Sewindu Dekat Bung Karno

sewindu-dkt-bkMemandang Sukarno dari dekat, adalah salah satu kelebihan yang dimiliki para ajudannya. Kita beruntung, karena salah satu ajudan Bung Karno, berkenan menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku yang sangat menarik: Sewindu Dekat Bung Karno.  Penulisnya adalah R. Geraldus Bambang Setyono Widjanarko, atau yang akrab dikenal sebagai Bambang Widjanarko.

Bambang adalah salah seorang ajudan Bung Karno dari November 1960 sampai Juni 1967. Selama sewindu ia bisa dibilang, di mana ada Sukarno, di situ ada Bambang Widjanarko. Tak heran jika ia mengenal betul kepribadian Sukarno, lengkap dengan segala pernak-pernik asmara yang menyelimutinya dari waktu ke waktu.

Bambang yang kelahiran Karanganyar, Kebumen 9 September 1929 itu, dalam kata pengantar buku yang diterbitkannya tahun 1987, mengatakan ihwal kebesaran tokoh Sukarno. Ia bahkan meyakini, ketokohan Sukarno akan senantiasa menjadi buah bibir hingga kapan pun. Sukarno dengan segala kontroversi yang menyelimutinya, diakui Bambang sebagai konsekuensi lumrah. Bung Karno juga manusia, yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Bambang dalam bukunya banyak mengupas kisah-kisah ringan. Tak heran jika kita mendapat begitu banyak romansa human interest dari seorang Proklamator kita. Cerita Bambang tentang bagaimana Bung Karno mengatur jadwal untuk para istrinya, sungguh memikat. Di dalamnya, ia selipkan pula cerita-cerita para wanita Sukarno ketika “ngambek”. Membaca bagian ini, kita benar-benar bisa dibuat hanyut oleh bayangan suasana yang terjadi ketika itu.

Bambang Widjanarko, harus diakui sebagai seorang ajudan dengan memori yang bagus. Kenangan-kenangannya terhadap hal-hal remeh-temeh tapi menarik, sungguh patut dipuji. Sekalipun begitu, ia juga tak lupa mengisahkan bagian-bagian yang cukup genting, seperti percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno dan saat-saat kejatuhannya.

Buku setebal 212 halaman terbitan Gramedia itu, sekali lagi, sangat menarik. Dalam banyak kesempatan saya mengatakan, setiap buku tentang Sukarno, ibarat sekeping puzzle…. Kita tentu saja tidak bisa melihat Sukarno secara utuh hanya dari satu buku. Sebab, seperti pernah Bung Karno katakan sendiri, bahwa untuk menyusun “ajaran Bung Karno” saja dibutuhkan waktu sedikitnya 50 tahun. Bagaimana dengan keseluruhan kehidupannya?

Dalam buku ini, keseluruhan rangkaian pengabdian Bambang Widjanarko sebagai ajudan, disajikan ke dalam 17 judul. Masing-masing: Hari Pertama (1), Argentea Cristata dan Besi Tulang (2), Keris, Burung, dan Arca (3), Yes, Your Majesty (4), Guest House untuk Kennedy (5), Seni (6), Arjuna (7), ABS (8), Lokal (9), Percobaan Pembunuhan (10), Carlos (11), Kesepian (12), Pidato (13), Tidak Jadi Masuk Sesko (14), 1 Oktober 1965 (15), Kala Senja (16), dan Kuantar Engkau ke Tempat Peristirahatan Terakhir (17). (roso daras)

Published in: on 22 Februari 2009 at 21:21  Comments (6)  

Bung Karno Sahabatku

bk-sahabatkuKita mengenal sejumlah nama Belanda yang pro Indonesia. Dari sekian nama, yang paling terkenal hanya H.J.C. Princen. Serdadu KL Belanda yang akrab disapa Pongky itu, pada akhirnya “membelot” dan berjuang bersama tentara-tentara Indonesia, untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan negaranya (Belanda). Tak ayal, di negaranya, ia dicap disertir. Keluarganya diancam. Toh, Pongky yang oleh pemerintah Republik Indonesia dianugerahi Bintang Gerilya RI itu, menganggap, dirinya memilih membela kebenaran, dan bahwa setiap orang berhak untuk memilih.

Nah, di luar nama Princen, masih ada satu nama lagi yang patut dicatat. Dia adalah Willem Oltmans, seorang wartawan berkebangsaan Belanda yang semula tidak tahu apa-apa tentang Indonesia dan perjuangan bangsa kita. Namun sejak bertemu Presiden Sukarno tahun 1956, ia langsung “jatuh hati”. Sejak itu, semua tulisan dan hasil reportasenya tentang Indonesia (dan Bung Karno) sangat menyanjung dan menjunjung tinggi perjuangan bangsa Indonesia serta meletakkan apresiasi yang begitu tinggi terhadap Bung Karno.

Tak ayal, Belanda uring-uringan. Sontak ia dipersona-non-gratakan, diusir dari tanah kelahirannya sendiri, dan memaksa dia hidup dan tinggal di negeri orang. Ia dianggap “penyakit” oleh pemerintah Belanda, dan tentu saja oleh sebagian besar rakyat Belanda. Meski begitu, ia toh bergeming. Persahabatannya dengan Bung Karno malah makin erat, seperti yang ia rasakan dan ia tuang dalam buku yang ditulisnya.

Alinea pertama dalam tulisan Oltmans sangat menarik. Begini kalimatnya: “Menulis buku tentang Presiden Soekarno, musub bebuyutan kita yang nomor satu, tetap merupakan petualangan yang berbahaya biarpun seratus tahun sejak kelahirannya dan sepertempat abad setelah kematiannya. Orang mengira saya dapat berbicara atau berpikir tentang ia, padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang pria ini. Orang tidak sadar bahwa mereka tidak memiliki ramuan informasi yang penting-penting, sehingga hanya mempunyai pendapat pedas saja yang tidak dapat dibenarkan. Emosi dapat memutarbalikkan kenyataan. Isapan jempol degil telah bertahun-tahun mengaburkan fakta tentang pendiri Republik Indonesia ini. Pada akhirnya ia adalah pemenang yang tak terbantahkan dan kita telah berulah sebagai pihak yang ogah menerima kekalahan”.

Begitu pedas komentar Oltmans terhadap negaranya sendiri, dan begitu tinggi ia mengangkat derajat Sukarno. Dan yang lebih mengharukan, ia dedikasikan buku yang ia tulis ini kepada anak-anak Bung Karno. Anak-anak Sukarno yang ia katakn mencintai ayahnya, tetapi tidak benar-benar mengenalnya. Bung Karno tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan anak-anaknya.Apalagi waktu itu anak-anak masih sibuk sekolah, dan tidak tahu apa yang terjadi di lingkungan Istana.

Selanjutnya, Oltmans begitu menyentuh menceritakan pengalamam menerima kunjungan Sukmawati dan Guruh di rumahnya di Amsterdam. Kedua anak BK tadi ingin mendengar langsung kisah dan cerita tentang ayah mereka. Oltmans juga peduli mempersembahkan buku ini buat Karina, yang lahir tahun 1967 di Jepang dalam pembuangan dan tidak pernah mengenal ayahnya. Oltmans begitu teringat ketika masih anak-anak, ia tinggal di tepi Danau Geneva, membuat gambar-gambar untuk ayahnya dan bertanya tentang ayahnya kepada Oltmans dalam bahasa Perancis.

Sekalipun tidak tersaji dalam desain sampul yang menarik, tetapi kekuatan narasi Oltmans dalam buku ini patut dipuji. Bahasa yang digunakan begitu deskriptif, sesekali menyelipkan kalimat-kalimat puitis. Saya pribadi sangat menyukai gaya bertutur Oltmans sampai akhirnya saya sadar, latar belakang Oltmans sebagai jurnalislah yang memungkinkan ia pandai berkisah. Pengalaman sebagai jurnalis pula yang membuatnya mampu menghanyutkan pembaca ke dalam aliran kata-kata, menenggelamkan pembaca dalam alunan kalimat demi kalimat, hingga tak terasa, buku setebal 405 halaman itu habis terbaca. (roso daras)

Published in: on 21 Februari 2009 at 06:14  Comments (1)  

Biografi Politik Sukarno

biografi-politikJohn D. Legge adalah seorang biograf asal Australia. Dia termasuk satu di antara sekian banyak penulis asing yang mencermati Sukarno. Alhasil, ketika itu menyusun buku Biografi Politik Sukarno pada tahun 1972, masyarakat serta merta menerimanya, bahkan mengapresiasinya.

Buku yang terbit dengan judul asli: SUKARNO, A Political Biography ini, telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan. Tercatat, cetakan pertama tahun 1985. Tahun yang sama, dicetak ulang. Kemudian pada tahun 1996 dicetak untuk ketiga kalinya, dan terakhir tahun 2001.

Dibandingkan biografi yang ditulis Lambert Giebels maupun Cindy Adams, maka tulisan Legge ini terbilang kering. Beruntung, ini adalah biografi politik. Karenanya, pembaca sudah diwadahi dalam satu bingkai pemahaman, untuk tidak berharap banyak dapat menguak sisi-sisi humanisme seorang Sukarno.

Sebaliknya, Legge yang seorang pengajar di Monash University itu, cukup piawai menempatkan sosok Sukarno dalam sejarah nasionalisme Indonesia. Persoalannya adalah, karya Legge ini muncul jauh setelah karya biograf Jerman, Bernard Dahm (1964). Jadi tidak terlalu mengherankan, jika Legge juga menempatkan karya Dahm sebagai acuan dalam menulis biografi politik Sukarno.

Sampai tahap itu, sejatinya karya Legge tidak terlalu istimewa. Tapi tentu saja tidak akan menjadi buku yang terbilang laris-manis seandainya tidak ada “sesuatu” di dalamnya. Nah, mencari “sesuatu” itulah yang tidak mudah. Sebab, sekalipun buku biografi politik, Legge tak bisa tidak, tetap saja menyajikan sisi-sisi humanisme seorang Sukarno, sejak kecil hingga besar. Sekalipun, bagian ini tidak akan semenarik penuturan Bung Karno sendiri lewat Cindy Adams.

Apakah “sesuatu” yang bisa dipetik dari buku ini? Saya harus memagari pendapat ini sebagai pendapat pribadi. Sebab, bisa jadi, dan ini sangat mungkin, penilaian orang akan berbeda. “Sesuatu” yang bisa kita petik dari buku biografi politik Sukarno karya John Legge ini adalah tentang pekembangan pemikiran seorang Sukarno.

Legge berusaha memotret pemikiran seorang Sukarno, sejak zaman pergerakan hingga zaman kemerdekaan. Tetapi, apakah ini sebuah gagasan orisinal dari seorang Legge? Saya pribadi menganggapnya, tidak! Sejatinya, Bung Karno sendiri dalam buku Cindy Adams telah menjelaskan secara gamblang, ihwal berbagai tudingan dan hujatan terhadapnya. Termasuk sikapnya yang dinilai “menghamba” kepada Jepang, tidak seperti perlawanannya terhadap Belanda.

Sejatinya, karya Legge tak lebih dari sebuah tafsir. Tafsir atas berbagai sikap, pandangan, dan tindakan politik Sukarno, sejak era pendudukan hingga menjelang proklamasi kemerdekaan. Tafsir Legge menjadi “tampak” saheh barangkali karena kerja kerasnya bersama sebuah tim (umumnya akademisi) yang mengatasnamakan “riset”.

Bagi saya, tafsir tetaplah tafsir. Ia mencoba menggiring kita kepada sebuah pemahaman tertentu, syukur-syukur bisa membekaskan sebuah keyakinan. Tapi, bukankah Sukarno adalah sosok yang multi tafsir? (roso daras)

Published in: on 18 Februari 2009 at 18:36  Tinggalkan sebuah Komentar  

Biografi BK versi Lambert Giebels

sukarno-biografi-lambert-giebels1Ada begitu banyak biografi tentang Bung Karno. Dari yang sekian banyak tadi, paling populer tetaplah biografi yang ditulis Cindy Adams, seperti sudah disinggung dalam tulisan lain dalam blog ini. Nah, yang tersaji dalam tulisan ini adalah salah satu biografi yang cukup menyedot atensi masyarakat. Salah satu alasannya karena, inilah satu-satunya biografi yang ditulis oleh penulis yang seorang warga negara Belanda.

Judul biografinya: Soekarno, Biografi 1901 – 1950. Saya pribadi semula enggan membeli buku ini. Alasannya sederhana saja, orang yang tidak bisa menulis nama Sukarno dengan benar, apa mungkin menulis biografi secara benar pula? Setidaknya karena saya mengacu kepada ungkapan Bung Karno lewat Cindy Adams, bahwa sejak era penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia, Sukarno menulis namanya tidak lagi menggunakan “oe” tetapi “u”. Bahwa dalam tanda tangan ia menorehkan “oe” ia berdalih, tidak mungkin mengganti guratan tanda tangan yang telah ia lakukan puluhan tahun. Akan tetapi bahwa dia sendiri yang menganjurkan penggunaan ejaan yang disempurnakan, sehingga menjadi naif kalau Sukarno masih menulis namanya dengan S’oe”karno.

Tapi, demi membaca kata pengantar, saya tahu bahwa buku biografi ini patut disimak. Karenanya saya kesampingkan ihwal “oe” tadi, dan membacanya. Cukup menarik, setidaknya beda dengan biografi tulisan Cindy Adams. Jika Cindy menulis biografi berdasar wawancara langsung dengan Sukarno, maka Giebels melakukannya dengan ilmiah (menurut terminologi dia). Artinya, telah melalui tahap survei, lacak data, wawancara saksi hidup, dll.

Dikatakan, ada tiga biografi lain yang dinilainya ilmiah. Pertama, karya biograf Jerman B. Dahm tahun 1964, kemudian tulisan biograf Australia I.D. Legge tahun 1972 dan karya biograf Australia-Belanda C.LM. Penders, juga di tahun 1972. Ketiga biografi tadi memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Seperti Dahm misalnya, yang mengakhiri tulisan biografiya hingga tahun 1945. Sementara Legge mengakui, karyanya sebagai “a political biography”.

Nah, Giebels ini mencoba mengangkat Sukarno lebih tuntas, setidaknya sejak kelahirannya (1901) hingga tahun 1950. Buku setebal 522 halaman terbitan PT Grasindo – Jakarta itu, membagi buku tadi ke  1 pendahuluan dan 11 bagian. Bagian pendahuluan berjudul PENDAHULUAN: ANAK FAJAR. Kemudian ke-11 bagian masing-masing, ke-1 MASA MUDA 1901 – 116, ke-2 PENDIDIKAN BELANDA 1916 – 1926, ke-3 PEMIMPIN NASIONAL 1926 – 1930, ke-4 PAHLAWAN DAN MARTIR 1930 – 1932, ke-5 PAHLAWAN YANG TERSUNGKUR 1932 – 934, ke-6 DIASINGKAN DI ENDEH KEMUDIAN BENGKULU 1934 – 1942, ke7 JEPANG DI PETA DUNIA, ke-8 MASA PENDUDUKAN JEPANG 1942 – 1945, ke-9 PROKLAMASI KEMERDEKAAN 1945, ke-10 DEKOLONISASI 1945 – 1947, dan ke-11 PERJUANGAN KEMERDEKAAN 1945 – 1949.

Giebels melengkapi buku itu dengan epilog REVOLUSI YANG BELUM SELESAI. Selanjutnya, seperti laiknya karya ilmiah, ia mencantumkan narasumber yang dipakai, daftar pustaka, singkata-sngkatan dan lain sebagainya. Alhasil, lepas dari segala kontroversi yang sempat mewarnai pemunculan buku ini, yakinlah, buku ini merupakan salah satu sumber rujukan penting bagi siapa saja yang ingin mengenal Bung Karno lebih dalam. (roso daras)

Published in: on 15 Februari 2009 at 13:19  Comments (4)  

BK Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

bk-cindy-adamsSelain buku DI BAWAH BENDERA REVOLUSI, masih banyak buku tentang Bung Karno yang terbilang monumental. Salah satunya adalah otobiografinya yang ditulis penulis cantik asal Amerika Serikat, Cindy Adams. Buku itu berjudul: BUNG KARNO, PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA (BK PLRI). Edisi bahasa Indonesia, dialibahasakan oleh Abdul Bar Salim. Bertindak selaku penerbit: hasil kerjasama Ketut Masagung Corporation dengan PT Tema Baru.

Buku BK PLRI ini terbit pertama tahun 1966. Kemudian mengalami cetak ulang hingga enam kali, masing-masing tahun 1982, 1984, 1986, 1988, dan 2000. Bisa jadi, terus dan terus dicetak untuk memenuhi permintaan khalayak, khususnya pecinta Bung Karno. Bahkan, bahasa Inggris dan Indonesia, buku BK PLRI ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Jepang, dan Cina.

Melalui otobiografi ini, kita bisa mengetahui segala sesuatu menyangkut diri Bung Karno, seperti masa remajanya, masa muda, pendidikannya, perjuangannya, pengalaman-pengalamannya, serta ide-ide yang cemerlang. Bung Karno di sini banyak bercerita tentang manusia, persahabatan, agama, dan cinta. Bahkan sisi-sisi privasi Bung Karno juga diungkap di sini, seperti komentarnya ihwal kepergian Ibu Negara Fatmawati dari Istana.

Buku setebal 500 halaman ini, memuat 33 judul, plus indeks dan ilustrasi. Adapun ke-33 judul itu adalah:

  1. Alasan Menulis Buku ini
  2. Putera Sang Fajar
  3. Mojokerto: Kesedihan di Masa Muda
  4. Surabaya: Dapur Nasionalisme
  5. Bandung: Gerbang ke Dunia Politik
  6. Marhaenisme
  7. Bahasa Indonesia
  8. Mendirikan PNI
  9. Masuk Tahanan
  10. Penjara Banceuy
  11. Pengadilan
  12. Penjara Sukamiskin
  13. Keluar dari Penjara
  14. Masuk Kurungan
  15. Pembuangan
  16. Bengkulu
  17. Pelarian
  18. Jepang Mendarat
  19. Pendudukan Jepang
  20. Kolaborator atau Pahlawan?
  21. Puteraku yang Pertama
  22. Berapa Harganya Kemerdekaan
  23. Permulaan Daripada Akhirnya
  24. Perundingan di Saigon
  25. Diculik
  26. Proklamasi
  27. Revolusi Mulai Berkobar
  28. Berperang Melawan Belanda
  29. Bangka
  30. Masa Mempertahankan Hidup
  31. Masa Perkembangan
  32. Sukarno Menjawab
  33. Renungan

Semua judul sangat menarik, sangat kuat, dan sangat menyentuh. Sebuah penuturan sejarah Indonesia dalam bingkai otobiografi. Tidak melelahkan membacanya. Apalagi Cindy Adams banyak menggunakan kutipan langsung. Anda tahu kan, bagaimana seorang Sukarno berkata-kata? Sangat puitis, sangat cerdas, dan bernas. Dalam setiap detail yang ia ceritakan, selalu saja dapat mengaduk-aduk emosi pembacanya.

Baiklah, saya kutipkan beberapa paragraf terakhir dalam judul yang pertama (Alasan Menulis Buku ini):

…. Dan begitulah, waktunya sudah datang. Kalau aku hendak menuliskan kisahku, aku haus mengguratkannya sekarang. Mungkin aku tidak mempunyai kesempatan nanti. Aku tahu, bahwa orang ingin mengetahui apakah Sukarno seorang kolaborator Jepang semasa Perang Dunia Kedua. Kukira hanya Sukarno yang dapat menerangkan periode kehidupannya itu dan karena itu ia bersedia menerangkannya. Bartahun-tahun lamanya orang bertanya-tanya, apakah Sukarno seorang Diktator, apakah dia seorang Komunis; mengapa dia tidak membenarkan kemerdekaan pers; berapa banyak istrinya; mengapa dia membangun departemen-store-departemen store yang baru, sedangkan rakyatnya dalam keadaan compang-camping…..

Hanya Sukarno sendiri yang dapat menjawabnya.

Ini adalah pekerjaan yang sukar bagiku. Suatu otobiografi adalah ibarat pembedahan mental bagiku. Sungguh berat. Menyobek plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu, memang sakit –sekalipun banyak di antarnya yang sudah mulai sembuh. Tambahan lagi, aku akan melakukannya dalam bahasa Inggris, bahasa asing bagiku. Terkadang aku membuat kesalahan dalam tata-bahasa dan seringkali aku terhenti karena merasa agak kaku.

Akan tetapi, mungkin juga aku wajib menceritakan kisah ini kepada Tanah Airku, kepada bangsaku, kepada anak-anakku dan kepada diriku sendiri. Karenanya kuminta kepadamu, pembaca, untuk mengingat bahwa, lebih daripada bahasa kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dari lubuk hati. Buku ini ditulis tidak untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka kepadaku. Harapan hanyalah, agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia yang tercinta. (roso daras)

Published in: on 13 Februari 2009 at 20:01  Comments (4)  

Pendahuluan Buku DBR Jilid Kedua

bk-proklamatorKutipan di bawah ini, saya ambil dari KATA PENDAHULUAN buku DIBAWAH BENDERA REVOLUSI Jilid Kedua. Pada galibnya, jilid pertama dan jilid kedua merupakan satu rangkaian penerbitan. Sekalipun begitu, kalimat-kalimat dalam kata pendahuluan Jilid Pertama dan Jilid Kedua tidak sama. Berikut nukilan selengkapnya:

KATA PENDAHULUAN

Dalam “Sepatah Kata” jilid pertama buku DIBAWAH BENDERA REVOLUSI dijelaskan bahwa buku DIBAWAH BENDERA REVOLUSI akan erdiri dari dua jilid. Ternyata kemudian bahwa bukan saja dua jilid, akan tetapi akan terdiri dari beberapa jilid dan kini sedang dalam percetkan sampai jilid keempat dan jilid-jilid berikutnya akan segera pula menyusl.

Seiring denan tekad bangsa Indonesia untuk mengganyang terus proyek Neo-Koloniais “Malaysia”, khusus untuk jilid kedua ini dihimpun 20 buah pidato 17 Agustus dari Presiden Sukarno, dengan maksud bukan sekadar untuk memudahkan penelitian dan peninjauan kembali jalannya Revolusi Indonesia serta bahan perbandingan kemajuan antara babak yang satu dengan lainnya, tetapi dengan maksud utama, adalah agar himpunan 20 buah pidato 17 Agustus ini, tetap meberi api-baru –memberi dorongan dan kekuatan baru– bahkan menjadi pusaka keramat untuk bimbingan yang menyeluruh ke arah tujuan Revolusi Indonesia, yaitu terbentuknya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Panca Sila.

Sesuai pula dengan penjelasan pada jilidpertama, maka himpunan 20 buah pidato 17 Agustus ini, bukan sekadar untuk menghias lemari/buku dan memperkaya khasanah perpustakaan dengan sebuah buku yang bernilai dokumenter yang menjadi sumber bagi penulisan sejarah Revolusi Indonesia, tetapi adalah agar menjadi pegangan hidup yang senantiasa segar –menjadi sumber ilham yang tiada kering-keringnya– baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang, sedemikian pula agar menjadi bahan penelitian-ilmiah bagi ahli politik, ahli sosiologi, ahli hukum, dan lain sebagainya.

Karena itu, persembahan himpuna 20 buah pidato 17 Agustus ini kepada rakyat Indonesia, adalah dengan maksud agar kita semua mempunyai pegangan yang sama menggerakkan Revolusi Indonesia menuju kemenangan.

Jakarta, 20 Agustus 1964

Panitia Penerbit

DIBAWAH BENDERA REVOLUSI

H. Mualliff Nasution

(roso daras)

Published in: on 13 Februari 2009 at 13:41  Comments (9)  

Panitia Penerbit Buku DBR I

bk-hbsMembaca “Sepatah Kata” buku DBR Jilid Pertama sangat menarik. Setidaknya kita tahu latar belakang penerbitan buku tersebut. Saya kutipkan selengkapnya sebagai berikut:

SEPATAH KATA

Semenjak 40 tahun yang lampau –waktu itu Bung Karno masih belajar di Hogere Burgerschool (H.B.S.) Surabaya– beliau sudah mulai gemar mengarang. Kegemaran itu bertambah lagi semasa beliau menjadi mahasiswa Technische Hogeschool (T.H.S.) di Bandung. Kemudian datanglah zaman yang dalam sejarah kehidupan Bung Karno dapat dianggap masa-pencurahan-pikiran dalam karang-mengarang, yaitu semasa Bung Karno bersama-sama dengan kawan-kawan sepaham beliau, mendirikan dan menggerakkan Partai Nasional Indonesia (P.N.I.) dan Partai Indonesia (Partindo) serta semasa beliau diasingkan ke Endeh dan akhirnya ke Bengkulu.

Suatu kenyataan sekarang ialah –bahwa Bung Karno sendiri sama sekali tidak lagi menyimpan karangan-karangan tersebut. Beberapa karangan yang telah dapat dikumpulkan semasa Bung Karno mulai menjalankan hukuman pembuangan, terpaksa ditinggalkan dan kemudian hilang tidak berketentuan karena tempat beliau yang sering berpindah-pindah. Demikian pula sahabat-sahabat karib beliau serta perpustakaan-perpustakaan umum, tidak banyak yang menyimpan karangan-karangan Bung Karno.

Dalam beberapa tahun terakhir ni, oleh perseorangan, pernah sebagian dari karangan-karangan tersebut diterbitkan dalam bentuk brosur. Karena mengingat –bahwa buah pikiran Bung Karno baik yang berbentuk sebagai karangan maupun yang berupa pidato-pidato dari semenjak zaman penjajahan hingga pada saat ini, belum pernah diterbitkan dalam bentuk yang teratur –sedangkan keinginan untuk itu oleh sahabat-sahabat karib Bung Karno serta oleh khalayak ramai berkali-kali diajukan kepada beliau — maka kami mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas tersebut. Semenjak lima tahun yang lampau, kami telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menunaikan kewajiban tersebut sebaik-baiknya.

Dalam melaksanakan tugas tersebut ternyata –bahwa tidak sedikit kesukaran yang harus kami hadapi. Pada zaman penjajahan, untuk menyimpan karangan-karangan para pemimpin pergerakan — terutama buah pena Bung Karno– diperlukan keberanian bagi para penyimpannya. Lagi pula, karangan-karangan Bung Karno tersebut tidak pernah berada dalam satu tangan. Berdasarkan itulah, maka usaha pengumpulan ini tidak seluruhnya dapat berhasil baik dan sempurna.

Selama lima tahun terus-menerus telah dilakukan hubungan dan surat-menyurat dengan alamat-alamat di dalm dan di luar negeri dengan pengharapan agar supaya usaha pengumpulan buah-pikiran Bung Karno dapat lebih diperlengkap. Walaupun mereka yang dihubungi selau menunjukkan kesediaan untuk memberi bantuan sebanyak mungkin, namun hingga pada saat ini, belum juga diperoleh hasil untuk mengumpulkan buah pena Bung Karno yang ditulis antara tahun 1917 hingga tahun 1925. Bahkan karangan-karangan dlam tahun-tahun berikutnya pun masih ada beberapa yang belum terkumpul. Ini berarti –bahwa kumpulan buah-pikiran Bung Karno– yang oleh beliau dberi nama “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI”, belumlah merupakan kumpulan yang lengkap dan sesempurna-sempurnanya.

Akan tetapi dengan pertimbangan –bahwa untuk menanti sampai terkumpulnya seluruh buah-pikiran Bung Karno– masih memerlukan waktu yang lama, –maka sebagai langkah pertama, buku:  “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” ini (terdiri dari dua jilid), kami persembahkan kepada masyarakat Indonesia, dengan pengertian, kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam buku ini mudah-mudahan dapat disempurnakan dalam penerbitan lainnya. Patut dijelaskan bahwa Bung Karno tidak mempunyai kesempatan penuh untuk membaca kembali seluruhnya karangan-karangan beliau yang dimuat dalam buku ini.

Akhirulkalam, kepada semua pihak, baik di dalam maupun di luar negeri serta handai-taulan yang hingga saat terbitnya buku ini dengan ikhlas telah memberikan sumbangan dan bantuan, dengan ini kami sampaikan ucapn banyak terima kasih, karena dengan tiada bantuan itu maka penerbitan “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” tidaklah mungkin selengkap seperti sekarang ini.

Jakarta, 17 Agustus 1959

Panitia

K. Goenadi

H. Mualliff Nasution

(roso daras)

Published in: on 13 Februari 2009 at 12:50  Tinggalkan sebuah Komentar  

DBR dan Saya

dbr-jilid-i2Rasanya, hampir semua gagasan Bung Karno telah ia tuang di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Dan ini adalah sekelumit dari dua buku tadi, yang kami bagi kepada Anda. Bagi yang belum membaca, saya harap menjadi penasaran dan mencari buku tersebut, sekalipun harus hunting di kampung-kampung atau masuk-keluar kios buku-buku loak di kota Anda. Bagi yang sudah punya dan sudah membacanya, saya harap menganggapnya sebagai refreshing….

Dua buku DBR (Jilid Pertama dan Jilid Kedua) saya dapat secara terpisah. Yang pertama milik paman, paklik… aku memanggilny Lik So… lengkapnya Sodali. Dia Sukarnois. Saking kagumnya terhadap BK, nyaris mengkultuskannya. Saya mencoba memahami, dengan latar belakang sejarah, pendidikan, serta aneka peristiwa yang ia alami pada zamannya. Maklumlah, pak lik-ku itu, sejak muda sudah merantau ke Jakarta, sehingga bayangan saya, dia pasti penikmat orasi Bung Karno yang setia.

Suatu hari, dia mengetahui kalau saya menulis buku tentang BK. Kemudian ia dengan tulus “mewariskan” buku DBR yang telah ia simpan puluhan tahun. Ketika saya terima, buku itu terbungkus semacam tas tapi terbuat dari kain. Wangi dupa dan ratus begitu menyengat. Sampai-sampai sempat kepikiran, “Jangan-jangan pak lik-ku menganggap buku ini seperti jimat dan menganggapnya keramat….” Ah… biar saja. Saya begitu senang menerima buku tadi.

Dalam kesempatan waktu luang, aku sempatkan membolak-balik halaman demi halaman dengan sangat hati-hati. Maklumlah, jenis kertas dan usia buku yang cukup tua (terbitan 1963), menjadikannya rentan robek. Sejauh itu, saya belum berniat membaca karya-karya BK dalam buku itu dengan serius. Saya hanya membaca Sekapur Sirih,  Sepatah Kata, dan judul-judul serta gambar-gambar dan foto-foto ilustrasi.

Sadarlah saya, bahwa buku itu adalah Jilid Pertama… berarti ada Jilid Kedua doong…. Mulailah saya menetapkan tekad untuk mendapatkannya. Maka, pada suatu Sabtu, tahun 2001, jamnya pukul terik siang hari, saya menuju kawasan Senen-Kwitang, tempat lapak-lapak buku loak.  Mataku jelalatan mencari buku DBR, tetapi mulut terkunci rapat. “Lebih menyenangkan menemukan buku itu, daripada bertanya dan dijawab, ‘maaf, tidak ada’, karena itu pula saya membisu setiap ditanya pedagang buku, ‘cari apa mas, buku apa pak…'”

Langkah kaki sampai kelapak nomor 10 (kira-kira), seorang pedagang buku lompat dari tempat duduknya, menyambar sebuah buku dan mencegat langkahku. Ia menunjukkan buku DBR Jilid Kedua!!! Subhanallah… Aku terbelalak, kaget bercampur senang. Mataku menatap si pedagang buku, dengan mulut yang masih kelu. Seperti bisa mengartikan bahasa mata, si pedagang tadi melontar kata, “Tujuh puluh lima ribu rupiah saja.” Lagi-lagi, mataku melebar, membelalak senang bercampur kaget.

