Cara Pandang Bung Karno tentang Pakaian

Sukarno Presiden RI I

Rasanya untuk statemen yang satu ini, saya harus gambling… sebab memang belum ada satu rujukan pun yang pernah saya jumpai terkait hal yang jadi bahasan posting-an ini. Ini soal cara Bung Karno berpakaian. Bahwa sejak proklamasi 17 Agustus 1945 hingga maut menjemput, belum pernah sekali pun Bung Karno mengenakan pakaian daerah. Sekali lagi, ini statemen spekulatif. Karenanya, saya harus berani mempertaruhkan kredibilitas.

Satu-satunya rujukan yang pernah saya baca hanyalah keterangan Bambang Widjanarko, ajudan Bung Karno. Katanya, selama delapan tahun menjadi ajudan Bung Karno, belum pernah sekalipun ia melihat Bung Karno mengenakan pakaian adat. Hal ini tentu saja mendatangkan pertanyaan banyak pihak, termasuk Bambang. Karenanya, pada saat santai di tahun 1964, Bambang melihat satu kesempatan yang baik untuk menanyakan hal itu. Dan,.. Bung Karno pun memberi penjelasan….

“Sejak dulu sampai sekarang dan untuk seterusnya, yang amat aku dambakan adalah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Karena aku ditakdirkan menjadi pemimpin, dan sekarang menjadi Presiden Indonesia, aku harus mengorbankan kesukuan Jawa-ku, untuk membuktikan kesungguhan keindonesiaanku itu. Baik resmi atau tidak resmi, siang maupun malam, aku ini tetap Presiden Indonesia, bukan presidennya orang Jawa saja. Selama aku jadi Presiden, seluruh mata bangsa Indonesia akan melihat dan memperhatikanku, termasuk pakaian yang aku pakai. Itu sebabnya aku selalu berpakaian rapi dan memakai peci hitam, yang aku harapkan menjadi ciri atau identitas bangsa Indonesia.”

SukarnoTerhadap pakaian daerah, begini penuturan Bung Karno, “Aku sama sekali tidak anti pakaian adat daerah, bahkan sebaliknya aku pengagum atau penganjur dilestarikannya pakaian adat itu. Hanya bagi pejabat tinggi negara, sebaiknya ada batas-batasnya. Contoh, Gubernur Aceh berpakaian adat Aceh atau Gubernur Bali berpakaian adat Bali, itu baik sekali; mereka itu memang kepala dari daerah yang dipimpinnya. Sedangkan untuk presiden atau menteri, seyogianya tidak berpakaian daerah, karena mereka adalah pemimpin seluruh Indonesia. Nanti bila ia tidak menjabat lagi, barulah bebas dan boleh berpakaian apa saja yang ia senangi.”

Itulah pendapat Bung Karno tentang pakaian adat. Tidak heran, kalau Bung Karno begitu dicintai seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Cinta rakyat yang tulus… sebagai balasan atas ketulusan Sukarno yang rela melepas segala atribut kedaerahan, kepartaian, dan kepentingan pribadinya untuk bangsa dan negara yang begitu dicintainya: INDONESIA. (roso daras)

Iklan
Published in: on 19 Juni 2009 at 18:36  Comments (2)  
Tags: , ,

Riwu Ga, Pembantu Sekaligus Pengawal Bung Karno

Buku Riwu GaTahun 30-an, ketika Bung Karno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, tersebutlah satu nama, yang kemudian akan menjadi orang penting dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Orang itu bernama Riwu Ga. Dialah yang kemudian dikenal sebagai pembantu sekaligus pengawal Bung Karno, sejak tahun 30-an sampai tahun 1945.

Kurang lebih 14 tahun lamanya Riwu mendampingi Bung Karno dalam segala suka dan duka. Ia menjadi pesuruh, menjadi pengawal, sekaligus menjadi pelakon dalam lakon-lakon tonil karya Bung Karno. Ya… Bung Karno memang seorang seniman sejati. Di Ende, ia membentuk grup kesenian tonil, sejenis kelompok sandiwara yang diberi nam Kelimutu. Nah, Riwu juga termasuk salah satu aktor.

Sosok Riwu Ga, diungkap cukup tuntas oleh wartawan senior, sekaligus sahabat saya, Peter A. Rohi dalam sebuah buku “Riwu Ga, 14 Tahun Mengenal Bung Karno, Kako Lami Angalai?”.  Pada salah satu bagian buku, yang mengisahkan kesenimanan Bung Karno, juga memuat naskah asli karya Bung Karno yang tersimpan rapi di tangan Rachmawati. Dan, atas seizin Rachmawati pula, lakon-lakon tonil karya Bung Karno di-publish oleh Peter A. Rohi.

Selain menulis naskah tonil, Bung Karno pula yang melukis latar belakang (setting) panggung dengan cat warna seadanya. Begitulah totalitas Sukarno dalam kesenian tonil. Ia penulis cerita, sutradara, sekaligus penata panggung. Kesemuanya itu dilakukan Bung Karno untuk membunuh waktu, mengusir kejemuan hidup di pengasingan.

Buku setebal 140-an halaman ini, sangat menarik. Bukan saja berisi reportase Peter A. Rohi sebagai wartawan, tetapi substansinya yang mendalam. Betapa Bung Karno begitu dekat dengan orang kecil bernama Riwu Ga. Dan, betapa Bung Karno memberi kepercayaan yang begitu besar untuk membantu, menjaga, sekaligus mengawal pada masa-masa pra kemerdekaan. Nama Riwu Ga “hilang” setelah 17 Agustus 1945. Tugas pengawalan kemudian diambil alih oleh sejumlah putra bangsa. Sementara, Riwu, memilih pulang ke pedalaman pulau Timor dan hidup bertani hingga ajal menjemput.

Pada kesempatan lain, akan saya posting lebih dalam tentang sosok Riwu Ga, sebagai bagian tak terpisahkan dari sosok Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 19 Juni 2009 at 07:38  Comments (4)  
Tags: , , ,