Puti Guntur Soekarno tentang Kartini

Sidang pembaca blog yang mulia… spesial hari Kartini, saya sajikan tulisan Puti Guntur Soekarno. Sarjana FISIP UI ini memandang “Kartini” dari perspektif “Sarinah”, ini sudut pandang yang sangat menarik. Sekalipun, judulnya kurang menarik: “Jadilah Perempuan Sejati Indonesia”…. Selamat merenungkan hari Kartini….

Man works from rise to set of sun

Women’s work is never done

–Syair Inggris  

pgsDari sekian surat korespondensi Kartini dengan Abendanon, saya terkesan pada satu surat dengan kalimat: “Saya mohon kepada Anda untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, bukan dalam rangka untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan untuk lebih menyempurnakan perannya pada peradaban”.

Untaian kalimat itu memberi pelita bagi gerakan perempuan dan emansipasi di Indonesia. Kesetaraan gender  telah menjadi konsumsi publik, kadang dimaknai sebagai kehendak atas persamaan hak antara kaum laki-laki dan perempuan (egalitarian). Namun sesungguhnya pelita itu turut menyempurnaan hadirnya peran perempuan pada peradaban (emansipatoris), sebuah tahapan yang lebih tinggi lagi dari persamaan. Gerakan emansipatoris memberi terang jalan bagi peran perjuangan kaum perempuan untuk dalam pembangunan bangsa Indonesia. Alhasil saat ini kita kaum perempuan dapat menikmati pengakuan dan pemenuhan hak-hak atas jabatan di pemerintahan yang setara dengan kaum laki-laki. Kuota wakil rakyat dari unsur perempuan dihormati. Bahkan kami bersyukur bangsa Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin negara yaitu saat Ibu Megawati Soekarnoputri menjadi orang nomor satu di Indonesia sebagai Presiden perempuan pertama di Indonesia.

Puncak jabatan yang bisa didaki dan digapai kaum perempuan, sejatinya bukanlah esensi perjuangan Kartini. Kehendak agar perempuan mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, diutamakan bukan untuk menyaingi kaum laki-laki, akan tetapi lebih untuk menyempurnakan perannya pada peradaban dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Kemuliaan kalimat inilah yang –suka-tidak-suka—acap ditafsir secara keliru.

Pemaknaan Hari Kartini bukan lagi kepada hakikat “penyempurnaan peran perempuan pada peradaban”, melainkan pada aktivitas seremonial. Kajian ilmiah atas statistik angka perempuan yang berpendidikan dan berpengetahuan, disandingkan dengan perannya pada peradaban bangsa, menjadi tidak lagi terukur. Bukankah itu pesan moral dari surat-surat Kartini? Celakanya, ketiadaan guideline atas peran perempuan pada peradaban bangsa tadi, menjadikan peringatan hari Kartini dari tahun ke tahun, perlu pencerahan kembali. Kita tidak lagi heran mendengar seorang anak atau remaja melempar jawab, “Hari berkebaya”, ketika ditanya, “Apa makna hari Kartini bagimu?” Itulah yang terjadi, manakala bangsa ini meninggalkan sejarah. Padahal, Bung Karno sejatinya sudah melakukan kajian mendalam atas surat-surat Kartini, kemudian menurunkannya dalam enam buah artikel tentang perempuan Indonesia dalam buku berjudul “Sarinah”.

Catatan-catatan Sukarno tentang perempuan itu, bahkan sudah dijadikan bahan ajar dalam kursus-kursus perempuan di awal kemerdekaan. Buku Sarinah terbit pertama kali tahun 1947, itu terdiri atas 6 bab, setebal 329 halaman. Bab 1 – Soal Perempuan; Bab 2 – Laki-laki dan Perempuan; Bab 3 – Dari Gua ke Kota; Bab 4 – Martiarchart dan Patriarchat; Bab 5 – Wanita Bergerak; dan Bab 6 – Sarinah dalam Perjoangan Republik Indonesia.

Buku Sarinah karya Bung Karno adalah lampu pijar bagi bangsa ini untuk memahami posisi kaum perempuan Indonesia. Bung Karno berupaya mengungkapkan makna kemerdekaan dan kesetaraan perempuan “ala” Indonesia, bukan yang lain. Bung Besar menentang keras pergerakan feminisme Eropa yang menurutnya, “Mau menyamaratakan saja perempuan dengan laki-laki” (hal. 11). Ia lebih mendukung gagasan Ki Hadjar Dewantara yang mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak tergesa-gesa meniru cara modern atau cara Eropa, meski jangan pula terikat oleh paham konservatif, melainkan “Mencocokkan segala hal sesuai dengan kodratnya”. Bagi Bung Karno, berbicara tentang kesetaraan perempuan maka bicara kesetaraan dalam segala aspek, namun juga tidak berarti sekaligus menyamaratakan perempuan begitu saja dengan laki-laki. Bahkan Bung Karno pun mengajak laki-laki untuk memikirkan persoalan persoalan perempuan yang saat ini juga dikampanyekan gerakan perempuan dengan istilah (male participation).

Harapan kita ada sebuah gerakan yang tidak hanya berbunyi setahun sekali, tetapi menjadi pergerakan kaum perempuan dalam membangun Indonesia. Kita tidak bisa hanya berpuas karena perempuan Indonesia sudah mengeyam pendidikan tinggi,  sudah tidak terkungkung lalu selesailah persoalan perempuan. Penghancuran identitas dan martabat perempuan akibat pengaruh ekonomi, politik dan budaya sampai hari ini tetap ada. Dengan demikian, peringatan Hari Kartini tidak sekadar parade perempuan berkebaya. Lebih dari itu, ada grafik yang terukur tentang peran perempuan terdidik dalam membangun peradaban bangsa di tengah tamansarinya peradaban dunia. Itulah sejatinya perempuan  Indonesia. ***

Jakarta, 21 April 2016

Puti Guntur Soekarno

Bangun “sukarnopedia.org”

IMG_20160404_202303

Sidang pembaca setia blog http://www.rosodaras.wordpress.com yang mulia….

Sampailah saya pada perjalanan membangun situs web http://www.sukarnopedia.org. Bangunan ini saya dedikasikan bagi syiar Sukarno. Niat yang muncul dari dasar samudera hati yang terdalam, tak lain dan tak bukan adalah mengisi website itu dengan informasi tentang Sukarno… all about Sukarno.

Konsepnya, barangkali bisa kita lihat wikipedia atau wikimedia, hanya beda konten. Laiknya wikipedia, maka web ini akan hidup dan tetap hidup dengan kontribusi dan donasi masyarakat pecinta Sukarno sekaligus pendukung gagasan ini. Kontribusi dan donasi berbentuk dana segar, akan dikelola oleh yayasan yang bersifat nirlaba. Sedangkan kontribusi dan donasi bersifat informasi/pengetahuan, bisa dilakukan dengan cara melengkapi atau menambahkan materi/isi pada setiap tulisan yang tersaji di sukarnopedia.

Hingga fase persiapan pengisian konten, terus terang, saya terbentur pada urusan teknis. Seperti, bagaimana membuat link-text, penyusunan kanal, penyusunan katalog, pengkategorian, dan lain sebagainya. Sementara ini, saya hanya dibantu oleh seorang rekan, Sukarja, yang terus-terang, memiliki keterbatasan pengetahuan juga tentang IT, meski dia jebolan tabloid komputer grup Gramedia.

Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, saya memohon kesediaan para insan Sukarnois muda yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidang IT development untuk berkenan kiranya membantu saya mewujudkan gagasan tersebut. Belum ada kontraprestasi yang bisa saya janjikan, akan tetapi satu hal yang pasti, bangunan ini nantinya akan menjadi “milik kita bersama”.

Segala hal terkait pengorganisasian, manajemen pengelolaan (baik konten maupun donasi) saya persilakan teman-teman mengaturnya. Besar harapan saya, gayung-bersambut, dan http://www.sukarnopedia.org bisa segera mengudara… bukan saja akan tumbuh di persada Indonesia, tetapi juga berkibar di tamansarinya dunia. (roso daras)

Published in: on 4 April 2016 at 13:47  Comments (3)  
Tags: , , ,

“Peci Bung Karno”… Sold!

