Awak Kapal Ajak Bung Karno Kabur

Dari Jawa ke Ende

Pulau Bunga, Flores, pulau cantik yang dijadikan tempat pembuangan Bung Karno. Enam tahun hidup dalam pengasingan, cukuplah bagi Sukarno untuk menyelami kehidupan rakyat Ende, pantai indah dan para nelayan yang ramah, kehidupan pelabuhan yang pikuk saat kapal berlabuh, serta masyarakatnya yang ramah sedikit tertutup.

Di sini, Bung Karno hidup bersama Inggit Garnasih sang istri, Ibu Amsi sang mertua, dan Ratna Djuami sang anak angkat yang biasa dipanggil Omi. Tak berapa lama kemudian, barulah bergabung empat orang pembantu, satu di antaranya Riwu Ga yang mengikuti Bung Karno hingga ke era pembuangan di Bengkulu sampai Indonesia merdeka.

Selama dalam masa pembuangan, Bung Karno telah menjelma menjadi “penyelundup” ulung. Ia menjalin komunikasi penuh sandi dengan para awak kapal. Terlebih, kapal-kapal lintas pulau, umumnya diawaki para ABK pribumi, yang semuanya menaruh hormat kepada Sang Tokoh Pergerakan, Sang Musuh Penjajah. Ada kalanya, Bung Karno sendiri yang berdesak-desakan di pelabuhan. Ada kalanya cukup lewat orang suruhan. Dengan bahasa-bahasa tertentu, komunikasi berjalan lancar.

Alhasil, semua kebutuhan Bung Karno terpenuhi dengan mudah. Sampailah suatu ketika, saat Bung Karno sedang menanti paket pesanan rahasia di pelabuhan, tiba-tiba turun seorang awak kapal berbadan tinggi besar, berkulit gelap. Ia menyeruak kerumunan orang dan mendekati Bung Karno. Setelah tiba di hadapan Bung Karno, ia sedikit membungkuk dan berkata bisik, “Bung, katakanlah kepada kami, kami akan menyelundupkan Bung Karno. Saya jamin aman, tidak akan ada orang yang tahu.”

“Terima kasih, saudara. Lebih baik jangan,” kata Bung Karno sambil menatap awak kapal tadi penuh rasa terima kasih. “Terkadang memang terbuka jalan seperti yang saudara katakan itu. Dan sering juga datang pikiran menggoda untuk lari secara diam-diam dan kembali bekerja untuk rakyat kita.”

Si awak kapal menyambar, “Kalau begitu, kenapa tidak dicoba saja, Bung?! Kami akan sembunyikan Bung Karno dan membawa Bung ke tempat kawan-kawan.”

Bung Karno menjawab tenang, “Kalau saya lari, ini hanya saya lakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Begitu saya mulai bekerja, saya akan ditangkap lagi dan dibuang lagi. Jadi, tidak ada gunanya.”

Awak kapal bertanya lagi, “Apakah Bung Karno tidak bisa bekerja secara rahasia?”

“Itu bukan caranya Bung Karno.”

“Sekiranya di suatu saat berubah pendirian Bung Karno, tak usah ragu, sampaikan kepada kami.”

Bung Karno merangkul awak kapal tadi, dan tanpa ragu mencium kedua pipinya. “Terima kasih. Di suatu masa, kita semua akan merdeka. Begitupun saya.” (roso daras)

Iklan
Published in: on 29 Juli 2009 at 05:03  Comments (15)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/07/29/awak-kapal-ajak-bung-karno-kabur/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kok bung karno gak mau dijak kabur, kan bisa beraksi lebih bebas kayak teroris jaman sekarang pak?

  2. waw…………..waw…………..
    Bagus-bagus

  3. sungguh pandai mengendalikan emosinya. Kalau kita-kita mungkin tergoda untuk kabur.

  4. alasan bung karno bener dong, nggak mau kabur, percuma, karena bakal tertangkap lagi..Dia tidak akan bisa bebas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dengan dia tetap menjalani masa ‘hukuman’ selesai dari sana, dia keluar, dan bisa berjuang lagi. Meski akhirnya ditangkap lagi!!! Hidup Bung Karno!!!

  5. Bung Karno kan bukan tahanan pepeyek/tempe, melainkan tahanan politik jadi engga ada gunanya kabur & memprovokasi rakyat secara diam diam itu namanya engga gentelman alias watak BK

  6. Menarik untuk dikritisi. Mengapa BK dibuang ke Ende yang sangat nyaman untuk tahanan politik yang sangat berbahaya? Sementara banyak pemimpin pergerakan termasuk Bung Hatta dibuang ke Boven Digul yg terkenal kejam dan banyak memakan korban jiwa. Yang aneh adalah fasilitas rumah dan gaji buat BK dari pemerintah kolonial. Ini jelas tanda tanya besar? Bagai mana tanggapan Bung Roso dan netters lain saya tunggu!

    • Ende, Bengkulu, Boven Digul, Banda Neira… atau tempat mana pun, bisakah disebut “nyaman” jika kita dibuang ke sana tanpa kejelasan nasib? Perspektif Bung Andi adalah perspektif yang berbeda dengan saya dalam melihat sosok Bung Karno. Sekalipun begitu, kita punya hak yang sama. Saya boleh menjadi anak bangsa yang berutang jasa terhadap Bung Karno, dan Anda boleh menimpakan stigma buruk terhadap Bung Karno. Seperti saya tegaskan dalam pengantar blog ini, Bung Karno tidak akan lebih besar kalau saya puji, Bung Karno tidak akan lebih kecil jika saya maki.
      Anyway, saya tetap berterima kasih atas atensi Bung Andi terhadap blog saya.

    • Digul mungkin lebih berbahaya dibanding Ende. Tapi Belanda juga tak sebodoh itu membuang Bung Karno. Bagaimanapun Belanda takut akan ada pergerakan masa pendukung Bung Karno kalo sampai terjadi hal2 yang membahayakan dirinya. Mungkin anda Bung andi belum tahu bahwa pada saat itu Bung Karno sudah mempunyai pengikut yang cukup besar tidak saja di sini tapi juga di Belanda. Itu juga sebabnya ketika Bung Karno sakit parah (Malaria) banyak pengikutnya yang protes terhadap Belanda. Dan Belanda tidak mau ambil resiko sehingga Bung Karno harus dipindahkan ketempat lain, yaitu Bengkulu.

  7. Saya pikir semua orang tahu track record kekejaman Boven Digoel dan bisa membayangkan perbedaan kenyamanannya dengan Ende. Ende dan tempat pengasingan lain tidak ada apa2nya dibanding Digoel. Silahkan nonton Metrofiles. Banyak tahanan yang mati terkena malaria, dimakan buaya, disembelih suku kanibal dan bahkan ada yang mati karena kesepian. BK di Ende hidup nyaman dengan rumah “dinas” dan gaji. Bahkan sempat bersenang2 menikmati pantai yg indah sambil melukis dan bikin sandiwara tonil. Ende itu lebih mirip Bali dibanding tempat pengasingan.

    • Semua orang tahu track record kekejaman Boven Digoel? Benarkah? Anda sendiri saya ragukan pernah menginjakkan kaki di Boven Digoel. Kalaupun Anda tahu, pastilah hanya sebatas bacaan dan tontonan. Dan kalaupun Anda pernah ke sana, itu pun sudah berubah keadaannya.

      Rasanya kok Anda terlalu bersemangat mengeksploitasi kekejaman Boven Digoel, dan menganggap “nyaman” tempat pembuangan yang lain. Terbayangkah di benak Anda, bahwa kejadian itu sekitar tahun 30-an. Terbayangkah pula Anda keadaan negeri kita (apalagi di pedalaman) pada tahun-tahun itu?

      Bung Karno memiliki sisi-sisi mengisi hari dengan aktivitas melukis, membikin tonil, bahkan berkotemplasi di bawah pohon sukun yang akhirnya melahirkan ide Pancasila. Dasar ideologi Negara Republik Indonesia. Itu pun kalau Anda mengakui.

      Terakhir, dia pun terserang malaria dan nyaris mati pada tahun kelima pembuangannya, hingga ahirnya ia dipindah ke Bengkulu. Malaria itu pula yang kadang kambuh dan menyerang Bung Karno hingga akhir hayatnya. Bung Hatta dan Sjahrir tidak pernah terserang malaria, tidak pernah digigit buaya,a tidak pernah digorok lehernya oleh kaum kanibal. Anda tahu mengapa? Karena ia tahanan politik, yang tidak pernah lepas dari pengawasan polisi Belanda.

