Merdeka, Antara Maeda dan Nishimura

proklamasi_indonesia_1Sukarno dituding kolaborator Jepang. Sukarno dituding “mengemis” kemerdekaan dari Jepang. Peristiwa 16 Agustus 1945 malam, kiranya bisa menggambarkan latar belakang itu semua. Melalui otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno mengisahkan critical time malam itu, antara memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dukungan Laksamana Maeda, serta sikap menentang Kolonel Nishimura.

Laksamana Tadashi Maeda dipandang Sukarno sebagai seseorang yang berpandangan luas, idealis, dan taat beragama. Sebagai prajurit yang sudah pernah merantau ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia saat masih dijajah Belanda, ia tahu dan paham akan cita-cita Indonesia merdeka. Maeda bahkan menyediakan kediamannya sebagai tempat rapat para pejuang kemerdekaan, sekaligus menjamin keamanan dan dukungannya.

Laksamana Tadashi MaedaSekarang, rumah Maeda kita kenal sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Lokasi yang tak jauh dari kediaman Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur 56. Malam 17 Agustus, rumah Maeda menjadi saksi penting bagi berdirinya Republik Indonesia.

Sikap Jepang sendiri sudah berubah. Mereka wajib menjaga status quo, tidak membiarkan tindakan politik apa pun, sampai Sekutu datang, dan Jepang menyerahkan kembali Hindia Belanda kepada yang (merasa) berhak. Maeda memiliki otoritas, sekalipun sikapnya, tidak bisa diartikan sebagai sikap pemerintah dan negara Jepang.

Merasa “kurang aman”, Sukarno pun segera meluncur ke Istana, mencari tahu pendirian pemerintahan Jepang, Gunseikan terhadap rencana kemerdekaan Indonesia. Bung Karno sekadar ingin tahu, kalaupun tidak mendukung secara terbuka, setidaknya Gunseikan bisa bersikap netral.

Di Istana, Bung Karno dijumpai Kolonel Nishimura, ajudan Gunseikan. “Dai Nippon tidak lagi mempunyai keuasaan di sini. Pada waktu sekarang, kedudukan kami hanyalah sebagai petugas polisi Tentara Sekutu. Kami sangat menyesal atas janji-janji kemerdekaan yang telah kami berikan, tetapi adalah suatu kenyataan, bahwa kami dilarang mengubah status quo. Tentara Dai Nippon tidak berdaya lagi membantu tuan.”

rumah-maedaBung Karno mencoba meyakinkan Nishimura, “Kolonel… lebih baik saya jelaskan, bahwa rencana kami hendak merebut kemerdekaan dengan kekerasan, kalau perlu. Tapi! Andaikata Gunseikan mau memalingkan mukanya dan membiarkan kami bertindak tanpa campur tangan aktif dari pihak tentara Dai Nippon, maka hasilnya akan menguntungkan kedua pihak. Tentara tuan sudah letih oleh peperangan dan tidak ada gunanya memulai lagi peperangan yang baru untuk mempertahankan sesuatu yang tidak berarti bagi mereka. Dan sebaliknya, kami tidak ingin diserahkan kepada Sekutu sebagai inventaris. Dengan pertimbangan yang masuk akal, kami bermaksud hendak meneruskan usaha sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Tenno Heika.”

Kalimat panjang lebar Bung Karno kepada Nishimura setidaknya mengandung dua pesan penting. Pertama, tahun sebelumnya saat ia diterima Tenno Heika (Kaisar Jepang), ia sudah mendapat isyarat restu untuk merdeka. Kaisar Jepang adalah kekuasaan tertinggi. Kedua, bangsa Indonesia, tetap akan meneruskan rencana memerdekakan diri dari penjajah, sekalipun harus berperang dengan tentara Jepang.

Toh, Nishimura jauh berbeda dengan Maeda. Dia bersikukuh, “Kami terikat kepada syarat-syarat penyerahan, yaitu menyerahkan kembali negeri ini kepada Sekutu dalam keadaan status quo. Gunseikan telah mengeluarkan perintah, yang melarang bangsa Indonesia mengganti pejabat-pejabat sipil atau mengadakan perubahan dalam bidang pemerintahan dalam bentuk apa pun. Dan selanjutnya, andaikata para pemuda memulai kekacauan, kami tidak dapat berbuat lain, selain menembak dan membunuh mereka!”

Ultimatum Nishimura sungguh membuat Bung Karno berada dalam tekanan yang sangat berat.  Kondis fisik dan batin Bung Karno sangat-sangat-sangat letih. Ia baru saja “diculik” para pemuda besar nafsu, kecil nyali ke Rengasdengklok. Ia harus menghadapi gerombolan pergerakan bawah tanah yang tak sabar. Ia menghadapi gerakan kaum intelektual yang cenderung berkiblat ke Belanda. Ia juga disudutkan oleh ultimatum gerakan pemuda sayap kiri. Lebih dari itu semua, ia juga harus menghadapi kekuataan tentara Jepang yang sudah kalah perang dan berada di bawah tekanan Sekutu.

Dalam kondisi seperti itu, sebaik-baiknya sikap adalah tidak memperpanjang diskusi dengan Nishimura. Yang perlu ia sampaikan adalah sebuah isyarat: Berindak (merdeka) atau mati.

Bung Karno pun bergegas kembali ke rumah Maeda dan melanjutkan perumusan naskah proklamasi dalam suasana kebatinan yang campur aduk. Pulang ke rumah menjelang Imsak. Fatmawati menjahit dua helai kain warna merah dan putih, menjadi bendera pusaka. Riwu Ga, pembantu yang setia, sudah sibuk, sibuk ap saja. Bung Karno sendiri sempat makan sahur sebelum berangkat tidur lepas subuh.

Belum genap empat jam tidur ketika ia terbangun, dan menggigil sakit. “Pating greges,” kata Bung Karno kepada Dr. Soeharto, dokter pribadinya, yang segera menyuntikkan obat. Bung Karno kembali tidur, dan terbangun sekitar 09.30 dalam keadaan yang lebih bugar. Bersiap sejenak, jam 10.00 ia pun memproklamasikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Bagaimana ancaman Jepang? Ternyata, tak satu pun tentara Jepang datang dan menembak mati Sukarno maupun para pemuda dan massa yang berkumpul di Pegangsaan Timur 56. Pembacaan teks proklamasi dalam gelombang suara serak Bung Karno, berlangsung aman, lancar, dan khidmad.

MERDEKAAA !!! (roso daras)

Presiden dengan 26 Gelar Doktor HC

gelar doktor

Ada saja alasan mengapa Sukarno harus gemar membaca. Ada saja alasan mengapa Sukarno harus rajin belajar. Dan… ada saja cara Sukarno untuk belajar cepat mengenai segala sesuatu hal.

Didorong ego yang meluap-luap untuk bisa bersaing dengan siswa-siswa bule, Bung Karno sangat tekun membaca, dan sangat serius belajar. Di HBS Surabaya misalnya, dari 300 murid yang ada, hanya 20 murid saja yang pribumi. Satu di antaranya adalah Sukarno. Sekalipun sulit menarik simpati teman-teman sekelas yang keturunan penjajah, setidaknya ada satu dua guru,yang menaruh rasa sayang kepadanya.

Dari simpati gurunya, tak jarang, ia mendapat fasilitas lebih untuk bisa ‘mengacak-acak’ perpustakaan dan membaca segala buku, baik yang ia gemari maupun yang tidak ia sukai. Lantas, manakala problem berbahasa Belanda menghambat rasa haus ilmunya, ia pun sudah punya jalan pintas: Merayu noni Belanda sebagai pacarnya. Berpacaran dengan noni Belanda, adalah cara praktis lekas mahir berbahasa Belanda. Mien Hessels, adalah salah satu pacar Bung Karno yang berkebangsaan Belanda.

Usia belum genap 16 tahun, Bung Karno sudah membaca karya besar orang-orang besar dunia. Di antaranya, ia mengagumi Thomas Jefferson dengan Declaration of Independence yang ditulis tahun 1776. Sukarno muda, juga mengkaji gagasan-gagasan George Washington, Paul Revere, hingga Abraham Lincoln.

Tokoh pemikir bangsa lain, seperti Gladstone, Sidney dan Beatrice Webb juga dipelajarinya. Ia mempelajari Gerakan Buruh Inggris dari tokoh-tokoh tadi. Tokoh Italia? Ia sudah bersentuhan dengan karya Mazzini, Cavour, dan Garibaldi. Tidak berhenti di situ, Sukarno bahkan sudah menelan habis ajaran Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin. Semua tokoh besar tadi, menginspirasi Sukarno muda.

Penelusuran Bung Karno terhadap karya besar orang besar, tidak pernah berhenti. Alhasil, pernah dalam suatu ketika, saya mendapat copy dokumen barang-barang milik Bung Karno di Istana Negara, yang diinventarisasi oleh aparat negara, sesaat setelah ia digulingkan. Dari ribuan item yang saya cermati, hampir 70 persennya buku. Sisanya: pakaian, lukisan, mata uang receh, satu potong bra dan satu helai sapu tangan wanita…. Ya, harta Bung Karno terbesar memang buku.

Episode kehidupannya yang lain, mengisahkan betapa dalam setiap pengasingan dirinya, baik dari Jakarta ke Ende, dari Ende ke  Bengkulu, maupun dari Bengkulu kembali ke Jakarta, bagian terbesar dari barang-barang bawaannya adalah buku. Semua itu, belum termasuk yang dirampas dan dimusnahkan penguasa penjajah.

Apa muara dari kisah ini? Sejatinya hanya untuk memperteguh judul di atas: Presiden dengan 26 Gelar Doktor Honoris Causa. Ya, itulah Sukarno, Presiden Republik Indonesia yang pertama. Itulah jumlah gelar doktor yang ia terima dari seluruh penjuru dunia, 26 gelar doktor HC, rinciannya, 19 dari luar negeri, 7 dari dalam negeri.

Yang pertama kali memberi gelar doktor kepada Bung Karno bukan perguruan tinggi Indonesia, melainkan Filipina: Far Eastern University, Manila. Sedangkan perguruan tinggi Indonesia pertama yang memberinya gelar doktor HC adalah Universias Gadjah Mada Yogyakarta pada 19 September 1951.

Adapun yang tercatat pertama kali memberinya gelar doktor HC di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik adalah Universitas Berlin, pada 23 Juni 1956. Dalam bidang yang sama, disusul Universitas Budapest pada 17 April 1960, selanjutnya barulah almamaternya, ITB pada 13 September 1962.

Catatan menyebutkan pula, Universitas Islam pertama yang menganugerahkan gelar doktor HC buat Bung Karno adalah Universitas Al Azhar, Kairo pada 24 April 1960 dalam ilmu Filsafat. Kemudian, IAIN Jakarta dalam Ushuludin Jurusan Dakwah pada 2 Deember 1963, disusul Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk Falsafah Ilmu Tauhid pada 1 Agustus 1965.

Negara-negara asal perguruan tinggi yang menganugerahkan gelar Doktor HC berturut-turut adalah Filipina, Amerika Serikat, Kanada, Jerman Barat, Uni Soviet, Yugoslavia, Cekoslovakia, Turki, Polandia, Brazil, Bulgaria, Rumania, Hongaria, RPA, Bolivia, Kamboja, dan Korea Utara.

Adapun perguruan tinggi nasional yang memberikan gelar Doktor HC buat Bung Karno adalah: 1). Universitas Gadjah Mada (19 September 1951) dalam Ilmu Hukum; 2). ITB (13 September 1962) dalam Ilmu Teknik; 3). Universitas Indonesia (2 Februari 1963) dalam Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan; 4). Universitas Hasanuddin (25 April 1963) dalam Imu Hukum; 5). IAIN Jakarta (2 Desember 1963) dalam Ushuludin jurusan Dakwah; 6). Universitas Padjadjaran (23 Desember 1964) dalam Ilmu Sejarah; 7). Universitas Muhammadiyah (1 Agustus 1965) dalam Falsafah Ilmu Tauhid.

Sependek pengetahuan saya, Sukarno-lah presiden yang menerima gelar Doktor Honoris Causa terbanyak. Bukan hanya terbanyak, melainkan dari ragam ilmu yang beragam, mulai dari ilmu teknik, sosial kemasyarakatan, hukum, filsafat, agama, dll. Itu adalah satu sisi kehidupan Bung Karno, dari ribuan sisi yang dimilikinya. (roso daras)

Published in: on 16 Agustus 2009 at 02:50  Comments (12)  
Tags: , , , ,

Sukarno, Haji Akbar

Bung Karno naik haji

Bung Karno adalah seorang Haji Akbar. Nalarnya, saat ia berangkat haji tahun 1955, ritual inti haji terjadi pada hari Jumat, sebuah hari suci bagi umat Islam. Karena itulah ia bergelar Haji Akbar. Tentu saja peristiwa itu tergolong langka. Sebuah versi menyebutkan, dari ibadah haji yang dilakukannya itulah ia mendapat tambahan nama “Ahmad”.

Akan tetapi, Bung Karno tetap Bung Karno. Ia tidak menyandangkan nama Ahmad maupun gelar haji di depan namanya. Karenanya, ia pernah berang manakala seorang wartawan Amerika Serikat menuliskan namanya sebagai Ahmad Sukarno.

Menunaikan ibadah haji tahun 1955, tentulah berbeda dengan era sekarang. Sebab, fasilitas penunjang kelancaran beribadah, belum sesempurna saat ini. Sebagai contoh, ritual sa’i, yakni berjalan kaki dengan tergesa-gesa antara dua bukit, bukit Shafa dan Marwah tidak semudah sekarang.

Sa’i, adalah sebuah ritual yang mengilas balik ketika Ismail, putra Nabi Ibrahim dari Siti Hajar, masih menyusu. Suatu hari perbekalan mereka habis, Ismail kelaparan dan kehausan. Siti Hajar mencoba mencari sumber air dengan berlari-lari antara dua bukit: Shafa ke Marwah demi seorang anak amanah Allah. Hajar pun terus mencari sumber air bolak-balik tujuh kali. Sampai suatu ketika, Allah menolong mereka dengan memberikan sumber air yang jernih, yang sekarang kita namakan air zam-zam. Sumber air yang keluar dari hentakan dan jejakan kaki Ismail.

Kisah Siti Hajar ini diabadikan dan dikenang oleh seluruh umat Islam di dunia, sebagai rangkaian ibadah haji, yakni sa’i -berlari-lari kecil atau berjalan tergesa-gesa dari Sahfa ke Marwah bolak-balik tujuh kali.

Nah, di tahun 1955, jalan antara dua bukit tadi masih sempit dan tidak rata, ditambah kepikukan pertokoan dan warung-warung makan di kiri kanan jalan tadi. Sedangkan saat ini, jalan antara Shafa dan Marwah lebar dan mulus berkat hamparan marmer, beratap pula. Jika dulu, jalur tadi sempit dan digunakan untuk dua jalur, maka saat ini sudah jauh lebih lebar, dan terdapat pemisah antara satu jalur dan jalur lainnya.

Sejarah Saudi Arabia mencatat, perbaikan jalur antara bukit Shafa dan Marwah adalah berkat saran Bung Karno kepada Raja setempat. Pada tahun 1955, pengaruh Bung Karno memang begitu besar. Tidak saja di negara-negara Asia dan Afrika, tetapi hingga ke bentang Eropa, Amerika, bahkan Timur Tengah, termasuk Saudi Arabia.

Dr. Soeharto, dokter pribadi yang ikut serta dalam rombongan haji Bung Karno, menuturkan betapa ia merasa beruntung. Sebab, tidak seperti kebanyakan jemaah haji yang lain, maka Bung Karno dan rombongan diperkenankan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di areal Masjid Nabawi, Madinah.  Raja Arab begitu menghormati Bung Karno.

Dalam perjalanan pulang dari Tanah Suci, kepada Dr. Soeharto dan didengar anggota rombongan yang lain, Bung Karno sempat menyampaikan pesan spiritualnya. Katanya, “To… kamu hendaknya jangan mempergunakan predikat haji, sebelum kamu betul-betul dapat mendirikan –tidak sekadar menjalankan– shalat secara tertib sebagaimana yang diperintahkan.”

Subhanallah…. (roso daras)

Published in: on 15 Agustus 2009 at 05:44  Comments (5)  
Tags: , ,

Foto Fatma yang Langka dan Sarat Makna

fatmawati pidato 1946

Usianya baru 19 tahun ketika disunting Bung Karno. Bung Karno sendiri 41 tahun. Fatmawati, putri Hasan Din yang asli Bengkulu, menjadi first lady yang menorehkan sejarah. Dia menjahit dengan tangannya, Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada pagi 17 Agustus 1945.

Fatmawati, dinikahi Bung Karno pada era pendudukan Jepang. Ia mengikuti pasang dan surut perjuangan mencapai kemerdekaan. Dalam masa awal kemerdekaan, tak jarang Fatmawati yang memiliki penguasaan bagus dalam hal nilai-nilai keagamaan, tak jarang didaulat bericara di atas podium. Foto di atas, adalah koleksi majalah Life. Salah satu foto langka yang sarat makna. (roso daras)

Published in: on 13 Agustus 2009 at 13:21  Comments (6)  
Tags: ,

Bung Karno Seorang Komunis?

BK berdoa

Entah perasaan apa yang ada di dada ini, ketika adik-adik kita (untuk menyebut pengunjung blogku yang  jauh lebih muda dari saya), menyoal kembali soal Bung Karno dan komunisme. Menyoal kembali pemahaman yang entah oleh siapa telah dicekokkan ke benak mereka, bahwa Sukarno seorang komunis. Satu hal yang pasti, ada rasa haru dan bahagia, manakala generasi yang masih sangat muda ini menggugat persoalan yang bagi saya, dan banyak orang lain barangkali sudah usai. Persoalan tentang, benarkah Sukarno seorang komunis?

Bung Karno, lahir bukan dari keluarga muslim dalam pengertian seperti keluarga “pak haji”. Ibunya dari Bali, yang tentu saja sebelumnya memeluk Hindu sebagai keyakinannya. Ayahnya? Seperti kebanyakan muslim Jawa tempo doeloe, yakni seorang muslim “abangan”, cenderung kejawen. Dia mengenal rukun Islam, dia menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai orang Islam, tetapi juga menjalankan ritual-ritual kejawen yang sarat mistik.

Perkenalan Sukarno dengan Islam lebih dalam, diakuinya saat usia 15 tahun, saat ia duduk di bangku HBS. Yang memperkenalkan adalah H.O.S. Cokroaminoto. Ia bahkan terbilang rajin mengikuti pengajian Muhammadiyah, di sebuah tempat di seberang Gang Peneleh, Surabaya, tempat ia tinggal bersama keluarga Cokro. Sekali dalam sebulan, ia mengaji di sana, dari pukul 20.00 hingga larut malam.

Akan tetapi, pendalaman terhadap Alquran diperoleh tahun 1928, saat ia mendekam di sel nomor 233 penjara Sukamiskin, Bandung. Segala bacaan yang berbau politik dilarang, jadilah ia mendalami Alquran sedalam-dalamnya. Kepada penulis biografinya, Cindy Adams, Bung Karno mengaku, sejak itu ia tak pernah meninggalkan sujud lima kali sehari menghadap ka’bah: Subuh, dhuhur, ‘asar, maghrib, dan isya.

Sejak itu pula, segala sesuatu dijawabnya dengan “Insya Allah — Kalau Tuhan menghendaki.” Mungkinkah seseorang yang sujud lima kali sehari menyembah Allah SWT adalah seorang komunis? Tanyalah dia, “He, Sukarno, apakah engkau akan pergi ke Bogor minggu ini?” Dan Sukarno akan menjawab, “Insya Allah, kalau Tuhan mengizinkan saya pergi.” Mungkinkan orang yang demikian dapat menjadi seorang komunis?

Ia sendiri meragukan kalau ada manusia yang bertahun-tahun disekap dalam dunia penjara yang gelap, tetapi masih meragukan adanya Tuhan. Akan halnya Sukarno, ia bertahun-tahun mendekam di balik jerajak besi. Malam-malam yang gelap, ia hanya bisa mengintip kerlip bintang di langit dari sebuah lubang penjara yang sempit. Manakala rembulan melintas, sejenak sinarnya mengintip Bung Karno di dalam penjara.

Masa-masa yang gelap di dalam penjara, masa-masa di mana ia tak bisa menelan bulat-bulat indahnya purnama dan bintang-gemintang, Bung Karno hanya bisa tertunduk sendiri. Ia sungguh tak tahu nasib akan berkata apa saat fajar menyingsing nanti. Sukarno menuturkan, dalam keadaan seperti itulah, sholat malam menjadi begitu khusuk.

Pengkajian alquran yang intens, menempatkan kesadaran tertinggi seorang Sukarno, bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagat raya. Ia Maha Kuasa. Ia Maha Ada. Tidak hanya di pengapnya ruang penjara, akan tetapi ada di mana-mana. Ia hanya esa. Tuhan ada di atas puncak gunung, di angkasa, di balik awan, di atas bintang-bintang yang ia lihat setiap malam-malam tak berawan. Tuhan ada di venus. Tuhan ada di Saturnus, Ia tidak terbagi-bagi di matahari dan di bulan. Tidak. Ia berada di mana-mana, di hadapan kita, di belakang kita, memimpin kita, menjaga kita.

Sampai pada kesadaran yang demikian, Bung Karno insaf seinsaf-insafnya, bahwa tak ada satu pun yang patut ia takutkan, karena ia sadar betul bahwa Tuhan tak jauh dari kesadarannya. Yang ia perlukan hanyalah bermunajat ke dalam hati yang terdalam untuk menemuiNya. Ia pun memasrahkan setiap langkahnya agar senantiasa dipimpin oleh Tuhan yang ia sembah dalam menggelorakan revolusi kemerdekaan.

Sukarno seorang komunis….??? Aya-aya wae…. (roso daras)

Published in: on 11 Agustus 2009 at 11:24  Comments (42)  
Tags: , , , ,

Bung Karno dan Ho Chi Minh

Bung Karno dan Ho Chi Minh

Semua kisah heroik tentara Amerika Serikat di Vietnam yang digambarkan dalam banyak film Hollywood, adalah isapan jempol. Kalau Paman Ho, alias Ho Chi Minh berkesempatan nonton film-film ala “Rambo”, ia bakal tertawa terkekeh-kekeh. Amerika tidak pernah bisa menumpas Vietnam. Sebaliknya, Vietnam adalah noda hitam dan aib bagi negara Adi Kuasa itu.

Uncle Ho berkawan dekat dengan Bung Karno. Mungkin karena beberapa sebab, tapi yang pasti, keduanya adalah tokoh besar bagi bangsanya. Kebetulan pula, Indonesia dan Vietnam memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun yang sama, 1945. Jika Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus, maka Vietnam merdeka 29 Agustus.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia untuk semua wilayah kepulauan eks Hindia Belanda, sekalipun kemudian dipecah-pecah dalam beberapa perjanjian dengan Belanda, sebelum akhirnya kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebaliknya, Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan Indo China yang meliputi semua bekas jajahan Perancis, sekalipun pada akhirnya hanya meliputi Vietnam Utara.

Kaum akademisi banyak yang menelaah dua negara: Indonesia dan Vietnam dalam perjuangan menuju merdeka. Kebetulan, kedua negara merdeka pada tahun yang sama. Bung Karno dan Ho Chi Minh sama-sama tokoh pergerakan yang piawai menggelorakan semangat juang dan jiwa merdeka rakyat semesta. Yang membedakan adalah, Bung Karno berjuang dengan melibatkan semua kelas dan lapisan masyarakat dalam iklim gotong royong, sedangkan Ho Chi Minh melakukannya dengan “hanya” menggerakkan kaum proletar (politik kelas), dan menyingkirkan kaum borjuis.

Ujungnya? Indonesia merdeka dengan Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Sedangkan Vietnam merdeka dengan ideologi komunis, dan menyisakan kaum borjuis yang rela membentuk negara-negara boneka eks penjajahnya. Pancasila sebagai ideologi yang digagas Bung Karno, jauh lebih universal, jauh lebih mampu mengakomodir kepentingan individu di setiap negara mana pun, dibanding komunisme.

Lepas dari itu, Bung Karno dan Ho Chi Minh adalah orang-orang hebat dan berjasa besar dalam melepaskan bangsanya dari cengkeraman penjajah yang biadab. (roso daras)

Published in: on 10 Agustus 2009 at 17:46  Comments (3)  
Tags: , ,

Allen Pope, Durjana CIA

ALLEN POPE

Pada galibnya, agen-agen CIA sudah melancarkan operasinya di Indonesia, jauh sebelum negeri ini merdeka. Kemudian, mereka meningkatkan intensitas pengintelannya pasca 17 Agustus 1945. Mereka terus memainkan trik-trik canggih untuk tetap menancapkan dominasi negaranya di Indonesia. Penancapan dominasi tidak saja dari sisi ekonomi, tetapi juga ideologi.

Alhasil, setelah gagal mendiskreditkan Bung Karno sebagai kolaborator Jepang, CIA menciptakan isu baru bahwa Sukarno condong ke komunis. Mereka bahkan mendanani sejumlah aksi pemberontakan separatis di Tanah Air. Mereka mendukung Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera, mereka menyokong PERMESTA di Sulawesi. Dukungan mereka tidak saja berbentuk gelontoran dolar, tetapi juga persenjataan canggih.

Bukan hanya itu, Amerika juga menggunakan pesawat tempur dan pangkalan militer yang ada di Filipina untuk membombardir Indonesia. Hari Minggu di bulan April 1958, pesawat pemberontak (yang didukung Amerika) melakukan serangan terkutuk terhadap Pulau Ambon. Serbuan laknat itu bahkan meluluhlantakkan sebuah gereja yang tengah melangsungkan misa suci. Gereja itu hancur, semua jemaah mati terbunuh.

Bukan hanya itu. Pemberontak dukungan Amerika itu juga menenggelamkan sebuah kapal Republik di pelabuhan Ambon, dan menewaskan semua personilnya. Serangan hari itu saja, ditaksir menewaskan sekitar 700 orang. Sedangkan jumlah korban seluruhnya, jauh lebih besar lagi.

Tentara Nasional Indonesia tidak tinggal diam. Dalam sebuah serangan balik, penerbang tempur Republik berhasil menjatuhkan sebuah pesawat B-25. Penerbangnya menyelamatkan diri menggunakan parasut dan tersangkut di pohon kelapa. Dia bukan bangsa kita, melainkan seorang Amerika bernama Allen Pope. Durjana Allen Pope, antek CIA.

Bung Karno meradang. Ia panggil Dubes AS, John M. Allison dan menyemprotnya habis-habisan. “Sikap pemerintah Tuan terlalu kekanak-kanakan. Orang tahu betul bahwa Amerika, Taiwan, dan Inggris secara aktif membantu pemberontak. Saya yakin bahwa dia (Pope) ditugaskan CIA dan menggunakan pangkalan Amerika di Filipina.”

Dubes Allison diam. “Benarkah ucapan saya ini?” desak Bung Karno, seraya memberondong dengan nada suara lebih menggeledek, “Taruhlah Pope berangkat dari pangkalan Inggris atau Amerika, apakah tidak patut saya marah dan mengutuk negara-negara imperialis yang mencoba hendak mengadakan subversi di negeri saya!”

Bung Karno juga mempertanyakan, ada urusan apa penerbang Amerika membantu pemberontak dan membunuhi orang-orang Indonesia. Atas pertanyaan ini, Allison menjawab konyol, “Karena dia dengar tuan komunis dan dia hendak menyumbangkan tenaga dalam perjuangan melawan komunisme.”

Sukarno kembali meledak, “Sebelum orang asing bermaksud hendak membunuh Sukarno secara pribadi atau karena alasan politik, seharusnya orang itu perlu mengetahui lebih dulu mengenai diri Sukarno. Dalam hal ini, agaknya tak seorang pun di Amerika yang menceritakan kepada Pope, bahwa Sukarnolah yang menghancurkan orang-orang komunis di tahun 1948. Pemberontakan komunis pertama di masa Republik Indonesia, yang dilakukan oleh teman sekaligus guru sewaktu sama-sama di Surabaya, Alimin dan Muso, dan oleh seorang tokoh yang pernah aku selamatkan nyawanya di masa pendudukan Jepang, Amir Syarifuddin. Aku tidak akan membiarkan mereka atau orang lain meniadakan Tuhan di Tanah Airku tercinta.”

Singkatnya, Allen Pope digelandang ke tanahan, dan siap dihukum mati. Tertangkapnya Allen Pope tentu saja mencoreng wajah Presiden Dwight Eisenhower, menampar muka Menlu John Foster Dulles, dan meludahi muka Direktur CIA Allan Dulles (adik Menlu AS). Merekalah mata rantai kebijakan Amerika yang membantu para pemberontak dan bermaksud mendongkel kedudukan Presiden Sukarno.

Satu hal yang tidak diperhitungkan Amerika dan antek-anteknya di sini. Mereka bekerja atas dasar bayaran, tidak mengenal medan, dan tanpa heroisme. Sementara, lawan mereka, para prajurit TNI, tentara yang lahir dari rahim rakyat, tentara yang merelakan nyawanya demi tumpah darah Indonesia, bertempur tanpa sedikit pun rasa gentar.

Dalam peristiwa tertangkapnya Pope, Sukarno mengirim sinyal tegas kepada Eisenhower dan sekutunya. Jika mereka membantu pemberontakan dan melakukan tindakan subversi di bumi Indonesia, apakah mereka berpikir Sukarno tidak bisa meminta bantuan negara lain untuk menangkal dan menyerang balik? Jika Bung Karno mau, hari itu bisa pecah Perang Dunia III. (roso daras)

Published in: on 9 Agustus 2009 at 09:31  Comments (12)  
Tags: , , , ,

Ratna Sari Dewi, Sang Pujaan Hati

BK dan Dewi berkimono di Jepang

Bung Karno pernah ditulis wartawan suratkabar Amerika, sebagai pria yang gemar melirikkan mata kepada wanita-wanita cantik. Atas tulisan tersebut, Bung Karno menyangkal keras. “Yang benar adalah, Bung Karno menatap setiap perempuan cantik dengan kedua bulatan matanya….” Ia mengagumi setiap bentuk keindahan. Ia menarik nafas dalam-dalam setiap menatap hamparan pemandangan negerinya yang molek. Ia mengagungkan asma Allah setiap melihat wanita cantik ciptaanNya.

Terhadap wanita-wanita yang mengisi hatinya, semua mendapat tempat yang begitu mulia di hati Sukarno. Inggit Garnasih sebagai perempuan gigih, penyayang, dan mendukungnya sejak era pergerakan hingga menjelang Indonesia merdeka. Fatmawati? Ia gadis 19 tahun yang ceria, saat dinikahi. Fatma pun ditaburi cinta Sukarno, karena dia adalah penopang semangat Sukarno di awal-awal republik berdiri.

Hartini? Ah… dialah pembuat sayur lodeh paling enak di lidah Bung Karno. Kesadarannya sebagai “madu”, memposisikan Hartini menjadi seorang istri yang begitu berbakti. Karenanya, Bung Karno membalasnya dengan luapan asmara tiada tara. Tak heran jika dalam wasiatnya, Bung Karno ingin dimakamkan berdampingan dengan Hartini.

Kecantikan Ratna Sari Dewi

Bagaimana pula dengan Naoko Nemoto? Dialah geisha yang begitu sempurna di mata Sukarno. Kecantikannya begitu mempesona, sehingga tak kuasa Sukarno meredam hasrat cintanya yang berkobar-kobar. Gadis Jepang ini lahir tahun 1940, sebagai anak perempuan ketiga seorang pekerja bangunan di Tokyo. Ia lahir dari keluarga sederhana, sehingga Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda, sampai ia lulus sekolah lanjutan pertama pada tahun 1955.

Setahun kemudian, ia mengundurkan diri, dan menekuni profesio geisha Akasaka’s Copacabana yang megah, salah satu kelab malam favorit yang sering dikunjungi para tamu asing. Ke kelab inilah Sukarno datang pada 16 Juni 1959. Bertemu Naoko, dan jatuhlah hatinya. Setelah itu, Bung Karno masih bertemu Naoko dua kali di hotel Imperial, tempat Bung Karno menginap. Akan tetapi, versi lain menyebutkan, pertemuan keduanya terjadi setahun sebelumnya, di tempat yang sama.

Usai lawatan dua pekan, Bung Karno kembali ke Jakarta. Tapi sungguh, hatinya tertinggal di Tokyo… hatinya melekat pada gadis cantik pemilik sorot mata lembut menusuk, sungging senyum yang lekat membekas. Seperti biasa, Bung Karno mengekspresikan hatinya melalui surat-surat cinta. Cinta tak bertepuk sebelah tangan. Isyarat itu ia tangkap melalui surat balasan Naoko.

bung karno dan ratna sari dewi

Tak lama, Bung Karno segera melayangkan undangan kepada Naoko untuk berkunjung ke Indonesia. Sukarno bahkan menemaninya dalam salah satu perjalanan wisata ke Pulau Dewata. Benih-benih cinta makin subur bersemi di hati keduanya. Terlebih ketika Naoko menerima pinangan Bung Karno, dan mengganti namanya dengan nama pemberian Sukarno. Jadilah Naoko Nemoto menjadi Ratna Sari Dewi. Orang-orang kemudian menyebutnya Dewi Soekarno.

Tanggal pernikahan keduanya, ada dua versi. Satu sumber menyebut, keduanya menikah diam-diam pada tanggal 3 Maret 1962, bersamaan dengan peresmian penggunaan nama baru: Ratna Sari Dewi berikut hak kewarganegaraan Indonesia. Sumber lain menyebut mereka menikah secara resmi bulan Mei 1964. Agaknya, sumber pertamalah yang benar.

Lepas dari kapan Bung Karno menikahi Ratna Sari Dewi, akan tetapi, cinta Bung Karno kepadanya begitu meluap-luap. Jika ia bertestamen agar dimakamkan di sisi makam Hartini, maka terhadap Ratna Sari Dewi, Bung Karno bertestamen agar dimakamkan dalam satu liang.

Faktanya, Hartini dan Ratna Sari Dewi yang begitu terlibat secara emosional pada hari terakhir kehidupan Bung Karno. Hartini yang setia mendampingi di saat ajal menjemput. Hartini pun tahu, dalam keadaan setengah sadar di akhir-akhir hidupnya, Bung Karno membisikkan nama Ratna Sari Dewi. Hal itu diketahui pula oleh Rachmawati.

Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di akhir hayat, luluh hatinya. Tak ada lagi rasa “tak suka” kepada Hartini maupun Ratna Sari Dewi. Rachma sadar, ayahnya begitu mencintai Hartini dan Dewi, sama seperti besarnya cinta Bung Karno kepada Fatmawati, ibunya.

Buah asmara Bung Karno – Ratna Sari Dewi adalah seorang gadis cantik yang diberinya nama Kartika Sari Dewi atau akrab disapa Karina. Bung Karno sempat menimang bayi Kartika, meski jalan hidupnya tak memungkinkan untuk mendampinginya tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. (roso daras)

Pernikahan Kartika Soekarno

Seegers-Kartika

“Mas… tulis dong tentang Karina Soekarno…,” begitu permintaan seseorang yang termasuk golongan orang-orang yang rajin berkunjung ke blog ini…. Yang terlintas di benak saya adalah serentet peristiwa terkait Kartika Sari Soekarno atau yang akrab disapa Karina. Dialah buah cinta Bung Karno dan Ratna Sari Dewi, wanita cantik asal Jepang, yang bernama asli Naoko Nemoto.

Ada sekelebat peristiwa ketika Karina kecil dituntun-tuntun di antara kerumuman pelayat jenazah Bung Karno di Wisma Yaso tahun 1971. Ada pula lintasan peristiwa manakala Karina diajak ibundanya berziarah ke makam ayahandanya di Blitar, beberapa tahun kemudian. Dan… tentu saja yang masih lekat adalah peristiwa pernikahan Karina dengan seorang bankir Belanda.

Pernikahan Karina dengan Frits Frederik Seegers berlangsung 2 Desember 2005 di hotel Continental, Amsterdam, Belanda. Frits adalah President Citibank wilayah Eropa. Saat itu, saya masih mengelola Tabloid Cita-Cita dan mendapat sumbangan materi foto-foto eksklusif dari Guruh Soekarnoputra di Yayasan Bung Karno.

Seegers-Kartika3

Megawati sebagai saksi

Dalam pernikahan itu, Megawati Soekarnoputri, kakak Karina dari ibu Fatmawati, bertindak selaku saksi. Tampak Mega tengah menandatangani dokumen pernikahan adiknya. Megawati sendiri hadir bersama putrinya, Puan Maharani, dan adik bungsunya, Guruh Soekarnoputra.

mempelai-guruh-cindy-mega

Pasca upacara pernikahan, Frits Frederik Seegers dan Karina bergambar bersama Guruh Soekarnoputra, Cindy Adams, dan Megawati Soekarnoputri.

guruh-cindy-mega-ratna sari dewi

guruh-mega-puan-kartika

Guruh - Kartika

Dalam resepsi itu, hadir sejumlah orang dekat mempelai, tak terkecuali hadirnya Cindy Adams, penulis biografi Bung Karno. Tak ayal, momentum pernikahan Karina – Seegers menjadi ajang kangen-kangenan di antara kerabat yang sehari-hari terpisah bentang jarak ribuan mil.

tari bali di resepsi

Di hotel Continental pula, pada malamnya langsung digelar resepsi. Selain gala dinner yang eksklusif, Karina juga mendatangkan para penari Bali untuk menghibur para tamu.

Usai menikah, pasangan pengantin baru langsung kembali ke London, Inggris, dan menetap di sana. Karina kembali ke rutinitasnya sebagai aktivis sosial dengan bendera Kartika Soekarno Foundation, sementara suaminya, kembali ke Citibank. (roso daras)

Membaca Tanda Tangan “Soekarno”

Tanda Tangan Bung Karno

Tahun 1980-an, saya menghabiskan banyak waktu di sanggar Teater Alam, Jl. Sawojajar, Yogyakarta, pimpinan Azwar AN. Suatu sore, kami kedatangan seorang sastrawan, sekaligus akademisi nyentrik. Sebagai sanggar teater, kedatangan seorang sastrawan atau seniman adalah hal biasa. Tetapi yang ini sedikit berbeda. Dia adalah Ragil Suwarna Pragolapati.

Sastrawan kelahiran Pati, Jawa Tengah itu, kebetulan juga seorang ahli membaca tanda tangan, atau biasa disebut grafolog. Maka, tema diskusi lesehan sore itu adalah “membaca tanda tangan”. Satu per satu anggota sanggar maju dan menuliskan tanda tangannya, kemudian ia membacanya dengan “hampir 100 persen tepat”.

“Anda orang yang kuat, tidak mudah putus asa,” ia memulai membaca tanda tangan salah satu rekan. Kemudian ia baca tanda tangan yang lain, “Yang ini orangnya sederhana, tetapi memiliki langkah hidup yang mendasar, sedangkan yang ini…,” ia menunjuk tanda tangan yang lain lagi, “Wah… ini benar-benar jelek. Ini tipikal orang yang gemar membantu orang lain, tetapi dirinya sendiri hancur….”

Selama sesi “membaca tanda tangan”, suasana benar-benar hidup. Terlebih cara Ragil Suwarna Pragolapati membawakan materi, sungguh meyakinkan. Kebetulan pula, apa yang ia bacakan, mendekati tepat. Padahal, ini adalah kunjungan pertama Ragil ke sanggar kami. Itu artinya, kami belum saling mengenal lebih dalam.

Sesi pun bergulir ke materi, “membuat tanda tangan yang baik” menurut Ragil. Tanda tangan seseorang, kata dia, bisa mempengaruhi kepribadian si penggoresnya. Lebih “menyeramkan”, kata Ragil, tanda tangan juga bisa menentukan jalan hidup seseorang ke depan…. Belive it or not.

Singkatnya, saya termasuk satu di antara hampir semua anggota sanggar Teater Alam yang mengganti tanda tangan sore itu juga. Apalagi, setelah tanda tangan saya, saya tuliskan di atas kuadran plus-minus made in Ragil Suwarna. Kesimpulannya, permulaan tanda tangan, keterbacaan tanda tangan, dan karakter tanda tangan saya banyak berada di kuadran minus. “Celaka,” pikir saya ketika itu, sambil mencorat-coret tanda tangan baru, sehingga lebih baik –sekali lagi– menurut Ragil Suwarna Pragolapati. Dan, tanda tangan saya yang sekarang, asli dipengaruhi peristiwa sore hari itu.

Bagaimana dengan tanda tangan Soekarno? Inilah inti postingan ini. Sebab, Ragil kebetulan juga mencomot tanda tangan sejumlah orang besar. Salah satunya, tanda tangan Sukarno seperti tampak di ilustrasi atas. Cukup panjang analisa dia terhadap tanda tangan Bung Karno, tapi inti yang saya tangkap ada tiga. Dan ketiga inti tanda tangan Sukarno itu, pada tahun 1980-an, baru dua yang bisa terbaca dan terbukti.

Pertama, huruf “S” pada “Soekarno” ditulis dengan beberapa kali pengulangn tarikan, sehingga mengesankan ribet atau rumit. Ragil memaknai sebagai perjalanan Sukarno yang dimulai dari kondisi yang sangat rumit. Sejarah telah mencatat, bagaimana Sukarno hidup susah di waktu kecil dan remaja, dan hidup penuh tantangan pula di masa muda sebagai penggerak roda revolusi bangsa. Ia masuk-keluar penjara, ia dibuang dan diasingkan, dan kisah-kisah buruk yang melilit Sukarno pada fase awal.

Kedua, huruf-huruf selanjutnya pada tanda tangan Sukarno, terbaca gamblang, sehingga secara keseluruhan kita bisa baca sebagai nama dia. Ini adalah simbol Sukarno orang yang terbuka, jelas dan tegas langkahnya, lurus kepribadiannya, teguh pada prinsip dan sikap-sikap transparan lain. Dari beberapa literatur bisa kita ketahui, Sukarno lantang menentang penjajahan. Sekeluar dari penjara  Sukamiskin, ia masih juga menyuarakan kemerdekaan. Tidak seorang pun bisa membuatnya diam.

Sekalipun, seorang awak kapal menawarinya kabur dari pembuangan dan berjuang di bawah tanah, sekali lagi, Bung Karno menolak. Ia berdalih, cara Sukarno bukan berjuang di bawah tanah. Ia muncul sebagai simbol yang mudah terbaca oleh seluruh rakyat Indonesia. Mudah terbaca, seperti tanda tangannya.

Ketiga, ini yang di tahun 80-an masih teka-teki. Ragil menunjuk tambahan pada tanda tangan berupa “titik” dan “garis sambung”. Ragil memaknai karier dan hidup Bung Karno akan berakhir tragis. Tiba-tiba. Mendadak. Habis. “Titik”. Akan tetapi, garis sambung di belakang titik adalah suatu makna, bahwa pada akhirnya, namanya akan kembali muncul, berkibar selama-lamanya di bumi Indonesia.

Point ketiga tadi terbukti pada kampanye 1999, belasan tahun kemudian sejak Ragil membacanya di Sanggar Teater Alam. Nama Bung Karno menjadi ikon pemersatu massa marhaen, poster dan gambar Bung Karno kembali berkibar menggelorakan memori bangsa, dan mengantarkan PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri memenangi Pemilu, bahkan kemudian mengantar Megawati ke kursi kepresidenan. Meski akhirnya rakyat tahu, Megawati BUKAN Sukarno!

Kembali ke tahun 80-an, saat saya mendengar Ragil membaca tanda tangan Sukarno, suasana politik desukarnoisasi masih intens dilakukan pemerintahan Soeharto. Bahkan Tap MPR XXXIII yang berisi larangan ajaran Bung Karno, menjadi momok bagi siapa saja yang mencoba membangkit-bangkitkan ajaran Bung Karno. Hingga hari ini, Tap MPR yang konyol itu belum juga dicabut. (roso daras)