Burung Elang Terbang Sendirian

1sukarno6

Terlalu banyak kisah heroik menjelang dan pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Jalannya revolusi, penuh riak gelombang. Panas-dingin suhu politik. Naik-turun irama pergerakan. Jalinan hubungan antara sang pemimpin dengan yang dipimpin, tak urung mengalami pasang dan surut.

Bung Karno tak pernah sepi dari kontroversi. Lihat sejarah Romusha. Tengok sejarah pembentukan PETA. Tidak semua langkah Sukarno didukung semua elemen perjuangan. Beberapa pemuda bahkan menentang keras, mengecam, bahkan mengutuk Sukarno yang mereka tuding sebagai “kolaborator”. Benar. Sikap Sukarno yang mau bekerja sama dengan Jepang untuk beberapa hal, dinilai keblinger, dan melenceng dari cita-cita menuju Indonesia merdeka.

Persoalannya, seperti yang Bung Karno keluhkan kepada Cindy Adams, penulis biografinya, bahwa ia tidak mungkin keliling Indonesia, mendatangi satu per satu orang dan menjelaskan semua langkah dan keputusannya. Termasuk yang cap terhadapnya sebagai kolabortor Jepang. Bung Karno hanya punya keyakinan. Bung Karno hanya punya perhitungan. Bung Karno hanya punya ego yang sangat kuat.

Alhasil, ketika tahun 1943 Jepang mendirikan PETA, Bung Karno sendiri yang memilihkan pemuda-pemuda cakap untuk menjadi anggotanya, satu di antaranya Gatot Mangkupraja, pemberontak PNI yang senasib dengan Bung Karno ketika dijebloskan ke penjara Sukamiskin tahn 1929. Sikap Bung Karno didasari perhitungan, dengan menjadi anggota PETA, maka para prajurit muda asli putra bangsa, akan mendapat pelajaran-pelajaran penting tentang dasar-dasar kemiliteran, ilmu berperang, strategi bertempur, dan penguasaan peralatan perang modern.

PETASementara, sekelompok muda yang progresif menentang bergabung dengan PETA, bahkan mengutuk Sukarno yang mendukung PETA, demi membantu Jepang melawan Sekutu. Itu pula yang diucapkan seorang dokter muda yang merawat Bung Karno di rumah sakit, sekitar tahun 1943. Katanya, “Banyak orang mengatakan, dengan memasuki tentara (PETA) yang didirikan oleh Jepang hanya berarti kita akan membantu Jepang saja.”

Bung Karno marah dan menukas, “Itulah pandangan yang dangkal. Orang yang berpikir demikian, tidak bisa melihat jangka yang lebih jauh ke depan. Tujuan yang pokok adalah melengkapi alat perjuangan bagi kemerdekaan. Tidak ada maksud lain daripada itu.”

Dokter itu membantah, “Tapi ingatlah bahwa Jepang datang kemari untuk menjajah. Dia itu musuh. Bertempur di samping mereka berarti membantu Fasisme!”

Bung Karno menjawab, “Kukatakan, pendirian yang demikian itu terlalu picik. Tapi, baiklah, Jepang itu datang kemari untuk menjajah dan harus diterjang keluar. Akan tetapi ingat, bahwa mereka adalah penjajah yang bisa diperalat. Saya membantu pembentukan PETA — ya! Tapi bukan untuk mereka! Tidakkah dokter memahaminya? Untuk kita! Untuk engkau! Untukku! Untuk Tanah Air kita! Atau, apakah dokter tetap mau menjadi orang jajahan sampai hari kiamat?

Dokter itu belum puas, dan terus berbantah dengan Sukarno, “Rakyat menyatakan tentang Bung Karno, bahwa……..”

“Rakyat tidak mengatakan apa-apa!” Bung Karno memotong kalimat dokter. “Jikalau mereka yakin, bahwa saya tidak menempuh jalan yang paling baik, tentu rakyat tidak akan mengikuti saya, bukan? Coba, apakah memang rakyat tidak mengikuti saya?”

“Tidak.”

“Bukankah mereka mengikuti saya?”

“Ya, seratus persen.”

“Jadi, rakyat tidak mengatakan apa-apa. Hanya beberapa pemuda yang kepala panas saja yang mengatakan….”

“Bahwa Bung Karno bekerja sama dengan musuh,” dokter melengkapi kalimat Bung Karno.

Tapi toh, dialog itu tidak bisa meredam para pemuda yang disebut Bung Karno kepala panas. Makanya, Bung Karno pada waktu-waktu itu, masih sering menjumpai secarik kertas berisi surat kaleng yang diselipkan di bawah pintu. Salah satu dari surat itu menyebutkan, “Karena kami dipimpin oleh seseorang yang bersemangat tikus, kami tidak berani berjuang. Akan tetapi jika kami dipimpin oleh seseorang yang bersemangat banteng, kami akan bertempur mati-matian.”

Atas kejadian itu, Bung Karno hanya bergumam, “Ah… ini hari yang jelek.” Hati Sukarno benar-benar sedih. Dalam keadaan tertekan seperti itu, satu kalimat yang bisa membuatnya tenang kembali, “Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian.” (roso daras)

Iklan
Published in: on 7 Juli 2009 at 04:40  Comments (8)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/07/07/burung-elang-terbang-sendirian/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. Memang tak mungkin menyenangkan semua orang, apalagi langkah-langkah sukarno yang kerap terlalu maju ke depan, yang tak bisa ‘dilihat dan dipahami’ semua orang. Wajarlah, kontroversi kerap mewarnai setiap langkahnya. Tapi sukarno adalah sukarno, yg tegas terkadang keras. Di jaman itu, memang Indonesia sangat membutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan visioner seperti sosok sukarno. Tak heran kalau di masanya, Sukarno dihormati oleh kawan maupun lawan, dan wibawa Indonesia sebagai negara merdeka terdongkrak. Dan di masa sekarang pun kita sangat membutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan visioner seperti beliau. Yang bukan saja bisa mensejahterakan rakyatnya tapi juga mengangkat wibawa Indonesia di mata dunia.

  2. bung karno intan permata Indonesia yang tidak disadari oleh kebanyakan rakyat Indonesia masa kini

  3. Soal romushanya kok tak dibahas ? Seberapa jauh peran Bung Karno dalam hal ini yang telah memakan korban ratusan ribu jiwa ?

    • Sudah saya bahas Bung Jontowel. Silahkan diketik di mesin pencari denga kata “Romusha”… nanti Anda akan menjumpai judul “Bung Karno dan Lembar Hitam Romusha”. Selamat berselancar…. Thanks kunjungan dan komennya.

  4. AKhirnya saya terdampar juga di Blog Ini, luar biasa terutama kisah dan Photo-photonya.
    Apa tidak a cerita anak-anak lelaki beliau apakah ada yang mempunyai semangat seperti ayahnya?

  5. cerita2 ini bnyk yg sy blm baca.suprise jg.krn sy adl pengagum BK, bnyk membaca ttg BK, bahkan dr kecil sdh “dicekoki” cerita ttg Bk olh ayah saya.cerita2 yg br sy baca ini benar2 menambah pengetahuan sy ttg Bk. GREAT…….

  6. Bacaan yang sangat menarik, terutama untuk generasi muda, yang akhir2 ini berkurang rasa nasionalismenya.

  7. congratulations to you gods protected,always remove all the grief that we have seen so far, oppression and injustice we must destroy together, follow the footsteps of heroes / while he who once led our country is the father / uncle or we call him by saying that as politely as-politely
    “Soekarno Hatta”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: