Allen Pope, Durjana CIA

ALLEN POPE

Pada galibnya, agen-agen CIA sudah melancarkan operasinya di Indonesia, jauh sebelum negeri ini merdeka. Kemudian, mereka meningkatkan intensitas pengintelannya pasca 17 Agustus 1945. Mereka terus memainkan trik-trik canggih untuk tetap menancapkan dominasi negaranya di Indonesia. Penancapan dominasi tidak saja dari sisi ekonomi, tetapi juga ideologi.

Alhasil, setelah gagal mendiskreditkan Bung Karno sebagai kolaborator Jepang, CIA menciptakan isu baru bahwa Sukarno condong ke komunis. Mereka bahkan mendanani sejumlah aksi pemberontakan separatis di Tanah Air. Mereka mendukung Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera, mereka menyokong PERMESTA di Sulawesi. Dukungan mereka tidak saja berbentuk gelontoran dolar, tetapi juga persenjataan canggih.

Bukan hanya itu, Amerika juga menggunakan pesawat tempur dan pangkalan militer yang ada di Filipina untuk membombardir Indonesia. Hari Minggu di bulan April 1958, pesawat pemberontak (yang didukung Amerika) melakukan serangan terkutuk terhadap Pulau Ambon. Serbuan laknat itu bahkan meluluhlantakkan sebuah gereja yang tengah melangsungkan misa suci. Gereja itu hancur, semua jemaah mati terbunuh.

Bukan hanya itu. Pemberontak dukungan Amerika itu juga menenggelamkan sebuah kapal Republik di pelabuhan Ambon, dan menewaskan semua personilnya. Serangan hari itu saja, ditaksir menewaskan sekitar 700 orang. Sedangkan jumlah korban seluruhnya, jauh lebih besar lagi.

Tentara Nasional Indonesia tidak tinggal diam. Dalam sebuah serangan balik, penerbang tempur Republik berhasil menjatuhkan sebuah pesawat B-25. Penerbangnya menyelamatkan diri menggunakan parasut dan tersangkut di pohon kelapa. Dia bukan bangsa kita, melainkan seorang Amerika bernama Allen Pope. Durjana Allen Pope, antek CIA.

Bung Karno meradang. Ia panggil Dubes AS, John M. Allison dan menyemprotnya habis-habisan. “Sikap pemerintah Tuan terlalu kekanak-kanakan. Orang tahu betul bahwa Amerika, Taiwan, dan Inggris secara aktif membantu pemberontak. Saya yakin bahwa dia (Pope) ditugaskan CIA dan menggunakan pangkalan Amerika di Filipina.”

Dubes Allison diam. “Benarkah ucapan saya ini?” desak Bung Karno, seraya memberondong dengan nada suara lebih menggeledek, “Taruhlah Pope berangkat dari pangkalan Inggris atau Amerika, apakah tidak patut saya marah dan mengutuk negara-negara imperialis yang mencoba hendak mengadakan subversi di negeri saya!”

Bung Karno juga mempertanyakan, ada urusan apa penerbang Amerika membantu pemberontak dan membunuhi orang-orang Indonesia. Atas pertanyaan ini, Allison menjawab konyol, “Karena dia dengar tuan komunis dan dia hendak menyumbangkan tenaga dalam perjuangan melawan komunisme.”

Sukarno kembali meledak, “Sebelum orang asing bermaksud hendak membunuh Sukarno secara pribadi atau karena alasan politik, seharusnya orang itu perlu mengetahui lebih dulu mengenai diri Sukarno. Dalam hal ini, agaknya tak seorang pun di Amerika yang menceritakan kepada Pope, bahwa Sukarnolah yang menghancurkan orang-orang komunis di tahun 1948. Pemberontakan komunis pertama di masa Republik Indonesia, yang dilakukan oleh teman sekaligus guru sewaktu sama-sama di Surabaya, Alimin dan Muso, dan oleh seorang tokoh yang pernah aku selamatkan nyawanya di masa pendudukan Jepang, Amir Syarifuddin. Aku tidak akan membiarkan mereka atau orang lain meniadakan Tuhan di Tanah Airku tercinta.”

Singkatnya, Allen Pope digelandang ke tanahan, dan siap dihukum mati. Tertangkapnya Allen Pope tentu saja mencoreng wajah Presiden Dwight Eisenhower, menampar muka Menlu John Foster Dulles, dan meludahi muka Direktur CIA Allan Dulles (adik Menlu AS). Merekalah mata rantai kebijakan Amerika yang membantu para pemberontak dan bermaksud mendongkel kedudukan Presiden Sukarno.

Satu hal yang tidak diperhitungkan Amerika dan antek-anteknya di sini. Mereka bekerja atas dasar bayaran, tidak mengenal medan, dan tanpa heroisme. Sementara, lawan mereka, para prajurit TNI, tentara yang lahir dari rahim rakyat, tentara yang merelakan nyawanya demi tumpah darah Indonesia, bertempur tanpa sedikit pun rasa gentar.

Dalam peristiwa tertangkapnya Pope, Sukarno mengirim sinyal tegas kepada Eisenhower dan sekutunya. Jika mereka membantu pemberontakan dan melakukan tindakan subversi di bumi Indonesia, apakah mereka berpikir Sukarno tidak bisa meminta bantuan negara lain untuk menangkal dan menyerang balik? Jika Bung Karno mau, hari itu bisa pecah Perang Dunia III. (roso daras)

Published in: on 9 Agustus 2009 at 09:31  Comments (12)  
Tags: , , , ,