Kesaksian Im Yang Tjoe tentang Bung Karno

Siapa Im Yang Tjoe? Mungkin tidak begitu penting dalam sejarah nasional. Tapi ia menjadi penting dalam garis sejarah Sukarno. Penulis keturunan Tionghoa inilah yang membuat buku biografi pertama tentang Bung Karno thun 1933. Beberapa saat setelah Bung Karno dibebaskan dari Sukamiskin. Setahun sebelum Bung Karno dibuang ke Ende.

Saat itu, Im Yang Tjoe sudah “meramalkan” bahwa Bung Karno akan menjadi orang besar. Ia sudah lama melakukan observasi, penelitian, dan mengikuti rekam-jejak Sukarno. Bahkan untuk keperluan penulisan bukunya, ia menelusuri hingga ke Tulungagung, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan tentu saja Bandung. Karena itu pula, Im Yang Tjoe bisa mendiskripsikan dengan begitu jelas riwayat Sukarno sejak anaka-anak hingga mewujud menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan.

Pada bagian akhir bukunya, ia membuat kesaksian. Begini ia menulis, “Sedikit pernyataan, kenapa buku ini ditulis, tiada lain karena penulisnya bersimpati pada tabiat kesatria dan kemanusiaan yang ada pada diri Ir Sukarno itu.”

Lebih lanjut ia menuliskan, perikemanusiaan Sukarno begitu besar, dan dirasakan sampai sekarang. Sejak berumur 14 tahun, membunuh nyamuk saja ia tiada pernah, kendati nyamuk itu menggigit badannya. Sebab, ia menganggap nyamuk-nyamuk itu sudah diciptakan untuk hidupnya harus menghisap darah manusia, seperti halnya semut yang mesti memakan gula.

Karenanya, Sukarno berpikir, tidak harus lantaran cangkir kopinya dirubung semut, manusia harus menggunakan kekuatannya untuk membinasakan semut. “Yah… sebagai manusia, Sukarno pantas dihormati,” tulis Im Yang Tjoe.

Sementara, dirinya sendiri terus menolong orang-orang miskin, tidak peduli bangsa apa saja. Jangankan kepada bangsanya sendiri, bahkan kepada orang Belanda yang kenal dengannya ketika sama-sama di penjara, dan ketika keluar tidak punya penghasilan, datang kepada Sukarno yang dengan suka rela memberikan apa saja yang ia punya. Uang tiga picis dikasih satu rupiah, terkadang yang dua rupiah dikasih semua tanpa memikirkan apakah besok masak sayur atau hanya makan pakai garam.

Siapa yang mesti memperingatkan Sukarno akan tabiat yang terkadang menyulitkan dirinya sendiri itu? Tidak satu pun. Karena, Inggit istrinya, pun setali tiga uang. Karenanya, keduanya seakan bersaing dalam kebaikan. Tak jarang mereka main dulu-duluan menyebar milik mereka kepada siapa saja yang lebih membutuhkan. Padahal, kehidupan mereka sendiri tergolong tak seberapa mampu.

Tidak sedikit yang menganggap perbuatan keduanya sebagai bodoh atau konyol. Akan tetapi, tidak begitu sikap Sukarno dan Inggit. Bagi keduanya, ibarat memiliki sebuah gunung emas, girang dan senangnya tidak seberapa dibanding ketika keduanya bisa memberi harta yang paling akhir yang dimilikinya kepada sesama manusia yang sedang dalam kesusahan. (roso daras)

Published in: on 30 November 2010 at 17:18  Komentar (4)  
Tags: , , ,

Kisah Bung Karno Melamar Inggit

Ada begitu banyak bunga bermekaran di taman Kota Kembang, tapi hanya satu yang memikat hati Sukarno muda. Dialah Inggit Garnasih. Tidak soal ihwal rentang usia selusin antara keduanya. Tidak soal, bahwa tentang beda usia itu, Bung Karno terpaksa harus mengecilkan bilangannya saat pergi melamar Inggit.

Betapa tidak. Lamaran Bung Karno terhadap Inggit, tidak serta-merta diterima. Atas lamaran Bung Karno, ayahanda Inggit menjawab, “Wahai orang muda, kau adalah keturunan bangsawan, dan dirimu adalah seorang terpelajar. Di sini dan di mana-mana ada banyak gadis hartawan dan terpelajar yang siap untuk menjadi pasanganmu….”

Diam Sukarno.

“… Kami adalah keluarga miskin, anakku Inggit sudah janda; lagi pula tidak terpelajar, tidak sepadan untuk menjadi istrimu. Dan terus terang, saya khawatir, sebagaimana yang lazim terjadi, perjodohan yang demikian tidak akan panjang….”

Takzim Sukarno mendengarkan.

“…karena ada saja yang membuat kau malu. Ada saja yang akan membikin anakku sakit hati.”

Waktu bergulir… menguasai ruang dan waktu. Hanya diam dan sunyi untuk sementara waktu. Bung Karno harus segera menanggapi kata-kata calon mertuanya. Ia pun menarik napas panjang sebelum mengeluarkan tanggapan….

“Bapak, semua itu sudah saya ketahui lebih dulu, dan saya tambahkan bahwa saya pun sudah tahu bahwa Inggit lebih tua lima tahun dari saya….” (Lihatk bagaimana Sukarno mengecil-ngecilkan bilangan selisih usianya dengan Inggit, demi lebih meyakinkan calon mertuanya)… “Apakah niat saya kurang suci, walau sudah saya tahu keadaan semua itu, kemudian saya pikirkan dan akhirnya melamar dengan sadar?”

Ayah Inggit diam, mendengarkan si muda bicara.

“Bapak, karena itu saya datang melamar dengan harapan Bapak mempertimbangkannya.”

Ayah Inggit menatap tajam ke arah mata Sukarno ketika bicara. Dari sana ia menangkap ketulusan niat Sukarno. Dari sorot matanya Sukarno memancarkan keseriusannya. Maka… luluhlah hati calon mertua, dan akhirnya lamaran pun diterima.

Sementara kepada bapak-ibunya, Sukarno pun sudah menyampaikan niatnya melamar Inggit. Dan Soekeni, ayahanda Bung Karno dalam surat jawabannya menuliskan, “Ayah dan ibumu tidak merasa keberatan. Urusan itu terserah pada dirimu sendiri. Kami cuma mengharapkan, pengalamanmu yang sudah-sudah akan menjadi pelajaran bagimu.” (roso daras)

Published in: on 29 November 2010 at 23:32  Komentar (4)  
Tags: ,

Dari Sukarti, Poppy, lalu Kartika

Ini sepenggal kisah menarik antara Bung Karno dan dua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika. Penuturan ini disampaikan langsung oleh Omi, ketika Kartika berulang-tahun ke-83, beberapa tahun lalu.

Omi sendiri, ketika “diberi” adik angkat oleh kedua “orang-tua”nya, yakni Bung Karno dan Inggit Garnasih, merasa sangat senang. Terlebih sejak ia ikut dalam pembuangan Bung Karno di Ende, praktis tak ada lagi teman bermain.

Kehadiran adik angkat yang kemudian ia tahu bernama Sukarti itu, menjadi pelengkap kehidupan anak-anak Omi. Sebagai sesama anak angkat, sejatinya tidak ada sama sekali kemiripan antara Omi dan Sukarti. Demikian pula antara Omi, Kartika dengan orang tua angkata mereka, Bung Karno dan Inggit.

Akan tetapi, karena sehari-hari hidup dalam satu lingkungan keluarga, maka mereka menjadi sangat akrab. Inggit dengan sifat keibuannya. Bung Karno dengan karakter tegas dan disiplin. Nenek Amsi yang menjadi tempat mengadu bagi semuanya. Pendek kata, sebagai sebuah keluarga, mereka sangat harmonis.

Tiba pada suatu hari, Bung Karno marah demi mendengar Omi memanggil adiknya dengan sebutan Poppy. Ya, Sukarti kecil memang berkulit putih dan cantik. Karena itu banyak orang, tidak hanya Omi, yang memanggilnya Poppy. Tapi, Bung Karno tetap tidak suka. “Papi sangat membenci nama berbau asing,” kenang Omi.

Ia juga masih ingat ketika Bung Karno yang dipanggilnya papi itu berkata, “Itu tidak baik untuk nama seorang anak Indonesia. Kartika, ya Kartika nama yang cantik untukmu. Lain kali jangan mau dipanggil Poppy lagi, ya…,” begitulah Bung Karno mengganti nama Sukarti menjadi Kartika, sekaligus melarang semua orang, termasuk Omi, memanggilnya Poppy.

Di usianya yang sudah sangat sepuh, Omi menuturkan, betapa adiknya ini sangat manis, penurut, dan halus tutur-katanya. “Tidak pernah membantah. Selalu menurut, dan tidak suka bertengkar. Pokoknya adikku ini manis sekali. Aku sangat sayang padanya. Dan sampai kini kami saling merindukan,” tutur Omi, dalam kesan-kesan yang dituliskannya khusus menyambut ulang tahun Kartika ke-80, tiga tahun yang lalu. (roso daras)

Published in: on 25 November 2010 at 03:48  Komentar (2)  
Tags: , , , , ,

Hariyatie dan Inggit

Usia Hariyatie masih 23 tahun saat dinikahi Bung Karno yang sudah berusia 63 tahun. Sekalipun begitu, Bung Karno menghargai benar sikap dewasa Hariyatie. Termasuk kemampuan Hariyatie dalam membawakan diri di depan lingkungan Istana, bahkan dalam situasi-situasi sulit, terkait dengan posisi Bung Karno sebagai Presiden dengan istri lebih dari satu.

Dalam “kisah tersembunyi” Hariyatie Soekarno, ia mengisahkan sejumlah peristiwa yang ia sebut sebagai gesekan antarpara istri Bung Karno. Belum lagi resmi menjadi istri, ia pernah bergesekan dengan Hartini. Bahkan setelah bercerai dari Bung Karno, ia pernah pula bergesekan dengan Ratna Sari Dewi.

Namun, terhadap Inggit Garnasih, ia tidak pernah mengalami gesekan berarti. Sebaliknya, Hariyatie tergolong istri Bung Karno yang relatif paling rajin dan rutin mengunjungi Inggit di Jalan Ciateul, Bandung (sekarang Jalan Inggit Garnasih). Dalam bukunya, ia hampir setiap bulan atau sebulan sekali, menyempatkan diri mengunjungi Inggit dengan iring-iringan mobil dari Jakarta.

Salah satu alasan yang mendasari langkahnya menuju Bandung bertemu Inggit setiap bulan adalah karena ia begitu hormat, begitu respek terhadap Inggit. Bagi Hariyatie, Inggit adalah sosok wanita yang pantas dituakan. Inggit di mata Hariyatie adalah sosok perempuan pendamping Bung Karno yang setia. Inggit yang mengantar Bung Karno menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Pemahaman Hariyatie tumbuh dari pemahamannya sendiri, setelah mendengar Bung Karno menceritakan panjang lebar tentang peran Inggit pada masa-masa awal revolusi hingga pra kemerdekaan. Bahkan Bung Karno kepada Hariyatie pernah berujar, sangat sulit mencari sosok istri yang lebih berbakti daripada Inggit. Sekitar dua puluh tahun hidup bersama Inggit, Bung Karno merasakan benar bakti Inggit kepadanya.

Sekalipun Ibu Inggit bukan tergolong perempuan berpendidikan tinggi, tetapi Bung Karno mengakui dedikasi dan pengabdian Inggit selama menjadi pendampingnya. Itu pula yang membuat Hariyatie begitu mengagumi Inggit. Kedatangannya sebulan sekali ke Bandung, menemui Inggit, tentu juga dalam rangka belajar bagaimana mengabdi yang baik kepada suami. Kepada Bung Karno. (roso daras)

Pengantar Bung Karno ke Gerbang Kemerdekaan

Inggit Garnasih… bukan Inggit Ganarsih. Itu dulu yang pertama harus diketahui. Dia adalah istri kedua Bung Karno, bukan istri pertama Bung Karno. Itu hal lain yang juga penting diketahui.

Mojang Priangan ini sama sekali tidak bisa dihapus dari hidup dan kehidupan Bung Karno. Seperti halnya Bung Karno, maka Inggit pun memiliki banyak sekali sudut pandang. Dari sisi pergerakan, wanita yang selusin lebih tua usianya dari Bung Karno ini, sangat fantastis. Ia tidak saja rela mengeluarkan hartanya buat pergerakan, tetapi ia juga rela berjualan jamu yang hasilnya disumbangkan bagi pergerakan. Bahkan, Inggit dengan lihainya menyelundupkan sandi-sandi intelijen melalui telur, Alquran, dll saat Bung Karno mendekam di penjara.

Lain lagi kalau berbicara roman percintaan mereka. Saat itu, Bung Karno adalah anak kos dan Inggit adalah ibu kosnya di Bandung. Gejolak darah muda Sukarno, berpadu dengan ibu kos yang kesepian, mengalirkan getar cinta. Klimaksnya berujung pada langkah Sukarno “mengembalikan” Utari, putri HOS Cokroaminoto yang dinikahinya secara “nikah gantung”. Di sisi lain, Inggit mengajukan permintaan cerai dari suaminya yang dikenal lebih gemar beraktivitas di luar rumah daripada diam di rumah.

Pernikahan Sukarno – Inggit di era perjuangan, sejatinya sangat penuh romantika dan dinamika. Hanya ada satu Inggit Garnasih di atas bumi ini. Dan satu-satunya Inggit itulah yang paling pas mendampingi Sukarno muda. Ia tahan gempuran gosip, gempuran cemooh, bahkan pelecehan polisi Belanda demi mengetahui dirinya adalah istri musuh nomor satu pemerintah Hindia Belanda, bernama Sukarno.

Inggit juga tabah mendampingi Sukarno hidup di pengasingan, baik selama di Ende maupun Bengkulu. Selama mendampingi Sukarno, Inggit menjadi tulang punggung bagi jiwa Sukarno yang berkobar-kobar, jiwa Sukarno yang frustrasi, jiwa Sukarno yang melo, jiwa Sukarno yang gandrung kemerdekaan bagi bangsanya.

Sejarah kemudian mencatat, di Bengkulu, hati Sukarno tertambat pada gadis belia bernama Fatmawati. Itu adalah tahun-tahun 1940-an, menjelang akhir pendudukan Belanda, dan dimulainya pendudukan Jepang. Di tengah himpitan persoalan kebangsaan, Bung Karno juga dihimpit pertengkaran dengan Inggit yang mulai mencium adanya gelagat suaminya mencintai Fatma.

Pertengkaran demi pertengkaran itu bahkan dibawa sampai ke Jakarta tahun 1943. Bahkan Bung Karno pernah bercerita, saat suatu malam pulang larut begitu pulang disambut dingin Inggit, dan berlanjut ke pertengkaran. Dikisahkan, jika sudah marah karena dibakar cemburu, Inggit bisa menerbangkan barang-barang apa saja yang ada di dekatnya, khususnya barang-barang yang sering kita liat di atas meja makan. Terbayanglah suara piring terbang dan benda-benda terbang lainnya….

Dan… manakala keduanya menyepakati perpisahan, Bung Karno masih sempat mengantarnya ke dokter gigi pagi hari, dan mengantarnya ke Bandung dan membawakan barang-barang Inggit tanpa kecuali. Itulah akhir perpisahan keduanya. Setelah itu, tak lama berselang, Bung Karno melamar dan melangsungkan pernikahan “telegram” dengan Fatmawati, beberapa saat menjelang Indonesia merdeka.

Inggit Garnasih, adalah pengantar Bung Karno ke gerbang kemerdekaan. Inggit memiliki panggilan kesayangan buat Bung Karno, “Engkus”…. Dan panggilan itu ia ucapkan untuk terakhir kalinya, saat menatap jazad Bung Karno di Wisma Yaso. (roso daras)

Published in: on 17 Februari 2010 at 05:47  Komentar (2)  
Tags: , , ,

Bung Karno sebagai “Tukang Insinyur”

rumah karya bung karno

Kuliah teknik sipil di THS Bandung (sekarang ITB) adalah sisi kehidupan lain seorang Sukarno muda. Tokoh pergerakan, adalah peran lain yang dimainkannya. Nah, dalam mendayung sampan perjuangan di sungai berbatu cadas, terkadang ia meliuk ke kiri, meliuk ke kanan… terkadang ia menabrak pula bebatuan keras yang membuatnya limbung.

Di lingkungan kampus, Sukarno pun sempat aktif di organisasi kemahasiswaan, semacam studie club. Akan tetapi, manakala klub mahasiswa yang sebagian besar berisi mahasiswa bule itu lebih banyak menjalankan program pesiar dan plesiran, Bung Karno pun menyempal dan mendirikan kelompok studi lain. Langkah dia, segera diikuti mahasiswa-mahasiswa pribumi, pengikut setianya.

Bertahun-tahun setelah ia mendayung kedua peran sebagai mahasiswa dan tokoh pergerakan, tentu saja Sukarno mengalami banyak kejadian. Ia ditangkap polisi Belanda untuk pertama kali tahun 1922, pun dalam status sebagai seorang mahasiswa. Ia pernah digrebek di rumahnya bersama sejumlah akivis lain, juga masih dalam status sebagai mahasiswa.

Bahkan, ketika hantaman datang bertubi-tubi, mulai dari peristiwa penangkapan, disusul ditangkapnya guru sekaligus mertua, H.O.S. Cokroaminoto, dan banyak kejadian lain, sempat memunculkan awan pekat di ujung sungai sana. Ia nyaris berhenti mendayung. Ya… nyaris berhenti kuliah. Berhenti meneruskan cita-cita pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Akan tetapi, ingatkah Anda? Seorang anak yang lahir di saat sang fajar menyingsing, takdirnya telah ditentukan. Ingatkah pula Anda? Sang ibunda, yang mengandung dan melahirkannya, Ida Ayu Nyoman Rai, mendekap tubuh kecil Sukarno di beranda depan, saat matahari mengintip di ufuk sana, seraya menujum masa depan putranya yang gilang-gemilang. Menerawang masa depan putra tersayang yang bakal menyandang takdirnya menjadi pembebas belenggu penjajah yang melilit bangsanya.

Awan pekat pun tersibak. Cokroaminoto bebas, Sukarno kembali ke bangku kuliah. Dan… aktivitas pergerakan kembali menjadi rutinitas hidupnya. Ia melanjutkan kuliah dengan gelora semangat baru. Mungkin saja karena ia baru saja melewati satu tanggung jawab besar sebagai kepala rumah tangga, atau mungkin juga karena ia kembali ke kota Bandung, ke rumah kos dengan Inggit Garnasih di dalamnya.

Kuliah berhasil diselesaikan. Nilai kelulusan? Ah… mana terjadi mahasiswa pribumi melampaui nilai-nilai mahasiswa bule. Pribumi harus di bawah bangsa bule. Sepintar apa pun dia. Sukarno tahu betul hal itu. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu sejak masa sekolah ELS di Mojokerto, HBS di Surabaya.

Bung Karno sendiri tidak terlalu memedulikan masalah itu. Ia lebih peduli politik. Ia lebih peduli menyusun kekuatan pergerakan melawan penjajah. Ia lebih peduli mewujudkan Indonesia yang merdeka. Indonesia yang tidak lagi membungkuk-bungkuk di hadapan bule. Indonesia yang tidak bisa begitu saja diludahi bangsa penindas.

Hanya orang dengan kepedulian seperti itu saja, yang rela hidup miskin, sekalipun tawaran menjadi pejabat dan pegawai di pemerintahan Hindia Belanda terbuka lebar, apalagi bagi seorang sarjana teknik, “tukang insinyur” cerdas seperti Sukarno. Ia lebih suka menerbitkan koran, memungut uang langganan, uang iklan, dan mendapatkan sedikit uang untuk dana perjuangan. Dengan media ia bisa berpropaganda. Dengan uang yang dihasilkan, ia bisa mendanai hidup dan perjuangannya.

Memang, Bung Karno sempat pula mencari nafkah dengan menjual keahliannya sebagai seorang insinyur. Ia mendirikan biro teknik, biro arsitek, tetapi tidak berhasil. Ada banyak faktor, tetapi yang pasti, ia gagal. Kemudian selepas dari penjara Sukamiskin, sekira tahun 1932, ia bergabung dengan Ir. Rooseno dan kembali mendirikan biro arsitek.

Biro arsitek yang didirikannya, lagi-lagi tidak sukses. Orang-orang lebih menyukai arsitek ala Tionghoa atau Belanda. Alhasil, tidak jarang untuk bayar sewa kantor yang 20 rupiah, telepon yang 7,5 rupiah, biro ini harus menombok. Bung Karno menomboki usaha yang merugi? Bukan. Rooseno-lah yang nombok. Sebab, Rooseno berpenghasilan lebih besar lagi sebagai pengajar. Kantong Rooseno jauh lebih tebal dibanding seluruh kantong Sukarno.

Sukarno? Ah… dia pura-pura tidak tahu hal itu. Yang pasti, tiap bulan ia datang ke kantor, menemui Rooseno, dan langsung bertanya, “Berapa kau berutang kepadaku?”

Rooseno hapal betul nada itu. Sebuah sikap “memahami” yang sangat dalam. Rooseno tahu, bahwa Sukarno tahu usahanya tidak jalan, atau katakan saja jalan merayap. Di sisi lain, Rooseno tahu juga, Sukarno sangat memerlukan uang untuk menafkahi keluarga dan ongkos perjuangan. Pemahaman seperti itulah yang membuat Rooseno menjawab pertanyaan Bung Karno dengan jawaban, “Bagian Bung 15 rupiah….”

