Di Balik Layar Proklamasi

IMG-20160816-WA0065

Narasumber “Di Balik Layar Proklamasi”, Mata Najwa, Rabu (17/8), pk. 20.00.

 

Najwa Shihab, host Mata Najwa (Metro TV) kembali mengangkat tema Proklamasi pada tayangan Rabu, 17 Agustus 2016 pukul 20.00 WIB. Tema yang diusung adalah “Di Balik Layar Proklamasi”. Acara berdurasi sekitar 90 menit itu, menyajikan tiga segmen dengan narasumber yang berbeda di tiap segmennya.

Segmen pertama, menghadirkan koleksi belasan foto detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta Pusat yang belum banyak, atau bahkan belum pernah dipublikasikan. Pembawa foto-foto bersejarah itu adalah fotografer kawakan dari KLBN Antara, Oscar Motuloh, dan diulas oleh sejarawan JJ Rizal.

Pada segmen kedua, Nana –sapaan akrab Najwa Shihab– mengundang narasumber dua putri pemuda revolusioner, Soekarni dan Wikana. Dua tokoh pemuda yang punya andil bersama pemuda revolusioner lain “menculik” Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati, dan Guntur Soekarnoputra ke Rengasdengklok. Sebagai pengulas, sejarawan yang juga pemimpim redaksi majalah sejarah populer Historia, Bonne Triyana.

Sedangkan, pada segmen ketiga, tampil dua narasumber: Puti Guntur Soekarno dan Roso Daras. Kepada Puti, Nana banyak mengulik kesan-kesan Puti sebagai cucu Bung Karno, serta nilai-nilai yang tersemai dari ajaran sang kakek melalui ayahanda, Guntur Soekarnoputra. Sedangkan Roso Daras, banyak berkisah tentang sisi lain dari Bung Karno yang belum banyak diketahui khalayak. (roso daras)

IMG-20160816-WA0066

IMG-20160816-WA0031

Amplop Merah Guntur Soekarnoputra

IMG-20160626-WA0057

Dalam usia 72 tahun (lahir 3 November 1944), putra sulung Bung Karno dari Fatmawati ini, masih tampak bugar. Hadir dalam acara ulang tahun putrinya, Puti Guntur Soekarno di Kemang Timur VI, Jakarta Selatan, Minggu 26 Juni 2016 lalu, Guntur Soekarnoputra menjadi ayah yang turut berbahagia bagi putrinya.

Apalagi, perayaan ulang tahun yang dibarengkan dengan momen buka bersama anak-anak yatim piatu itu, juga mendapat perhatian kerabat dan handai taulan. Dari lingkungan keluarga, tampak hadir Guruh Soekarnoputra, Puan Maharani, Prananda, dan banyak lainnya. Kolega Guntur, seperti Anwar Nasution, Tito Karnavian (Kapolri terpilih), dan masih banyak lainnya, seperti rekan seperjuangan PDI-P, maupun jajaran koleganya di DPR RI. Tak ketinggalan, sahabat-sahabat UI juga tampak memeriahkan suasana.

Momentum sowan dan “ngangsu kaweruh” kepada Guntur menjadi keharusan, kukira. Alhasil, dengan tidak memanjakan perut melalui aneka hidangan lezat, maka berbicara dengan Guntur jauh lebih “mengenyangkan”. Topik “warisan ilmu Sukarnoisme” kepada sang putri, saya pilih, dan kukira pas dalam momentum malam itu.

“Saya ralatif jarang memberi wejangan (tentang ajaran Sukarno) kepada Puti. Yang saya lakukan adalah dengan menulis. Tulisan-tulisan itu secara berkala saya kirimkan kepada Puti dan suaminya, Joey,” kata Guntur membuka narasi.

Guntur menulis apa saja yang dianggapnya perlu dan layak diketahui sang putri. Baik terkait materi buku Di Bawa Bendera Revolusi, maupun ajaran-ajaran bapaknya yang lain. Dengan menulis, kata Guntur, petuah, wejangan, atau apa pun tulisan itu diberi nama, menjadi lebih abadi, dan bisa dibaca berulang-ulang. Dengan menulis pula, segala yang hendak dikemukakan, menjadi lebih terstruktur.

Yang unik barangkali, naskah-naskah tulisan Guntur kepada Puti dan Joey, selalu ia kirimkan dalam kemasan amplop berwarna merah. “Belakangan baru saya tahu, atas tulisan-tulisan saya yang saya kirimkan selama ini, mereka (Puti dan Joey) namakan ‘amplop merah dari papa’… he…he…he… Terserah mereka saja….,” ujar Guntur dengan wajah sumringah.

Materi apa saja yang Guntur tuliskan? Ada banyak. Soal demokrasi Pancasila… soal Pancasila itu sendiri, soal revolusi, sosialisme, dan beberapa topik lain…. “Ada berapa banyak Mas Tok menulis untuk Puti?” sergah saya, dan sambil menerawang, Guntur menukas, “Yaaa… mungkin belasan… tidak ingat saya….” (roso daras)

Published in: on 28 Juni 2016 at 16:23  Comments (4)  
Tags: , , ,

Yayasan Aku dan Sukarno

MERDEKA !!!

LOGO OKSukarno atau sering disebut Soekarno, Bung Karno, bahkan Ahmad Soekarno, adalah Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sukarno lahir di Surabaya, pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama kecil Kusno.

Sebagai pendiri bangsa, Sukarno telah meninggalkan jejak-jejak monumental bagi bangsa Indonesia. Jejak Sukarno bisa ditapak melalui berbagai karya tulis berisi pemikiran serta gagasan yang melampuai zamannya. Ide tentang Marhaenisme, pledoi “Indonesia Menggugat”, brosur “Mencapai Indonesia Merdeka”, penggalian nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa, Nasakom/Nasasos, dan lain-lain, adalah sebagian jejak ideologis yang bisa ditelaah hingga kini.

Sukarno juga melahirkan pemikiran-pemikiran tentang modernitas Islam melalui “surat-surat Islam dari Ende”. Bung Besar, begitu ia dijuluki, juga menaruh perhatian tinggi terhadap eksistensi dan peran kaum perempuan melalui wejangan-wejangan, kursus-kursus yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul “Sarinah”.

Kepemimpinan Sukarno juga melahirkan konsep Trisakti, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, serta berkebudayaan yang berkepribadian. Konsistensi menggembleng bangsa dengan “nation and character building” menjadikan bangsa Indonesia memiliki dignity. Konsistensi sikap anti-imperialisme, anti-kolonialisme dalam bentuk apa pun, mengantarkan sebuah ide Konferensi Asia Afrika, yang di akhir kepemimpinannya, tercetus gagasan Conference of New Emerging Forces (Conefo).

Masih banyak jejak Bung Karno lain yang bisa ditelusur lewat berbagai dokumen, maupun penuturan oral dari saksi sejarah. Akan tetapi, fakta bahwa telah terjadi gerakan sistematis “desukarnoisasi” selama tiga dasa warsa, mengakibatkan tidak sedikit fakta-fakta menjadi samar, tonggak lurus menjadi bengkok, atau bahkan mengaburan sejarah tentang Sukarno itu sendiri.

Sebagai wahana berhimpunnya para insan Sukarnois, para pemerhati Sukarno, pengkaji ajaran Sukarno, para penapak-jejak sejarah Sukarno, dibentuklah Yayasan untuk dapat bergerak lebih terstruktur dan berkembang ke skala yang lebih besar. Bukan saja untuk dan demi syiar ajaran Sukarno, tetapi juga menempatkan sosok Sukarno, Putra Sang Fajar pada proporsi yang semestinya. Menempatkan Sukarno pada bingkai sejarah yang seharusnya.

Begitu kurang lebih preambule Anggaran Dasar Yayasan AKU DAN SUKARNO, yang insya Allah akan diresmikan kehadirannya pada tanggal 1 Juni 2016, di Gedung Joang ’45, Jl Menteng 31, Jakarta Pusat. Mohon doa restu. (roso daras)

Published in: on 10 Mei 2016 at 11:34  Comments (9)  
Tags: , ,

Puti Guntur Soekarno tentang Kartini

Sidang pembaca blog yang mulia… spesial hari Kartini, saya sajikan tulisan Puti Guntur Soekarno. Sarjana FISIP UI ini memandang “Kartini” dari perspektif “Sarinah”, ini sudut pandang yang sangat menarik. Sekalipun, judulnya kurang menarik: “Jadilah Perempuan Sejati Indonesia”…. Selamat merenungkan hari Kartini….

Man works from rise to set of sun

Women’s work is never done

–Syair Inggris  

pgsDari sekian surat korespondensi Kartini dengan Abendanon, saya terkesan pada satu surat dengan kalimat: “Saya mohon kepada Anda untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, bukan dalam rangka untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan untuk lebih menyempurnakan perannya pada peradaban”.

Untaian kalimat itu memberi pelita bagi gerakan perempuan dan emansipasi di Indonesia. Kesetaraan gender  telah menjadi konsumsi publik, kadang dimaknai sebagai kehendak atas persamaan hak antara kaum laki-laki dan perempuan (egalitarian). Namun sesungguhnya pelita itu turut menyempurnaan hadirnya peran perempuan pada peradaban (emansipatoris), sebuah tahapan yang lebih tinggi lagi dari persamaan. Gerakan emansipatoris memberi terang jalan bagi peran perjuangan kaum perempuan untuk dalam pembangunan bangsa Indonesia. Alhasil saat ini kita kaum perempuan dapat menikmati pengakuan dan pemenuhan hak-hak atas jabatan di pemerintahan yang setara dengan kaum laki-laki. Kuota wakil rakyat dari unsur perempuan dihormati. Bahkan kami bersyukur bangsa Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin negara yaitu saat Ibu Megawati Soekarnoputri menjadi orang nomor satu di Indonesia sebagai Presiden perempuan pertama di Indonesia.

Puncak jabatan yang bisa didaki dan digapai kaum perempuan, sejatinya bukanlah esensi perjuangan Kartini. Kehendak agar perempuan mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, diutamakan bukan untuk menyaingi kaum laki-laki, akan tetapi lebih untuk menyempurnakan perannya pada peradaban dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Kemuliaan kalimat inilah yang –suka-tidak-suka—acap ditafsir secara keliru.

Pemaknaan Hari Kartini bukan lagi kepada hakikat “penyempurnaan peran perempuan pada peradaban”, melainkan pada aktivitas seremonial. Kajian ilmiah atas statistik angka perempuan yang berpendidikan dan berpengetahuan, disandingkan dengan perannya pada peradaban bangsa, menjadi tidak lagi terukur. Bukankah itu pesan moral dari surat-surat Kartini? Celakanya, ketiadaan guideline atas peran perempuan pada peradaban bangsa tadi, menjadikan peringatan hari Kartini dari tahun ke tahun, perlu pencerahan kembali. Kita tidak lagi heran mendengar seorang anak atau remaja melempar jawab, “Hari berkebaya”, ketika ditanya, “Apa makna hari Kartini bagimu?” Itulah yang terjadi, manakala bangsa ini meninggalkan sejarah. Padahal, Bung Karno sejatinya sudah melakukan kajian mendalam atas surat-surat Kartini, kemudian menurunkannya dalam enam buah artikel tentang perempuan Indonesia dalam buku berjudul “Sarinah”.

Catatan-catatan Sukarno tentang perempuan itu, bahkan sudah dijadikan bahan ajar dalam kursus-kursus perempuan di awal kemerdekaan. Buku Sarinah terbit pertama kali tahun 1947, itu terdiri atas 6 bab, setebal 329 halaman. Bab 1 – Soal Perempuan; Bab 2 – Laki-laki dan Perempuan; Bab 3 – Dari Gua ke Kota; Bab 4 – Martiarchart dan Patriarchat; Bab 5 – Wanita Bergerak; dan Bab 6 – Sarinah dalam Perjoangan Republik Indonesia.

Buku Sarinah karya Bung Karno adalah lampu pijar bagi bangsa ini untuk memahami posisi kaum perempuan Indonesia. Bung Karno berupaya mengungkapkan makna kemerdekaan dan kesetaraan perempuan “ala” Indonesia, bukan yang lain. Bung Besar menentang keras pergerakan feminisme Eropa yang menurutnya, “Mau menyamaratakan saja perempuan dengan laki-laki” (hal. 11). Ia lebih mendukung gagasan Ki Hadjar Dewantara yang mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak tergesa-gesa meniru cara modern atau cara Eropa, meski jangan pula terikat oleh paham konservatif, melainkan “Mencocokkan segala hal sesuai dengan kodratnya”. Bagi Bung Karno, berbicara tentang kesetaraan perempuan maka bicara kesetaraan dalam segala aspek, namun juga tidak berarti sekaligus menyamaratakan perempuan begitu saja dengan laki-laki. Bahkan Bung Karno pun mengajak laki-laki untuk memikirkan persoalan persoalan perempuan yang saat ini juga dikampanyekan gerakan perempuan dengan istilah (male participation).

Harapan kita ada sebuah gerakan yang tidak hanya berbunyi setahun sekali, tetapi menjadi pergerakan kaum perempuan dalam membangun Indonesia. Kita tidak bisa hanya berpuas karena perempuan Indonesia sudah mengeyam pendidikan tinggi,  sudah tidak terkungkung lalu selesailah persoalan perempuan. Penghancuran identitas dan martabat perempuan akibat pengaruh ekonomi, politik dan budaya sampai hari ini tetap ada. Dengan demikian, peringatan Hari Kartini tidak sekadar parade perempuan berkebaya. Lebih dari itu, ada grafik yang terukur tentang peran perempuan terdidik dalam membangun peradaban bangsa di tengah tamansarinya peradaban dunia. Itulah sejatinya perempuan  Indonesia. ***

Jakarta, 21 April 2016

Puti Guntur Soekarno

Bangun “sukarnopedia.org”

IMG_20160404_202303

Sidang pembaca setia blog http://www.rosodaras.wordpress.com yang mulia….

Sampailah saya pada perjalanan membangun situs web http://www.sukarnopedia.org. Bangunan ini saya dedikasikan bagi syiar Sukarno. Niat yang muncul dari dasar samudera hati yang terdalam, tak lain dan tak bukan adalah mengisi website itu dengan informasi tentang Sukarno… all about Sukarno.

Konsepnya, barangkali bisa kita lihat wikipedia atau wikimedia, hanya beda konten. Laiknya wikipedia, maka web ini akan hidup dan tetap hidup dengan kontribusi dan donasi masyarakat pecinta Sukarno sekaligus pendukung gagasan ini. Kontribusi dan donasi berbentuk dana segar, akan dikelola oleh yayasan yang bersifat nirlaba. Sedangkan kontribusi dan donasi bersifat informasi/pengetahuan, bisa dilakukan dengan cara melengkapi atau menambahkan materi/isi pada setiap tulisan yang tersaji di sukarnopedia.

Hingga fase persiapan pengisian konten, terus terang, saya terbentur pada urusan teknis. Seperti, bagaimana membuat link-text, penyusunan kanal, penyusunan katalog, pengkategorian, dan lain sebagainya. Sementara ini, saya hanya dibantu oleh seorang rekan, Sukarja, yang terus-terang, memiliki keterbatasan pengetahuan juga tentang IT, meski dia jebolan tabloid komputer grup Gramedia.

Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, saya memohon kesediaan para insan Sukarnois muda yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidang IT development untuk berkenan kiranya membantu saya mewujudkan gagasan tersebut. Belum ada kontraprestasi yang bisa saya janjikan, akan tetapi satu hal yang pasti, bangunan ini nantinya akan menjadi “milik kita bersama”.

Segala hal terkait pengorganisasian, manajemen pengelolaan (baik konten maupun donasi) saya persilakan teman-teman mengaturnya. Besar harapan saya, gayung-bersambut, dan http://www.sukarnopedia.org bisa segera mengudara… bukan saja akan tumbuh di persada Indonesia, tetapi juga berkibar di tamansarinya dunia. (roso daras)

Published in: on 4 April 2016 at 13:47  Comments (5)  
Tags: , , ,

“Peci Bung Karno”… Sold!

Lukisan BK karya Sohieb

Tugu Kunstkring Paleis di ujung Jalan Tengku Umar (dekat Masjid Cut Meutia), Menteng – Jakarta Pusat, menjadi saksi atas besarnya “magnit” Sukarno. Pameran lukisan karya Sohieb Toyaroja berjudul “The Spiritual Journey”, baru saja dibuka oleh Sutrisno Bachir, Ketua KEIN (Komita Ekonomi dan Industri Nasional), sebuah karya berjudul “Peci Sukarno” (160 x 140) sold… terjual.

Dalam pameran yang berakhir 14 April 2016 itu, hadir tiga orang menteri kabinet Gotong-Royong…. Apa boleh buat, pembeli “Peci Sukarno” ternyata bukan salah satu dari ketiga menteri tadi. Malah, salah seorang menteri yang hadir malam itu, setelah berkeliling ruang pamer, masih juga geleng-geleng kepala. “Kalau musik, saya masih ngerti… tapi urusan lukisan, saya benar-benar gak ngerti…,” katanya.

Dua menteri yang lain, satu di antaranya termasuk yang meminati “Peci Sukarno”. Sayang, dia kalah cepat. Akhirnya, dia memilih lukisan berjudul “Roro Jonggrang” (120 x 180). Seorang menteri lainnya, menjadi model lukisan demo melukis cepat Sohieb Toyaroja. Kurang lebih 10 menit, lukisan itu selesai…. Pak menteri tampak puas.

Nah, kembali ke mahakarya “Peci Sukarno”. Siapa gerangan kolektor yang jatuh hati pada pandangan pertama saat menatap sosok Bung Karno berpeci itu? Dia adalah Tedy Djuhar, Vice President Commissioner Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Di balkon galeri lantai dua Kunstkring Paleis, saya sempat berbincang hangat dengan promotor pameran yang juga sahabat saya, Ali Akbar, serta Sohieb Toyaroja sang pelukis. Kedua lelaki kelahiran Kediri ini, betapa pun sudah menghadirkan sebuah pameran lukisan yang “berbeda”. Sekitar 30-an lukisan yang terpampang, benar-benar bisa menghanyutkan siapa pun penikmatnya.

Hanyut dalam alam Indonesia Tempo Dulu…. Imagi menari-nari, ditingkah dominasi warna coklat dan sephia, melalui goresan-goresan palet yang eskpresif. Lebih dari segalanya, menurut saya, hampir semua karya Sohieb memancarkan aura. Kesimpulan saya hanya satu: Karya yang demikian, hanya lahir dari pelukis yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi. (roso daras)

Mengemas Bandung-Ende-Bengkulu

roso daras dan reza indragiri amriel-cropSuatu hari, Reza Indragiri Amriel berkirim pesan lewat Facebook. Tak lama hari berselang, Reza datang bersama temannya, Bara Setiaudi. Adu-bincanglah kami bertiga. Topiknya seputar ide menyelenggarakan paket wisata sejarah “Bandung-Ende-Bengkulu”.

Ah… mendengar tiga kota itu disebut, sontak pikiran jadi penuh sesak. Bandung dengan Studie-Club-nya, dengan Banceuy-nya, dengan PNI-nya, dengan Cinta Inggit-nya, dengan Sukamiskin-nya, bahkan dengan Marhaen-nya.

Ende? Ah, rumah tua di Ambugaga, makam keramat Ibu Amsi, pulau bunga di antah-berantah, malaria, Pancasila, Nangaba, Teluk Numba, Kelimutu… campur-aduk berdesak-desak di rongga kepala.

roso daras dan bara setiaudi-cropBengkulu? Cinta Fatma, Pantai Panjang, “insiden” di masjid, mendaratnya Jepang, kocar-kacirnya Belanda, perjalanan panjang ke Muko-Muko… entah apa lagi yang berdesak-desakan di ruang memori.

Sungguh tiga kota yang lekat-sarat dengan kenangan Bung Besar. Untungnya, Reza dan Bara tidak menambahkan Surabaya sebagai kota yang tak kurang bersejarahnya. Bukan saja ada memori ciuman pertama Bung Karno dengan noni Belanda Mien Hessels, tapi juga padat dengan aktivitas Sukarno mendampingi HOS Cokroaminoto, gurunya. Perdebatan konstruktif dengan Alimin, Kartosuwirjo, dan anak-anak didik Cokro lainnya di Gang Peneleh. Suka-duka menimba ilmu di HBS dengan selingan perkelahian dengan murid-murid berambut jagung lainnya.

Matahari sudah tergelincir ke barat, ketika Reza dan Bara berpamitan. Sepanjang itu pula, kami berdiskusi tentang kemasan tour sejarah ke Bandung – Ende – Bengkulu selama lima hari empat malam. Cukup padat memang. Bara mengemas dalam bentuk proposal kegiatan yang menarik. Intinya, tinggal dimatangkan, dan digulirkan. Juni, bulan Bung Karno yang akan datang, rencana itu ditargetkan harus berjalan. Tidak penting berapa orang pesertanya. (roso daras)

 

Published in: on 1 April 2016 at 12:01  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

Saatnya Berbuat… Berbuat Lebih…

Dear pengunjung setia blog http://www.rosodaras.wordpress.com

Tidak penting excuse apa yang harus saya sampaikan, ketika sekian lama “menghilang” bahkan cenderung “menelantarkan” blog ini. Menulis buku? Ah… klise kedengarannya. Sibuk bekerja? Ah. apakah sebelumnya saya menganggur? Tidak juga…. Dus, sudahlah… mohon jangan tanyakan alasan mengapa.

Satu hal yang pasti, saya kembali hadir dengan semangat baru. Kali ini, benar-benar mirip seorang petinju yang habis kena upper-cut telak, lalu tiba-tiba ia bisa bangkit dan kembali “menari” di tengah ring. Pengamat menyebutnya “second wind”.

Kalimat penyemangat yang begitu menggila akhir-akhir ini adalah “BERBUAT”. Benar, barangkali inilah satu titik di mana kata tadi tiba-tiba menjadi begitu sarat makna.

Mungkin –dalam skala kecil– saya sudah berbuat untuk syiar Bung Karno. Setidaknya, semampu yang saya bisa. Kini, ada desakan yang begitu besar untuk BERBUAT LEBIH. Jangan pula bertanya, “mengapa?”…. Sebab, saya pasti akan jawab, “Entah”.

Sampailah saya pada satu keputusan untuk segera mendirikan lembaga nirlaba untuk memadahi segala aktivitas terkait “Sukarno kita”. Segeralah saya sadar, bahwa sudah jutaan pengagum, pembelajar, pemerhati, bahkan pembeci Sukarno yang sudah singgah di blog ini. “Ah saya harus share soalan ini lewat blog,” maka jadilah postingan ini.

Singkat kalimat, dengan ini saya mengajak Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam wadah yang akan segera saya dirikan. Mungkin bisa menjadi pendukung aktif dengan bersedia menjadi pengurus, atau memberi dukungan lain sebatas dan seikhlas kemampuan dan kemauan masing-masing.

Setidaknya, saya sudah plong… Sebab, saya merasa sudah menyampaikan ini untuk pertama kali melalui blog ini, dengan harapan tidak satu pun di antara pengunjung setia blog ini yang merasa, “Kok aku tidak (diberi) tahu?”….

Mari berbuat…. Berbuat lebih untuk Sukarno dan Indonesia. (roso daras)

Published in: on 31 Maret 2016 at 15:28  Comments (7)  
Tags: , ,

Surat dari Ende untuk KITA

Syahdan, 24 Oktober 2015 lalu, ada email masuk. Mengingat materinya begitu menyentuh, izinkan saya berbagi dengan sidang pembaca blog yang mulia. Begini bunyi surat-elektronik itu:

i nyoman krisnayanaSalam dari Ende Bung Roso Daras, perkenalkan nama saya adalah I Nyoman Krisnayana Tri Antara. Saya adalah Guru SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah terdepan, Terluar dan Tertinggal) dengan tempat penugasan Desa Ndoruea 1, Kecamatan Nangapanda.

Jika Bung Roso pernah mengunjungi Teluk Numba, Desa Numba adalah salah satu bagian dari Kecamatan ini. Saya adalah pembaca setia blog dari Bung. Saya juga membaca Buku Bung yang berjudul Total Bung Karno, jujur saya mengenal Bung Karno dari tulisan Bung Roso Daras, lalu anugerah Tuhan saya ditakdirkan Tuhan untuk mengabdikan diri di sini selama setahun.

Saya mengajar di SMA Karya Nangapanda. Izinkan saya bercerita Bung, ketika saya akan mencontohkan siswa-siswa agar berani tampil di depan kelas dan bercerita tentang apa pun saya memilih Tokoh Bung Karno yang akan saya ceritakan, betapa terkejutnya saya. Mereka mengetahui Bung Karno pernah diasingkan di Ende, tapi mereka tidak tahu makan ibu Amsi ada di sini, di Ende.

Mereka tidak tahu sosok Riwu Ga, mereka tidak tahu Bung Karno menyuakai Teluk Numba. Bahkan mereka tidak tahu tempat lahir Bung Karno. Saya sedang menghubungi dan menghimpun buku-buku untuk mereka baca, karena jujur kendati bangunan untuk Perpus telah ada namun buku bacaan sangat terbatas, akses internet kurang.

Sumber pengetahun utama mereka hanya Guru. Saya teringat akan Bung, oleh karena itu saya ingin memohon bantuan Bung untuk berkenan mengirimkan beberapa buku karangan bung untuk menjadi bahan bacaan mereka di Perpus, sehingga mereka lebih mengenali Bung Karno yang pernah tinggal di Ende.

Mohon maaf Bung jika permintaan saya terkesan memaksa, saya sampai hari ini masih sering berceita tentang Bung Karno dengan siswa-siswa saya, saya ingin mereka tidak hanya mengetahui bahwa Bung Karno diasingkan di Ende, tapi lebih tahu banyak hal lagi mengenai Bung Besar. Salam dari Ende Bung.

Sungguh, saya terharu dan bangga dengan pak guru I Nyoman Krisnayana Tri Antara. Karenanya, saya berniat meluluskan permintaannya. Untuk itu, saya membalas email Bli Antara, dan menanyakan detail alamat. Dan tiga hari kemudian, tepatnya 27 Oktober 2015, datanglah balasan sebagai berikut:

Merdeka, Salam Bung

Saya mengucapkan terimakasih atas bantuan ini, semoga banyak yang tergerak juga untuk ikut membantu.

Alamat Sekolah tempat kami mengabdi: SMA Karya Nangapanda, Jalan Jurusan Ende-Bajawa, Dusun Puuwaru, Desa Ndorurea 1, buku dari Bung bisa dikirim via Pos, ini contact yang bisa dihubungi 082146431154. Kadang-kadang Pihak Pos lebih suka meminta kami yang mengambil kiriman.

Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, Insya Allah jika kiriman buku telah sampai saya akan kirimkan beberapa foto untuk Bung, terima kasih banyak Bung Roso Daras. Terima kasih telah membantu dan memberi saya inispirasi untuk datang ke Ende, saya banyak mengenal Bung Karno dari tulisan blog Bung Roso. Merdeka!!

Sidang pembaca blog yang mulia….

Beberapa judul buku saya tentu tidak akan berarti apa-apa dibanding kebutuhan akan buku bacaan di sekolah tempat Bli Antara mengajar. Untuk itu, melalui blog ini, dan melalui posting-an ini, saya memohon keikhlasan Anda, untuk mengirimkan buku-buku bacaan yang sekiranya bermanfaat, sekaligus mengisi perpustakaan yang sepertinya “besar ruang, kecil isi” itu.

Semoga, uluran tangan kita, memberi arti bagi masa depan anak-anak didik di Ende. ***

Published in: on 3 November 2015 at 11:55  Comments (4)  
Tags: , ,

Di Bawah Bendera Bung Karno

DBBK-1Sesuatu yang mestinya masih bersifat confidential, tetapi tak mampu kubendung. Bukannya mengunci mulut, menahan diri, tapi saya tak tahan untuk segera mengabarkannya buat khalayak. Saya mah begitu orangnya….🙂

Ini tentang sebuah proses panjang yang cukup menguras banyak energi. Sekian lama saya harus membenamkan diri dalam deretan buku-buku tentang Sukarno maupun buku-buku lain yang sering disebut-sebut olehnya. Niat awalnya hanya sederhana, yakni ingin “memahami” tulisan-tulisan Bung Karno yang terangkum dalam dua jilid buku tebal “Dibawah Bendera Revolusi” (DBR).

Niat ikutannya adalah, setelah “paham”, saya bertekad (sangat kuat) untuk menuliskan kembali tulisan-tulisan Bung Karno dalam DBR tadi, beserta tafsir dan aktualisasinya. Bahkan pada fase ini, saya sudah lebih dulu menemukan judul buku yang kuanggap paling pas, yakni “Di Bawah Bendera Bung Karno”, dengan tagline “Tafsir atas Kitab Dibawah Bendera Revousi”.

Sadar ini bukan karya biasa, serta sadar bahwa ini, –buatku–, adalah mahakarya… maka diperlukan tidak saja semangat dan tekad. Lebih dari itu, diperlukan komitmen. Buku DBR 1, berisi tak kurang dari 61 judul. Sedangkan buku DBR 2, berisi 20 kumpulan pidato kenegaraan yang dibacakan setiap tanggal 17 Agustus, dari tahun 1945 sampai 1964. Dus, belum termasuk dua pidato kenegaraan terakhirnya, 1965 dan 1966.

Total halaman kedua buku itu lebih dari 1.000 halaman. Itu artinya, jika harus ditambahkan tulisan tentang tafsir atas judul demi judul, dengan volume yang kurang lebih sama, maka sedikitnya buku ini akan memiliki ketebalan tak kurang dari 2.000 halaman. Dan, jika ukuran buku lebih diperkecil supaya lebih handy, maka volume pun akan membengkak, bisa menjadi 2.500 sampai 3.000 halaman.

Langkah demi langkah sudah tertapak sejak awal tahun 2015. Hanya berkat izin Tuhan saja jika saat ini buku sudah sampai pada tahap pencetakan dummy. Foto di atas adalah contoh dummy buku “Di Bawa Bendera Bung Karno”. Tahap selanjutnya, adalah koreksi akhir, sebelum akhirnya naik cetak dan dipasarkan.

Kapan buku tafsir atas kitab Dibawah Bendera Revolusi itu beredar? Ah, sudah pasti saya akan mengabarkannya di sini. Sekalipun penerbit merahasiakan, saya tetap akan menuliskannya di sini. Saya mah begitu orangnya.….. (roso daras)

Published in: on 25 Mei 2015 at 05:52  Comments (31)  
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 427 pengikut lainnya