Lukisan BK karya Sohieb

Tugu Kunstkring Paleis di ujung Jalan Tengku Umar (dekat Masjid Cut Meutia), Menteng – Jakarta Pusat, menjadi saksi atas besarnya “magnit” Sukarno. Pameran lukisan karya Sohieb Toyaroja berjudul “The Spiritual Journey”, baru saja dibuka oleh Sutrisno Bachir, Ketua KEIN (Komita Ekonomi dan Industri Nasional), sebuah karya berjudul “Peci Sukarno” (160 x 140) sold… terjual.

Dalam pameran yang berakhir 14 April 2016 itu, hadir tiga orang menteri kabinet Gotong-Royong…. Apa boleh buat, pembeli “Peci Sukarno” ternyata bukan salah satu dari ketiga menteri tadi. Malah, salah seorang menteri yang hadir malam itu, setelah berkeliling ruang pamer, masih juga geleng-geleng kepala. “Kalau musik, saya masih ngerti… tapi urusan lukisan, saya benar-benar gak ngerti…,” katanya.

Dua menteri yang lain, satu di antaranya termasuk yang meminati “Peci Sukarno”. Sayang, dia kalah cepat. Akhirnya, dia memilih lukisan berjudul “Roro Jonggrang” (120 x 180). Seorang menteri lainnya, menjadi model lukisan demo melukis cepat Sohieb Toyaroja. Kurang lebih 10 menit, lukisan itu selesai…. Pak menteri tampak puas.

Nah, kembali ke mahakarya “Peci Sukarno”. Siapa gerangan kolektor yang jatuh hati pada pandangan pertama saat menatap sosok Bung Karno berpeci itu? Dia adalah Tedy Djuhar, Vice President Commissioner Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Di balkon galeri lantai dua Kunstkring Paleis, saya sempat berbincang hangat dengan promotor pameran yang juga sahabat saya, Ali Akbar, serta Sohieb Toyaroja sang pelukis. Kedua lelaki kelahiran Kediri ini, betapa pun sudah menghadirkan sebuah pameran lukisan yang “berbeda”. Sekitar 30-an lukisan yang terpampang, benar-benar bisa menghanyutkan siapa pun penikmatnya.

Hanyut dalam alam Indonesia Tempo Dulu…. Imagi menari-nari, ditingkah dominasi warna coklat dan sephia, melalui goresan-goresan palet yang eskpresif. Lebih dari segalanya, menurut saya, hampir semua karya Sohieb memancarkan aura. Kesimpulan saya hanya satu: Karya yang demikian, hanya lahir dari pelukis yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi. (roso daras)

Mengemas Bandung-Ende-Bengkulu

roso daras dan reza indragiri amriel-cropSuatu hari, Reza Indragiri Amriel berkirim pesan lewat Facebook. Tak lama hari berselang, Reza datang bersama temannya, Bara Setiaudi. Adu-bincanglah kami bertiga. Topiknya seputar ide menyelenggarakan paket wisata sejarah “Bandung-Ende-Bengkulu”.

Ah… mendengar tiga kota itu disebut, sontak pikiran jadi penuh sesak. Bandung dengan Studie-Club-nya, dengan Banceuy-nya, dengan PNI-nya, dengan Cinta Inggit-nya, dengan Sukamiskin-nya, bahkan dengan Marhaen-nya.

Ende? Ah, rumah tua di Ambugaga, makam keramat Ibu Amsi, pulau bunga di antah-berantah, malaria, Pancasila, Nangaba, Teluk Numba, Kelimutu… campur-aduk berdesak-desak di rongga kepala.

roso daras dan bara setiaudi-cropBengkulu? Cinta Fatma, Pantai Panjang, “insiden” di masjid, mendaratnya Jepang, kocar-kacirnya Belanda, perjalanan panjang ke Muko-Muko… entah apa lagi yang berdesak-desakan di ruang memori.

Sungguh tiga kota yang lekat-sarat dengan kenangan Bung Besar. Untungnya, Reza dan Bara tidak menambahkan Surabaya sebagai kota yang tak kurang bersejarahnya. Bukan saja ada memori ciuman pertama Bung Karno dengan noni Belanda Mien Hessels, tapi juga padat dengan aktivitas Sukarno mendampingi HOS Cokroaminoto, gurunya. Perdebatan konstruktif dengan Alimin, Kartosuwirjo, dan anak-anak didik Cokro lainnya di Gang Peneleh. Suka-duka menimba ilmu di HBS dengan selingan perkelahian dengan murid-murid berambut jagung lainnya.

Matahari sudah tergelincir ke barat, ketika Reza dan Bara berpamitan. Sepanjang itu pula, kami berdiskusi tentang kemasan tour sejarah ke Bandung – Ende – Bengkulu selama lima hari empat malam. Cukup padat memang. Bara mengemas dalam bentuk proposal kegiatan yang menarik. Intinya, tinggal dimatangkan, dan digulirkan. Juni, bulan Bung Karno yang akan datang, rencana itu ditargetkan harus berjalan. Tidak penting berapa orang pesertanya. (roso daras)

 

Saatnya Berbuat… Berbuat Lebih…

Dear pengunjung setia blog http://www.rosodaras.wordpress.com

Tidak penting excuse apa yang harus saya sampaikan, ketika sekian lama “menghilang” bahkan cenderung “menelantarkan” blog ini. Menulis buku? Ah… klise kedengarannya. Sibuk bekerja? Ah. apakah sebelumnya saya menganggur? Tidak juga…. Dus, sudahlah… mohon jangan tanyakan alasan mengapa.

Satu hal yang pasti, saya kembali hadir dengan semangat baru. Kali ini, benar-benar mirip seorang petinju yang habis kena upper-cut telak, lalu tiba-tiba ia bisa bangkit dan kembali “menari” di tengah ring. Pengamat menyebutnya “second wind”.

Kalimat penyemangat yang begitu menggila akhir-akhir ini adalah “BERBUAT”. Benar, barangkali inilah satu titik di mana kata tadi tiba-tiba menjadi begitu sarat makna.

Mungkin –dalam skala kecil– saya sudah berbuat untuk syiar Bung Karno. Setidaknya, semampu yang saya bisa. Kini, ada desakan yang begitu besar untuk BERBUAT LEBIH. Jangan pula bertanya, “mengapa?”…. Sebab, saya pasti akan jawab, “Entah”.

Sampailah saya pada satu keputusan untuk segera mendirikan lembaga nirlaba untuk memadahi segala aktivitas terkait “Sukarno kita”. Segeralah saya sadar, bahwa sudah jutaan pengagum, pembelajar, pemerhati, bahkan pembeci Sukarno yang sudah singgah di blog ini. “Ah saya harus share soalan ini lewat blog,” maka jadilah postingan ini.

Singkat kalimat, dengan ini saya mengajak Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam wadah yang akan segera saya dirikan. Mungkin bisa menjadi pendukung aktif dengan bersedia menjadi pengurus, atau memberi dukungan lain sebatas dan seikhlas kemampuan dan kemauan masing-masing.

Setidaknya, saya sudah plong… Sebab, saya merasa sudah menyampaikan ini untuk pertama kali melalui blog ini, dengan harapan tidak satu pun di antara pengunjung setia blog ini yang merasa, “Kok aku tidak (diberi) tahu?”….

Mari berbuat…. Berbuat lebih untuk Sukarno dan Indonesia. (roso daras)

Published in: on 31 Maret 2016 at 15:28  Comments (7)  
Tags: , ,

Surat dari Ende untuk KITA

Syahdan, 24 Oktober 2015 lalu, ada email masuk. Mengingat materinya begitu menyentuh, izinkan saya berbagi dengan sidang pembaca blog yang mulia. Begini bunyi surat-elektronik itu:

i nyoman krisnayanaSalam dari Ende Bung Roso Daras, perkenalkan nama saya adalah I Nyoman Krisnayana Tri Antara. Saya adalah Guru SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah terdepan, Terluar dan Tertinggal) dengan tempat penugasan Desa Ndoruea 1, Kecamatan Nangapanda.

Jika Bung Roso pernah mengunjungi Teluk Numba, Desa Numba adalah salah satu bagian dari Kecamatan ini. Saya adalah pembaca setia blog dari Bung. Saya juga membaca Buku Bung yang berjudul Total Bung Karno, jujur saya mengenal Bung Karno dari tulisan Bung Roso Daras, lalu anugerah Tuhan saya ditakdirkan Tuhan untuk mengabdikan diri di sini selama setahun.

Saya mengajar di SMA Karya Nangapanda. Izinkan saya bercerita Bung, ketika saya akan mencontohkan siswa-siswa agar berani tampil di depan kelas dan bercerita tentang apa pun saya memilih Tokoh Bung Karno yang akan saya ceritakan, betapa terkejutnya saya. Mereka mengetahui Bung Karno pernah diasingkan di Ende, tapi mereka tidak tahu makan ibu Amsi ada di sini, di Ende.

Mereka tidak tahu sosok Riwu Ga, mereka tidak tahu Bung Karno menyuakai Teluk Numba. Bahkan mereka tidak tahu tempat lahir Bung Karno. Saya sedang menghubungi dan menghimpun buku-buku untuk mereka baca, karena jujur kendati bangunan untuk Perpus telah ada namun buku bacaan sangat terbatas, akses internet kurang.

Sumber pengetahun utama mereka hanya Guru. Saya teringat akan Bung, oleh karena itu saya ingin memohon bantuan Bung untuk berkenan mengirimkan beberapa buku karangan bung untuk menjadi bahan bacaan mereka di Perpus, sehingga mereka lebih mengenali Bung Karno yang pernah tinggal di Ende.

Mohon maaf Bung jika permintaan saya terkesan memaksa, saya sampai hari ini masih sering berceita tentang Bung Karno dengan siswa-siswa saya, saya ingin mereka tidak hanya mengetahui bahwa Bung Karno diasingkan di Ende, tapi lebih tahu banyak hal lagi mengenai Bung Besar. Salam dari Ende Bung.

Sungguh, saya terharu dan bangga dengan pak guru I Nyoman Krisnayana Tri Antara. Karenanya, saya berniat meluluskan permintaannya. Untuk itu, saya membalas email Bli Antara, dan menanyakan detail alamat. Dan tiga hari kemudian, tepatnya 27 Oktober 2015, datanglah balasan sebagai berikut:

Merdeka, Salam Bung

Saya mengucapkan terimakasih atas bantuan ini, semoga banyak yang tergerak juga untuk ikut membantu.

Alamat Sekolah tempat kami mengabdi: SMA Karya Nangapanda, Jalan Jurusan Ende-Bajawa, Dusun Puuwaru, Desa Ndorurea 1, buku dari Bung bisa dikirim via Pos, ini contact yang bisa dihubungi 082146431154. Kadang-kadang Pihak Pos lebih suka meminta kami yang mengambil kiriman.

Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, Insya Allah jika kiriman buku telah sampai saya akan kirimkan beberapa foto untuk Bung, terima kasih banyak Bung Roso Daras. Terima kasih telah membantu dan memberi saya inispirasi untuk datang ke Ende, saya banyak mengenal Bung Karno dari tulisan blog Bung Roso. Merdeka!!

Sidang pembaca blog yang mulia….

Beberapa judul buku saya tentu tidak akan berarti apa-apa dibanding kebutuhan akan buku bacaan di sekolah tempat Bli Antara mengajar. Untuk itu, melalui blog ini, dan melalui posting-an ini, saya memohon keikhlasan Anda, untuk mengirimkan buku-buku bacaan yang sekiranya bermanfaat, sekaligus mengisi perpustakaan yang sepertinya “besar ruang, kecil isi” itu.