Bayangkan! “Bagian” dari mana? Sedangkan untuk menutup sewa kantor dan bayar telepon saja tidak cukup. Jadi, laiknya dua sahabat dalam tingkat kesepahaman yang tinggi, maka Sukarno pun menjawab, “Baik. Terima kasih.” Tak ada pertanyaan lagi setelah itu.

Sejatinya, dalam hal perpaduan ilmu, Rooseno dan Sukarno memang klop. Dalam menjalankan roda usaha biro arsitek tadi, Rooseno yang banyak berperan sebagai insinyur-kalkulator. Mengerjakan soal-soal detail, membuat perhitungan dan kalkulasi, serta mengerjakan ilmu pasti yang sangat sukar itu.

Sukarno sendiri, sebagai seorang arsitek seniman, bertindak sebagai pengatur bentuk-bentuk yang unik dari rancang bangun sebuah gedung atau rumah. Akan tetapi… tentu saja tidak banyak yang diatur, karena biro arsitek mereka memang sepi order. Tetapi dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno cukup membanggakan karyanya sebagai “tukang insinyur”. “Ada beberapa buah rumah yang kurencanakan sendiri, dan sekarang masih berdiri di Bandung. Rencanaku boleh jugalah. (Meski) tidak begitu ekonomis, tetapi indah….” (roso daras)

Published in: on 21 Agustus 2009 at 01:49  Komentar (1)  
Tags: , , ,

Awak Kapal Ajak Bung Karno Kabur

Dari Jawa ke Ende

Pulau Bunga, Flores, pulau cantik yang dijadikan tempat pembuangan Bung Karno. Enam tahun hidup dalam pengasingan, cukuplah bagi Sukarno untuk menyelami kehidupan rakyat Ende, pantai indah dan para nelayan yang ramah, kehidupan pelabuhan yang pikuk saat kapal berlabuh, serta masyarakatnya yang ramah sedikit tertutup.

Di sini, Bung Karno hidup bersama Inggit Garnasih sang istri, Ibu Amsi sang mertua, dan Ratna Djuami sang anak angkat yang biasa dipanggil Omi. Tak berapa lama kemudian, barulah bergabung empat orang pembantu, satu di antaranya Riwu Ga yang mengikuti Bung Karno hingga ke era pembuangan di Bengkulu sampai Indonesia merdeka.

Selama dalam masa pembuangan, Bung Karno telah menjelma menjadi “penyelundup” ulung. Ia menjalin komunikasi penuh sandi dengan para awak kapal. Terlebih, kapal-kapal lintas pulau, umumnya diawaki para ABK pribumi, yang semuanya menaruh hormat kepada Sang Tokoh Pergerakan, Sang Musuh Penjajah. Ada kalanya, Bung Karno sendiri yang berdesak-desakan di pelabuhan. Ada kalanya cukup lewat orang suruhan. Dengan bahasa-bahasa tertentu, komunikasi berjalan lancar.

Alhasil, semua kebutuhan Bung Karno terpenuhi dengan mudah. Sampailah suatu ketika, saat Bung Karno sedang menanti paket pesanan rahasia di pelabuhan, tiba-tiba turun seorang awak kapal berbadan tinggi besar, berkulit gelap. Ia menyeruak kerumunan orang dan mendekati Bung Karno. Setelah tiba di hadapan Bung Karno, ia sedikit membungkuk dan berkata bisik, “Bung, katakanlah kepada kami, kami akan menyelundupkan Bung Karno. Saya jamin aman, tidak akan ada orang yang tahu.”

“Terima kasih, saudara. Lebih baik jangan,” kata Bung Karno sambil menatap awak kapal tadi penuh rasa terima kasih. “Terkadang memang terbuka jalan seperti yang saudara katakan itu. Dan sering juga datang pikiran menggoda untuk lari secara diam-diam dan kembali bekerja untuk rakyat kita.”

Si awak kapal menyambar, “Kalau begitu, kenapa tidak dicoba saja, Bung?! Kami akan sembunyikan Bung Karno dan membawa Bung ke tempat kawan-kawan.”

Bung Karno menjawab tenang, “Kalau saya lari, ini hanya saya lakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Begitu saya mulai bekerja, saya akan ditangkap lagi dan dibuang lagi. Jadi, tidak ada gunanya.”

Awak kapal bertanya lagi, “Apakah Bung Karno tidak bisa bekerja secara rahasia?”

“Itu bukan caranya Bung Karno.”

“Sekiranya di suatu saat berubah pendirian Bung Karno, tak usah ragu, sampaikan kepada kami.”

Bung Karno merangkul awak kapal tadi, dan tanpa ragu mencium kedua pipinya. “Terima kasih. Di suatu masa, kita semua akan merdeka. Begitupun saya.” (roso daras)

Published in: on 29 Juli 2009 at 05:03  Komentar (15)  
Tags: , , , ,

Ekspresi Duka Inggit, Fatma, Hartini, dan Dewi

inggitMasih seputar suasana kelabu di hari-hari wafatnya Sukarno, Sang Proklamator. Ini tentang bagaimana para istri dan mantan istri presiden yang gallant itu bereaksi, bersikap, dan bertutur ihwal kepergian lelaki yang begitu dipuja. Ternyata, sekalipun memiliki perasaan yang sama dalam hal cinta, tetapi berbeda-beda ekspresi mereka menerima kematian mantan suami atau suami mereka.

Inggit Garnasih, istri kedua Sukarno yang dinikahi tahun 1923, adalah wanita yang dengan setia mengikuti dan mendukung perjuangan Sukarno sejak usia 21 tahun. Ia bahkan turut serta dalam setiap pengasingan Bung Karno, mulai dari Ende sampai Bengkulu. Ia lahir tahun 1888, lebih tua 12 tahun dari Bung Karno. Itu artinya, saat “nKus” panggilan kesayangan Inggit kepada Bung Karno, wafat, usia Inggit 82 tahun.

Nah, di usia yang sepuh, dan dalam kondisi sakit… ia menerima berita duka pada hari Minggu, 21 Juni 1970.  Ia tergopoh-gopoh berangkat dari Bandung menuju Jakarta, ditemani putri angkatnya, Ratna Juami. Dalam batin, ia harus memberi penghormatan kepada mantan suami yang telah ia antar ke pintu gerbang kemerdekaan.

Setiba di Wisma Yaso, di tengah lautan massa yang berjubel, berbaris, antre hendak memberi penghormatan terakhir, Inggit –tentu saja– mendapat keistimewaan untuk segera diantar mendekat ke peti jenazah. Di dekat tubuh tak bernyawa di hadapannya, Inggit berucap, “Ngkus, geuning Ngkus tehmiheulan, ku Inggit di doakeun…” (Ngkus, kiranya Ngkus mendahului, Inggit doakan….). Sampai di situ, suaranya terputus, kerongkongan terasa tersumbat. Badannya yang sudah renta dan lemah, terhuyung diguncang perasaan sedih. Sontak, Ibu Wardoyo, kakak kandung Bung Karno (nama aslinya Sukarmini) memapah tubuh tua Inggit.

BUNG KARNO - FatmawatiLain lagi Fatmawati, istri ketiga Bung Karno yang pergi meninggalkan Istana setelah Bung Karno menikahi Hartini. Ia adalah sosok perempuan yang teguh pendirian. Ia sudah bertekad tidak akan datang ke Wisma Yaso. Karenanya, begitu mengetahui ayah dari lima putra-putrinya telah meninggal, ia segera memohon kepada Presiden Soeharto agar jenazah suaminya disemayamkan di rumahnya di Jl. Sriwijaya, Kebayoran Baru, meski sebentar. Sayang, Soeharto menolak permintaan Fatmawati.

Hati Fatma benar-benar galau. Antara jerit hati ingin melihat wajah suami untuk terakhir kali, dengan keteguhan prinsip. Bahkan, putra-putrinya pun tidak ada yang bisa mempengaruhi keputusan Fatma untuk tetap tinggal di rumah. Meski, atas kesepakatan semua pihak, peti jenazah tidak ditutup hingga batas akhir jam 24.00, dengan harapan, Fatma datang pada detik-detik terakhir. Apa hendak dikata, Fatma tak juga tampak muka.

Pengganti kehadiran Fatma, adalah sebuah karangan bunga dari  si empunya nama. Dengan kalimat pendek dan puitis, Fatma menuliskan pesan, “Tjintamu yang menjiwai hati rakyat, tjinta Fat”… Sungguh mendebarkan kalimat itu, bagi siapa pun yang membacanya.

hartini sukarnoBagaimana pula dengan Hartini? Ah… melihat Hartini, hanya duka dan duka sepanjang hari. Wajah cantik keibuan, mengguratkan kelembutan. Sinar matanya penuh kasih sayang… Ia tak henti menangis. Hartini, salah satu istri yang begitu dicintai Sukarno, sehingga dalam testamennya, Sukarno menghendaki agar jika mati, Hartini dimakamkan di dekat makamnya. Ia ingin selalu dekat Hartini, wanita lembut keibuan yang dinikahinya Januari 1952.

Kebetulan, Hartini pula yang paling intens merawat dan menemani Bung Karno hingga akhir hayatnya. Sampai-sampai, Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang kebetulan juga paling intens menemani bapaknya di hari-hari akhir kehidupannya, memuji Hartini sebagai istri yang sangat setia dan baik hati. Rachma yang semula berperasaan tidak menyukai Hartini –dan ini wajar saja– menjadi dekat dan akrab dengan Hartini.

Semula, Rachma hanya berpura-pura baik dengan Hartini di depan bapaknya. Sebab, Rachma tahu betul, bapaknya begitu senang jika ada Hartini di dekatnya. Bapaknya begitu mencintai Hartini. Dan… dengan kesabaran, ketelatenan, dan perhatian tulus Hartini kepada Bung Karno di hari-hari akhir hidupnya, sontak membuka mata hati Rachma tentang sosok Hartini. Sejak itulah tumbuh keakraban dan kecintaan Rachma kepada Ibu Hartini.

dewiLain Inggit, beda Fatma, dan tak sama pula sikap Hartini… adalah ekspresi imported wife, si jelita Ratna Sari Dewi, wanita Jepang benama asli Naoko Nemoto. Wanita kelahiran tahun 1940 yang dinikahi Bung Karno 3 Maret 1962 itu memang dikenal lugas. Ia datang ke Jakarta bersama Kartika Sari (4 th) pada tanggal 20 Juni 1970 pukul 20.20 malam. Mengetahui suaminya lunglai tak berdaya, dirawat dalam penjagaan ketat tak manusiawi.

Hati Dewi teriris, terlebih bila mengingat anaknya sama sekali belum pernah berjumpa dengan ayahnya. Dalam catatan, Dewi pernah berkunjung ke Wisma Yaso saat hamil, tapi tentara melarangnya masuk.  Dewi marah, karena kesulitan yang dialaminya. Ia, sebagai istri sah Sukarno, tidak bisa leluasa menengok apalagi menemani hari-hari Sukarno yang sedang bergulat dengan maut.

Latar belakang budaya yang berbeda, membuat Dewi kelihatan sangat vokal pada zamannya.  Ia pernah marah besar kepada Soeharto dengan melontarkan ucapan pedas melalui surat terbuka tanggal 16 April 1970. Begini sebagian isi surat itu:

“Tuan Soeharto, Bung Karno itu saya tahu benar-benar sangat mencintai Indonesi dan rakyatnya. Sebagai bukti bahwa meskipun ada lawannya yang berkali-kali menteror beliau, beliau pun masih mau meberikan pengampunan kalau yang bersangkutan itu mau mengakui kesalahannya. Dibanding dengan Bung Karno, maka ternyata di balik senyuman Tuan itu, Tuan mempunyai hati yang kejam. Tuan telah membiarkan rakyat, yaitu orang-orang PKI dibantai. Kalau saya boleh bertanya, ‘Apakah Tuan tidak mampu dan tidak mungkin mencegahnya dan melindungi mereka agar tidak terjadi pertumpahan darah?”

Bukan hanya itu. Penampilan Dewi yang masih tampak begitu cantik di suasana duka, seperti menjadi icon. Terlebih dengan keterbukaan sikapnya. Seperti saat dengan penuh emosi ia melabrak Harjatie, istri Bung Karno yang telah diceraikan itu, sebagai seorang istri yang menyia-nyiakan Bung Karno, menuduh Harjatie meninggalkan Sukarno di masa-masa sulit. Harjatie pun menangis, dan bergerak meninggalkan tempat itu.

Begitulah, empat dari (setidaknya) delapan wanita yang pernah diperistri Bung Karno. Sama dalam mencinta, beda dalam mengekspresikan duka. (roso daras)

Published in: on 21 Juni 2009 at 18:01  Komentar (9)  
Tags: , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.