencangkul filosofi di otaknya, hingga mengalirkan pertanyaan-pertanyaan lain yang bertubi: “Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah kepunyaanmu juga?”

Petani muda kembali menghentikan kegiatan, dan menjawab, “Ya, gan.”

“Dan cangkulnya?”

“Ya, gan.”

“Bajak?”

“Saya punya, gan.”

“Untuk siapa hasil yang kau kerjakan.”

“Untuk saya, gan.”

“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”

Petani mengangkat bahu mengernyitkan dahi… “Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang istri dan empat orang anak?”

“Apakah ada yang dijual dari hasilmu.”

“Hasilnya sekadar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”

“Kau mempekerjakan orang lain?”

“Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya.”

“Apakah engkau pernah memburuh?”

“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, akan tetapi jerih-payah saya semua untuk saya.”

Kemudian Bung Karno menunjuk sebuah gubuk kecil seraya bertanya, “Siapa yang punya rumah itu?”

“Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”

“Jadi kalau begitu,” kata Bung Karno menyaring pikiran-pikiranya sendiri, “Semua ini engkau punya?”

“Ya, gan.”

Setelah itu, Bung Karno menanyakan nama petani muda itu. Dan petani itu menjawab, “Marhaen”. Nama Marhaen adalah nama biasa. Sama biasanya dengan nama Jones atau Smith di Amerika. Akan tetapi, dari dialog dengan Marhaen yang rakyat jelata itu pula Bung Karno mendapat ilham untuk rakyatnya. “Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu!” Pikir Bung Karno.

Dan sejak itu, Bung Karno menamakan rakyatnya sebagai rakyat Marhaen. (roso daras)

Published in: on 17 September 2009 at 08:52  Comments (12)  
Tags: , , ,

Merekam Rahasia Negara

Subagyo PR

Bung Karno dan Darmo Sugondo. Darmo Sugondo dan Subagyo Pr. Nah, apa keterkaitan mereka? Ini berkait erat dengan peristiwa “sowan” saya ke senior Subagyo Pr, Senin, 14 September 2009 di lantai dua, gedung Suara Pembaruan, Jl. Dewi Sartika, Jakarta Timur.

Kembali ke deretan nama di atas. Alkisah, Bung Karno memiliki sejumlah wartawan yang dekat dengannya. Saking dekatnya, tidak jarang seorang wartawan merasa sebagai “wartawan kesayangan” Bung Karno. Nah, ihwal kedekatan Bung Karno dengan Darmo Sugondo, nyaris tak ada yang bisa menyangkal. Semua wartawan senior yang tahu dan hidup pada zamannya, setuju pernyataan itu.

Bahkan, ekstrimnya, Bung Karno tidak akan memulai sebuah acara, kalau Darmo Sugondo belum kelihatan batang hidungnya. Tapi sesungguhnya dapat dimaklumi. Darmo Sugondo adalah penyiar, komentator, sekaligus reporter RRI (Radio Republik Indonesia). Tugas dia, selain melaporkan, menyiarkan, dan meliput kegiatan Presiden, juga membuat pendokumentasian secara audio semua aktivitas kepresidenan.

Itu artinya, tanpa harus ada embel-embel “kesayangan”, Bung Karno memang harus menunggu Darmo Sugondo sebelum memulai acara. Sebab, kalau Bung Karno memulai acara tanpa kehadiran Darmo Sugondo, sudah barang tentu, negara ini tidak akan memiliki dokumentasi rekaman suara Bung Karno dalam berbagai kegiatan kenegaraan.

OK. Lantas, bagaimana kaitan Darmo Sugondo dengan Subagyo Pr? Darmo Sugondo adalah penyiar sekaligus reporter senior RRI, sedangkan Subagyo Pr adalah wartawan junior RRI yang lebih banyak bertugas sebagai asisten Darmo Sugondo. Keduanya sama-sama bertugas meliput di pos Sekretariat Negara, alias meliput kegiatan kepresidenan, baik di dalam maupun luar negeri. Di Jakarta maupun di pelosok negeri.

“Pak Bagyo, ceritakan pengalaman-pengalaman personal bersama Bung Karno. Saya perlu untuk mewarnai konten blog saya…,” begitu saya memohon kepada Subagyo. Jawab dia spontan, “Banyak negatifnya…,” sambil terkekeh. Saya yakinkan, “Bagus itu Pak! Dia kan manusia juga… selain yang positif, pasti banyak negatifnya.” Subagyo lantas terkekeh lagi sambil berkata, “Soal perempuan… he…he…he….”

Kemudian dia seperti teringat sesuatu, lantas berseru, “Oh… ada! Saya sering merekam rahasia negara!” Ia kemudian menuturkan, sebagai asisten Darmo Sugondo, dia yang sering “dipantek” di ruang rapat Istana, merekam kegiatan Presiden Sukarno.  “Jadi, banyak sekali rahasia negara yang saya ketahui, di saat orang-orang kebanyakan belum mengetahui,” ujar Subagyo pula.

Sebagai staf RRI, Subagyo memang memiliki pas khusus, sehingga tidak satu pun orang, pengawal, ajudan, bisa mengusir dia dari ruang rapat Presiden, sekalipun rapat itu benar-benar rapat terutup dan bersifat rahasia. Tugas Subagyo Pr adalah merekam semua yang terungkap dalam ruang rapat tadi, khususnya merekam semua “petunjuk” Bung Karno.

“Itulah kesan yang paling berkesan. Sebab, memang ada banyak wartawan yang bertugas di Istana, tapi tidak ada yang bisa berada di ruang rapat tertutup dan rahasia, plus merekam pula… ha…ha…ha….”

Kesan-kesan yang lain? “Ah, umum saja, seperti yang banyak dirasakan wartawan-wartawan lain yang bertugas di Istana. Bahwa Bung Karno sangat perhatian kepada para wartawan. Setiap jam makan, dia selalu menyempatkan diri mendatangi ruang wartawan dan melakukan obrolan-obrolan ringan. Dalam hal itu, Subagyo Pr memuji Bung Karno sebagai pribadi yang sangat hangat.

Perjalanan karier Subagyo Pr selanjutnya berpijak di tahun 1961. Ia, dalam kapasitas masih menjadi wartawan RRI, bersama-sama H.G. Rorimpandey dan JCT Simorangkir mendirikan suratkabar Sinar Harapan. Rorimpandey sebagai Pemimpin Umum, Subagyo Pr sebagai Pemimpin Redaksi, dan JCT Simorangkir sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. (roso daras)

Published in: on 14 September 2009 at 20:18  Comments (2)  
Tags: , , ,

Tukimin Disangka Sukarno

Bung Karno Muda

Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah tonggak. Sebuah tetenger. Sebuah titik dalam rangkaian sejarah panjang “Menjadi Indonesia”. Namun sejatinya, proklamasi bukanlah suatu klimaks. Proklamasi kemerdekaan bukanlah suatu akhir dari romantisme perjuangan panjang.

Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah awal dari suatu babak revolusi bersenjata. Sebuah babak baru brutalisme. Kebrutalan tentara Sekutu yang hendak menjajah kembali, melawan brutalisme laskar pejuang dengan semboyan “Merdeka atau Mati!”  Aksi teror, pembunuhan, bahkan penganiayaan kejam terjadi hampir setiap hari.

Tentara NICA bisa dengan ngawur memuntahkan peluru ke warga sipil tak berdosa di tengah kota Jakarta. Kali lain, mereka menggedor, menyeret seisi rumah, dan mengeksekusinya tanpa ampun. Tidak jarang, tentara NICA masuk gerbong-gerong trem dan kereta api, menjarah dan merampok warga sipil. Itu semua dalam rangka mematahkan semangat perlawanan bangsa yang baru saja merdeka.

Dalam pada itu, para laskar pejuang tak gentar sedikit pun. Jangankan darah tertumpah-usus terburai, nyawa sekalipun siap mereka sabung demi tegaknya Republik. Aksi kejam tentara Sekutu, tak jarang dibalas aksi setimpal. Brutal. Sekelompok pemuda pejuang, bisa dengan beringas mencincang-cincang tentara Sekutu. Kejadian di tempat lain, terjadi perkelahian satu lawan satu. Ada kalanya berakhir dengan kematian pemuda Indonesia. Tak jarang, tentara Sekutu yang meregang nyawa. Bung Karno mencatat, antara September – Oktober 1945 saja, tak kurang 8.000 nyawa pejuang melayang di Jakarta. Belum terhitung jumlah korban di daerah-daerah yang lain.

Seperti pernah kita dengar, “patah satu tumbuh seribu”. Seperti itulah gambaran nyata tentang kebangkitan semangat heroisme pemuda Indonesia guna mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan oleh Bung Karno, atas nama bangsa Indonesia.

Seorang pemuda yang datang memimpin 10 pejuang lainnya, langsung mendapat pangkat kopral. Seorang pemuda lain yang datang memimpin 20 pemuda, langsung dianugerahi pangkat sersan. Dan… seorang pemuda yang datang dengan puluhan senapan, sekotak granat hasil rampasan tentara Sekutu, langsung mendapat pangkat perwira. Itulah sudut kecil revolusi bangsa kita.

Bagaimana nasib Sukarno? Ialah yang paling diincar. Tentara Sekutu pimpinan Inggris menyebar pasukan elite untuk menangkap hidup-hidup Sukarno. Ia harus diadili sebagai penjahat perang, dan kolaborator Jepang. Sementara, tentara Belanda lebih sadis: “Bunuh Sukarno, di mana pun kelihatan!”

Alhasil, Sukarno pada akhir tahun 1945, masuk-keluar rumah sahabat, lewat jalan-jalan bersemak belukar, menjauh sejauh mungkin dari jalan raya, menghindar sejauh mungkin dari tangkapan mata NICA. Tak jarang, Bung Karno menyamar dengan berpakaian surjan Jawa, berblangkon pula. Kala lain, ia menyamar sebagai rakyat miskin yang berjalan dengan gaya terpincang-pincang.

Sekalipun begitu, sebelum fajar merekah, Bung Karno sudah harus berada di Pegangsaan Timur 56, kembali sebagai Presiden Republik Indonesia. Nanti, saat matahari terbenam, ia kembali menyamar dan menuju kediaman sahabat yang lain lagi untuk bersembunyi dari buruan NICA.

Dalam penuturannya kepada Cindy Adams, pernah satu kali rumah persembunyiannya tercium NICA. Tak ayal, rumah itu pun diberondong tembakan membabi buta. Sukarno yang kebetulan tidur meringkuk dalam tikar di ubin yang lembab, lolos. Si tuan rumah, segera melarikan Bung Karno dari pintu samping, menghilang di kegelapan.

Paginya, ia sudah berada di Pegangsaan Timur, memimpin sidang-sidang kabinet serta rapat-rapat darurat. Mengatur jalannya Republik. Begitulah yang dilakukan Sukarno berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, sebelum akhirnya “hijrah” ke Yogyakarta.

Nah, ada satu peristiwa di antara masa itu, yakni ketika Bung Karno dan Bung Hatta memimpin rapat kabinet, membahas situasi Ibukota yang makin runyam, serta ulah tentara Sekutu yang makin ngawur. Rapat berlangsung serius, intens, hingga larut malam.

Rapat berlangsung tanpa hidangan roti ataupun secangkir kopi. Waktu itu, Presiden belum digaji. Para menteri belum bergaji. Siapa pula yang mau menggaji?

Sejauh ini, mereka hidup secara gotong-royong. Para simpatisan kemerdekaan yang hidup berkecukupan, akan menyokong kebutuhan mereka. Akan tetapi, jika tidak ada yang menghubungkan antara kebutuhan dan bantuan simpatisan, maka sama artinya tak ada bantuan. Itu dipahami benar oleh Tukimin.

Tukimin adalah pembantu Bung Karno yang setia. Ia membantu, mengawal, tak jarang menjadi sopir Presiden. Nah, demi melihat tuannya rapat tanpa kopi dan sepotong roti, ia berinisiatif mencari bantuan. Tanpa izin formal, Tukimin segera keluar Pegangsaan Timur membawa mobil Bung Karno. Satu tujuannya: hendak mencarikan bantuan kopi dan makanan untuk rapat darurat malam itu.

Setelah mobil keluar halaman Pegangsaan Timur, pasukan berani mati segera menutup jalan masuk, dan  berjaga-jaga dari kemungkinan sergapan musuh. Merekalah, ya… pasukan berani mati itulah perisai hidup yang menyediakan tubuhnya untuk melindungi Bung Karno dan para pemimpin negeri ini.

Lain adegan, kembali ke perjalanan Tukimin. Rupanya, begitu “Mobil Sukarno” keluar dari Pegangsaan, para intel NICA langsung mengabarkan kepada markas besar mereka. Kejadian selanjutnya sungguh mengerikan. Sebuah truk NICA dengan sengaja ditubrukkan ke mobil yang dikendarai Tukimin, dengan satu asumsi, di dalamnya terdapat Sukarno. Musuh nomor satu Sekutu, terlebih Belanda.

Mobil itu hancur. Kalau Sukarno ada di dalamnya, tentu hancur pula. Bagaimana nasib Tukimi? Ia bisa lebih hancur, kalau saja kelompok pemuda tidak segera datang dan membawanya ke rumah sakit. (roso daras)

Published in: on 13 September 2009 at 15:26  Comments (6)  
Tags: , ,

Diajak Bercinta Lelaki Homo

Soekarno-mudaKehidupan dalam kurungan, bisa menghancurkan, bahkan merobek-robek orientasi seksual seseorang. Tidak jarang kita mendengar berita dan cerita dari balik tembok penjara, ihwal maraknya praktek homoseksual, praktek percintaan sesama kelamin, pria dengan lelaki. Lelaki dengan pria.

Bung Karno merekam dengan baik kehidupan di balik tembok penjara Sukamiskin di Bandung. Termasuk praktek homoseksual yang terjadi di dalamnya. Bung Karno mengenal betul seorang narapidana berkebangsaan Belanda. Dalam otobiografinya, Bung Karno tidak menyebut nama, ia hanya menggambarkan, pria itu berambut keriting, berdada bidang.

Ia, diketahui masuk-keluar penjara karena sebab yang sama: Mencabuli pemuda-pemuda bumiputera, alias pribumi. Terakhir, ia kembali masuk sel dengan vonis empat tahun penjara. Padahal, belum lama ia menghirup udara bebas. Tapi itulah, orientasi homoseksual memang menyebabkan ia terus berpetualang mencari mangsa.

Sebelum dikirim kembali ke penjara, ia ditangkap polisi Belanda karena mencabuli sejumlah lelaki pribumi sekaligus. Entah apa yang ada di benaknya, tapi ia sungguh ceroboh. Bayangkan, sebagai lelaki bule, ia menonton bioskop di antara deretan kursi bumiputera. Di sekelilingnya adalah pemuda-pemuda bumiputera para calon mangsanya.

Ketika ia dikirim kembali ke bui, tak ada sedikit pun raut penyesalan. Seperti halnya para narapidana lain, maka ia pun mendapat tugas kerja di siang hari. Di antara sekian jenis pekerjaan, ia selalu menghendaki pekerjaan yang bisa berhimpit-himpitan dengan sesama napi pria. Sebaliknya, ia bisa menangis menjerit-jerit dan memohon-mohon untuk tidak ditempatkan di ruang kerja bagian obat. Sebab, di sana tidak ada siapa pun… sepi orang.

Alkisah, lelaki homo berambut keriting itu ditempatkan dalam sel di bawah Sukarno. Di sini, ia seperti mendapat “incaran” baru, pria tampan, muda pula. Tidak terlalu lama berbasa-basi, sebelum akhirnya pria bule itu mengajak bercinta Sukarno.

Dalam kesempatan yang sepi, Bung Karno melampiaskan keingintahuannya, “Kenapa?” tanya Bung Karno, “Kenapa engkau mau bercinta denganku?”

Dan dia menjawab, “Karena di sini tidak ada perempuan.”

Bung Karno pun mengangguk. Sampai pada jawaban itu, Bung Karno masih menemukan titik kewajaran pada diri seorang pria. Kemudian, Bung Karno pun berujar, “Memang benar. Aku sendiri juga menginginkan kawan perempuan (di sel ini), tapi bagaimana bisa?!”

Lelaki homo itu menimpali, “Yah… apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?”

Bung Karno pun meradang, “Oooh… Kau sakit!” (roso daras)

Published in: on 12 September 2009 at 12:48  Comments (7)  
Tags: ,