Tahun 1922, Pertama Kali Bung Karno Diseret Belanda

Bung Karno Pidato

Satu lagi, peristiwa yang tak lekang dari ingatan Sukarno, dan sudah semestinya tak boleh pudar dari memori bangsa. Peristiwa yang terjadi tahun 1922 di kota Bandung, sebuah gelar rapat raksasa yang dinamakan “radicale concentratie”. Rapat itu sudah mengantongi izin pemerintah Hindia Belanda. Yang hadir, wakil-wakil setiap partai bersama massa yang menyemut.

Setiap pemimpin berpidato. Sukarno? Mulanya hanya mendengarkan. Lagi pula, ia toh masih sangat muda, 21 tahun. Sementara yang tampil di podiun adalah pemimpin-pemimpin partai yang jauh lebih tua darinya. Satu pembicara selesai, Bung Karno masih mendengarkan. Pembicara kedua selesai, Bung Karno mulai gelisah. Pembicara ketiga usai berorasi, Bung Karno makin tak bisa mengendalikan luapan emosi. Baginya, para pembicara hanya menyuarkan omong kosong. Seperti pidato-pidato sebelumnya, mereka hanya meminta-minta, mengemis-ngemis kepada pemerintah kolonial. Mereka sama sekali tidak menuntut. Mereka sama sekali tidak mendesak. Mereka sama sekali tidak menenak Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Sekejap, naiklah tangan Sukarno yang berapi-api. Mercusuar dari Perkumpulan Pemuda, minta izin diberi kesempatan beridato di hadapan rapat,  “Saya ingin berbicara,” teriak Sukarno. Dibalas ketua, “Silakan,” sambil berteriak pula.

Bung Karno naik podium. Ia menyapu pandang ke lautan hitam kepala manusia. Sedetik-dua tatapannya terhenti pada sosok PID (Polisi Rahasia Belanda), yang terselip di antara massa, di berbagai sudut area. Petugas PDI seorang diri, dengan segala kekuasaan yang melekat padanya. Petugas PID seorang diri, cukup untuk menyatakan rapat dibubarkan.

Darah muda Sukarno tidak memedulikan itu semua. Ia pun mulai berteriak, “Mengapa sebuah gunung seperti Gunung Kelud meledak? Ia meledak oleh karena lubang kepundannya tersumbat. Ia meledak oleh karena tidak ada jalan bagi kekuatan-kekuatan yang terpendam. Tumpukan itu sedikit demi sedikit terus betumpuk dan… DORRR!!! Keseluruhan tumpukan itu meletus.”

Massa terhenyak demi mendengar orasi yang memukau, lantang, dengan irama naik-turun yang menyentak-nyentak emosi. Ini sangat berbeda dengan pidato-pidato sebelumnya, yang datar dan berujung pada kata “memohon”, “meminta”.

Bung Karno melanjutkan orasinya,”Kejadian gunung meletus tidak ada bedanya dengan Gerakan Kebangsaan kita. Kalau belanda tetap menutup mulut kita, dan kita tidak diperbolehkan mencari jalan keluar bagi perasaan-perasaan kita yang sudah penuh, maka saudara-saudara, nyonya-nyonya dan tuan-tuan… suatu saat akan terjadi pula ledakan. Dan manakala perasaan bangsa kita meletus, maka Den Haag akan terbang ke udara. Dengan ini saya menantang Pemerintah Kolonial yang membendung perasaan kita.”

Bung Karno benar-benar membuat persoalan. Dari jauh, tampak polisi Belanda merangsek maju, membelah massa dengan menyikut ke kiri dan ke kanan. Tujuannya jelas, hendak menyumpal mulut Sukarno. Sementara Sukarno melihat, langkah polisi Belanda masih terhadang lautan massa, Sukarno melanjutkan bicaranya….

“Apa gunanya kita puluhan ribu banyaknya berkumpul di sini jikalau yang kita kerjakan hanya menghasilkan petisi? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada Pemerintah? Bukankah itu politik berlutut? Bukankh itu suatu politik memohon? Kita merendah diri memohon, merendah diri memohon…. Inilah kata-kata yang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita!”

Polisi Belanda terus merangsek maju, mendekati podium….

“Sampai sekarang kita tidak perlah menjadi penyerang. Gerakan kita bukan gerakan yang mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan yang meminta-minta. Marilah kita sekarang menjalankan politik percaya pada diri sendiri dengan tidak mengemis-ngemis. Hayo kita berhenti mengemis. Sebaliknya, hayo kita berteriak, ‘Tuan imperialis, inilah yang kami TUNTUT!”

Persis pada kalimat terakhir, polisi sudah sampai di atas podium, menyeret Sukarno turun, sementara polisi lain mengambil alih pengeras suara dan mengumumkan, “Tuan Ketua, sekarang saya menyetop seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan-tuan semua dibubarkan. Semua pulang sekarang. KELUAR!!!”

Sejak itu, sejarah mencatat, Sukarno makin banyak pengikut. Bukan hanya pengikut pergerakan dari bangsanya sendiri, tetapi juga “pengikut” polisi rahasia Belanda yang tidak pernah lagi melepas perhatian pada pemuda pendiam yang sudah bikin geger itu. Sejak itu hingga 20 tahun kemudian, saat Belanda hengkang diusir Jepang, nama Sukarno tidak pernah hapus dari daftar hitam Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. (roso daras)

Iklan
Published in: on 14 Juli 2009 at 02:11  Comments (2)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/07/14/tahun-1922-pertama-kali-bung-karno-diseret-belanda/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tidak ada seorang raja atau pemimpin yang mampu membawa nusantara ke gerbang kemerdekaan, kecuali Bung Karno.

  2. Bung Karno adalah sebuah fenomena dunia….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: