Majalah Sepak Bola 90 Menit

Praktis sejak November 2011, pasca tugas di Timnas U-23, sebagian energi tercurah ke persiapan penerbitan majalah “90 Menit”. Bersama rekan Yon Moeis dan Abbas Prabowo, begitu intens membahas persiapan penerbitan majalah, yang didedikasikan bagi dunia sepak bola Tanah Air. Walhasil, konsentrasi “nge-blog” pun jadi teralihkan.

Sang “jabang bayi” berupa majalah dengan nama “90 Menit” itu pun diluncurkan Kamis, 23 Februari 2012 di Planet Hollywood, Jakarta Pusat. Setelah itu, satu beban seperti terlepas. Sang jabang bayi telah lahir. Ke depan, tinggal berkonsentrasi membesarkannya dengan baik agar menjadi majalah yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Pakar marketing, Hermawan Kertajaya yang hadir dan memberi sambutan saat peluncuran majalah, mengatakan bahwa kehadiran majalah “90 Menit” sangat pas momentumnya. Selain itu, majalah ini juga memiliki diferensiasi yang jelas. Karena itu, ia menyuntikkan darah optimisme bahwa majalah ini memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang.

Saat saya kembali membuka blog, dan memposting tulisan ini, kesibukan di ruang sebelah sudah mulai terasa, dalam rangka mempersiapkan majalah “90 Menit” edisi ketiga. Ya, majalah ini adalah majalah mingguan sepak bola. Sekali lagi: MINGGUAN. Dan ini menjadi satu-satunya majalah mingguan sepakbola di Tanah Air.

Latas apa hubunganya dengan Bung Karno? Antara ada dan tiada. Dibilang tiada, karena memang topiknya tidak ada sangkut-pautnya dengan Bung Karno. Dibilang ada, ya karena salah satu pengggas dan pengurusnya seorang Sukarnois. Itu saja. (roso daras)

Published in: on 5 Maret 2012 at 14:39  Komentar (3)  
Tags: , , ,

Cina, Menjelma Menjadi Super Kapitalis

Agustus 1990, pertama kali saya menginjakkan kaki di Hong Kong. Ketika itu, saya ke sana dalam rangka peliputan dua momen yang terbilang penting. Pertama, menjelang normalisasi hubungan diplomatik RI – RRC, dan kedua, hajat Asian Games di Beijing. Terbayang saat-saat sebelum berangkat, begitu pelik urusan visa karena Indonesia memang tidak ada hubungan diplomatik yang diputus Soeharto pasca G-30-S/PKI.

Belum lagi ditambah kewajiban menjalani screening di Bakin. Memasuki markas Bakin di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan saja rasanya begitu menyeramkan. Setelah melalui banyak pintu dan prosedur, bertemulah saya dengan perwira Bakin. Bicara banyak hal tentang banyak hal juga. Kesannya ngobrol. Lebih 30 menit, saya dipersilakan pulang.

Rupanya, 30 menit ngobrol itulah mekanisme screening untuk wartawan yang hendak berkunjung ke negara komunis, yang belum memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Saat itu, komunis masih menjadi momok. Bahkan, bagi penguasa, masih menjadi “senjata” ampuh untuk menutup ruang gerak ekstrim kiri yang mencoba mengkritisi pemerintahan Orde Baru.

Selan beberapa tahun kemudian, memalui perbincangan dengan para sesepuh nasionalis, mulailah terbuka persepsi saya tentang Cina dari kacamata seorang Sukarno. Dalam rapat-rapat kabinet di era Sukarno, tidak sedikit elite negara yang membisikkan tentang “ancaman” komunisme. Tentang bahaya laten komunis. Tentang kemungkinan komunis kembal melakukan gerakan ekstrim untuk mengganti ideologi Pancasila.

Termasuk, dialog-dialog para menteri, pembantu Bung Karno yang acap mengerem langkah Sukarno manakala mereka nilai terlalu dekat ke Cina. Sebab, pada saat itu, Bung Karno memang memainkan peran “non blok” dengan sangat gagah berani. Dia tidak bisa didikte Barat. Manakala Barat menyodorkan bantuan dengan pamrih “demokratisasi ala Barat” dan persyaratan lain, segera Bung Karno berpaling ke Timur, dan bantuan pun mengalir dari arah Timur.

Yang menarik adalah, elite politik di sekeliling Bung Karno pun tidak sedikit yang “ketakutan” atas sikap Bung Karno yang cenderung ke blok komunis. Dalihnya tentu saja, khawatir jika komunisme makin tumbuh subur di Indonesia, dan pada akhirnya akan kembali melakukan aksi kudeta serta mengganti ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme.

Atas semua “peringatan” itu, Bung Karno tak jarang meradang. Dia mengatakan, Cina hanya dilihat dari sisi ideologi komunisme. Itu keliru. “Tunggu, nanti, pada saatnya. Cina akan bangkit menjadi negara kapitalis terbesar di atas bumi ini.”

Saat Bung Karno mengatakan hal itu, tentu saja dinilai aneh. Tetapi, lagi-lagi, ketika saat ini kita melihat Cina bangkit, persis seperti yang dikatakan Bung Karno, telah menjelma jadi raksasa ekonomi dunia. Bukan hanya Hong Kong, Guangzhou, dan sejumlah kawasan lain yang begitu kosmopolit, Cina kini menjadi satu-satunya negara dengan segala kebesarannya. Besar wilayahnya, besar penduduknya, bisa kapitalisasi ekonominya, dan besar pula pertumbuhannya.

Bukan hanya penduduk Indonesia yang tercengang, dunia pun tercengang, bahkan warga Cina sendiri tercengang. Teringat betapa tahun 1990, banyak sekali warga Hong Kong yang bersiap-siap atau setidaknya mempersiapkan diri untuk eksodus menjelang pengembalian teritori Hong Kong dari Inggris kepada si empunya wilayah RRC. Tidak sedikit warga Hong Kong yang ketika itu sudah hidup dalam gelimang kapitalisme, begitu ketakutan dengan “hantu” komunisme dengan segala stigma negatif yang melekat.

Tentu saja, mereka keliru. Sebab, Hong Kong bukannya “makin komunis” tetapi jauh lebih kapitalistis saat ini. Bahkan, kota Guangzhou, yang hanya berjarak 3 jam perjalanan darat dari Hong Kong, telah menjadi pusat grosir terbesar di dunia. Seorang teman yang bertemu di Hong Kong baru saja bercerita, ia baru saja pulang dari Guangzhou dan membeli laptop Toshiba Portege seri terbaru hanya dengan harga 2.900 yuan, kurang dari lima juta rupiah!

Masih teman yang sama, baru-baru ini menemani seorang teman yang lain dari Jakarta, datang membawa uang senilai Rp 15 juta, dan pulang dengan tiga kopor penuh barang aneka rupa, dan ludes dijual kembali di Indonesia dengan total keuntungan bersih Rp 10 juta. Hmmm, sejatinya, saya sedang tergiur juga untuk mencicipi kemakmuran Cina…. (roso daras)

Published in: on 12 September 2011 at 13:20  Komentar (3)  
Tags: , , ,

Yang Tercecer di Balik Proklamasi

Cukup menarik ternyata, menguak sisi-sisi lain di seputar peristiwa besar, Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Najwa Shihab berhasil mengorek banyak informasi menarik. Misalnya, adanya dua proklamasi sebelum 17 Agustus 1945. Sebagian masyarakat mengetahui, sebagian besar lainnya tidak tahu.

Pada tanggal 23 Januari 1942, seorang pemuda Gorontalo bernama Nani Wartabone, memproklamasikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia “yang ada di daerah ini”. Betapa pun, itu sebuah proklamasi, sekalipun tidak bisa dikatkan berskala nasional. Bunyi proklamasi itu adalah sebagai berikut:

“Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban.”

Proklamasi ini didorong oleh semangat yang menggebu-gebu, demi mengetahui kekalahan sekutu atas Jepang. Namun, proklamasi ini tak bertahan lama. Begitu Jepang mendarat, daerah Gorontalo kembali di bawah kekuasaan Jepang. Nanu Wartabone pun kembali ke desa dan bertani.

Selain itu, ada lagi proklamasi yang dicetuskan dr Soedarsono di Cirebon pada tanggal 15 Agustus 1945. Ini juga sebuah proklamasi yang tergesa-gesa, demi melihat kekalahan Jepang, sehingga Soedarsono atas komando Sjahrir mengumumkan proklamasi kemerdekaan. Sayang, teks proklamasi yang kono terdiri atas 300 kata itu, tak berbekas.

Selain itu, di seputar perisitwa proklamasi Pegangsaan Timur 56, Jakarta oleh Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, juga diselimuti banyak peristiwa menarik. Ada kisah pembantu Sukarno yang bernama Riwu Ga sebagai penyebar berita kemerdekaan ke seantero kota Jakarta. Ada pembentukan pasukan berani mati, ada kisah Tukimin yang disangka Bung Karno, dan lain-lain.

Semua topik itu dibahas di acara Mata Najwa yang akan tayang di Metro TV, hari Rabu, 17 Agustus 2011 pukul 22.05 WIB. Seperti apa? Simak saja acaranya. (roso daras)

Published in: on 16 Agustus 2011 at 13:01  Komentar (4)  
Tags: , , , ,

Mozaik Proklamasi di “Mata Najwa”

Di tengah kepadataan agenda mengurus kelengkapan klub Bali Devata agar bisa berkompetisi di liga mendatang…. Di antara tanggung jawab besar memimpin Timnas U-23…. Saya benar-benar tidak kuasa menolak undangan Najwa Shihab. Tentu bukan karena Najwa memang sosok host yang cantik lagi bernas, tetapi karena ini tentang Bung Karno.

Untuk Bung Karno, apa pun saya ladeni…. Jadilah, Senin (15/8) saya harus mondar-mandir Denpasar-Jakarta-Denpasar. Undangan untuk kembali menjadi narasumber di acara “Mata Najwa” kali ini terasa spesial. Topiknya “Mozaik Proklamasi”. Relevan benar dengan suasana 17-an. Lebih dari itu, selaras dengan peristiwa bersejarah 66 tahun lalu, yang juga terjadi di bulan Ramadhan.

Hanya saya yang merasakan, kalau dua hari terakhir, sakit kepalaku kambuh…cenut-cenut…. Sementara itu, saya tetap berpuasa. Kalau saya harus mendiskripsikan fisik saya hari itu, benar-benar “pating greges”. Kepala pusing, Jakarta yang panas, masuk studio yang duingiinnn….Saya harus minta maaf, jika keramah-tamahan Najwa dengan kecantikannya, tak mampu mengobati ribuan bintang yang berputar-putar di atas kepala…. (ilustrasi kartun yang menggambarkan pusing tujuh keliling….).

Lagi-lagi, demi mengingat topik Bung Karno, yang ada hanyalah semangat untuk berbagi. Berbagi peristiwa bersejarah di seputar Proklamasi 17 Agustus 1945. Saya berusaha konsentrasi dengan topik yang hangat, bersama narasumber lain, sejarawan JJ Rizal. Hampir sepanjang proses taping, saya memijat-mijat telapak tangan di antara ibu-jari dan telunjuk. Kata ahli refleksologi, itu bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit di kepala.

Begitulah, sidang pembaca blog yang saya hormati. Ini adalah pemberitahuan tentang topik menarik Mata Najwa, Rabu, 17 Agustus 2011 pukul 22.05 WIB nanti, dan curhat tentang sakit kepalaku. Selanjutnya, adalah ajakan untuk menonton acara itu. Siapa tahu ada mozaik-mozaik sejarah yang bisa kita petik sebagai penambah pengetahuan kita bersama. (roso daras)

Published in: on 15 Agustus 2011 at 14:20  Komentar (6)  
Tags: , , , ,

Bawa Pesepakbola Ziarah Bung Karno

Lebih dua pekan saya tidak sempat posting apa pun di sini. Bagi yang berkunjungnya sekali-sekali, barangkali tidak aneh. Akan tetapi bagi yang rajin berkunjung, bisa jadi mulai mempertanyakan, “Mana posting-an yang baru tentang Bung Karno?”.

Baiklah, saya awali dengan permintaan maaf. Yang kedua, izinkah saya menyampaikan alasan, sekaligus pemberitahuan (bagi yang belum tahu). Bahwa sejak awal Agustus 2011, PSSI menugaskan saya sebagai manajer Timnas U-23. Bergabung dengan anggota tim di pemusatan latihan, Batu, Malang (Jawa Timur), langsung tenggelam dengan kepadatan agenda yang luar biasa.

Sempat sekali-dua membuka blog… sempat sekali-dua muncul niat menulis… semua kandas dengan kepentingan mengurus Timnas U-23 yang tentu harus saya dahulukan. Embel-embel “nasional” mengakibatkan saya harus meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan yang lain. (huhh…sejak kapan saya lebay begini….)

Agenda pertama menukangi Timnas U-23 ini adalah menyusun jadwal atau agenda TC. Staf manajemen yang cekatan dengan cepat menyusun jadwal bagi Timnas. Maklumlah, kapan mereka harus makan, istirahat, berlatih, semua harus tercatat. Suasana Ramadhan membuat agenda menjadi lebih spesifik, ada jadwal sahur, shalat tarawih, dan sebagainya.

Terlintas sebuah agenda yang begitu rutin dan padat. Berlatih dan berlatih. Maka, setelah melalui konsultasi dan kesepakatan dengan tim pelatih, tersepakatilah tentang perlunya mengadakan acara selingan seminggu sekali. Spontan saya teringat Bung Karno, yang terbaring tenang di makamnya di Blitar, kurang lebih hanya berjarak 2 jam dari Batu. Itulah acara di luar rutinitas pertama yang saya selipkan.

Jadilah hari Minggu, 7 Agustus 2011, saya membawa seluruh anggota Timnas U-23 berziarah ke makam Bung Karno. Yang tidak saya duga adalah, sambutan yang begitu antusias, baik dari segenap aparat Pemkot Blitar maupun masyarakatnya. Lebih tak terduga ketika petugas protokol menyiapkan suatu ritual upacara penghormatan, dan mendaulat saya sebagai pembina upacara.

Usai upacara, rombongan memasuki altar makam Bung Karno. Juru kunci memimpin kami semua untuk memanjatkan doa bagi arwah Bung Karno. Kemudian diceritakan sedikit tentang sejarah makam Bung Karno. Kesempatan itulah saya gunakan untuk menyampaikan beberapa point tentang Bung Karno. Para pemain yang berusia di bawah 23 tahun, tentu tipis pemahamannya tentang Sang Proklamator. Warisan mulia yang bisa kita petik dari sosok Bung Karno, menjadi sesuatu yang penting untuk mereka ketahui.

Usai ziarah, rombongan sempat mengunjungi ruang pameran foto-foto Bung Karno. Sayang, waktu yang tersedia amat sedikit. Tapi setidaknya, mereka sempat menyaksikan koleksi foto yang ada di area musium Bung Karno. Selanjutnya, Timnas U23 disuguhi film dokumenter Bung Karno.

Selesai menyaksikan film, rombongan diarahkan ke kantor Walikota Blitar. Di sana telah menanti Walikota Samanhudi Anwar dan segenap jajarannya. Kami berbuka puasa bersama. Usai buka, kami kembali ke markas TC di Batu, Malang. Keesokan harinya, saya melihat banyak di antara anggota Timnas U23 yang mengganti foto profilnya dengan foto-foto Bung Karno…. Hmmm…. (roso daras)

Published in: on 13 Agustus 2011 at 12:38  Komentar (9)  
Tags: , , ,

Nonton Bung Karno Bersama Dedy Letto

Kamis (23/6) menjelang maghrib, saya meluncur ke Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tujuannya adalah menuju Galeri Cipta II untuk menyaksikan pameran foto Bung Karno bersama Dedy sang penggebuk drum Letto. Bagaimana bisa?

Musisi kelahiran Yogyakarta 23 Januari 1987 itu, adalah satu di antara sekian orang penyuka blog ini. Lupa persisnya, kisaran berbulan-bulan lalu, seseorang yang menyebutkan namanya sebagai Dhedot meminta nomor telepon. Setelah itu, silaturahmi berlanjut melalui sms. Begitulah hingga sampai ke topik “apakah sudah datang ke pameran foto Bung Karno di TIM?”.

Sebagai sesama pengagum Bung Karno yang belum menyaksikan pameran itu, bersepakatlah kami untuk bertemu di TIM. Dan jika Tuhan berhekendak, maka itulah pertemuan secara fisik yang pertama dengan dia. Tidak seperti biasa pula, perjalanan saya dari Depok menuju TIM relatif lancar. Sehingga sekitar pukul 19.30 sampailah.

“Om,ini  saya sudah di TIM”, begitu sms Dhedot. Karena saya kebetulan juga baru saja memarkir kendaraan, maka saya pun membalas singkat, “Saya juga”.

Usai mengisi buku tamu, saya bertatap muka dengan dia. Haqul yakin itu Dhedot, karena dia spontan menyeringai dan menghampiri saya, seraya menyerahkan satu buah CD album terbaru Letto “Cinta… Bersabarlah”. Di situlah percakapan pun dibuka dengan “pengakuan” bahwa dia adalah salah satu personel Letto, drummer Letto. “Ooo…,” spontan saya bereaksi. Nama aslinya Dedi Riyono, panggilan akrabnya Dhedot.

Pria santun bernama asli Dedi Riyono ini, tak lain adalah adik kandung gitaris Letto, Agus “Patub” Riyono. Ia mengaku kebetulan sedang berada di Jakarta, untuk agenda perform di TMII tanggal 25 Juni. Karena itulah, di waktu senggang, ia sempatkan untuk menyaksikan pameran foto Bung Karno.

“Saya menyesal Om, waktu main di Bengkulu, sudah berhenti di depan situs rumah pembuangan Bung Karno… ehhh hujan deras…. Gagal deh… Usai manggung, langsung pulang, jadi gak sempat lagi ke situs itu lagi…,” kisahnya.

Dhedot adalah satu dari sekian anak muda Indonesia, yang kebetulan berprofesi sebagai musisi, dan menggandrungi Bung Karno. Minat dan ketertarikannya terhadap Bung Karno, adalah suatu berkah bagi bangsa ini. Dia, dan sukarnois-sukarnois lain, adalah jaminan akan kelangsungan dan kelanggengan ajaran-ajaran Putra Sang Fajar.

Alhasil… di sela-sela menonton foto-foto Bung Karno, kami pun berbincang. Maaf, bukan soal Letto, tetapi soal Bung Karno. Sungguh bukan transfer ilmu. Kami hanya berbincang ringan. Saya bicara tentang mimpi. Dhedot tak habis-habis mengagumi Bung Karno dengan segala kharisma dan ilmunya.

Sekadar berbagi… berikut unggahan sejumlah foto yang saya bidik ala kadarnya pakai kamera ponsel….

Selain foto-foto Bung Karno berbagai nuansa, dari yang politis hingga human interest, panitia juga menyajikan film-film dokumenter Bung Karno. Pengunjung pameran bisa transit sejenak di ruang tengah, menyaksikan pemutaran film-film tentang Bung Karno, sebelum melanjutkan perjalanan mengitari galeri, menikmati foto-foto Bung Karno lainnya.

Sesampai kembali di lobby galeri, tampak Giat Wahyudi, yang segera menghampiri. Setelah berbasa-basi, berkatalah Giat, “Persiapan hanya empat hari mas!” Rupanya, Giat yang juga penulis buku (antara lain tentang Bung Karno) ini, adalah kurator dalam pameran foto ini. “Tapi saya puas, hingga malam ini, jumlah pengunjung sudah mencapai sembilan ribu,” ujar Giat, semangat. (roso daras)

Published in: on 24 Juni 2011 at 07:16  Komentar (9)  
Tags: , , , ,

Rencana Cover ke-3, Dipilih…Dipilih…

Dua hari lalu, penerbit Imania mengirimkan rencana cover buku yang ke-3. Seperti postingan terdahulu, dalam buku ketiga dan Insya Allah selanjutnya, pendekatan judul serta content mixed, dibuat sedikit berbeda dari dua buku terdahulu. Kali ini, fokus tulisan pada “perseteruan” Bung Karno dan Kartosoewirjo.

Ah, tapi ini bukan posting tentang konten buku ketiga. Selain tidak membuat Anda penasaran untuk membaca (tepatnya: membeli) buku ini, juga karena saya ingin berbagi dan minta masukan sidang pembaca blog ini sekalian, terhadap rancangan cover yang telah disiapkan penerbit. Ada dua rancangan cover, seperti terlihat di bawah ini: versi A dan versi B.

Nah, atas pilihan cover tersebut, saya pribadi memiliki beberapa catatan. Misalnya, komposisi judul dan foto, saya cenderung melilih yang B, dengan catatan, boks bertuliskan “The Other Stories 3″ lebih dirapatkan ke atas, menempel teks “Serpihan Sejarah yang Tercecer”. Keseluruhan judul juga bisa lebih ke atas.

Kemudian, ilustrasi perang baratayudha dalam epik Mahabarata itu, saya cenderung memilih yang versi A. Sebab, warna sephia di versi A rasanya lebih cocok dengan desain yang B. Dengan sedikit penguasaan software adobe photoshop, beberapa catatan tersebut saya wujudkan menjadi seperti di bawah ini:

Nah, bagaimana menurut Anda? (roso daras)

Published in: on 23 Juni 2011 at 05:28  Komentar (8)  
Tags: , , , , ,

Roso Daras Ingatkan NASASOS

Dalam kepanitiaan peringatan harlah Bung Karno 6 Juni 2011 lalu, saya hanyalah satu orang anggota panitia (Wakil Ketua). Entah alasan apa, pengatur acara hari itu mendaulat saya untuk naik podium. Mereka menyebutnya sebagai “penulis sejarah Bung Karno”. Baiklah. Ini sebuah amanah, wajib bagi saya menunaikannya.

Hal pertama yang saya sampaikan pada hari itu adalah perasaan yang sangat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Ada haru dan bangga dalam dada. Untuk bentang waktu yang begitu lama, sejak kematiannya hingga peringatan kelahiran yang ke-110, belum sekalipun ada peringatan hari kelahiran Bung Karno di tanah kelahirannya. Di Surabaya. Di tempat tumpah darahnya. Yang lebih membanggakan, gelar acara itu murni hasil gotong royong sejumlah elemen rakyat, yang kemudian didukung sepenuhnya oleh Walikota Surabaya.

Maka, hampir dapat dipastikan, bahwa yang hadir pada kesempatan itu adalah (mayoritas) kaum Sukarnois, Marhaenis, Nasionalis. Terlintas akan jenis audiens yang hadir itulah maka selintas saya ingat akan ajaran Bung Karno tentang ruh “Nasasos” (Nasionalis, Agamis, Sosialis). Di era Bung Karno, manakala Partai Komunis Indonesia (PKI) bukanlah partai terlarang, dan Marxis bukan lagi ideologi terlarang, maka Bung Karno menyebutnya Nasakom.

Kini, saat komunis menjadi “hantu” terlarang, maka saya pun memilih kata “Nasasos”, sebab Bung Karno sendiri mengatakan, bagi yang phobi terhadap kata-kata “komunis” maka baiklah, kita ganti menjadi “sosialis”, maka Nasakom bisa juga diucapkan Nasasos. Itulah salah satu ajaran Bung Karno.

Ajaran yang digali dari realita bangsa Indonesia yang nasioanlis, agamis, dan berjiwa sosialis. Sekalipun begitu, Bung Karno tidak pernah mengagungkan yang satu lebih dari yang lain. Karenanya, Nasasos harus dibaca dalam satu tarikan nafas, satu ruh, satu jiwa. Jiwa nasasos itulah yang sejatinya hidup dalam setiap relung hati bangsa kita.

Bangsa kita, bangsa yang cinta tanah air, berjiwa nasionalis yang berperikemanusiaan. Dalam pada itu, bangsa Indonesia juga bangsa yang berketuhanan. Bahkan bisa dibilang sangat religius. Terakhir, tak bisa dipungkiri bahwa jiwa bangsa kita memanglah sosialis. Mereka adalah makhluk sosial yang mengimplementasikan praktik-praktik sosialisme dalam kehidupan sehari-hari.

“Maka, jangan mengaku diri seorang Sukarnois jika tidak berjiwa Nasasos!” itu pekik saya, dan inti dari pembicaraan saya yang tidak lebih dari 10 menit.

Lepas dari segala atribut yang membanggakan dari seorang Sukarno, pada hakikatnya, Sukarno tidak hanya seorang proklamator, dia juga sekaligus bapak bangsa, peletak dasar-dasar berbangsa dan bernegara. Dalam ilmu kepemimpinan, ia mewariskan ajaran untuk semua aspek kehidupan. Tugas kitalah sekarang, untuk mengambil butir-butir ajaran Bung Karno bagi sebesar-besarnya kemaslahatan umat. (roso daras)

Published in: on 10 Juni 2011 at 10:53  Komentar (4)  
Tags: , , , ,

Assalamu’alaikum… I’m Back…

Kurang lebih sebulan, saya tidak update blog…. Awalnya, saya menjadikan momen peluncuran buku sebagai dalih “menghilang”. Sebab kebetulan, bulan November adalah bulan peluncuran buku Bung Karno: The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer.

Selama 25 hari saya memang tidak masuk dunia maya, termasuk tidak sekali pun menengok blog tercinta. Selama itu pula, saya harus menjaga adab sebagai Tamu Allah SWT. Berangkat tanggal 5 November, dan kembali tanggal 1 Desember 2009. Nah, pergi ke Tanah Suci inilah yang sebenarnya mengakibatkan saya menghentikan (sementara) aktivitas nge-blog.

Ada begitu banyak tanya, by email, di facebook, maupun di ruang komen blog yang bertanya-tanya ihwal lamanya blog ini “tidur”. Di antara mereka, ada yang tahu ihwal kepergian saya ziarah Nabi… ada yang bertanya “kapan update blog”, ada pula yang berpikir saya sudah kehabisan bahan… mungkin ada yang berpikiran lain.

Nah… saya sudah kembali aktif… dan siap mengaktifkan kembali blog ini, dengan restu Anda semua. Salam. (roso daras)

Published in: on 12 Desember 2009 at 03:13  Komentar (8)  
Tags: ,

Ziarah ke Musoleum Mao Zedong

Mao ZedongLebih mudah melafalkan kata Mao Zedong daripada Mao Tse Tung, meski kedua nama itu pada hakikatnya sama. Dialah pemimpin besar Cina, bapak bangsa yang telah memproklamasikan Republik Rakyat Cina (RRC) pada tanggal 1 Oktober 1949 di hadapan lautan rakyat di lapangan Tiananmen. Lapangan Tiananmen terletak di pusat kota Beijing, ibukota RRC. Orang dulu menyebut Beijing dengan Peking. Sama saja.

Itu artinya, negeri yang pernah berjuluk “Tirai Bambu” itu, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Di sana, perayaan ulang tahun kemerdekaan yang ke-60 dirayakan dengan ingar-bingar. Salah satunya adalah pemutaran film epik “Berdirinya Sebuah Republik” yang melibatkan artis-artis besar seperti Jackie Chan, Jet Li, dan Andy Lau. Hajat besar itu kemudian ditutup dengan pergelaran opera Turandot karya Puccini di Megastadium Sarang Burung, oleh sutradara Zhang Yimou. Repertoar itu melambangkan lahirnya “Cina yang baru”.

Yang tak kalah khidmat dan pantas dicatat, adalah kemeriahan suasana Tiananmen. Sebuah lapangan raksasa di pusat kota, yang di antaranya berdiri musoleum tempat jenazah Mao Zedong (1893 – 1976) disemayamkan. Hampir setiap hari, kecuali hari Senin, rakyat berbaris panjang dalam antrian yang teratur. Selangkah demi selangkah, iring-iringan itu memasuki musoleum hendak menyaksikan jenazah Mao yang diawetkan. Pada musim liburan, panjang antrean bisa berkilo-kilometer, meliuk-liuk di hamparan Tiananmen. Semua pengunjung tidak dipungut bayaran. Tetapi pemerintah hanya membuka kesempatan dari pagi, pukul 09.00 hingga 12.00 siang.

Mausoleum_of_Mao_Zedong

Adapun suasana di dalam musoleum yang terletak di bagian selatan Tiananmen, suasana begitu kontras. Ingar-bingar di lapangan sana, menjadi hening-khidmat di dalam. Selain hawa sejuk, penerangan yang redup, membuat mulut terkatup. Setidaknya, itulah yang saya rasakan, ketika tahun 1990-an berkesempatan “ziarah” ke persemayaman Mao Zedong yang diresmikan 9 September 1977, atau setahun setelah meninggalnya Mao.

mausoleum

Iring-iringan manusia yang hendak memberi penghormatan kepada Mao, berjalan melambat ketika mendekati pusat ruang. Dalam jarak sekitar tiga meter antara tepi jalan dan peti jenazah Mao, tampak samar jazad Mao yang utuh karena proses pembalseman. Ia terbaring tenang dalam peti yang bagian atasnya tertutup kaca. Bendera negara menutup sebagian jazad Mao. Meski begitu, wajah mendiang Mao terlihat dengan sangat jelas.

Tak ada satu pun pengunjung yang diizinkan membawa kamera, membuat saya rasa gemas ingin mengabadikan jazad Mao yang terbujur tenang. Sambil berjalan di samping kiri peti jenazah Mao, mata ini tak putus  menatap jengkal demi jengkal “Orang Besar” Cina itu beserta peti jenazahnya yang kokoh dan anggun.

Langkah-langkah kaki perlahan mengarah ke pintu keluar. Sempat saya berhenti sedetik-dua untuk menatap yang terakhir kali sebelum langkah kaki meninggalkannya. Petugas jaga berseragam militer warna hijau memberi isyarat untuk terus melangkah, melarang peziarah berhenti meski hanya sedetik.

Roso Daras di Beijing

Di luar, suasana kembali ramai. Masyarakat yang datang dari seluruh penjuru negeri Cina, berbaur dengan para turis yang datang dari seluruh penjuru dunia. Selain menikmati suasana Tiananmen yang tak jauh dari “Kota Terlarang” (Forbidden City) serta Monumen Pahlawan Rakyat. Selain itu, tedapat pula sebuah tugu yang jika dibandingkan Tugu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, kalah megah.

Satu kesan yang tertangkap, betapa rakyat Cina begitu memuja Bapak Bangsanya. Pengawetan jazad Mao, mereka lakukan sebagai wujud penghormatan yang dalam sepanjang masa. Untuk kita, barangkali cara itu berlebihan. Mengawetkan jenazah bukanlah tradisi bangsa Indonesia untuk menghormati pepunden-nya. Jika Bung Karno kita sepakati sebagai Bapak Bangsa Indonesia, saya yakin, dia pun tidak akan menyetujui jazadnya diawetkan, dibalsem dan diletakkan di museum dan setiap anak bangsa bisa melihat dan menghormatinya turun temurun hingga kiamat.

Posting naskah kenangan ini, sejatinya mewakili dua suara hati. Yang pertama adalah rasa kagum atas eksistensi negara Cina yang begitu fantastis di usia ke-60 tahun kemerdekaannya. Yang kedua, ungkapan rasa iri, demi melihat bangsa Cina begitu menghormati Bapak Bangsanya, sementara bangsa kita yang justru hampir melupakan Bapak Bangsanya. (roso daras)

Published in: on 2 Oktober 2009 at 03:23  Komentar (5)  
Tags: , , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.