Lelaki sepuh itu duduk di antara hiruk-pikuk restoran McDonald, Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Sendiri. Malam merambat naik. Para pengunjung tak menghiraukannya. Tentu saja. Jikapun ada yang menatapnya, tentu hanya sekilas. Hampir dapat dipastikan, tidak satu pun pengunjung restoran McD Sarinah malam itu yang mengetahui, bahwa lelaki gaek bertongkat itu adalah Moh. Achadi, mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora (1964-1966).
Untuk kesekian kalinya, kami memang melakukan janji temu. Seperti biasa, selain bertukar pikiran tentang banyak hal, selalu saja ada hal-hal baru yang ia sampaikan. Sekitar tujuh tahun mengenal Achadi, saya cukup paham, sosok yang satu ini menyimpan begitu banyak kepingan sejarah perjalanan bangsa. Selain dia adalah pelaku aktif pejuang mempertahankan kemerdekaan, mengangkat bedil dan berperang dengan Sekutu, Achadi juga seorang intelektual.
Awalnya saya cukup bingung menentukan titik temu pada malam hari itu. Jakarta diguyur hujan, kemacetan di mana-mana, posisi kami ada pada mata arah yang berbeda. Spontan saya usulkan Sarinah. Alasam pertama, karena gedung itu adalah salah satu “karya” Bung Karno. Harapannya adalah ada semburat nostalgi di benak Achadi. Di samping alasan lain, Sarinah adalah titik tengah. Jam 19.00 adalah jam kesepakatan. Apa yang terjadi?
Pria yang masih aktif melakukan aktivitas yoga itu datang tepat waktu. Bukan main! Tepat jam 19.00 beliau sms dan mengabarkan sudah berada di Sarinah, tepatnya di restoran McDonald. Saya sendiri memperkirakan baru 30 menit kemudian. Seperti yang sudah-sudah, dia pun memaafkan keterlambatan saya. Lengkap dengan segala pemakluman tentang “kekurangdisiplinan” generasi sekarang….
Ketika saya datang, dia sudah menyelesaikan santap malam ala junk-food. Berbasa-basi sejenak, langsung larut dalam diskusi menarik terkait kepingan-kepingan sejarah yang ia rekam selama kurang lebih 12 tahun mendekam di penjara. Sebagai tahanan politik bersama sejumlah orang dekat Bung Karno lainnya, ia mencatat banyak fakta sejarah dari pelaku sejarah langsung, yang sayangnya tidak pernah terungkap di persidangan. Banyak sekali tahanan politik ketika itu, dijebloskan ke tahananbertahun-tahun, belasan tahun, tanpa persidangan.
Beruntung, memori pak Achadi masih sangat kuat. Dan lebih beruntung lagi, masih ada insan sejarah yang berkenan membukukannya. Maka lahirlah buku “Moh. Achadi, Informasi Historis dari Penjara”. Buku ini diterbitkan oleh Mitra Juang Pancasila, dengan kata pengantar Drs. H. Eddi Elison, sahabat senior saya.
Buku ini bagus secara materi. Kalaupun ada yang kurang bagus adalah desain cover dan penjudulan yang kurang eye-catching. Di samping, tata letak halaman dalam yang “seadanya”, ditambah kualitas cetak yang tidak lebih baik dari buku stensilan. (roso daras)



Semanggi sesungguhnya nama lokal (Jawa) tumbuhan marsilea mutica yang bisa dijadikan lalapan. Setiap tangkai daun semanggi terdiri atas empat helai daun berbentuk lonjong yang panjangnya mencapai dua cm dan lebar 1 cm.
Apa komentar Sukarno? Kepada R. Soeharto, dokter pribadi yang ketika itu menjabat Menteri Muda Perindustrian Rakyat dan ditugaskan mewujudkan pembangunan Sarinah Dept. Store, Bung Karno memberi penjelasan panjang. “Jangan terlalu menghiraukan kecaman itu. Sarinah harus merupakan pusat sales promotion barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan industri rakyat. Pembangunan department store itu perlu dikaitkan dengan pendidikan tenaga terampil dan ahli konstruksi gedung bertingkat tinggi. Mengenai bidang manajemennya sejalan dengan apa yang kita lakukan mengenai pembangunan Hotel Indonesia. Bangunannya dirancang dengan arsitek Abel Sorensen dari Denmark, dibangun oleh kontraktor Jepang, dan pembiayaannya dari pampasan perang Jepang.”
Pembangunan Sarinah, adalah gagasan yang sangat maju pada zamannya. Sukarno yang mengetahui potensi besar negaranya, menghendaki adanya show case yang modern. Dengan begitu, potensi bangsa dan negara Indonesia dapat dilihat di Sarinah Dept. Store. Bukan sembarang potensi, melainkan potensi sebuah bangsa yang digali dari semangat nasionalisme yang tinggi, bukan karena modal asing, tenaga asing, dan manajemen asing.