Treatment Film Bung Karno

Sekadar mengingatkan saja, proses pembuatan film Bung Karno terus berjalan. Hingga posting ini di-upload, penulis skenario (ehemm…) sudah merampungkan step kedua: Treatment, setelah langkah pertama, sinopsis selesai dan disetujui. Percayakah Anda? Adalah sangat sulit ketika harus memulai proses penulisan treatment tersebut.

Satu demi satu adegan coba dituang… dan harus saya hapus lagi ketika membaca ulang, dan terlintas ide yang lain. Mengulang lagi dari awal… dan saya hapus lagi manakala muncul gagasan yang lain lagi…. Begitu silih berganti, hingga nyaris frustrasi. Fokus!!! Itu intinya. Revized possibilities, harus pula dicamkan. Ah, kalau begitu, mengapa harus repot?

Berkatalah saya kepada “ide”… silakan datang memenuhi batok kepalaku… (bertubi-tubi bila perlu) niscaya akan saya catat sebagai “alternatif”.  Sementara itu, biarkan saya mengalirkan imajinasi runtutan cerita.

Sekalipun begitu, saya sadar, proses ini harus terus saya komunikasikan dengan pihak PH. Maka, ketika sepertiga treatment selesai, saya pun mendatangi PH dan mendiskusikannya dengan person in charge. “Haahh… baru sampai sini, sudah setebal ini?! Kepanjangan mas!”

Lega saya. Memenggal jauh lebih mudah daripada menambah, bukan? Saya pun meminta satu kondisi, biarkan saya menuangkan semua, jangan dibatasi halaman. Jika harus 100 lembar, ya 100 lembar yang akan saya tulis. Jika harus 1.000 lembar, maka terjadilah. Setelah itu, baru direvisi bersama.

Nah, lepas dari istilah teknis Int (interior), Ext (eksterior) dan nama-nama pemain yang terlibat dalam peristiwa demi peristiwa…, inilah sepenggal treatment itu:

1.

Suasana dibuka dengan bumi yang bergoncang (gempa). Pagi masih buta. Sebagian rakyat terbangun bukan karena kokok ayam jantan, tetapi karena bumi yang bergerak-gerak… “Ana lindu… ana lindu,” teriak sebagian rakyat, panik.

Gambaran kepanikan meliputi segenap rakyat di desa-desa, hingga ke rumah-rumah gedong para meneer Belanda.

Sementara itu….

Di waktu bersamaan, di sebuah rumah, tokoh Soekeni gelisah, menunggui istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai (Idayu) yang hamil tua, dan sudah saatnya melahirkan. Ia pun menjadi lebih panik demi merasakan adanya gempa bumi.

Jam menunjukkan pukul 05.30, dan kalender menunjukkan tanggal 6 Juni 1901.

2.

Gunung Kelud meletus… menumpahkan lahar, menyemburkan awan panas.

Bersamaan dengan letusan gunung kelud, lahirlah si jabang bayi dari rahim Idayu. Sebuah kelahiran yang bukan dibantu dokter, bidan, atau dukun beranak, melainkan oleh kakek-kakek, yang tak lain adalah kakek si jabang bayi dari kerabat sang bapak.

Segala suara gemuruh letusan gunung, kepanikan ayam jantan, kegaduhan masyarakat…. Langsung sirep oleh “gelegar” tangis sang jabang bayi. Tangis bayi yang kemudian diberi nama Koesno itu, menenggelamkan semua kegaduhan alam.

DISSOLVE

3.

Di dalam kamar, Koesno kecil nan kurus bangun dari tidur. Mengucek-ucek matanya, dan mencari sang ibu, yang sudah tidak ada di sisinya. Ia turun dari dipan dan berjalan ke depan, mencari sang ibu. Demi melihat sang ibu tengah duduk di beranda depan menghadap ke timur, Koesno segera menghampiri dan memanggil, “Buuu….”

Sang ibu segera menoleh, dan merengkuh serta memeluknya di pangkuan. Sejurus kemudian, sang surya merekah, sang ibu pun mengingatkan kepada Koesno, sebagai seorang anak yang dilahirkan saat fajar menyingsing. “Engkau putra dari sang fajar, nak…. Jangan sekali-kali lupakan itu.”

DISSOLVE

4.

Di tanah lapang, Koesno kecil tengah bermain bersama teman-temannya. Ia tampak paling unggul. Memanjat pohon paling tinggi… balap lari menjadi yang terdepan… Paling jago memburu belalang, menangkap capung, bahkan berenang di kali, hingga naik kerbau.

Dari kecil, ia sudah menunjukkan keunggulannya dibanding teman-teman sebaya, bahkan di antara teman yang lebih besar sekalipun. Koesno selalu dan selalu mau unggul dibanding yang lain. Bahkan, setiap perintah dan ucapannya, selalu dituruti oleh teman-temannya… (roso daras)

Published in: on 25 Desember 2010 at 10:23  Komentar (9)  
Tags: , , ,

Peter A. Rohi dan Dua Bukunya

Belum lima menit meninggalkan komplek pemakaman Bung Karno di Blitar, beberapa hari lalu, telepon bergetar… Peter A. Rohi di ujung telepon sana. Nama Peter Rohi sudah beberapa kali muncul dalam blog ini. Semua tulisan tentang pembantu sekaligus pengawal Bung Karno yang bernama Riwu Ga, selalu mengait ke sebuah nama: Peter Rohi. Sebab, dialah wartawan senior yang berhasil melacak jejak Riwu dan menampilkannya di suratkabar tempatnya bekerja.

Peter berkata,  “Ada dua buku yang saya mau berikan ke mas Roso…. Jangan sekali-kali menulis skenario film Bung Karno sebelum baca kedua buku ini,” ujar Peter. Alhamdulillah…. Tuhan begitu lugas…. Dia menjawab tuntas doaku. Segera kami bikin janji temu keesokan harinya.

Selepas makan siang… Peter, mantan marinir, jurnalis senior, seniman, sekaligus sastrawan ini tampak memasuki halaman hotel. Rambutnya masih gondrong diikat. Ia mencangklong ransel…. “Harta karunku datang,” gumamku menyambut Peter.

Berbicaralah kami ngalor-ngidul seputar Bung Karno, seputar Soekarno Institut yang dia kelola, seputar ini dan itu…. sangat mengasyikkan. Tibalah gilirannya membuka ransel dan mengeluarkan dua buku yang ia janjikan…. Yang satu berjudul “Soekarno sebagai Manoesia” tulisan Im Yang Tjoe.

Nah, jika Anda membaca buku “Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories ke-1″, pada pengantar buku oleh Cornelis Lay, tentu ingat. Dalam salah satu bagian, Cornelis menyebutkan tentang buku biografi pertama Bung Karno yang ditulis oleh penulis Tionghoa tahun 30-an, dan diterbitkan di Solo. Buku itu mengupas masa kecil Bung Karno. Meski ditulis tahun 1933, tetapi sang penulis sudah meramalkan dalam bukunya, bahwa Sukarno akan menjadi orang besar.

Inilah buku yang dimaksud. Rupanya, Peter A. Rohi sempat menulis ulang buku itu. Luar biasa… tidak henti-henti saya mengucap kata “luar biasa”… dengan senangnya.

Sedangkan buku kedua berjudul  ”Ayah Bunda Bung Karno”, tulisan Nuriswa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Inilah buku yang paling lengkap dan akurat yang menguak biogradi R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, orangtua Bung Karno. Ditulis oleh seorang peneliti, melalui sebuah riset yang panjang dan mendalam.

