Bung Karno Terlibat Pemberontakan PETA

Bung Karno dan Supriyadi

Tahun 1944, Jepang benar-benar terdesak. Dalam Perang AsiaTimur Raya, Nippon Raya menderita kekalahan di mana-mana. Berita ini terdengar santer di kalangan pergerakan Indonesia. Para pemuda yang tak sabar, segera mendesak Bung Karno untuk “merdeka sekarang juga!”

Dalam pada itu, sebuah peristiwa bersejarah meletus di Blitar, Jawa Timur. Bulan Februari 1944, sepasukan PETA (Pembela Tanah Air) pimpinan Suprijadi melakukan pemberontakan. Peristiwa ini tertulis dengan tinta emas sejarah bangsa. Pemberontakan PETA di Blitar tercatat sebagai satu-satunya perlawanan paling besar melawan Jepang selama masa pendudukannya di Indonesia.

Para pemuda yang dilatih militer Jepang, dengan harapan dapat membantu Jepang menahan gempuran Sekutu itu, dengan gagah berani memberontak. Mereka melancarkan penyergapan mendadak terhadap kantor telepon, markas kepolisian, gudang amunisi, dan sasaran-sasaran lain yang semua masih dikuasai orang-orang pendek dari Negeri Matahari Terbit.

Jepang murka, dan tidak butuh waktu lama untuk segera meringkus para pemberontak. Yang terlibat baku tembak, matilah dia karena tertembus timah panas. Yang dibekuk dalam keadaan luka-luka, segera dijadikan tawanan. Kemudian secara demonstratif, Jepang menunjukkan superioritasnya dengan menggorok leher para pemberontak dengan kejinya. Tidak ada persidangan. Tidak ada proses hukum yang dijalankan. Biadab untuk ukuran sebuah bangsa bernama manusia.

Kejadian pemberontakan PETA di Blitar membangkitkan semangat merdeka yang berkobar-kobar di seluruh penjuru Tanah Air. Akan tetapi, hukuman keji yang dijatuhkan militer Jepang terhadap para pemberontak, benar-benar menyisakan luka dan rasa sakit bagi seluruh persendian bangsa. Dalam keadaan seperti itu, semua muka berpaling ke arah Sukarno.

Bagaimana sikap Sukarno? Ia bersaksi kepada penulis biografinya, Cindy Adams, bahwa dengan terpaksa ia membuang muka atas tatapan wajah bangsanya. Bung Karno sama sekali tidak punya kekuatan untuk mencegah. Bung Karno tidak bisa berbuat apa-apa atas tragedi Blitar.

Sekalipun begitu, Sukarno mengisahkan latar belakang pemberontakan PETA. Sedikit sekali orang yang mengetahui, bahwa Sukarno sendiri sejatinya terlibat dan tersangkut dengan peristiwa pemberontakan PETA di Blitar. Bisa jadi pihak Jepang sama sekali tidak menduga akan terjadinya pemberontakan yang mendadak itu. Tetapi bagi Sukarno, tidak. Bung Karno tahu semuanya. “Ingat, bukankah rumahku di Blitar? Orangtuaku tinggal di Blitar,” kata Bung Karno mengisahkan kisah mundur sebelum pemberontakan itu meletus.

Alkisah, ketika Sukarno pulang ke Blitar, datanglah beberapa perwira PETA menemuinya. “Kami sudah merencanakan pemberontakan, tetapi kami ingin tahu pendapat Bung Karno sendiri,” ujar Suprijadi, pimpinan perwira PETA yang menemui Bung Karno. Lama Bung Karno terdiam, sampai akhirnya Suprijadi menegaskan, “Kita akan berhasil!”

Bung Karno akhirnya melepas kata, “Pertimbangkanlah masak-masak. Pertimbangkan untung dan ruginya.” Masih dengan nada suara tertekan, karena hati kecilnya tidak setuju langkah Suprijadi dan kawan-kawan, Sukarno melanjutkan, “Saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan pemberontakan tidak hanya dari satu segi.”

“Saya menjamin.  Kita akan berhasil,” Suprijadi tak kendor semangat menimpali kata-kata Bung Karno.

“Saya berpendapat, Saudara-saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang,” Bung Karno tegas menyatakan pendapatnya. Usai bertutur kata, Sukarno menyapu pandang ke wajah-wajah pemuda penuh semangat. Wajah-wajah pemuda pemberani yang siap menyabung nyawa demi Indonesia merdeka. Bung Karno tahu seketika, tidak ada satu pun yang bisa menghalang-halangi maksud mereka. Karenanya, Bung Karno melanjutkan kata,” Kalau sekiranya Saudara-saudara gagal dalam usaha ini, hendaknya sudah siap memikul akibatnya. Jepang akan menembak mati saudara-saudara semua.”

“Apakah Bung Karno tidak bisa membela kami,” seorang pemuda menyela.

kliping koran supriyadi“Tidak. Saudara anggota tentara, bukan orang preman. Dalam hukum militer, hukumannya otomatis,” jawab Bung Karno seraya menambahkan, kalau sekiranya mereka tetap bertekad bulat hendak memberontak, Bung Karno tidak lagi melarang. Jika perlu, Bung Karno akan ikut membuat rancangan pemberontakan. Akan tetapi, Bung Karno juga harus tetap menjaga hubungan dengan pemerintahan Jepang di Jakarta, yang sedang intens digarap Sukarno dan para tokoh pergerakan lain seperti Hatta dan Sjahrir dalam rangka kemerdekaan Indonesia di masa transisi tahun 1945.

Begitulah yang terjadi. Pemberontakan PETA di Blitar pun pecah. Persis seperti diperhitungkan Bung Karno, mereka tak mampu melawan kekuatan militer Jepang. Yang tidak sama persis dalam perhitungan Bung Karno adalah cara eksekusi militer Jepang terhadap para pemberontak pimpinan Suprijadi itu. Bung Karno memperingatkan mereka akan ditembak kalau gagal. Dan dalam kenyataan, mereka digorok lehernya. (roso daras)

Published in: on 18 Juli 2009 at 08:38  Comments (10)  
Tags: , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 355 pengikut lainnya.