Dari Emas hingga Celana Dalam

Dengan huruf yang kecil-kecil, dalam halaman buku berukuran A5, daftar barang-barang peninggalan Bung Karno di Istana yang raib entah kemana itu, tercatat setebal 66 halaman. Memelototinya satu per satu, membuat mata perih (kalau yang ini karena faktor “U”…). Terlebih karena H. Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa yang menulis buku “Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66″ itu, tidak mengklasifikasikan jenis barang.

Dalam lampiran bukunya, ia menuang mentah-mentah daftar barang sesuai dokumen tim pencatat yang berjumlah 9 orang itu (6 anggota militer, dan 3 staf kepresidenan). Sementara, pencatatan berdasar kamar atau ruang per ruang. Jika satu ruang ada sedikitnya dua lemari, maka imajinasi kita harus difokuskan di kamar mana lemari itu berada. Sebab, pada catatan di kamar yang lain, juga akan ada daftar dari lemari 1, lemari 2, dan seterusnya. Begitulah, sehingga konsentrasi pikiran untuk mencermati item-item yang tercatat dalam daftar, terkadang bias, karena terjadi pengulangan.

Satu contoh, dalam ruang/kamar 1, misalnya… tercatat ada kemeja, bukan satu jumlahnya, tetapi puluhan. Dan itu didata berdasar merek. Nanti, di kamar yang lain, ada pula dicatat kemeja, lengkap dengan merek dan warnanya. Demikian pula untuk beberapa jenis barang yang lain, seperti kaos dalam, kaos kaki, dan barang-barang lain, yang kurang menyedot perhatian. Bayangkan, jika deretan jenis-jenis barang itu ada di semua kamar, dan hampir di semua lemari, sementara di antara barang-barang berkategori biasa itu, ada kalanya terselip catatan “satu tongkat komando”.

Nah… tongkat komando, itu tentu sangat menarik (setidaknya perhatian saya), tetapi kemudian dilanjutkan dengan deretan-deratan barang lain yang seperti saya sebut di atas, termasuk kategori “barang umum”. Karena itulah, membaca daftar barang peninggalan Bung Karno sungguh melelahkan, karena metode penuangannya tidak berdasar klasifikasi jenis barang.

Kalau saja, ribuan barang peninggalan Bung Karno itu diklasifikasi, tentu lebih menarik. Selain lebih menarik, juga memudahkan kita untuk melakukan pemilahan. Atau bahkan, bisa juga mendatangkan imajinasi yang lain, mengingat catatan ini sifatnya hanya bukti sejarah, tetapi wujudnya sudah raib.

Karena tidak terklasifikasi… maka saya kembali dikagetkan ketika di bukaan halaman yang lain, kembali menemukan daftar barang bernama “satu buah tongkat komando”. Seperti tongkat komando yang sebelumnya, catatan ini pun terselip di antara catatan barang-barang klasifkasi biasa seperti baju, sepatu, dan kaos kaki, atau bahkan kaos oblong merek “555” kegemaran Bung Karno.

Apakah ada dua “tongkat komando” yang tertinggal di Istana? Tidak! Penemuan saya ada tiga. Tetapi, bisa saja salah, karena saya membacanya tidak intens, antara ingin meneliti lebih seksama dengan kejenuhan membaca barang-barang “tidak penting” yang begitu panjang. Ini tentu lain, seandainya baju-kaos-celana dan pakaian lainnya dikelompokkan menjadi satu, dengan keterangan nomor kamar dan nomor lemari. Kemudian, item bernama “tongkat komando” pun dikelompokkan menjadi satu, dengan keterangan lokasi pencatatan (kamar/ruang dan nomor lemari).

Demikian juga halnya dengan buku. Ada ribuan judul buku. Lagi-lagi tidak terklasifikasi. Sebab, rupanya, koleksi buku Bung Karno hampir ada di setiap kamar. Sehingga, catatan mengenai buku pun tersebar di antara daftar barang-barang yang lain. Maka, terbayang betapa menariknya jika bagian buku pun diklasifikasikan. Bila perlu diklasifikasi berdasar jenisnya, misalnya politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, dan lain-lain. Sebab, koleksi buku serta aneka majalah Bung Karno begitu bervariasi. Bagi kita para Sukarnois, memelototi buku apa saja yang dibaca Bung Karno, tentu saja sangat menarik.

“Kejengkelan” saya sebagai pembaca, dalam menelaah barang-barang Bung Karno yang hilang itu, makin menjadi-jadi, demi melihat betapa barang bernilai dan barang tak bernilai, tidak ada penekanan. Ini, lagi-lagi, karena tidak ada pengklasifikasian. Sebab, sebagai contoh, dalam Istana itu banyak sekali barang-barang yang bernilai sejarah sangat tinggi, seperti stempel Republik Indonesia Jogjakarta, atau gulungan teks proklamasi, bendera pusaka, dan lainnya.

Yang bisa dibilang bersejarah lain adalah piagam-piagam maupun penghargaan-penghargaan kepada Bung Karno dari berbagai negara di dunia. Bahkan dokumen-dokumen negara yang sangat penting. Di sana tercatat pula aneka logam mulia. Ada daftara emas batangan, ema koin, dan emas-emasan lainnya. Aneka jenis emas itu bahkan tercatat sederet dengan item bernama “satu buah celana dalam perempuan”…. (roso daras)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 368 pengikut lainnya.