Semoga, uluran tangan kita, memberi arti bagi masa depan anak-anak didik di Ende. ***

Published in: on 3 November 2015 at 11:55  Comments (4)  
Tags: , ,

Di Bawah Bendera Bung Karno

DBBK-1Sesuatu yang mestinya masih bersifat confidential, tetapi tak mampu kubendung. Bukannya mengunci mulut, menahan diri, tapi saya tak tahan untuk segera mengabarkannya buat khalayak. Saya mah begitu orangnya….:)

Ini tentang sebuah proses panjang yang cukup menguras banyak energi. Sekian lama saya harus membenamkan diri dalam deretan buku-buku tentang Sukarno maupun buku-buku lain yang sering disebut-sebut olehnya. Niat awalnya hanya sederhana, yakni ingin “memahami” tulisan-tulisan Bung Karno yang terangkum dalam dua jilid buku tebal “Dibawah Bendera Revolusi” (DBR).

Niat ikutannya adalah, setelah “paham”, saya bertekad (sangat kuat) untuk menuliskan kembali tulisan-tulisan Bung Karno dalam DBR tadi, beserta tafsir dan aktualisasinya. Bahkan pada fase ini, saya sudah lebih dulu menemukan judul buku yang kuanggap paling pas, yakni “Di Bawah Bendera Bung Karno”, dengan tagline “Tafsir atas Kitab Dibawah Bendera Revousi”.

Sadar ini bukan karya biasa, serta sadar bahwa ini, –buatku–, adalah mahakarya… maka diperlukan tidak saja semangat dan tekad. Lebih dari itu, diperlukan komitmen. Buku DBR 1, berisi tak kurang dari 61 judul. Sedangkan buku DBR 2, berisi 20 kumpulan pidato kenegaraan yang dibacakan setiap tanggal 17 Agustus, dari tahun 1945 sampai 1964. Dus, belum termasuk dua pidato kenegaraan terakhirnya, 1965 dan 1966.

Total halaman kedua buku itu lebih dari 1.000 halaman. Itu artinya, jika harus ditambahkan tulisan tentang tafsir atas judul demi judul, dengan volume yang kurang lebih sama, maka sedikitnya buku ini akan memiliki ketebalan tak kurang dari 2.000 halaman. Dan, jika ukuran buku lebih diperkecil supaya lebih handy, maka volume pun akan membengkak, bisa menjadi 2.500 sampai 3.000 halaman.

Langkah demi langkah sudah tertapak sejak awal tahun 2015. Hanya berkat izin Tuhan saja jika saat ini buku sudah sampai pada tahap pencetakan dummy. Foto di atas adalah contoh dummy buku “Di Bawa Bendera Bung Karno”. Tahap selanjutnya, adalah koreksi akhir, sebelum akhirnya naik cetak dan dipasarkan.

Kapan buku tafsir atas kitab Dibawah Bendera Revolusi itu beredar? Ah, sudah pasti saya akan mengabarkannya di sini. Sekalipun penerbit merahasiakan, saya tetap akan menuliskannya di sini. Saya mah begitu orangnya.….. (roso daras)

Published in: on 25 Mei 2015 at 05:52  Comments (31)  

Sekilas Info

IMG-20150324-WA000

Permisi saudaraku….

Numpang promo acara Kompas TV yang bertajuk “Three in One”. Tayangan Rabu, 25 Maret 2015 besok, mengangkat tema “Warisan Soekarno”. Acara yang tayang pukul 20.00 WIB itu, menampilkan tiga host (karenanya dinamakan Three In One).

Edisi besok malam, menghadirkan empat narasumber. Dua orang cucu Bung Karno, satu orang anak Bung Karno, dan seorang lagi Sukarnois. Siapa-siapa saja mereka, dan apa-apa saja yang dibincangkan, baiknya saksikan saja langsng. Hehehe….

Published in: on 24 Maret 2015 at 06:58  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Beda Inggit dengan Wanita Eropa

inggit-levasseur-christiane-crecence

S.I. Poeradisastra seorang penulis hebat lagi produktif. Dalam buku “Kuantar ke Gerbang – Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno” tulisan Ramadhan KH, ia memberi kata pengantar yang sungguh menarik. Bukan saja karena gaya bertuturnya yang enak dibaca, lebih dari itu, penulis yang acap menggunakan nickname Boejoeng Saleh ini, menunjukkan kekayaan literasi yang dimilikinya, sebagai bumbu-penyedap.

Di salah satu bagian, ia menyandingkan sosok Inggit dengan tiga orang perempuan “biasa”, sebagai pendamping orang besar. Pertama ia sebut nama Marie Therese le Vasseur (1721-1801). Ia adalah istri Jean Jacqus Rousseau, seorang filsuf, penulis, sekaligus komposer besar kelahiran Genewa, Swiss (1712), dan meninggal dunia di Perancis (1778).

Kedua, Inggit disandingkan dengan “wanita biasa” pendamping orang besar lain, yaitu Christiane Vulpius (1765 – 1816). Ia adalah istri dari Johan Wolfgang von Goethe, pujangga besar bangsa Jerman (1749 – 1832).

Terakhir, Inggit diumpamakan Crecence Eugenie Mirat ( 1815 – 1883), istri Heinrich Heine, sastrawan, jurnalis, dan esais handal yang lahir di Dusseldorf, Jerman (1797) dan wafat di Perancis (1856).

Inggit yang notabene tidak berpendidikan (konon hanya pernah belajar di madrasah), tetapi ia belajar banyak dari apinya perjuangan bangsa. Sekalipun bukan keturunan bangsawan, tetapi budi-pekertinya sangat luhur.

Upaya menyandingkan Inggit dengan tiga wanita asing pendamping tokoh-tokoh dunia tadi, sesungguhnya tidaklah terlalu tepat. Bukan saja karena besarnya perbedaan kultur, lebih dari itu, ketiga tokoh wanita Eropa tadi, memang berbeda dengan Inggit. Berbeda asal-usulnya, berbeda kadar perjuangannya, dan berbeda pula ending-story-nya.

Marie Thérèse Le Vasseur misalnya, dia adalah keturunan pejabat di Orleans, sementara ibunya adalah seorang pedagang. Ia “ditemukan” Rousseau sebagai pekerja tukang cuci dan pelayan di Hotel Saint-Quentin, di Rue des Cordiers, Jenewa sebagai wanita matang berusia 24 tahun. Rousseau sendiri 33 tahun. Pernikahan mereka dikaruniai lima orang anak.

Le Vasseur juga mewarisi harta suaminya, termasuk naskah dan royalti. Bahkan, setelah kematian Rousseau tahun 1778 , ia menikah dengan lelaki lain, Jean Henri Bally, setahun kemudian. Mereka tinggal bersama di Le Plessis – Belleville sampai kematiannya pada 1801. Jauh benar kisah le Vasseur dengan Inggit, bukan?Akan halnya Christiane Vulpius (1765 – 1816). Christiane Vulpius tak terlacak jejak pendidikannya. Sejumlah literatur hanya menyebutkan, bahwa setidaknya dia belajar membaca dan menulis. Ia pernah menjadi pekerja pabrik yang memproduksi topi.Meski begitu, saudara laki-lakinya tergolong orang berpendidikan pada masanya.Pada12 Juli 1788ChristianeVulpius bertemuJohannWolfgangvonGoethe, yang merupakan sahabat kakaknya. Mereka menjalin hubungan rahasia selama delapan tahun! Baru padamusim semi1789,mereka tidak lagi menyembunyikan hubungannya. Goethe yang radikal bahkan rela menabrak norma-norma sosial dengan kumpul-kebo hingga beranak pinak. Mereka sedikitnya melahirkan empat orang anak (dua meninggal cepat). Sejak bertemu dan berselingkuh tahun 1788, mereka baru meresmikan pernikahannya 18 tahun kemudian, tepatnya19 Oktober 1806.

Kesamaan apa yang ada pada diri Christiane dengan Inggit? Jauh pula kiranya.

Nah, bagaimana dengan pengumpamaan Inggit dengan Crecence Eugenie Mirat (1815-1883) istri Heinrich Heine yang masyhur itu? Heine yang menjumpainya tahun 1934, saat Eugenie berusia 19 tahun itu, awalnya sangat tidak tertarik. Wanita yang juga akrab dipanggil “Mathilde” itu di mata Heine sebagai wanita “rendah” lantaran tidak bisa baca-tulis, tidak berkelas. Intinya, Heine tidak punya ketertarikan secara bidaya maupun intelektual terhadap Mathilde.

Tak digambarkan secara rinci bagaimana akhirnya Heine mengajak hidup bersama Mathilde pada tahun 1836, dua tahun sejak pertemuan pertamanya. Keduanya baru melangsungkan pernikahan pada tahun 1841, dan hidup bersama hingga maut memisahkan keduanya. (roso daras)

Sukarno Kecil “Mabok Bima”

bimaPenulis biografi pertama Bung Karno yang terbit tahun 1933, Im Yang Tjoe, dalam bukunya “Soekarno Sebagi Manusia”, benar-benar berusaha keras merekonstruksi masa kecil Bung Karno. Meski tidak menyebut tonggak-tonggak waktu, tanggal, bulan, tahun, tetapi bagi pembaca, kiranya tidak terlalu menyulitkan.

Seperti misalnya, ketika Im Yang Tjoe menulis ihwal kakeknya, Raden Hardjodikromo yang menyekolahkan Sukarno saat usia 6 tahun, spontan kita bisa mahfum, bahwa peristiwa itu terjadi tahun 1907, mengingat Bung Karno lahir tahun 1901. Adalah sekolah desa di Tulungagung, tempat Sukarno kecil untuk pertama kali “memakan-bangku-sekolah”.

Im Yang Tjoe melukiskan hari-hari pertama sebagai murid, Sukarno adalah murid yang bodoh lagi bengal. Apa soal? Soal sebenarnya, menurut hemat penulis, bukan karena otak Sukarno tidak encer. Lebih karena Sukarno lagi “mabok-bima”…. Ya, hari-hari bersama Wagiman, selalu diisi kisah-kisah heroik tokoh Bima dalam epos Mahabharata.

Siapa Wagiman? Wagiman adalah seorang perangkat desa yang miskin harta tetapi kaya hati. Ia menjadi sahabat Sukarno kecil. Pulang sekolah, Sukarno akan mencari Wagiman. Kalau tidak dijumpainya di rumah, Sukarno akan menyusulnya ke sawah. Jika keduanya sudah bertemu, obrolan mereka umumnya wayang. Dari sekian banyak tokoh wayang, Sukarno paling tertarik dengan tokoh Bima, sang penegak Pandawa.

Meski begitu, sesekali, Sukarno melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang “terlalu-tua” untuk bocah seusianya. Misalnya, pertanyaan, “Mengapa engkau begitu miskin?” Dengan penuturan versi Wagiman, Sukarno kemudian bisa merekonsruksinya menjadi sebuah pelajaran berharga tentang betapa penjajahan tak lebih dari pemelaratan rakyat.

Tentu saja, topik-topik filosofi wayang, ilmu politik, ilmu tata-negara, tidak didapatnya di bangku sekolah desa tempat ia bersekolah. Bukan karena cabang-cabang ilmu tidak ada, melainkan, materi itu memang bukan materi pelajaran bagi siswa sekolah dasar tingkat dewa. Di negeri jajahan pula. Terhadap murid-murid inlander pula. Bisa jadi, ini yang membuat Sukarno menjadi murid yang malas untuk menyimak pelajaran di sekolah. Ia lebih senang menggambar wayang, sambil imajinasinya mengembara kemana-mana.

Mungkin saja, ia sedang berimajinasi menjadi seorang Bima yang kemudian dengan gagah-berani menghapus keangkara-murkaan di atas bumi. Mungkin saja ia sedang membayangkan menjelma menjadi Bima, kemudian memakmurkan orang-orang miskin di negaranya. Bisa jadi, ia sedang berkhayal menjadi seorang Bima menjadi panglima bagi tegaknya kebenaran dan keadilan di jagat-raya. Ah, entahlah.

Yang pasti, ketika guru menyuruh murid-murid menirukan gerakan menulis huruf demi huruf, Sukarno malah menggambar profil wayang Bima yang gagah, dengan gelung sinupiturang, lengkap dengan kuku pancanakanya. Ya, Sukarno bukannya memperhatikan pelajaran guru, melainkan menggambar wayang Bima! (roso daras)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 415 pengikut lainnya