      Bukan hanya itu. Bung Hatta dan Sjahrir ditangkap lima bulan setelah Bung Karno. Mereka Dibuang ke Boven Digoel Januari 1935. Anda tahu berapa lama mereka dibuang di sana? Tidak genap 12 bulan di Boven Digoel! Akhir Desember 1935 atau awal 1936 mereka dipindah ke Banda Neira, tempat pengasingan lain yang sudah lebih dulu dihuni Mr. Iwa Koesoemasumantri dan Tjipto Mangunkoesoemo.

      Bung Karno? Ia dibuang lima tahun! Dan tak satu pun tokoh politik “menemani”. Jangankan di pembuangan, di penjara Sukamiskin saja, SUkarno diasingkan dari tahanan pribumi, diasingkan dari bangsanya sendiri, karena ia dianggap terlalu berbahaya jika dekat dengan bangsanya.

      Anda menyoal Bung Karno dapat rumah dinas dan gaji? Sungguh berlebihan. Rumah dinas itu adalah “penjara” dalam bentuk lain. Karena kehidupannya tak pernah luput dari pengawasan polisi Belanda. Dapat gaji? Ah, mungkin yang Anda maksud tunjangan. Hukum Belanda memang mengharuskan pemerintah memberi tunjangan bagi buangan politik. Sebab, sebelum dibuang dia adalah seorang arsitek dan pemimpin partai politik yang berpenghasilan.

      Kalau Bung Karno mendapat 100 gulden per bulan, apa Anda pikir para tokoh pergerakan lain tidak mendapatkan “gaji” yang Anda maksud? Bung Hatta, Sjahrir pun terima “gaji”, besarnya 75 gulden sebulan. Keduanya juga menempati rumah yang “mewah”, menurut istilah Anda. Silakan baca buku bografi Mohammad Hatta 1902-1980.

      Lebih dari itu. Kita semua adalah anak-anak bangsa yang sudah selayaknya mewarisi jasa-jasa para pahlawan. Kita boleh mengkritisi. Anda boleh mengkritisi Sukarno, seperti halnya saya pun boleh membuat blog Bung Karno…. Di luar sisi negatifnya sebagai manusia, juga saya sajikan sisi positif yang ada pada dirinya. Dari perspekif saya, besaran jasa Sukarno tak terperi, sedangkan sisi buruknya bisa dihitung denan jari. Sekali lagi, itu perspektif saya tentang Sukarno.

      Sekali lagi, terima kasih tetap mengunjungi blog saya. Saran kecil buat Anda, ekspresikan apa yang ada dalam benak dan hati Anda dalam blog atau buku. Pasti menarik, dan akan memperkaya khasanah berpikir anak bangsa terhadap sejarah bangsanya.

  8. Semua yg di forum ini mengetahui riwayat BK hanya dari bacaan dan tontonan termasuk Boeng Roso bukan?

    • Halo Bung Andi…. ha ha ha…. terima kasih masih menjadi pengunjung setia blog saya, terima kasih juga dengan komen2nya….

    • Bacaan ya…tontonan tidak. Tapi sekali lagi itu bukan bacaan komik, bukan cerita murahan. Itu bacaan tentang dasar dasar berdirinya Negara Indonesia, tentang tokoh tokoh nasional yang menghabiskan sebagian besarnya hanya untuk mewujudkan Indonesia Merdeka.
      Saya pribadi akan sangat tersanjung jika Bung Andi sudi membaca “Di Bawah Bendera Revolusi” silahkan membaca semoga wawasan anda terhadap negara Indonesia juga Dunia semakin bertambah.

      Untuk Bung Roso : maaf saya ikut mengomentari

  9. Ha ha…
    Sudahlah, Bung Karno tetaplah Bung Karno,
    seperti apapun ia dikritik atau dipuji
    dia tetaplah Bapak bagi bangsa Indonesia
    tiada seorangpun bisa memungkiri itu.
    Hidup Bung Karno. MERDEKA!!

  10. bagus sekali apresiasinya sdr. roso daras trhadap Bung Karno, Bung Karno memang trlalu besar utk dikecilkan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: