Bung Karno Sahabatku

bk-sahabatkuKita mengenal sejumlah nama Belanda yang pro Indonesia. Dari sekian nama, yang paling terkenal hanya H.J.C. Princen. Serdadu KL Belanda yang akrab disapa Pongky itu, pada akhirnya “membelot” dan berjuang bersama tentara-tentara Indonesia, untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan negaranya (Belanda). Tak ayal, di negaranya, ia dicap disertir. Keluarganya diancam. Toh, Pongky yang oleh pemerintah Republik Indonesia dianugerahi Bintang Gerilya RI itu, menganggap, dirinya memilih membela kebenaran, dan bahwa setiap orang berhak untuk memilih.

Nah, di luar nama Princen, masih ada satu nama lagi yang patut dicatat. Dia adalah Willem Oltmans, seorang wartawan berkebangsaan Belanda yang semula tidak tahu apa-apa tentang Indonesia dan perjuangan bangsa kita. Namun sejak bertemu Presiden Sukarno tahun 1956, ia langsung “jatuh hati”. Sejak itu, semua tulisan dan hasil reportasenya tentang Indonesia (dan Bung Karno) sangat menyanjung dan menjunjung tinggi perjuangan bangsa Indonesia serta meletakkan apresiasi yang begitu tinggi terhadap Bung Karno.

Tak ayal, Belanda uring-uringan. Sontak ia dipersona-non-gratakan, diusir dari tanah kelahirannya sendiri, dan memaksa dia hidup dan tinggal di negeri orang. Ia dianggap “penyakit” oleh pemerintah Belanda, dan tentu saja oleh sebagian besar rakyat Belanda. Meski begitu, ia toh bergeming. Persahabatannya dengan Bung Karno malah makin erat, seperti yang ia rasakan dan ia tuang dalam buku yang ditulisnya.

Alinea pertama dalam tulisan Oltmans sangat menarik. Begini kalimatnya: “Menulis buku tentang Presiden Soekarno, musub bebuyutan kita yang nomor satu, tetap merupakan petualangan yang berbahaya biarpun seratus tahun sejak kelahirannya dan sepertempat abad setelah kematiannya. Orang mengira saya dapat berbicara atau berpikir tentang ia, padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang pria ini. Orang tidak sadar bahwa mereka tidak memiliki ramuan informasi yang penting-penting, sehingga hanya mempunyai pendapat pedas saja yang tidak dapat dibenarkan. Emosi dapat memutarbalikkan kenyataan. Isapan jempol degil telah bertahun-tahun mengaburkan fakta tentang pendiri Republik Indonesia ini. Pada akhirnya ia adalah pemenang yang tak terbantahkan dan kita telah berulah sebagai pihak yang ogah menerima kekalahan”.

Begitu pedas komentar Oltmans terhadap negaranya sendiri, dan begitu tinggi ia mengangkat derajat Sukarno. Dan yang lebih mengharukan, ia dedikasikan buku yang ia tulis ini kepada anak-anak Bung Karno. Anak-anak Sukarno yang ia katakn mencintai ayahnya, tetapi tidak benar-benar mengenalnya. Bung Karno tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan anak-anaknya.Apalagi waktu itu anak-anak masih sibuk sekolah, dan tidak tahu apa yang terjadi di lingkungan Istana.

Selanjutnya, Oltmans begitu menyentuh menceritakan pengalamam menerima kunjungan Sukmawati dan Guruh di rumahnya di Amsterdam. Kedua anak BK tadi ingin mendengar langsung kisah dan cerita tentang ayah mereka. Oltmans juga peduli mempersembahkan buku ini buat Karina, yang lahir tahun 1967 di Jepang dalam pembuangan dan tidak pernah mengenal ayahnya. Oltmans begitu teringat ketika masih anak-anak, ia tinggal di tepi Danau Geneva, membuat gambar-gambar untuk ayahnya dan bertanya tentang ayahnya kepada Oltmans dalam bahasa Perancis.

Sekalipun tidak tersaji dalam desain sampul yang menarik, tetapi kekuatan narasi Oltmans dalam buku ini patut dipuji. Bahasa yang digunakan begitu deskriptif, sesekali menyelipkan kalimat-kalimat puitis. Saya pribadi sangat menyukai gaya bertutur Oltmans sampai akhirnya saya sadar, latar belakang Oltmans sebagai jurnalislah yang memungkinkan ia pandai berkisah. Pengalaman sebagai jurnalis pula yang membuatnya mampu menghanyutkan pembaca ke dalam aliran kata-kata, menenggelamkan pembaca dalam alunan kalimat demi kalimat, hingga tak terasa, buku setebal 405 halaman itu habis terbaca. (roso daras)

Iklan
Published in: on 21 Februari 2009 at 06:14  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/02/21/bung-karno-sahabatku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Terharu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: