Bundel “Fikiran Ra’jat”

Bundel Fikiran Ra'jat

Mendapatkan bundel “Fikiran Ra’jat” dari Bung Peter A. Rohi, seperti mendapat harta karun rasanya. Inilah media massa yang diterbitkan oleh tangan Sukarno tahun 1932, sebagai salah satu bentuk aksi menentang penjajah.

Ukurannya selebar buku tulis. Kualitas cetak, menunjukkan kemampuan cetak terbaik pada zamannya. Perwajahannya biasa-biasa untuk ukuran sekarang. Meski begitu, kehadiran “Fikiran Ra’jat” senantiasa dinanti-nanti tokoh-tokoh pergerakan di seluruh penjuru Tanah Air.

Bukan hanya itu, media ini juga menjadi salah satu media yang dikontrol sangat ketat oleh pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno sebagai ketua sidang redaksi, beberapa kali mendapat teguran akibat sajian “Fikiran Ra’jat” yang terang-terangan menentang praktik imperialisme (penjajahan) di bumi Indonesia.

Bukan hanya itu, “Fikiran Ra’jat” juga sempat diberangus oleh tangan bengis kolonialis. Yang hebat, menurut saya pribadi adalah, pada kesempatan terbit selanjutnya, Bung Karno terang-terangan menghujat aksi pemberangusan atas media yang dipimpinnya. Ia menyuarakan suara getir sebagai bangsa terjajah. Bung Karno menggerutu, ketika satu-satunya kebebasan (berbicara) pun dibungkam. Nyaris tidak ada lagi kebebasan yang tersisa sebagai bangsa yang terjajah.

Menyimak edisi demi edisi, “Fikiran Ra’jat” sungguh majalah yang sangat berbobot. Terbit mingguan dengan artikel-artikel yang luar biasa. Selain Bung Karno, tidak sedikit tokoh-tokoh pergerakan pada zaman itu, menyumbangkan tulisan. Sebagai media pergerakan, redaksi juga melayani tanya-jawab seputar politik.

Pendek kata, mohon izin menyimak bundel “Fikiran Ra’jat” terlebih dahulu. Teriring sebuah janji, untuk menyambungnya pada postingan berikutnya. Merdeka!!! (roso daras)

Published in: on 30 Maret 2014 at 11:31  Comments (5)  
Tags: , , ,

Mengira Sukarno-Hatta Satu Orang

sukarno-hattaSudah buka yahoo hari ini? Selasa 29 Oktober 2013, mengutip berita merdeka.com, yahoo menyajikan tulisan “Tak tahu sejarah, anak muda kira Soekarno-Hatta itu satu orang“. Berita yang mengutip keterangan Kepala Museum Sumpah Pemuda, Agus Nugroho. Sungguh berita itu membuat shock, geram, sekaligus sedih.

Mungkin seorang muda “tolol” yang disebut Agus Nugroho tadi tergolong minoritas. Persoalannya bukan di situ. Bahwa bangsa yang sudah merdeka 68 tahun ini, masih memiliki generasi penerus yang tidak tahu siapa bapak bangsanya. Dari sudut pandang “pembinaan generasi muda”, realita yang disuguhkan Agus tadi sungguh menunjukkan betapa kurang masifnya gerakan “mencintai sejarah bangsanya sendiri”.

Saya jadi teringat, sendi kehidupan berbangsa-bernegara lain yang bisa kita indikasikan betapa pemerintah sendiri masih kurang memberi penghargaan yang pantas kepada presiden pertamanya. Coba tengok di sekitar, dari 33 ibukota provinsi, dari 460 kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia, berapa kota/kabupaten yang memiliki nama jalan “SUKARNO” (atau Soekarno, atau Bung Karno)?

Di Jakarta saja, Ibukota Negara Republik Indonesia (mohon dikoreksi kalau keliru), belum ada nama jalan Sukarno. Pernah suatu kali, elemen masyarakat mengajukan nama jalan Sukarno di kota Surabaya. Keputusan pemerintah daerah setempat, hasil rapat antara eksekutif dan legislatif, menyetujui nama jalan “Sukarno-Hatta”. Elemen pengusul nama jalan Sukarno itu kemudian protes.

“Tidak bisakah nama Sukarno berdiri sendiri tanpa Hatta? Dua-duanya adalah pahlawan proklamator, pahlawan nasional. Masing-masing memiliki jasa dan sejarahnya sendiri. Mengapa nama jalan Sukarno tidak berdiri sendiri? Mengapa nama Hatta tidak berdiri sendiri? Tanpa digandengkan pun, nama kedua tokoh bangsa itu patut dan sungguh layak diabadikan sebagai nama jalan,” kurang lebih begitu gugatan yang dilayangkan ke pemerintah kota Surabaya.

Setelah melalui proses yang cukup alot dan berbelit, alhamdulillah, Kota Surabaya, kota di mana Bung Karno dilahirkan, akhirnya memiliki nama jalan SUKARNO. Bagaimana dengan kota lain? Sependek pengetahuan saya (lagi-lagi mohon dikoreksi kalau saya keliru), kota-kota yang sudah lebih dulu, jauh lebih dulu mengabadikan nama Sukarno sebagai nama jalan adalah Kupang dan Ende, keduanya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di Jawa, baru kota Blitar yang memiliki nama jalan Sukarno. Sekali lagi, mohon sidang pembaga mengecek kebenarannya.

Bisa jadi, memang sependek itu pengetahuan saya. Tetapi saya sungguh akan mensyukuri kependekan pengetahuan saya itu jika memang ternyata keliru. Jika ternyata sudah ada nama jalan Sukarno di 460 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sering saya tergelitik tanya, tidak adakah sedikit saja keinginan dari seorang presiden, anggota DPR, gubernur, bupati, walikota untuk memberi penghargaan kepada presiden pertamanya? Bagaimana mereka, beliau-beliau, para tuan yang terhormat, berkehendak dikenang generasi penerus, kalau dalam dirinya tidak ada perasaan ingin mengenang jasa orang yang telah berkorban begitu besar demi meraih kemerdekaan kita? (roso daras)

Published in: on 29 Oktober 2013 at 05:03  Comments (12)  
Tags: , , ,

Surat Dewi kepada Soeharto (7-Selesai)

Ini adalah bagian terakhir surat Ratna Sari Dewi kepada Soeharto. Dia secara jujur juga mengemukakan opini pribadinya terhadap segala kebijakan yang dibuat Sukarno, suaminya. Dia mengaku, ada kalanya tidak setuju dengan keputusan Sukarno. Akan tetapi, di luar itu semua, Dewi tahu betul, bahwa apa pun kebijakan dan keputusan Sukarno, semua semata dilakukan untuk cinta tunggalnya, Indonesia.

Di bagian ini, Dewi tetap dengan gayanya yang lugas, mengkritisi Soeharto dan kroni-kroninya. Harap pula dicatat, surat ini ditulis Ratna Sari Dewi April 1970, dua bulan sebelum Bung Karno wafat, 21 Juni 1970. Berikut nukilannya.

dewi7Sukarno berpendapat bahwa dunia dikuasai oleh dua blok kekuasaan besar. Dia mencoba menghidupkan kekuatan ketiga yang akan memperbaiki keseimbangan. Di dalam pertikaian ini Indonesia mempengaruhi Dunia Ketiga: Asia, Afrika, Amerika Latin. Sementara itu permainan diplomatik ini berarti bahwa Indonesia lambat laun dikucilkan. Dan itu sama sekali tidak dimaksudkannya.

Dia berpendapat bahwa perdamaian dunia baru bisa dicapai bila kebebasan yang mutlak telah dicapai oleh tiap ras dan tiap bangsa. Tetapi keadaan terisolasi dari negara ini menyebabkannya mundur dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia dan misalnya ketidakhadiran kita di Olimpiade Tokyo. Indonesia meninggalkan PBB setelah terjadinya konflik mengenai pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia. Sukarno berpendapat bahwa PBB tidak bertindak adil terhadap tiap-tiap negara anggotanya. Karena Indonesia tidak akan pernah mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia tanpa tunduk terhadap syarat-syarat tertentu dan tekanan politik, Indonesia kehilangan perhatian terhadap pemberian bantuan.

Sebelum kegiatan Olimpiade di Tokyo saat berlangsungnya Asian Games di Jakarta, Indonesia dituduh dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan politik di bidang olahraga. Karenanya Indonesia tidak diperbolehkan mengikutinya. Terhadap perlakuan ini Sukarno menandaskan bahwa Olimpiade sendiri tidak luput dari pengaruh politik, karena buktinya negara-negara komunis tertentu tidak diizinkan mengikutinya.

Bapak Soeharto, bila Anda pada hari-hari itu sungguh-sungguh berpikir secara mendalam mengenai hari depan negara ini, Anda pasti mempunyai pendapat lain daripada cita-cita Sukarno, yang akhirnya sering mempunyai dampak seperti angin puyuh. Saya sendiri, setidaknya, menyaksikan dengan hati berdebar bagaimana diplomasi Indonesia makin mengarah ke kiri.

Tidak ada seorang pun yang sempurna. Tanpa kecuali Sukarno. Namun saya berpendapat bahwa Sukarno tidak pernah melakukan sesuatu untuk memperbaiki dirinya, tetapi selalu melakukan sesuatu dengan jujur dan keyakinan penuh untuk kepentingan cinta tunggalnya, yakni Indonesia. Selama hidupnya ia sedapat mungkin mencegah rekan-rekan senegaranya saling membunuh. Dibandingkan dengan Sukarno, Anda dan sejumlah rekan Anda memerintah negara dengan jalan membakar emosi dan pertumpahan darah. Anda dan antek-antek Anda yang seharusnya dituntut atas tuduhan membunuh orang-orang tak bersalah dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya atas nama perburuan PKI.

Siapa lagi yang masih percaya kepada Tuhan? Dalam hal ini Indonesia seharusnya tidak layak memiliki seorang presiden yang tangannya berlumuran darah.

Bapak Soeharto, Sukarno sungguh-sungguh mencintai negara dan rakyatnya. Termasuk pula mereka yang berniat untuk membunuhnya, bisa dia dekati dengan lembut bila mereka minta maaf. Dibandingkan dengan beliau, Anda menyimpan hati yang kejam di balik senyum Anda. Anda telah menyuruh membunuh ratusan ribu orang. Bolehkah saya bertanya sekali lagi, “Apakah Anda tidak mampu mempertahankan posisi dan kekuasaan Anda kecuali dengan kelicikan dan pertumpahan darah?”

Barangkali kesalahan Anda terbesar adalah tidak segera menuruh membunuh Sukarno tahun 1965 itu. Dengan mudah Anda bisa menuduh para komunis melakukan pembunuhan itu. Bila Anda mau, dengan cara itu Anda bisa mencegah dilakukannya pembunuhan massal pada rakyat. Dan sementara itu pula, Anda bisa mempertahankan kedamaian jiwa jutaan pengagum Sukarno. Para pengagum yang sekarang hanya bisa memandang tanpa daya nasib yang menimpa pemimpin mereka.

Selanjutnya akan sia-sia saja melampiaskan rasa rendah diri Anda terhadap Sukarno. Itu akan merupakan kematian yang lebih terhormat bagi Pemimpin Besar Revolusi, daripada seperti sekarang disiksa sampai dijemput maut. Merupakan aib nasional untuk Indonesia bahwa Sukarno tidak diperlakukan dengan lebih terhormat yang patut diterimanya setelah mengabdikan seluruh hidupnya bagi nusa dan bansanya.

Izinkan saya mengakhiri surat ini dengan menyatakan sekali lagi kesetiaan saya yang mendalam untuk Bapak kita. Hidup Bung Karno!

Ratna Sari Dewi Soekarno

Paris, April 1970

Published in: on 15 September 2013 at 11:17  Comments (11)  
Tags: , ,

Surat Dewi kepada Soeharto (6)

Pada bagian ini, Ratna Sari Dewi kepada Soeharto mulai menyoal perlakuan yang tidak manusiawi kepada Sukarno. Selain itu, dalam suratnya, Ratna Sari Dewi juga menyinggung persepsi, opini, dan pandangan dia tentang kebijakan-kebijakan Sukarno. Berikut kutipannya:

dewi6Sukarno sekarang menjalani hidup yang amat sulit. Hak-hak manusia yang paling minim pun tidak  diberikan kepadanya. Satu-satunya saat ia bisa meninggalkan pengasingannya ialah untuk menghadiri upacara perkawinan anak-anaknya. Mobilnya kemudian dikawal oleh kendaraan panser dan siapa pun dicegah untuk mendekatinya. Ketika Sukarno pada upacara seperti itu, berdiri untuk mencium mempelai, yakni putrinya, dengan kasar ia ditarik kembali duduk di sofa oleh polisi militer yang mengawalnya, sementara matanya ditutup agar orang tidak bisa membuat foto.

Bila saya mengalami perlakuan seperti itu, saya sudah lama musnah. Tetapi justru, oleh karena Sukarno memiliki kekuatan rohani yang amat dalam dan kemauan yang amat kuat, siksaan semacam ini masih bisa ditanggulanginya. Saya hanya sangat khawatir: bila di depan umum saja ia telah diperlakukan seperti itu, bagaimana dia diperlakukan bila dia sendiri? Secara fisik ia bisa dihancurkan, tetapi mereka tidak akan bisa memusnahkan jiwanya. Dalam hal ini, ia tetap hidup.

Sukarno telah membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda selama 350 tahun. Dia adalah Bapak bangsa. Setelah menderita selama tiga belas tahun dalam tahanan dan penjara oleh orang Belanda, dia berhasil membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan setelah perang kemerdekaan tahun 1945 sampai 1949. Tanpa pimpinan dan bimbingan Sukarno, pada saat ini Anda tidak akan berada pada posisi Anda sekarang.

Sukarno menciptakan Undang-undang Dasar yang demokratis dan mendirikan suatu lingua franka bagi Indonesia. Orang yang mengorbankan jiwa raganya untuk bangsanya, tidak layak diperlakukan seperti itu. Dia pantas dihormati sesuai dengan jasa-jasanya.

Sukarno tidak akan pernah mengizinkan dilakukan pengkhianatan, atau direncanakannya pembunuhan sesama saudara secara besar-besaran. Saya tidak bisa bungkam dan membisu, sementara suami saya menjadi pelampiasan kekerasan. Bagi saya nilai yang tertinggi adalah: kesucian.

Saya sangat yakin bahwa tindakan yang paling rendah yang dilakukan seseorang terhadap sesamanya adalah membiarkan korbannya itu mati tersiksa. Kami ingat kepada pepatah Jepang yang bunyinya, “Mencekik seseorang dengan kain sutera”. Dan, Anda, Tuan Soeharto membiarkan Sukarno disiksa secara rohani dan jasmani.

Tidak pernah saya memperdengarkan suara saya, baik langsung maupun tidak langsung, karena saya sadar betul betapa banyak dan beratnya problema yang harus Anda tangani. Tetapi sekarang saya berbicara secara umum dan terbuka, pertama-tama demi keselamatan jiwa Sukarno. Ketika Sukarno mengalih-tugaskan jabatannya dan mengangkat Anda sebagai penggantinya 7 Maret 1967, dia  melakukannya dengan tiga syarat. Salah satunya adalah agar Anda melindunginya dan keluarganya. Anda tidak menepati syarat itu dan mengingkari janji Anda.

Dalam suatu wawancara dengan pers Jepang mengenai korupsi di Indonesia, Anda antara lain mengatakan, “Mengenai pertanyaan tentang korupsi, orang mengatakan bahwa itu masih tetap terjadi. Tetapi itu adalah akibat dari sisa-sisa rezim Sukarno. Dan untuk sementara masih tetap akan berlangsung, karena hal itu sejak dulu sudah terjadi”.

Apabila kata-kata yang Anda ucapkan itu benar-benar datang dari lubuk hati Anda, maka itu merupakan suatu pembelaan. Hanya seorang pengecut dan seorang yang berjiwa rendah yang berlindung di belakang Sukarno saat menjelaskan korupsi yang terjadi sekarang. Ketika Anda melakukan itu, hilanglah sudah rasa hormat saya yang terakhir kepada Anda.

Selama ada manusia, wajar bahwa mereka yang menang otomatis berada di pihak yang benar dan mereka yang kalah bisa dituduh melakukan apa saja. Apabila Anda secara jujur benar-benar mau menyelidiki korupsi, sebagai warga negara Indonesia, saya bersedia dengan sungguh-sungguh untuk membantu Anda dalam tugas itu. Saya bersedia menghadiri pengadilan terbuka, apalagi saya bisa bertindak sebagai penuntut. Tetapi proses seperti ini harus disalurkan lewat undang-undang dan norma-norma yang berlaku dan tidak diatur secara tertutup dalam suasana ketakutan, kekerasan dan penyalahgunaan wewenang. Itu akan menjadi syarat mutlak bagiku.

Sukarno adalah pahhlawan Revolusi Indonesia. Tetapi menurut pendapatku yang sederhana, hal ini tidak perlu berarti bahwa orang ini juga akan menjadi pemimpin nasional yang baik dalam waktu damai. Saya kira, bila Sukarno melewatkan masa remaja dan masa mahasiswanya di luar negeri, dia pasti akan lebih berhasil mendapatkan perasaan dan kesadaran ekonomi dan menambahkannya pada kapasitas kepemimpinannya yang istimewa itu. Menurutku, rupanya suatu kesalahan bahwa dia menyuruh menasionalisasikan sarana produksi.

Tambahan pula, Sukarno tidak pernah merasakan mempunyai “rumah” dalam arti yang sebenarnya. Andaikata dia pernah mengalami kehidupan berkeluarga dalam arti moral dan etis yang sebenarnya, seperti yang lazimnya dianggap masyarakat, maka ia barangkali akan menjadi seorang presiden yang lebih baik dari sebuah negara yang dipimpin secara sosialis. Tetapi keadaanlah yang mengubahnya menjadi seorang figur kaisar. Dan dengan demikian dia akan menjadi korban dari kekuasaannya sendiri yang mahadahsyat itu.

Sukarno selalu saya kagumi dan hormati sebagai seorang tokoh yang besar, tetapi seperti juga Anda ketahui benar, Bapak Soeharto, saya tidak selalu setuju dengan pendapatnya. Misalnya saja pendapat saya bahwa Pancasila, ciptaan Sukarno (agama, kemanusiaan, demokrasi, nasionalisme dan keadilan sosial) adalah suatu bentuk idealisme murni. Walaupun idealism barangkali sangat diharapkan, namun belum tentu dapat dipraktekkan dalam abad ke-20 ini. Indonesia jelas belum matang untuk bentuk demokrasi Barat. Dengan alasan itulah Sukarno menganjurkan “demokrasi terpimpin”, terutama juga karena sebagian besar penduduk belum mencapai tingkat pendidikan dan tingkat sosial yang sama.

Dalam hal ini saya setuju dengan pendapatnya. Tetapi di  pihak lain, Sukarno mengarahkan politiknya ke cita-cita yang lebih tinggi. Maka tak dapat dihindarkan bahwa dia kemudian mendapatkan kritik tajam, terutama mengenai pandangannya dalam memperbaiki nasib masyarakat secara keseluruhan. Sukarno seharusnya berpikir lebih realistis. Di dalam suatu kurun waktu, di mana dia bisa menjadi penguasa tunggal dia tentu bisa memaksa orang untuk menuruti cita-citanya. Tetapi sebagian besar rakyat lebih peduli untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari daripada mengikuti idealismenya. Orang harus akan kenikmatan-kenikmatan materialistis, dan orang makin tidak tertarik untuk mendengarkan pidato-pidato, yang tidak mengisi perut. (roso daras/bersambung)

Published in: on 10 September 2013 at 06:02  Comments (2)  
Tags: , ,

Surat Dewi kepada Soeharto (5)

Surat Dewi kepada Soeharto berikut ini, lebih tajam menggugat berbagai kejanggalan di seputar peristiwa Gerakan 30 September. Dewi bahkan mengajukan pertanyaan menohok, ihwal dugaan bahwa Soeharto sendirilah yang sebenarnya berada di balik rencana-rencana busuk “Dewan Jenderal”. Berikut nukilannya:

dewi5Bapak Soeharto, untuk pertanyaan yang berikut ini saya mohon perhatian khusus Anda. Keberadaan “Dewan Jenderal” yang Anda sangkal dengan sengit, diketahui Jenderal Yani (lepas dari fakta bahwa orang megatakan Dewan ini dibentuk oleh jenderal-jenderal yang terbunuh). Hanya dua minggu sebelum insiden ini presiden menanyakan padanya berita-berita yang lebih lanjut mengenai hal itu. Yani menjawab, “Biarkanlah saya bertanggung jawab mengenai bawahan saya. Janganlah Anda memikirkan hal ini lagi”.

Bagi saya belum dapat dipercaya bahwa Jenderal Yani pada hari naas itu terbunuh juga. Apabila Anda, yang mendapat tugas untuk menyelidiki gerakan 30 September, tidak mengadakan penyelidikan sepihak, maka Anda juga akan mengetahui bahwa sebenarnya Sukarno tidak terlibat perkara itu.

Bapak Soeharto, bolehkah saya mengajukan pertanyaan berikut: Jawaban apa yang akan Anda berikan kepada rakyat Indonesia yang menduga bahwa Anda sendiri yang melaksanakan rencana-rencana busuk “Dewan Jenderal” setelah melihat betapa lihainya Anda mengembalikan ketertiban dari suatu situasi yang amat membingungkan (segera setelah insiden itu terjadi). Kekacauan yang amat sempurna yang terjadi di Indonesia saat itu, dimanfaatkan oleh Angkatan Bersenjata yang berorientasi kanan, bersama para mahasiswa yang pada gilirannya juga didorong pemimpin-pemimpin Islam dan politisi beraliran kanan, untuk menindas PKI.

Untuk tujuan itu dibuat suatu skema yang jelas tentang pembunuhan dan pertumpahan darah. Mungkinkah wajah Angkatan Bersenjata yang berpaling ke Pentagon, Kementerian Pertahanan Amerika Serikat yang jadi pusat militer dari persekongkolan militer di dunia. Bukankah mereka menginginkan agar di sudut (dunia) ini PKI ditumpas dan hubungan dengan Cina diputuskan?

Berulang kali Sukarno memperingatkan bahwa menuduh PKI bertentangan dengan kebenaran. Sukarno mengatakan, “Jangan meletakkan seluruh tanggung jawab itu pada PKI. Kebenarannya ada di tempat lain”. Saya akan selalu menghormati dan respek pada Sukarno, yang menjalani nasibnya. Yang menolak tunduk pada tekanan Angkatan Bersenjata, yang melakukan segala upaya untuk menyatakan PKI tidak layak hukum.

Dia tidak goyah dalam kepercayaan dan cita-citanya di bawah tekanan seberat apa pun. Bila saat itu ia menyerah dan mengadakan kompromi, maka posisi Sukarno saat ini akan lain sama sekali. Tetapi Sukarno melambangkan keadilan.

Menteri Luar Negeri Adam Malik, pada tahun 1966 memberikan pidato penjelasan yang amat bodoh pada para mahasiswa Indonesia di Tokyo. Dia menjelaskan bahwa Sukarno yang bertanggung jawab atas pembunuhan “massal” terhadap anggota-anggota “komunis”, yang menurutnya tidak akan terjadi bila saja Sukarno segera mengadili PKI. Kita hanya bisa bergidik bila membayangkan apa yang akan terjadi di Indonesia, bila Sukarno juga muncul di depan umum untuk menghujat PKI. Itu akan berarti bahwa presiden melegalisasi pengejaran terhadap para komunis yang memang sudah dimulai dan akan berakibat pembantaian yang lebih hebat. Ungkapan Latin berbunyi “cui bono” (siapa yang beruntung!).

Dalam penyelidikan mencari fakta-fakta yang sebenarnya, yang penting tidak hanya apa yang sebenarnya teradi. Yang tidak kalah penting adalah mencari fakta, siapa yang paling beruntung dalam kejadian ini. Bukankah Amerika Serikat yang jelas memperoleh kemenangan dalam insiden 30 September ini? Jakarta yang sekarang dibanjiri oleh orang-orang Amerika yang akan ber-“investasi”. Sebetulnya hal itu tidak akan menyebabkan keberatan, bila ini berarti bahwa aktivitas ekonomi ini terutama akan mendorong kesejahteraan rakyat Indonesia.

Selama hidupnya Sukarno selalu menolak bila ada yang ingin membuat patung dirinya. Setelah 22 tahun memimpin revolusi Indonesia, dengan amat segan ia menyetujui untuk mempublikasikan otobiografinya. Tetapi, Anda, Bapak Soeharto, baru saja Anda memperoleh kekuasaan dan Anda telah mengeluarkan buku yang berjudul “The Smiling General”. Setelah itu telah terjadi rahasia umum bahwa Anda berkeinginan untuk mencetak potret Anda pada uang kertas, yang berhasil dicegah oleh para penasihat Anda.

Pada umumnya, di kedutaan-kedutaan di luar negeri dipasang potret-potret dari tokoh-tokoh sejarah negara yang bersangkutan. Sukarno adalah Bapak Indonesia. Tetapi mengapa di kedutaan-kedutaan Indonesia di luar negeri tidak ada sama sekali potret Sukarno sekecil apa pun? Anda, yang mengkritik diktator Sukarno, dengan khidmat berjanji untuk membimbing Indonesia ke arah demokrasi yang mewakili suara dan hati nurani rakyat.

Sementara itu Anda telah merenggut hak-hak yang lebih besar daripada Sukarno. Langkah pertama ke arah demokrasi, yakni pemilihan presiden, selalu ditunda-tunda. Anda malah mengizinkan diadakannya diskusi-diskusi menggelikan tentang apakah nama Sukarno layak ditulis di dalam buku-buku sejarah negara ini. Sementara Anda menjelaskan secara umum bahwa Anda melindungi Sukarno, Anda malah mengisolasinya dari dunia luar. Pengasingan yang tidak adil ini dengan dalih bahwa dia sedang sakit, jutru akan membuatnya sakit.

Bila ia membutuhkan perawatan medis, Anda malah menolak untuk memberikannya. Alat-alat medis yang tak dapat digunakan menghiasi kamar-kamarnya. Perawatan gigi yang dibutuhkannya, tidak diberikan. Orang telah menganjurkan agar tidak memberikan lagi suntikan-suntikan, karena tidak diketahui lagi, apakah ia menerima obat-obatan yang benar-benar dibutuhkannya. Saya hanya bisa berharap agar makanan yang disiapkan anak-anaknya, benar-benar sampai ke tangannya. (roso daras/bersambung)

Mintakan Restu Nama Sukarno di Ndalem Pojok

minta restu

Siapa sebenarnya Denmas Mendung? Apa pula kaitannya dengan Ndalem Pojokkrapak, Wates?

Misteri Denmas Mendung tersingkap setelah ldayu Nyoman Rai Srimben, ibunda Sukarno, penasaran terhadap sosoknya. Dia memaksa suaminya, Raden Soekeni, agar dipertemukan dengan orang yang telah menyembuhkan bayinya dari sekarat itu. Kalau tidak mau diberi uang atau barang, ia sekadar ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut.

Semula, Soekeni berusaha mencegahnya. Sebab, selain tidak mau diberi uang atau barang, menurut penuturan orang-orang Denmas Mendung tidak mau ditemui perempuan. Itu adalah bagian dari laku tirakatnya.

Tapi, Idayu terus memaksanya. Pokoknya, dia harus bertemu walaupun sekadar untuk mengucapkan terima kasih. Itu sudah menjadi tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya di Bali. Soekeni pun akhirnya mengalah. Dia tak kuasa menolak kemauan sang istri. Berdua, mereka akhirnya kemball naik dokar dari rumah papan di Ploso menuju Kedungpring. Adapun bayi Kusno (nama kecil Bung Karno, Red) dan kakaknya, Karsinah, dititipkan kepada tetangga.

Sesampainya di kediaman Denmas Mendung, suasana sepi. Pintu tertutup rapat. Meski diketuk-ketuk, tetap tak ada jawaban. Idayu yang sudah tidak sabar lantas mencari lubang di celah-celah dinding untuk mengintip keberadaan tuan rumah di dalam.

Di balik keremangan, dilihatnya wajah yang ternyata sudah tidak asing baginya. “Oh, ternyata ini orang yang bernama Denmas Mendung. Ya, kalau kamu tidak mau keluar, terpaksa pintu rumah ini aku dobrak,” katanya seperti ditulis dalam buku karya Dian Soekarno yang bergaya novel sejarah tersebut.

Dengan alu (kayu penumbuk padi atau kopi, Red) yang ditemukannya, pintu kayu itu pun didobrak Idayu. Braakk…! Begitu pintu terbuka, Soekeni dan Idayu menjerit bersamaan, “Dhimas Umo…?” Mereka lalu menghambur dan sama-sama memeluk erat orang yang dipanggil sebagai Dhimas Umo itu.

Dari situlah misteri Denmas Mendung akhirnya terkuak. Dia tak lain dan tak bukan adalah Raden Mas Soemosewojo, adik sepupu Soekeni, yang dulu pernah membantunya untuk mendapatkan cinta ldayu di Buleleng, Bali. R.M. Soemosewojo adalah putra dari Raden Mas Panji Soemahatmodjo, patih ndalem Sinuwun Pakubuwono IX.

R.M.P. Soemohatmodjo juga pengikut Pangeran Diponegoro yang setelah Perang Jawa 1825-1830 melarikan diri dari buruan tentara Belanda ke Kediri. Tepatnya di wilayah yang kini masuk Dusun Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Di sanalah R.M.P. Soemahatmodjo kemudian hidup berbaur dengan warga. Di desa itu pula dia membangun rumah yang kini disebut Ndalem Pojokkrapak. Rumah itu diperkirakan dibangun sekitar 1862 hingga 1870-an.

Sementara, setelah pertemuan yang menguak misteri Denmas Mendung itu, R.M. Soemosewojo bersama keluarga Raden Soekeni akhirnya sepakat untuk sama-sama sowan kepada R.M.P. Soemohatmodjo di Ndalem Pojokkrapak, Wates. Ini terkait pula dengan perubahan nama bayi Kusno menjadi Sukarno karena nama lama dianggap tidak cocok. Mereka ingin mendapatkan restu dari para sesepuhnya. Soekeni juga sepakat bahwa R.M. Soemosewojo menjadi ayah angkat dari Sukarno. Apalagi, dulu mereka sudah mempunyai kesepakatan. Yakni, jika Soekeni memiliki anak laki-laki, adalah hak Soemosewojo untuk mendidiknya.* (adi nugroho/hid/bersambung). Di ketik ulang dari Jawa Pos Radar Kediri  SENIN 8 JULI 2013

Romantisme Bunga Kantil di Ndalem Pojokrapak

romantisme bunga kanthil

Perjalalanan panjang Sukarno, presiden pertama Indonesia salah satunya terjadi di Kediri! Bukan hanya si awam, para pakar sejarah pun masih banyak yang mengernyitkan dahi begitu mendengar pernyataan itu.

Koesno atau orang mengenalnya dengan nama Sukarno adalah salah satu putra terbaik bangsa ini. Bergelar insinyur, putra pasangan Raden Soekeni Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai besar karena perjuangannya. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dunia.

Dialah pahlawan proklamator kemerdekaan. Presiden pertama Indonesia. Seorang poliglot yang pawai berpidato. Puluhan gelar doktor honoris causa ia dapatkan dari universitas dalam dan luar negeri. Pengakuan atas kehebatanya pun datang dari tokoh-tokoh besar, mulai dari John F Kennedy hingga Che Guevara.

Namun di balik kebesaran Sukarno atau yang sering dipanggil dengan sebutan ‘Bung’ di depan namanya ini pasti tersimpan proses yang panjang. Bukan hanya tempat kelahirannya yang sempat disamarkan rezim berkuasa, tetapi juga sejarah masa mudanya belum banyak yang menelusuri.

“Itulah mengapa saya menulis buku ini. Bahwa semua kebesaran Bung Karno berasal dari jejak sejarah panjang. Termasuk di Kediri. itu yang belum banyak ditulis,” ujar Dian Sukarno, penulis buku Trilogi Spiritualitas Bung Karno dalam acara bedah bukunya di Brantas Room, kantor Radar Kediri, Kamis lalu (4/7).

Candradimuka, itulah judul besar yang dipasang untuk buku pertama dalam trilogi atau tiga tahapan perjalanan spiritualitas bapak pendiri bangsa (foundhing fathers), Sukarno. Pemilihan judul yang seolah ingin mengkiaskan bagaimana Sukarno muda digembleng sehingga menjadi pemimpin besar seperti yang kita kenal. Melalui sebuah proses panjang. Salah satunya berkaitan dengan beberapa tempat di Kediri. Termasuk sebuah rumah yang disebut penulis berada di Dusun Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates.

Hingga kini bangunan rumah itu masih berdiri. Dengan segala ornamen kuno yang meninggalkan kesan sejarah yang kuat. Termasuk beberapa tanaman, seperti bunga kantil, sawo kecik, blimbing wuluh di sejumlah sudut halaman.

Bunga kantil, menurut penelusuran penulis, memiliki makna tersendiri. Bahkan, jauh sebelum gelaran candradimuka itu terjadi. Jauh sebelum Sukarno, pemimpin besar negeri ini lahir. Yakni masa-masa di mana ayah dan ibu Sukarno memadu kasih. Dalam buku karyanya, Dian mengisahkan, dua pucuk bunga kantil dari halaman rumah itulah yang menjadi penanda cinta keduanya. Hal ini setelah Raden Soekeni, ayah Sukarno, melewati proses tirakat di Ndalem Pojokrapak. “Itu sebuah petunjuk yang membuat. Haden Soekeni mantab melamar Ida Ayu,” ujar Dian.

Bunga kantil yang menjadi bab tersendiri dalam buku ini juga yang membuat Rinto Harno, mantan Direktur PT Gudang Garam yang masih kerabat Raden Mas (RM) Soemosewojo, kembali dalam roniantisme masa kecilnya.

Sekitar tahun 1960-an, saat usianya masih belasan tahun, is sering sering berkunjung ke rumah itu. “seperti mengulang memori saya pada waktu itu Pohon sawo kecik, kantil, pohon jati di belakang rumah, semua mengingatkan kembali masa-masa itu,” kenangnya.

Di masa kecil itulah, Rinto mengaku, kerap mendengar sendiri tentang cerita Sukarno pernah tinggal di rumah itu. “Saya memang sering bolak-balik Kediri-Wates pada waktu itu. Ya waktu di sana sering diceritani sama Yu Was (panggilan Wasiati masih kerabat RM Soemosewojo, Red),” tuturnya.

Atas hal itulah, Rinto termasuk salah satu pihak yang menginisiasi agar rumah tersebut dijadikan sebuah situs sejarah. “Sayang jika generasi kita tak mengenal sejarahnya sendiri. Makanya beberapa lokasi, termasuk rumah itu harus dijadikan situs sejarah dan dipelihara dengan baik,” paparnya, (adi nugroho/bersambung/ndr). Diketik ulang dari : Jawa Pos Radar Kediri Sabtu, 06 Juni 2013.

Jakob Oetama tetang Bung Karno

Saya tidak mengenal Jakob Oetama sebaik rekan-rekan wartawan yang pernah dan masih bergabung di kelompok Kompas Gramedia. Akan tetapi, dari beberapa kali perjumpaan, dapat saya simpulkan, bahwa dia adalah salah satu tokoh yang menginspirasi saya. Jika ada sederet nama manusia Indonesia yang saya kagumi, maka nama Jacob Oetama bertengger di urutan ke-10. Urutannya adalah: Sukarno, Sukarno, Sukarno, Sukarno, Sukarno, Sukarno, Sukarno, Sukarno, Sukarno, Jakob Oetama!

Belum lama ini, pria kelahiran Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur candi Borobudur, Magelang berulang tahun. Ia lahir 27 September 1931. Nah, menandai momentum ulang tahun ke-80 itu, Kompas Gramedia menerbitkan buku “Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama”, yang disusun St. Sularto. Buku setebal 659 halaman ini, benar-benar lengkap dalam memotret sosok lelaki bernama asli Jakobus Oetomo itu.

Sebagai manusia sukses, Jakob juga terinspirasi oleh pemikiran banyak tokoh, baik tokoh nasional maupun internasional. Sudah bisa ditebak, satu di antaranya adalah Bung Karno. Apa kesan Jakob terhadap Bung Karno? Simak kutipan berikut:

… Jakob merasa Bung Karno berjasa bagaimana membangkitkan rasa nasionalisme, manusia mimbar, dan berbeda dengan Bung Hatta sosok kader, berbeda pula dengan gaya Sjahrir.

Mengenai Bung Karno, dapatlah disepakati, salah satu pelajaran besar adalah janganlah kita, bangsa Indonesia, memutus-mutus sejarahnya sendiri. Pemutusan sejarah itulah yang kita lakukan dengan menurunkan Bung Karno dari panggung sejarah.

Bung Karno, demikian pula para pemimpin bangsa lainnya, kita tempatkan dan kita nilai secara kritis. Kita koreksi. Pemikiran dan pergulatannya tidak kita ambil mentah-mentah. Kita pelajari. Kita jadikan bahan yang didialogkan dengan pengalaman perkembangan dan tuntutan zaman. Kita pelajari dan kita pahami secara kritis. Kita gugat dan kita koreksi, tetapi tidak diturunkan untuk memutus sejarah.

Bung Karno jelas figur bersejarah. Salah satu kriteria apakah seseorang itu figur sejarah atau bukan adalah ada tidaknya pengaruh yang ditinggalkan dan pengaruh itu berdampak permanen bagi kehidupan bangsa dan negaranya. Bung Karno meninggalkan pengaruh yang permanen itu. Di antaranya perasaan dan kesadaran kebangsaan kita, perasaan dan kesadaran keindonesiaan kita, kesadaran kita sebagai bangsa untuk tidak menjiplak begitu saja dari dunia luar, melainkan menggelutinya secara kritis dan menjadikannya bahan untuk pengembangan Indonesia.

Dengan memperingati 100 tahun kelahiran Bung Karno, misalnya, kita bermaksud memperingati para bapak dan pendiri bangsa lainnya. Kita teguhkan lagi di atas panggung pergulatan sejarah kita, tokoh-tokoh seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir. Kita pelajari pergulatan, perjuangan, dan pemikiran mereka. Kita dialogkan dengan pengalaman bangsa sendiri dan bangsa-bangsa lain. Kita segarkan dengan perubahan dan tuntutan zaman.

Begitulah yang terjadi dengan bangsa dan negara berhasil seperti bangsa dan negara Amerika Serikat. Pada pendiri dan pemikir bangsa mereka dipelajari secara kritis, dijadikan bahan untuk berdialog dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Dikritik, dikoreksi, bahkan dihukum, tetapi tidak diturunkan dari panggung sejarah. Bukankah bisa berdampak, sementara kita setiap kali memulai dari nol jika sejarah kita putus-putus. Bukankah sekarang pun, kita sudah mulai merasakan pengaruhnya yang negatif dan gagal menyelesaikan masalah jika kita hanya mampu menjadi bangsa yang membalas dan mendendam.

Hmm… sungguh sebuah sudut pandang yang bernas dari seorang Jakob atas sosok Sukarno. (roso daras)

Published in: on 7 Oktober 2011 at 08:53  Comments (4)  
Tags: , ,

John D. Legge, Tidak Paham Sukarno

Hanya Sukarno, satu-satunya Presiden di dunia (pada zamannya) yang paling banyak disorot penulis asing. Baik penulis buku yang berlatar belakang akademisi (untuk tujuan penelitian atau penyusunan disertasi), juga oleh para jurnalis manca negara.

Di antara sekian buku yang ditulis penulis asing, yang paling menarik dan “soheh” barangkali An Autobiography as told to Cindy Adams (Indianapolis, 1965). Buku lain Cindy Adams adalah “My Friend the Dictator” (Indianapolis, 1967). Penulis dan peneliti lain yang pernah bersinggungan dengan tema Bung Karno antara lain Bernhard Dahm, George Mc.T Kahin, Lambert Giebels, John D. Legge, dan masih banyak lainnya.

Dari sekian buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan kini singgah di “privat library” saya, beberapa di antaranya saya baca lebih dari sekali. Salah satunya adalah karya John D. Legge yang berjudul “Sukarno, Biografi Politik”. Ada yang spesial pada buku yang bisa mendorong pembacanya, membaca lebih dari sekali.

Adakah yang spesial dari karya John D. Legge? Ada! Yakni pada ketidakmampuan Legge menafsir kebijakan politik Sukarno. Yakni pada kependekan nalar Legge dalam mencerna latar belakang sejarah dan budaya Indonesia. Yakni pada kesombongannya untuk mengkritik langkah-langkah Sukarno. Yakni pada ketidakpeduliannya tentang hakikat indepensi sebagai seorang penulis.

Karenanya, banyak sekali kabar burung yang ditimbrungkan bersama narasi yang terkesan ilmiah. Ini justru mementahkan karya tulisnya. Tidak sedikit, kalimat-kalimatnya bernada “menghakimi”. Ini sama sekali melanggar dari hakikat indepensi sebagai seorang penulis. Apalagi penulis “biografi politik” dari seorang Presiden yang punya nama begitu besar pada zamannya.

Saya hanya bisa menduga, karya tulis Legge bagian tak terpisahkan dari sebuah skenario global untuk menenggelamkan nama Sukarno dari sejarah politik dunia. Tetapi apakah Legge layak kita benci? Tentu saja tidak. Saya bahkan membaca karyanya lebih dari sekali. Bahkan jika Anda masih menjumpainya di rak toko buku, saya pun akan menyarankan untuk mengoleksinya.

Betapa pun, ini adalah satu dari sekian buku tentang Sukarno. Lepas dari apakah buku itu masuk kategori “ilmu” atau “sampah”, tetap punya arti. Bung Karno sendiri, saya yakin, tidak akan keberatan dengan karya Legge. Mungkin saja, Bung Karno akan mendamprat Legge, tetapi sekaligus ia akan bicara untum meluruskan.

Sayang, Bung Karno tidak sempat melakukan itu. Sebab, buku itu terbit justru di saat kekuatan dunia mati-matian mengubur Bung Karno, ya jazad, ya gagasan besarnya. (roso daras)

Published in: on 15 September 2011 at 15:44  Comments (3)  
Tags: , ,

Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, Lahirnya Pancasila (ke-3/Selesai)

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indoneia Merdeka tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

Justru inilah prinsip-prinsip saya yang kedua. Inilah filosofiseli principle yang nomor dua; yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan “internasionalisme”. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitisme, yang tidak mau akan adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika dan lain-lainnya.

Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2, yang pertama-tama saya usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.

Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya.  Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua”, “semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam, –maaf beribu-ribu maaf keislaman saya jauh belum sempurna,– tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dari hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, jaga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.

Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat ini agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam kedalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar spaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat ini, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyatanya terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, hiduplah, Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian baik yang bukan Islam, maupun terutama Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.

Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilan tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di kalangan staat Kristen, perjuangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara Islam dan saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya, kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar daripada utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil fair play! Tidak ada satu negara boleh dikatakan hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah saudara-saudara, prinsip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan!

Prinsip nomor  4 sekarang saya usulkan. Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip, itu yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip: tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakana tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh ibu pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, saudara-saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat di negara-negara Eropa adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democratie. Tetapi tidaklah di Eropa justru kaum kapitalis merajalela?

Di Amerika ada satu badan perwakilan rakyat dan tidaklah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain dan tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan rakyat yang diadakan di sana itu, sekedar menurut resepnya Franche Revolutie. Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan demokrasi di sana itu hanyalah politieke democratie saja: semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid, — tak ada keadilan sosial, tidak ada economiche democratie sama sekali. Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures yang menggambarkan polieteke democratie. “Di dalam Parlementaire Democratie”, kata Jean Jaures. “di dalam Parlementaire Democratie, tiap-tiap orang mempunyai hak yang sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh masuk di dalam parlement. Tetapi adakah sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat? Maka oleh karena itu, Jean Jaures berkata lagi:

Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politiek itu di dalam Parlement dapat menjatuhkan minister. Ia seperti Raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di dalam pabrik, sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar keluar ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa”.

Adakah yang demikian ini yang kita kehendaki?

Saudara-saudara, saya usulkan. Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indoneia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah  kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politiek democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama, saudara-saudara di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan kepala negara, saya terus terang, say tidak akan memilih monarchie. Apa sebab? Oleh karena monarchie “Voorondestelt Ertelijheid”, turun-temurun. Saya seorang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghndaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidaklah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Bagoes Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan otomatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monachie itu.

Saudara-saudara, apakah prinsip kelima? Saya telah mengemukakan 4 prinsip”

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme, – atau perikemanusiaan
  3. Mufakat, – atau demokrasi
  4. Kesejahteraan sosial

Prinsip kelima hendaknya:

Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih. Yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW. Orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia atau Negara yang ber-Tuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama baik Islam maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain. (Tepuk tangan sebagian hadirin).

Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaanmheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Di sinilah, dalam pengakuan azas yang kelima inilah, saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!

Ingatlah, prinsip ketiga, permufakatan, perwakilan, di situlah tempatnya kita mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara yang tidak onverdraagzaam, yaitu dengan cara yang berkebudayaan!

Saudara-saudara! Dasar-dasar Negara telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedangkan kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indera. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir: Pendawa Lima). Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip: kebangsan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya.

Namnya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa- namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi… (tepuk tangan hadirin riuh rendah)

Atau, barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras, hingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia merdeka, Wistanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsan dan perikemanusiaan saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan sosio-nasionalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economiche democratie, yaitu politieke democratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu sana namakan socio-democratie.

Tinggal lagi Ketuhanan yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: Socio-nationalisme, social-democratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang dengan trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “Gotong Royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong! (tepuk tangan riuh-rendah)

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan” saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekarno satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama. Itulah Gotong-royong! (tepuk tangan riuh rendah)

Prinsip Gotong-royong di antaranya yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah saudara-saudara yang saya usulkan kepada saudara-saudara.

Pancasila menjadi Trisila. Trisila menjadi Ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila, ataukah pancasila? Isinya telah saya katakan kepada saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu. Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, saudara-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia, -di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia merdeka, Indonesia yang gemblengan. Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indoneia yang lambat laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah SWT.

Berhubung dengan itu, sebagai yang diusulkan oleh beberapa pebicara-pembicara tadi, barangkali perlu didakan noodmaatregel, peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah saudara-saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perikemanusiaan, untuk permufakatan, untuk sociale rechtvaardigheid: untuk Ketuhanan. Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun lalu. Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realitiet dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realitiet, jika tidak dengan perjuangan!

Jangan pun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen!

“De Mensch”, manusia! – harus perjuangkan itu. Zonder perjuangan itu tidaklah ia akan menjadi realitiet! Leninisme tidak bisa menjadi realitiet zonder perjuangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa Tionghoa, saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama yang dapat menjadi realitiet. Jangan pun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Al Qur’an, zwart of wit (tertulis di atas kertas), tidak dapat menjelma menjadi realitiet zonder perjuangan manusia yang dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis di dalam Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjuangan umat Kristen.

Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realitiet, yakni jikalau ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan Ketuhanan yang luas dan sempurna, – syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita, bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila. Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko,- tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudra yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekad-mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka,’merdeka atau mati”! (tepuk tangan riuh)

Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap “verchrikkelijk zwaarwichtif” itu.

Terima kasih. (tepuk tangan riuh rendah dari segenap hadirin). –(Selesai)

Published in: on 30 Mei 2010 at 04:39  Comments (7)  
Tags: , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 368 pengikut lainnya.