Berbekal kedua buku itulah (dan tentu saja literatur yang lain), saya kemudian memulai pekerjaan penulisan skenario film Bung Karno. Saat ini, baru pada tahap penyusunan treatment.  Saya begitu bersemangat! (roso daras)

Published in: on 15 November 2010 at 07:41  Komentar (10)  
Tags: , ,

Bung! Aku Datang…

Jika Tuhan berkenan mengabulkan, maka tanggal 11 November mendatang, aku akan bersimpuh di pusaramu, Bung! Ya, aku akan ke Blitar, memasuki pendopomu dengan takzim, dan mengusap pusaramu dengan cinta. Aku tidak menjanjikan banyak, kecuali sebait ayat suci yang coba aku jadikan oleh-oleh buat Bung. Meski tidak akan menjadi sinar penerang di alammu, setidaknya ia akan berkerlip, laksana kunang-kunang di bawah siraman purnama dan bintang-gemintang.

Aku datang dengan pamrih Bung. Maafkan. Sebuah pamrih yang biasa saja. Karena itu, kukira kau tidak akan berkeberatan. Sebab, pamrihku sesungguhnya pamrihmu juga. Ya, ini adalah sebuah tarikan sejarah, yang kemudian mempertemukan kita pada satu garis sejajar. Engkau di garis yang satu, aku di garis yang samar, menempel ketat garismu, garis hidupmu.

Begini Bung… Rabu malam minggu lalu, seseorang yang kukira cukup sukses dalam karier duniawinya… berbaik hati mengemukakan tekadnya untuk mengangkat kehidupan Bung ke layar perak. Sejauh yang saya tangkap, tidak ada pamrih yang Bung tidak suka, di balik niatnya memfilmkan Bung. Di atas landasan idealisme, barulah ia letakkan landasan bisnis. Ahhh… itu wajar saja.

Bisnis adalah konsekuensi dari sebuah perdagangan bernama film. Artinya, ketika seseorang membuat film tentang Bung dengan biaya yang tidak sedikit, tidak salah kalau kemudian (sebagai pengusaha), ia pun berharap uangnya kembali berikut “teman-teman”nya. Bung tentu tahu, mengalirnya rupiah ke kocek si pengusaha tadi, harus kita lihat bahwa film tentang Bung memang diminati. Vulgarnya begini, film tentang Bung itu laris-manis.

Orang Indonesia, siapa pun dia, tentu berkeinginan menyaksikan kisah proklamatornya. Melihat gambaran tentang bapak bangsanya. Bahkan kepada pihak produser, sudah saya sampaikan pula gagasan “menjual” film tentang Bung ke manca negara. Bung tentu ingat, betapa Bung begitu dielu-elukan sebagai Pahlawan Asia, Pahlawan Islam, Pahlawan Negara Berkembang…. Bung adalah inspirasi bangsa-bangsa.

Back to the topic…. Rabu malam itu pula, ia bertitah, “Dengan ini saya menunjuk Sdr. Roso Daras untuk memimpin pekerjaan penulisan dan ide cerita film Bung Karno.” Asal Bung tahu, demi mendapat penunjukan itu, spontan saya mengucap, “Innalilahi wa’inna illaihi raji’un… kemudian baru alhamdulillah”. Bukankah benar begitu Bung? Saya harus merespon tugas ini dengan sikap dasar, ini adalah sesuatu yang datang atas kehendak Allah SWT, karenanya harus saya kembalikan kepadaNya.

Selesai urusan bersyukur dan mohon petunjuk Allah SWT. Engkau berada di giliran berikutnya Bung. Saya orang Jawa, senang ke kuburan, menyenangi berziarah. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik. Ketika aku bersimpuh di makam rama-biyung dan mengiriminya doa… rasanya kok lebih khusuk. Ketika saya hendak “berdialog” denganmu Bung, rasanya kok lebih enak jika itu saya lakukan sambil duduk bersila di samping pusaramu.

Untuk itu Bung, aku datang. (roso daras)

Published in: on 8 November 2010 at 07:17  Komentar (24)  
Tags: , ,

Film tentang Bung Karno

Bukan satu dua… sebut saja banyak… komentator blog ini yang berandai-andai, “seandainya kisah Bung Karno diangkat ke layar perak”…. “seandainya ada film tentang Bung Karno”…. Sejatinya, harapan itu bukan harapan kosong. Sejumlah sineas pernah membuat film tentang Putra Sang Fajar. Hanya saja, entah karena alalasan politik atau alasan lain, belum ada satu pun produser film yang berani mengangkat film tentang Bung Karno secara utuh.

Karenanya, film tentang Bung Karno hanya bersifat tempelan. Ada film tentang G-30-S yang menampilkan Bung Karno dalam sudut pandang pemerintahan Orde Baru. Ada film dokumenter tentang Bung Karno yang mandeg di laci produser. Ada film TV tentang kisah cinta Bung Karno dan Fatmawati. Alhasil, belum ada satu pun film tentang Bung Karno secara utuh. Sebuah film yang memotret sang proklamator secara utuh, sejak kelahiran hingga wafatnya.

Kini, kita boleh berharap tentang hadirnya film tersebut. Sebuah PH di bilangan Kebayoran Baru, tengah mempersiapkan produksi film Bung Karno. Itu tentu sebuah kabar gembira bagi kita semua anak bangsa. Buat saya? Lebih menggembirakan lagi. Pasalnya, saya ternyata terpilih sebagai salah satu calon penulis skenario film itu!!!

Rasa bahagia yang membuncah inilah yang hendak saya bagi ke pengunjung blog setia. Atas permintaan PH tersebut, saya sudah menyusun sebuah sinopsis, yang saat ini tengah mereka pelajari. Selain saya, ternyata juga bercokol sejumlah calon penulis skenario lain, yang barangkali juga diminta menulis sinopsis pula. Para calon penulis itu, percayalah, qualified. Sejumlah nama penulis besar ada di kantong mereka.

Itu artinya, hingga posting ini saya upload, belum ada kepastian, siapakah yang bakal terpilih menjadi penulis skenario film Bung Karno. Kepada produser dan stafnya, saya pribadi hanya mengucap terima kasih atas peluang dan kesempatan menyampaikan sinopsis yang diberikan. Sebab, siapa pun yang nanti terpilih, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan apresiasi saya kepada PH ini yang telah berkenan memfilmkan tokoh pemersatu bangsa kita.

Dalam hati, bergemuruh gairah yang meluap-luap untuk bisa mendedikasikan sebuah karya bagi Bapak Bangsa itu. Sudah melayang imaji saya pada Sukarno kecil yang kelahirannya disambut letusan Gunung Kelud, 6 Juni 1901. Sudah tergambar bagaimana di suatu fajar, Ibunda memangku Kusno kecil berkata, “Ingat nak, engkau adalah putra dari sang fajar. Engkau akan menjadi orang besar.”

Ingat pula bagaimana Sukarno remaja berkelahi dengan remaja bule. Terbayang pula bagaimana HOS Cokroaminoto menanamkan benih-benih cinta tanah air, benih-benih pemberontakan, benih-benih tekad baja melepaskan bangsa ini dari belenggu penjajah Belanda. Melayang-layang pula masa-masa perjuangan Bung Karno hingga ditangkap, dipenjara, dan dibuang. Terlintas pula bagaimana Bung Karno mengguncang dunia… dan tentu saja, lekat pula bayangan bagaimana Bung Karno dinista oleh bangsanya sendiri hingga ajal menjemput, 21 Juni 1970….

Sudahlah… satu hal yang patut kita catat hari ini adalah, siapa pun penulis skenarionya, kita segenap anak bangsa, boleh bergembira menyambut itikad mulia sebuah PH yang hendak mengangkat kisah Bung Karno ke layar perak. (roso daras)

Published in: on 7 Oktober 2010 at 12:25  Komentar (29)  
Tags: ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.