Singkatnya, kedua buku tadi telah melengkapi pustaka pribadiku, khususnya di deretan buku-buku tentang BK. Kedua buku itu telah menjadi sumber inspirasiku. Inspirasi kreatif. Inspirasi nasionalis. Inspirasi hidup. (*)

Published in: on 13 Februari 2009 at 11:11  Comments (3)  

Tentang Bung Karno

soekarnoKelahiran Sukarno, Proklamator kita pada tanggal 6 Juni 1901, sejatinya telah diselimuti tanda-tanda alam. Diawali dengan jam kelahiran yang menunjuk pukul 05.30 pagi, saat sang surya merekah, saat sang fajar menyingsing. Orang Jawa memiliki kepercayaan, seseorang yang dilahirkan saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu.

Terlebih, Bung Karno yang dilahirkan tahun 1901 terbilang putra perintis abad. Ya, abad ke-19, sebuah peradaban gelap yang masih menyelimuti bangsa kita dan sebagian besar belahan bumi lainnya. Saat itu, imperialisme merajalela. Eksploitasi sebuah bangsa oleh bangsa lain menjadi dosa sejarah peradaban. Tidak hanya Indonesia yang ketika itu disebut Hindia Belanda, tetapi juga wilayah-wilayah lain di Asia, Afrika, dan lain-lain.

Kelahiran putra sang fajar, diyakini —setidaknya oleh Idayu, sang ibunda— bakal menjadi penerang bagi bangsanya. Letusan Gunung Kelud yang terjadi kala Sukarno lahir, makin menguatkan pratanda alam menyambut kehadirannya di atas jagat raya. Jabang bayi putra Raden Sukemi Sosrodihardjo ini, siapa nyana, kelak berjuluk Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi, Presiden Republik Indonesia yang pertama. Dialah sang proklamator, yang membawa bangsa ini memasuki pintu gerbang kemerdekaan, setelah lebih 3,5 abad dijajah Belanda (dan Jepang). ***

Published in: on 6 Februari 2009 at 04:07  Comments (1)  

Sekilas Saya

Saya, Roso Daras…roso daras

Bukan siapa-siapa, hanya orang yang menggandrungi Bung Karno. Gandrung akan kecintaannya terhadap Tanah Air. Gandrung akan pemikiran-pemikirannya, dan terutama gandrung akan rasa nasionalismenya. Atas alasan itu pula, saya berusaha terus dan terus menggali pemikiran-pemikiran Bung Karno.  Setidaknya, untuk memuaskan nafsu keingintahuan saya lebih jauh tentang sosok Putra Sang Fajar.

Pergulatan saya dengan pemikiran Bung Karno, sampailah saya pada momentum yang saya sebut “kebetulan”, yakni ketika saya menulis buku “Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”,  dan langsung disambut baik penerbit Grasindo (Gramedia Group),dan diterbitkan sebagai salah satu “seri pemikiran Bung Karno”, yang terbit tahun 2001, bertepatan dengan seabad Bung Karno. Momentum itu makin memompa semangat saya untuk terus memahami pemikirannya.

Pahamkah saya terhadap pemikiran Bung Karno? Jauh panggang dari api. Makin mencoba mendalami, makin merasa kecil saya. Makin berusaha mempelajari, makin bodoh saja rasanya. Sebaik-baiknya sikap, adalah tidak berhenti. Itu artinya, saya sedang dalam perjalanan memasuki belantara Sukarno.

Ibarat spon basah, semua hal yang saya coba serap, akhirnya menumpulkan otak saya. Karenanya, saya harus segera memeras spon basah tadi, agar kembali kering dan siap menerima hal-hal baru dari seorang Sukarno.

Saat ini, saya sedang menyusun sebuah buku, tidak jauh dari sosok Bung Karno. Insya Allah, tidak lama lagi akan terbit. Itu adalah salah satu upaya saya memeras spon basah. Nah, blog ini sedianya saya siapkan, manakala karena satu dan lain hal, buku tadi tidak jadi terbit. Dan jika itu terjadi, maka di sinilah akan saya tampilkan. Niatnya hanya berbagi.

Saya melihat begitu banyak komunitas pro Sukarno. Barangkali sama banyaknya dengan para pihak yang antiSukarno. Bagi saya, itu tidak masalah. Mengagumi dia adalah hak saya. Sekalipun begitu, kekaguman saya sejauh ini saya anggap normal-normal saja. Artinya, saya kagum terhadap ajaran Bung Karno, tetapi tetap dengan kesadaran bahwa, Bung Karno tidak akan lebih besar kalau saya puji…. Bung Karno tidak akan lebih kecil kalau saya maki. ***

Published in: on 5 Februari 2009 at 15:25  Comments (11)  
Tags: