Majalah Time, Menyanjung dan Menghujat Bung Karno

Sukarno Cover Time 1946Ada dua laporan utama (cover story) majalah Time (Amerika Serikat) yang benar-benar menggambarkan figur Sukarno secara kontradiktif.  Cover di sebelah kiri ini, adalah cover majalah Time edisi 23 Desember 1946.

Cover itu menampilkan wajah  Sukarno sebagai orator ulung, pejuang kemerdekaan bagi bangsanya. Ia dilukiskan berpeci hitam dalam sapuan kuas yang begitu heroik, kuat serta berwibawa. Di belakang gambar Bung karno, tampak bendera Merah Putih tengah berkibar lengkap dengan tangan-tangan sedang yang dikepal.

Pada catatan cover yang ditulis oleh Robert Sherood itu, Sukarno digambarkan seorang pria Indonesia dengan tinggi badan 5 ft 8 in. Berwajah tampan  dan pandai berpidato. Ia juga mendapat julukan si Kamus Indonesia. Topik yang diangkat majalah Time ketika itu, selain mengungkap sosok  Sukarno,  juga mengulas tentang situasi Indonesia saat itu.

Secara umum, publikasi majalah Time tentang sosok Sukarno ketika itu sangat mendukung dan mengangkat citra Sukarno (dan Indonesia) ke pentas dunia.

Akan tetapi, media massa di Amerika Serikat, ada kalanya benar-benar digunakan untuk penggalangan opini, dari yang bersifat sanjungan, sampai yang berisi hujatan.

Sukarno 10 Maret 1958Nah, cover berikut di sebelah ini, adalah cover majalah Time edisi 10 Maret 1958. Wajah Bung Karno digambarkan begitu “menyeramkan”, dengan permukaan wajah yang “bopeng-bopeng” jauh dari penggambaran sosok yang tampan pada edisi tahun 1946. Demikian pula laporan di dalamnya.

Majalah Time edisi 10 Maret 1958 itu berisi propaganda dan sindiran negatif yang ditujukan kepada sosok Sukarno. Saat itulah Amerika mulai menunjukkan aksi tidak senangnya terhadap gaya kepemimpinan Sukarno yang sudah berhasil meraih simpati negara-negara yang baru merdeka (new emerging forces).

Karenanya, kutipan-kutipan yang ditampilkannya pun yang cenderung menyudutkan Bung Karno, dan melukiskan sosok Bung Karno yang arogan. Sebagai contoh, dikutip kata-kata Bung Karno yang mengatakan, bahwa dialah penyambung lidah rakyat. Bahkan rakyat akan makan batu, kalau Sukarno yang menyuruh (“Don’t you know that I am an extension of the people’s tongue” and “The Indonesian people will eat stones if I tell them to.”)

Sebuah kutipan yang sangat mendiskreditkan Bung Karno, dan bertolak belakang dari realita, bahwa Sukarno adalah presiden yang sangat dekat dengan rakyat, sangat dicintai rakyat, dan sejak muda mendedikasikan hidupnya bagi persatuan Indonesia, bagi kemerdekaan Indonesia.

picture-Sukarno

Saya sangat lekat dengan cover yang kedua itu, karena bersinggungan dengan pengalaman pribadi. Sebelum saya mengetahui latar belakang kejadiannya, saya telah mencetak foto cover majalah Time (yang tahun 1958) besar-besar dan saya jadikan cover notebook. Suatu hari, ketika saya berjumpa Moch. Achadi, Menteri Koperasi pada Kabinet Dwikora, saya ditegur, “Dik! Jangan pasang gambar itu. Itu adalah  cover majalah Time yang isinya menghujat dan mendiskreditkan Bung Karno.”

Setelah itu, Achadi, pria sepuh yang masih energik berkat yoga itu, menceritakan panjang lebar ihwal dua cover majalah Time di atas. (roso daras)

Published in: on 9 Juni 2009 at 14:15  Comments (4)  
Tags: ,

Balada Bung Karno dan Burung Nuri

BK dan Nuri Raja

Adalah kebiasaan Bung Karno untuk menerima rakyatnya di Istana. Ya… ketua adat, tokoh agama, sampai rakyat jelata. Sebaliknya, tidak sedikit rakyat dari berbagai penjuru Nusantara yang tak segan menembus jarak, menerobos kesusahan untuk sekadar bisa memberi sesuatu yang menurut mereka berharga. Tidak sedikit rakyat yang tinggal di pedalaman sebuah pulau, datang menemui presidennya, sekadar ingin memberikan sesuatu sebagai tanda cinta.

Ini kisah seorang warga Maluku. Tersebutlah seorang bapak diantar anaknya, datang dari Maluku ke Istana hendak menjumpai Bung Karno. Ia membawa persembahan berupa seekor burung nuri khas Maluku. Bukan sembarang nuri, karena yang dibawanya adalah seekor burung nuri raja yang begitu elok rupanya.

Bung Karno menemui tamunya dari Maluku dengan sangat ramah. Ditanya tentang keluarganya… ditanya bagaimana perjalanannya dari Maluku sampai Jakarta… ditanya situasi dan keadaan daerah tempat tinggalnya…. dan banyak pertanyaan lain yang tentu saja membuat si tamu dengan antusias bertutur, bercerita bangga. Bangga pula mendapat perhatian yang begitu personal dari presidennya.

Tak lupa, Bung Karno mempersilakan tamunya minum teh, dan makan kue-kue seperti biasa Bung Karno kalau menerima rakyatnya di beranda Istana yang teduh. Usai berbicara panjang, sampailah Bung Karno kepada burung nuri persembahan tamunya. “Jadi, Bapak menyerahkan burung ini kepada saya? Saya boleh berbuat apa saja kepada burung ini?

Dijawab antusias, “Ya pak. tentu saja terserah bapak, mau diapakan burung itu.” Bung Karno menimpali, “Nah, kalau begitu, ikutlah saya…” Bung Karno diikuti pengawal, mengajak tamunya menuruni tangga istana, berjalan menuju bibir taman yang hijau. “Coba buka sangkar itu, dan lepaskanlah burung yang indah itu,” kata Bung Karno kepada pengawalnya. Tanpa bertanya lebih lanjut, si pengawal itu melepas burung nuri raja itu. Burung itu pun terbang riang dan hinggap di dahan yang rindang.

Berkatalah Bung Karno kepada tamunya, “Pak, burung itu akan lebih senang kalau bisa terbang bebas, bisa terbang kemana-mana. Biarkanlah ia merdeka, seperti kita pun ingin merdeka selama-lamanya.”

Begitulah Bung Karno. Dia sangat tidak senang melihat burung di dalam sangkar. Ia bahkan melarang staf dan pegawai Istana memelihara burung di dalam sangkar. Karenanya, tidak ada satu pun burung dalam sangkar terpajang di Istana Jakarta, Bogor, Yogyakarta, maupun  Bali. Bung Karno senang sekali melihat burung-burung beterbangan, hinggap di dahan dan berkicau dengan riang. (roso daras)

Published in: on 9 Juni 2009 at 09:37  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: