Tragedi Sukarno, Dari Kudeta sampai Kematiannya

Tragedi SukarnoSukarno yang lahir saat fajar menyingsing, diyakini ibundanya, Idayu, akan menjadi orang besar, tokoh penting, pejuang bagi rakyatnya. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Panglima Tertinggi, Singa Podium, Peraih Gelar 26 Doktor Honoris Causa… sungguh pencapaian luar biasa, yang bahkan belum pernah ada yang bisa menandingi. Tidak di Indonesia, barangkali tidak pula di atas jagat raya.

Perjalanan hidup seorang Sukarno begitu kontroversi. Ia dicerca, tapi juga dipuja. Bahkan dalam buku biografinya ia mengatakan, “Aku dipuja seperti dewa dan dikutuk seperti bandit”. Begitulah tokoh proklamator kita. Muda dipuja, saat jaya diagung-agungkan, tetapi di akhir hidupnya disingkirkan dan “dibunuh pelan-pelan”.

Rezim Soeharto mengubur nama Sukarno. Para pengikut dikerangkeng, dijebloskan penjara tanpa diadili. Sukarnois diidentikkan komunis, karenanya harus distempel “manusia terlarang” dengan bebagai kategori dan tingkatan. Jazad Bung Karno, dimakamkan di Blitar oleh Soeharto dengan alasan supaya dekat dengan ibunya. Padahal, Sukarno sendiri berkehendak dimakamkan di antara bukit yang berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar… impian yang bahkan dituliskannya dalam sebuah testamen.

Ya, permintaan terakhir Sukarno agar dikuburkan di halaman rumahnya di Batu Tulis Bogor, ditolak rezim Soeharto. Soeharto tentu tidak mau, makam Sukarno di Bogor menjadi tempat yang populer, banyak dikunjungi rakyat pecintanya. Terlebih letak Bogor yang begitu dekat dengan Jakarta, pusat kekuasaan Soeharto yang didudukinya dengan bertindak keji terhadap Sukarno.

Adalah buku “TRAGEDI SUKARNO, Dari Kudeta Sampai Kematiannya”, yang mengupas secara cukup tuntas, sepenggal hidup Sukarno sejak periode 1965 yang disebut sebagai “Titik Balik”, hingga “Saat Fajar Tenggelam”, sebuah episode terakhir kehidupan Sukarno. Buku yang ditulis Reni Nuryani dan diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta 2008 itu –sekali lagi– menjadi salah satu buku yang paling lengkap di antara judul-judul lain dengan tema sejenis.

Dalam buku itu, dikupas tentang masa-masa Bung Karno terusir dari Paviliun Istana Bogor, periode sakit dan “dikerangkeng” di Wisma Yaso, Catatan Medis Sukarno, serta pendukung tulisan lain yang merujuk pada referensi yang lebih komplet.

Kini, jazad Bung Karno sudah kembali ke asalnya. Pelan tapi pasti, bersama guliran sang kala, manikam Sukarno kembali bersinar. Ajaran-ajarannya kembali digali. Dan… persis seperti ucapan yang pernah meluncur dari mulut Sukarno, “Sejarahlah yang akan membersihkan namaku.” (roso daras)

Iklan
Published in: on 16 Juni 2009 at 02:34  Comments (15)  
Tags: ,