Tentang Buku Ketiga, Bung Karno vs Kartosoewirjo

Di tengah kepenatan fisik dan otak, izinkan saya mengabarkan, keseluruhan naskah buku ketiga sudah selesai dan terkirim ke penerbit Imania. Buku ketiga, berbeda dengan dua buku terdahulu. Jika buku pertama dan kedua, menggunakan judul yang sama “Bung Karno, the Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer” (buku 1 dan 2), maka yang ketiga, atas kesepakatan dengan penerbit, diambil satu tema besar. Atas kesepakatan pula, di buku ketiga, mengangkat judul “Baratayudha, Bung Karno vs Kartosoewirjo”, disambung judul serial “Serpihan Sejarah yang Tercecer, buku ke-3.

Sesuai tema besar, maka ulasan tentang perseteruan politik antara Bung Karno dan Kartosoewirjo, mendapat porsi yang cukup besar. Selain memang unik, juga terbilang dramatis. Dua sahabat yang sempat belajar dan indekos bersama di kediaman HOS Cokroaminoto di Surabaya, pada akhirnya harus berseberangan pandang. Bung Karno sebagai Presiden, menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara. Sementara itu, SM Kartosoewirjo memberontak dan memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII).

Apa hendak dikata, dalam perspektif kenegaraan, tindakan Kartosoewirjo adalalah satu bentuk makar. Karenanya, Pemerintah RI berkewajiban menumpasnya. Pasukan TNI pun melakukan perlawanan dan usaha penumpasan kaum pemberontak DI/TII ini hingga ke akar-akarnya. Keselurhan operasi ini menelan waktu tak kurang dari lima tahun.

Selama itu pula, DI/TII yang didukung aksi intelijen Amerika Serikat, mendapat sokongan senjata, peralatan komunikasi canggih, dan… tentu saja guyuran dolar. Sejatinya, pemberontakan yang disponsori asing, bukanlah yang pertama. Bahkan dalam bentang sejarah kita, hampir semua aksi politik yang berujung pada suksesi kepemimpinan nasional, tak pernah luput dari pengaruh dan peran asing.

Orde Baru berhasil menumbangkan pemerintahan Sukarno, tak lepas dari peran aktif CIA. Gelombang demonstran yang didukung Angkatan Darat, adalah bagian dari skenario besar menumbangkan “singa Asia” ketika itu, Sukarno. Negeri-negeri Barat sangat geram dengan Bung Karno, yang berhasil menggalang kekuatan Asia-Afrika, bahkan sedia mencetuskan CONEFO (Conference of New Emerging Forces). Jika itu terwujud, di dunia ini akan bercokol dua organisasi negara-negara.

PBB yang dikritik habis oleh Bung Karno karena tak bisa melepaskan diri dari hegemoni super power, dilawan Sukarno dengan menggalang kekuatan-kekuatan baru, dari negara-negara yang baru melepaskan diri dari aksi kolonialisme (penjahan). Spirit melawan negara maju yang hendak mencengkeramkan kekuasaannya kembali melalui proyek-proyek ekonomi, dilawan Bung Karno dengan lugasnya.

Bukan hanya itu. Lagi-lagi, asing pun berperan besar dalam menumbangkan Orde Baru, manakala Soeharto mulai kehilangan kendali atas kekuasaannya. Ditambah, kecenderungan korupsi serta praktek-praktek nepotisme yang berkembang di luar batas kewajaran. Sekali dongkel, dengan didahului prahara badai krisis moneter, tumbanglah rezim Orde Baru.

Kembali ke topik buku. Sebagai Sukarnois, tentu saja tulisan itu beranjak dari perspektif yang tentu saja bertentangan dengan perspektif kelompok ekstrim kanan yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Rasanya ini tidak keliru, sepanjang NKRI masih berstatus negara republik dengan landasan ideologi Pancasila. Tentu lain soal seandainya pemerintah dan parlemen menyepakati perubahan ideologi dari Pancasila ke Islam.

Akan tetapi, sepanjang NKRI konsisten dengan Pancasila sebagai ideologi negara, maka bukan saja konsep negara Islam tidak dibenarkan secara konstitusi, juga upaya-upaya ideolog lain, seperti komunis, misalnya, juga tak akan pernah menjadi gerakan legal.

Materi tentang Bung Karno vs Kartosoewirjo, dilengkapi pula dengan sejumlah naskah-naskah pendek sebagai pelengkap sekaligus penguat. Selain itu, penulis juga menyajikan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang kini kita peringati sebagai hari kelahiran Pancasila. Ini menjadi relevan, agar audiens memahami bagaimana para founding father menyepakati ideologi negara kita.

Yang tak kalah menarik, saya sajikan pula sebanyak 12 surat-surat Islam Bung Karno dari Ende. Ini adalah fase Bung Karno mendalami Islam, dan belajar bersama Ahmad Hassan, yang ketika itu berada di Bandung. Surat-menyurat Ende-Bandung itu, tidak melulu sebagai sajian surat belaka. Penulis melengkapinya dengan pengantar yang cukup panjang, untuk lebih memperkenalkan sosok A. Hassan, serta bagaimana riwayat perkenalan Bung Karno dan A. Hassan.

Pada tiap-tiap akhir surat, penulis membuat catatan-catatan. Ada yang berupa komen atas surat tersebut, ada juga yang merupakan upaya memperkaya literasi, sehingga audiens bisa lebih gamblang mencerna surat-surat Bung Karno, serta lebih menghayati suasana kebatinan maupun latar belakang lahirnya surat-surat tersebut.

Dibanding buku pertama yang 200 halaman lebih, dan buku kedua yang lebih tipis sedikit, maka buku ketiga ini diperkirakan mencapai ketebalan lebih dari 260 halaman. Sekalipun begitu, penerbit telah mengkalkulasi sedemikian rupa, sehingga tidak akan memberatkan kocek peminat buku ini, akibat harga yang tinggi. Dari konfirmasi sementara, buku ketiga ini akan luncur sekitar bulan Oktober 2011. Mohon doa restu agar segala sesuatunya berjalan lancar.  (roso daras)

Tirakat Bung Karno di Pulau Bunga

Empat tahun masa pembuangan Bung Karno di Ende, Pulau Flores (1934 – 1938) bisa disebut sebagai masa tirakat. Apa itu tirakat? Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tirakat yang bermaksud mendekatkan diri kepada tuhan, berupa perilaku, hati, dan pikiran. Tirakat adalah bentuk upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan.

Ritual orang bertirakat ada bermacam-macam. Penganut Kejawen misalnya, biasa melakukannya dengan bersemedhi atau bertapa-brata. Bagi orang muslim, berpuasa juga salah satu bentuk tirakat. Bisa juga dalam bentuk lain lagi, sepanjang diniatkan sebagai upaya spiritual, bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan fokus menjaga hubungan vertikal yang intens antara kita dan Yang Di Atas.

Flores… berarti bunga. Pulau Flores juga disebut Pulau Bunga. Mungkin karena di pulau ini banyak tumbuh bunga-bunga cantik. Bagi Sukarno. masa-masa pembuangan di Ende adalah masa-masa bertirakat. Ia melewatkan waktu-waktunya dengan membaca, bersosialisasi, dan… bertirakat.

Komunikasi dengan pihak luar, banyak ia lakukan dengan surat-menyurat. Salah satu yang terukir dalam sejarah hidupnya adalah surat-menyurat seputar kajian Islam dengan gurunya di Bandung, Tuan A. Hassan. Di luar itu, Bung Karno banyak bertafakur di ruang shalat, sekaligus ruang semedhi. Ia bisa duduk berjam-jam di tempat itu.

Selepas ashar, Bung Karno biasanya berjalan kaki kurang lebih satu kilometer mengarah ke pantai. Di bawah pohon sukun, Bung Karno duduk. Sikapnya diam. Mulutnya terkunci. Tatapannya menerawang. Otaknya berkecamuk tentang banyak hal. Salah satunya adalah merenungkan ideologi bangsa, ketika kemerdekaan diraih kelak.

Tercatat tanggal 18 Oktober 1938 Bung Karno meninggalkan Ende, menuju tempat buangan baru di Bengkulu. Praktis sejak itu, Bung Karno tak lagi menginjakkan kakinya di Ende. Kelak, 12 tahun setelahnya, persisnya tahun 1950, ya… lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan, barulah Bung Karno kembali ke Ende. Bukan sebagai orang interniran atau buangan, melainkan sebagai Presiden Republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi.

Ketika itulah, Bung Karno kembali bernostalgia ke tempat buangannya dulu, dan meresmikan rumah yang dulunya milik H. Abdullah Ambuwaru itu sebagai situs bersejarah. Dalam kesempatan itu pula Bung Karno menunjuk pohon sukun tempat ia belasan tahun sebelumnya acap duduk di bawahnya, merenungkan banyak hal, satu di antaranya adalah butir-butir Pancasila. Yang menarik adalah, pohon sukun itu bercabang lima.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1960, pohon sukun itu mati. Oleh pemerintah daerah setempat, segera ditanam pohon sukun yang baru. Apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Pohon itu tumbuh subur, dan… (tetap) bercabang lima. Pohon itu masih berdiri hingga hari ini. (roso daras)

Dari Sukarti, Poppy, lalu Kartika

Ini sepenggal kisah menarik antara Bung Karno dan dua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika. Penuturan ini disampaikan langsung oleh Omi, ketika Kartika berulang-tahun ke-83, beberapa tahun lalu.

Omi sendiri, ketika “diberi” adik angkat oleh kedua “orang-tua”nya, yakni Bung Karno dan Inggit Garnasih, merasa sangat senang. Terlebih sejak ia ikut dalam pembuangan Bung Karno di Ende, praktis tak ada lagi teman bermain.

Kehadiran adik angkat yang kemudian ia tahu bernama Sukarti itu, menjadi pelengkap kehidupan anak-anak Omi. Sebagai sesama anak angkat, sejatinya tidak ada sama sekali kemiripan antara Omi dan Sukarti. Demikian pula antara Omi, Kartika dengan orang tua angkata mereka, Bung Karno dan Inggit.

Akan tetapi, karena sehari-hari hidup dalam satu lingkungan keluarga, maka mereka menjadi sangat akrab. Inggit dengan sifat keibuannya. Bung Karno dengan karakter tegas dan disiplin. Nenek Amsi yang menjadi tempat mengadu bagi semuanya. Pendek kata, sebagai sebuah keluarga, mereka sangat harmonis.

Tiba pada suatu hari, Bung Karno marah demi mendengar Omi memanggil adiknya dengan sebutan Poppy. Ya, Sukarti kecil memang berkulit putih dan cantik. Karena itu banyak orang, tidak hanya Omi, yang memanggilnya Poppy. Tapi, Bung Karno tetap tidak suka. “Papi sangat membenci nama berbau asing,” kenang Omi.

Ia juga masih ingat ketika Bung Karno yang dipanggilnya papi itu berkata, “Itu tidak baik untuk nama seorang anak Indonesia. Kartika, ya Kartika nama yang cantik untukmu. Lain kali jangan mau dipanggil Poppy lagi, ya…,” begitulah Bung Karno mengganti nama Sukarti menjadi Kartika, sekaligus melarang semua orang, termasuk Omi, memanggilnya Poppy.

Di usianya yang sudah sangat sepuh, Omi menuturkan, betapa adiknya ini sangat manis, penurut, dan halus tutur-katanya. “Tidak pernah membantah. Selalu menurut, dan tidak suka bertengkar. Pokoknya adikku ini manis sekali. Aku sangat sayang padanya. Dan sampai kini kami saling merindukan,” tutur Omi, dalam kesan-kesan yang dituliskannya khusus menyambut ulang tahun Kartika ke-80, tiga tahun yang lalu. (roso daras)

Published in: on 25 November 2010 at 03:48  Komentar (2)  
Tags: , , , , ,

Sowan Ibu Kartika, Anak Angkat Bung Karno

Saat dibuang ke Ende tahun 1934, Bung Karno membawa serta istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami (Omi), dan Ibu Amsi (mertua). Omi adalah keponakan Ibu Inggit. Karena itu, dalam banyak lembar sejarah banyak yang melupakan nama Sukarti atau Kartika, sebagai anak angkat Bung Karno (juga).

Bisa dimaklumi. Sebab, tidak seperti anggota rombongan buangan pemerintah Kolonial Belanda lainnya, Sukarti atau Kartika memang “diangkat” di Ende. Benar. Dia adalah putri sulung keluarga Atmo Sudirdjo, seorang juru ukur yang bekerja pada dinas pekerjaan umum pemerintahan Kolonial Belanda. Atmo sendiri asli Purwokerto.

Pertemuan pertama kali Sukarti atau Kartika itu sendiri terjadi tahun 1934, saat usianya baru menginjak enam tahun. Ia diajak serta oleh kedua orangtuanya, menuju pelabuhan untuk menjemput “tokoh besar” yang namanya sudah begitu semerbak di seantero Hindia Belanda sebagai “pejuang kemerdekaan”. Ya, Sukarti atau Kartika ikut ke pelabuhan bersama para pribumi lain dalam rangka menjemput Bung Karno dan rombongannya.

Ia tidak memiliki kesan mendalam, kecuali sebuah tanda tanya di benak otak seorang anak usia enam tahun. Mengapa begitu banyak orang Ende menjemput tokoh ini? Siapa gerangan dia? Lebih penasaran manakala ia melihat bahwa tokoh yang disambut itu berkulit sawo matang, bukan lelaki bule berambut jagung.

Sekanjutnya, Sukarti atau Kartika sering diajak ibudanya, Chotimah yang kelahiran Purworejo, mengikuti pengajian yang diadakan di kediaman Bung Karno. Dari sekali ke dua kali… dari dua kali ke tiga kali… lama kelamaan Sukarti atau Kartika semakin akrab dengan keluarga Bung Karno, khususnya dengan Ratna Djuami alias Omi.

Omi sangat merindukan adik. Sementara, sebagai putri sulung, Sukarti juga merindukan sosok kakak. Klop-lah mereka. Demi melihat keakraban di antara keduanya, Bung Karno berinisiatif mengangkat Sukarti atau Kartika sebagai anak angkatnya. Bung Karno pun memintanya kepada keuarga Atmo Sudirdjo.

Keluarga Atmo Sudirdjo sangat ikhlas… bahkan sangat senang dan bangga demi melihat tokoh perjuangan kemerdekaan itu sudi dan berkena mengangkat anaknya menjadi putrinya. Alhasil, lengkaplan anak angkat Bung Karno, Ratna Djuami dan Sukarti. Oleh Bung Karno, nama itu kemudian diubah menjadi Kartika.

Hingga kini, Sukarti pun dikenal sebagai Kartika. Nyonya Kartika. Dia masih tampak segar saat dijumpai di kediamannya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Terakhir saya tinggal di Cibinong. Tetapi sejak suami saya meninggal, saya tinggal bersama anak-anak saya. Kadang di Jagakarsa, kadang di tempat anak saya yang lainnya,” tutur Kartika.

Untuk perempuan usia 82 tahun, Kartika masih tampak bugar. Daya ingatnya masih sangat tajam. Bicaranya jelas dan lugas. Ini berbeda dengan “kakak angkat”-nya, Ratna Djuami yang juga masih hidup dan tinggal di Bandung. Omi sepuh kini sudah mulai pikun. Hanya kepada orang-orang tertentu dia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Syahdan, Kartika adalah saksi sekaligus pelaku sejarah Bung Karno yang masih hidup.  Ia pun memiliki begitu banyak kenangan menjadi “anak angkat” Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 23 November 2010 at 01:32  Komentar (3)  
Tags: , , , ,

Masjid “Bung Karno” di Bengkulu

Bulan Februari 1938, lima tahun sudah berlalu… Bung Karno dan keluarga hidup dalam pembuangan di Pulau Bunga, Ende. Februari 1938 terbetik berita Bung Karno dan keluarga bakal dipindah ke Bengkulu. Pemerintah Hindia Belanda begitu rapi mengawal proses pemindahan narapidana politik nomor satu ini.

Rute yang sudah disiapkan adalah Ende – Tanjung Perak, Surabaya. Dari Surabaya dinaikkan ke kereta api menuju ujung barat pulau Jawa, Merak. Dari pelabuhan Merak dinaikkan lagi ke kapal niaga menuju Bengkulu.

Akan tetapi, di semua persinggahan, pemerintah Hindia Belanda mengumumkan jam-jam kedatangan bohong. Seperti ketika rakyat Surabaya berbondong-bondong ke Pelabuhan Tanjung Perak hendak menyambut Bung Karno, serta merta pemerintah mengumumkan bahwa kapal yang membawa Bung Karno baru tiba di Tanjung Perak jam 16.00 sore. Padahal, Bung Karno sudah tiba di Surabaha jam 04.00 pagi.

Bengkulu, adalah negeri yang bergunung-gunung, dilingkungi Bukit Barisan. Masyarakatnya sangat agamis, karenanya Bengkulu sempat dijuluki Benteng Islam. O ya, satu lagi, kembang raksasa Raflesia Arnoldi yang lebarnya mencapai tiga kaki, adalah hal lain yang cukup menonjol di Bengkulu. Selain ciri-ciri itu, Bengkulu sesungguhnya tidak memiliki arti penting dalam geopolitik Hindia Belanda.

Kehadiran Bung Karno di Bengkulu, pada awalnya nyaris diasingkan masyarakat. Pasalnya, pembawaannya yang terbuka, didorong hasrat berkawan yang meluap-luap, ada kalanya membuat Bung Karno menabrak pakem-pakem sosial yang sudah lama tertanam. Seperti contoh, pemasangan tabir untuk laki-laki dan perempuan, tidak hanya terjadi di dalam masjid, tetapi juga di setiap perhelatan atau hajatan keluarga.

Suatu ketika, saat Bung Karno diundang menghadiri hajatan di salah satu rumah penduduk setempat, Bung Karno mempertanyakan, “Mengapa dipasang tabir untuk memisahkan perempuan dan laki-laki?” Tidak satu pun hadirin yang menjawab pertanyaan Bung Karno. Karena tak ada yang menjawab, Bung Karno langsung menyingkap tabir itu sehingga tidak ada lagi sekat antara tamu perempuan dan laki-laki.

Apa yang terjadi kemudian? Masyarakat Bengkulu langsung memasang sekat terhadap Bung Karno. Atau dalam bahasa Bung Karno, “setelah kejadian itu, sebuah tabir lain memisahkanku dari penduduk kota itu.”

Dalam suasana baru tiba di daerah pembuangan yang baru… dalam suasana dijauhi masyarakat setempat, Bung Karno tetap saja menjalin silaturahmi dengan para tetokoh. Ia haus teman diskusi, ia rindu teman bicara, ia menginginkan kehidupan bermasyarakat yang akrab.

Masjid. Itulah yang spontan terbetik di benaknya. Masjid tempat masyarakat berkumpul lima kali dalam sehari, untuk menjalankan shalat berjamaah. Ke masjidlah langkahnya diayunkan kala shubuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya. Sesering ia mendatangi masjid, sesering itu pula ia menyaksikan bangunan masjid tua yang lusuh, kotor, kolot, tua….

Kembali muncul gagasannya yang brilian. Sebagai “tukang insinyur”, Bung Karno membuat rencana bangunan masjid dengan tiang-tiang yang cantik, dengan ukiran-ukiran timbul yang sederhana, dengan pagar tembok bercat putih yang tidak ruwet.

Muluskan rencana Bung Karno membangun masjid sebagai pengganti masjid tua yang sudah kusam dan kolot itu? Tidak mudah. Generasi tua yang tidak menyukai perubahan, adalah penentang utama gagasan Bung Karno. Bersamaan itu pula, tabir yang memisahkan Bung Karno dengan masyarakat makin tebal. Bahkan suara-suara negatif mulai dialamatkan ke arah Bung Karno.

Alhamdulillah… dengan kemampuan persuasi, dengan kecakapan bicara, dengan pembawaan yang terbuka, tidak terlalu sulit Bung Karno mencairkan kebekuan suasana tadi. Alhasil, ia berhasil menggalang dukungan masyarakat mendirikan masjid yang lebih representatif. Tercatat, bangunan masjid itu dibangun tahun 1938 dan selesai dibangun tahun 1941.  (roso daras)

Published in: on 4 Mei 2010 at 08:15  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Sukarno, Melukis Pura di Ende

Lukisan Sukarno

Ada bagian-bagian yang begitu kelam dalam kehidupan Sukarno saat menjalani pembuangan di Ende. Pada dasarnya, Sukarno adalah sosok yang gemar bergaul, senang dikerumuni sahabat. Sementara, sebagai orang buangan ia dijauhi penduduk setempat. Terlebih, Belanda terus saja mempengaruhi penduduk lokal, dan menanamkan stigma bahwa Sukarno orang yang berbahaya. Mendekati Sukarno, sama artinya dengan mendekati persoalan.

Tak jarang, Sukarno membunuh sepi dengan duduk berjam-jam di bawah pohon keluwih yang langsung menghadap pantai. Ia bisa berjam-jam menatap debur ombak yang bergulung-gulung tiada henti. Kenikmatan menatap ombak menciumi bibir pantai, menjadi terusik manaka datang kucing-kucing bercengkerama di dekatnya. Kalau sudah begitu, Sukarno akan pergi, dan mempersilakan kucing-kucing kampung bermain di bawah pohon keluwih.

Di waktu yang lain, Sukarno membenamkan diri dalam keasyikan melukis. Seperti catatan hidupnya terdahulu, Sukarno adalah siswa HBS Surabaya yang menonjol dalam mata pelajaran menggambar. Meski begitu, nilainya tidak pernah lebih tinggi daripada murid Belanda.

Sewaktu kuliah teknik di Bandung, Sukarno juga mendapat pelajaran melukis dari dosen Wolff Schoemaker. Sebagai insinyur sipil pun, Sukarno sangat kuat dalam menggambar rancang bangun sipil. Perspektifnya sempurna, selera seninya klasik.

Di Ende, setelah sekian lama tidak pernah lagi menggambar, ia mulai dengan mencorat-coret sketsa dengan pensil. Tak perlu waktu lama bagi Sukarno untuk menyatukan cipta dan karsa melalui sapuan kuas. Dari pensil, ia beralih ke cat air. Dari cat air, Sukarno membeli kanvas dan melukis dengan cat minyak. Sukarno pun menemukan satu keasyikan tersendiri dalam melewati hari-hari tak pasti sebagai seorang buangan.

Foto di atas adalah salah satu lukisan karya Bung Karno, yang ia lukis di Ende. Sampai hari ini lukisan itu masih tersimpan rapi di museum kecil yang terletak di depan situs eks rumah pembuangan Sukarno.

Menikmati karya tangan Sukarno hari ini, lantas melambungkan imaji ke Flores tahun 1934 – 1938, terbayang nuansa kesepian seorang Sukarno…. Kita seolah dibawa ke pemandangan sephia, seorang Sukarno sedang tekun melukis objek sebuah ritual umat Hindu di pura Bali. Debur ombak, terdengar samar. (roso daras)

Published in: on 1 Agustus 2009 at 09:33  Komentar (1)  
Tags: , ,

Naskah Asli Tonil Bung Karno Diduga Hilang

Patung BK di Ende

Terbelalak mata saya yang tidak terlalu lebar ini, demi membaca koran Kompas, Jumat (31/7) halaman 23. Sebuah berita di pojok kiri bawah berjudul “Delapan Naskah Asli Tonil Bung Karno Diduga Hilang”.  Begini isi beritanya:

Delapan naskah asli tonil karya Bung Karno, Presiden Pertama RI yang dibuat dalam masa pembuangan politik di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur tahun 1934 – 1938, diduga hilang. Delapan naskah itu berjudul: Rahasia Kelimutu, Rendo, Jula Gubi, KutKuthi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dijnamiet, dan Dr. Syaitan.

Hal itu dinyatakan peneliti Yuke Ardhiati di Situs Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Kamis (30/7), seusai bertemu dengan pengelola Situs Bung KArno, Shafrudin Pua Ita. ….. (dst).

Pada bagian lain berita itu, paragraf ke enam, tertulis: … Di halaman 63 buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara (2006) tertera tanda terima naskah tonil tulisan Bung Karno selama di Ende tahun 1934-1938 dari Yusuf Ibrahim sebagai wakil kawan-kawan Bung Karno di Ende kepada Rahmawati Soekarnoputri.

Namun, naskah tonil tidak ditemukan di Yayasan Bung Karno di Jakarta. Rahmawati Soekarnoputri menyatakan kepada Yuke bahwa berkas naskah tonil tercecer sejak petugas yayasan yang mengelola koleksi, Bagin, meninggal beberapa tahun lalu.

Seketika saya teringat kepada buku “Riwu Ga, 14 Tahun Mengawal Bung Karno” karya Peter A. Rohi. Saya sendiri menerima pemberian buku itu dari sang penulis saat jumpa di Bali Maret 2005. Ingatan saya pada bagian akhir buku tadi yang memuat naskah-naskah tonil karya Bung Karno.

Segera saya buka-buka buku tadi, dan benar, di sana tersaji empat dari delapan naskah yang diberitakan hilang tadi. Empat nakah yang dimaksud masing-masing: Dokter Syaitan, Aero Dijnamiet, Anak Haram Djadah, dan Rahasia Kelimutu. Peter mendapatkan naskah-naskah tadi dari Rahmawati Soekarnoputri.

Saya sendiri jadi mereka-reka raibnya naskah tonil karya Bung Karno. Dugaan saya, fakta bahwa Yusuf Ibrahim telah menyerahkan naskah-naskah itu kepada Rahmawati, adalah valid. Rahmawati sendiri tidak membantah, bahkan ia menyebutkan, naskah tadi tercecer sejak Bagin meninggal dunia. Itu artinya, Rahmawati Soekarnoputri, anak Bung Karno sendiri yang seharusnya paling bertanggung jawab terhadap keberadaan naskah-naskah asli tonil karya bapaknya.

Lebih aneh, Guruh Soekarnoputra yang sekarang memimpin Yayasan Bung Karno, sepertinya tidak tahu kalau naskah-naskah itu ada pada mbakyu-nya. Alih-alih bertanya kepada Rahma, kakaknya, ia malah menugaskan peneliti Yuke berangkat ke Ende. (roso daras)

Awak Kapal Ajak Bung Karno Kabur

Dari Jawa ke Ende

Pulau Bunga, Flores, pulau cantik yang dijadikan tempat pembuangan Bung Karno. Enam tahun hidup dalam pengasingan, cukuplah bagi Sukarno untuk menyelami kehidupan rakyat Ende, pantai indah dan para nelayan yang ramah, kehidupan pelabuhan yang pikuk saat kapal berlabuh, serta masyarakatnya yang ramah sedikit tertutup.

Di sini, Bung Karno hidup bersama Inggit Garnasih sang istri, Ibu Amsi sang mertua, dan Ratna Djuami sang anak angkat yang biasa dipanggil Omi. Tak berapa lama kemudian, barulah bergabung empat orang pembantu, satu di antaranya Riwu Ga yang mengikuti Bung Karno hingga ke era pembuangan di Bengkulu sampai Indonesia merdeka.

Selama dalam masa pembuangan, Bung Karno telah menjelma menjadi “penyelundup” ulung. Ia menjalin komunikasi penuh sandi dengan para awak kapal. Terlebih, kapal-kapal lintas pulau, umumnya diawaki para ABK pribumi, yang semuanya menaruh hormat kepada Sang Tokoh Pergerakan, Sang Musuh Penjajah. Ada kalanya, Bung Karno sendiri yang berdesak-desakan di pelabuhan. Ada kalanya cukup lewat orang suruhan. Dengan bahasa-bahasa tertentu, komunikasi berjalan lancar.

Alhasil, semua kebutuhan Bung Karno terpenuhi dengan mudah. Sampailah suatu ketika, saat Bung Karno sedang menanti paket pesanan rahasia di pelabuhan, tiba-tiba turun seorang awak kapal berbadan tinggi besar, berkulit gelap. Ia menyeruak kerumunan orang dan mendekati Bung Karno. Setelah tiba di hadapan Bung Karno, ia sedikit membungkuk dan berkata bisik, “Bung, katakanlah kepada kami, kami akan menyelundupkan Bung Karno. Saya jamin aman, tidak akan ada orang yang tahu.”

“Terima kasih, saudara. Lebih baik jangan,” kata Bung Karno sambil menatap awak kapal tadi penuh rasa terima kasih. “Terkadang memang terbuka jalan seperti yang saudara katakan itu. Dan sering juga datang pikiran menggoda untuk lari secara diam-diam dan kembali bekerja untuk rakyat kita.”

Si awak kapal menyambar, “Kalau begitu, kenapa tidak dicoba saja, Bung?! Kami akan sembunyikan Bung Karno dan membawa Bung ke tempat kawan-kawan.”

Bung Karno menjawab tenang, “Kalau saya lari, ini hanya saya lakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Begitu saya mulai bekerja, saya akan ditangkap lagi dan dibuang lagi. Jadi, tidak ada gunanya.”

Awak kapal bertanya lagi, “Apakah Bung Karno tidak bisa bekerja secara rahasia?”

“Itu bukan caranya Bung Karno.”

“Sekiranya di suatu saat berubah pendirian Bung Karno, tak usah ragu, sampaikan kepada kami.”

Bung Karno merangkul awak kapal tadi, dan tanpa ragu mencium kedua pipinya. “Terima kasih. Di suatu masa, kita semua akan merdeka. Begitupun saya.” (roso daras)

Published in: on 29 Juli 2009 at 05:03  Komentar (15)  
Tags: , , , ,

Bung Karno dan Agama-agama Dunia

rumah-pengasingan-sukarno

Penjara dan pembuangan, adalah hari-hari kosong dan terkekang. Penjara dan pembuangan adalah hilangnya kemerdekaan. Penjara dan pembuangan, adalah saat-saat tebaik untuk dekat kepada Sang Pencipta. Itu pula yang dilakukan Bung Karno, baik semasa dijebloskan penjara Sukamiskin, maupun selama dalam pembuangan di Eende (1932-1938) dan Bengkulu (1938 – 1942).

Ada satu fase di Ende yang ia gunakan untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama-agama di dunia. Mengapa Bung Karno melakukan itu? Bukankah dia seorang muslim?

Sukarno sejatinya lahir dari suasana sinkretisme agama. Dari ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, ia mengenal ajaran Hindu Bali. Dari bapaknya, Raden Sukemo Sosrodihardjo ia mempelajari Primbon Jawa pra-Islam serta sedikit pengetahuan teosofi. Sukarno sebagai muslim, sedikit terasah saat ia digembleng H.O.S. Cokroaminoto di Surabaya.

Kembali ke ketertarikan Sukarno pada agama-agama dunia. Sebuah ketertarikan yang pada akhirnya benar-benar menopang kedudukannya sebagai seorang Presiden dari sebuah negara besar yang plural. Di Ende Sukarno menjalin kontak yang intens dengan para pater sehingga ia memperoleh pengertian mendalam tentang Katolik Roma. Di Ende pula ia intens menjalin kontak dengan seorang guru Kristen, Georgette Manafe, yang memberinya pemahaman mendalam tentang ajaran Protestan.

Penulis biografi politik Sukarno, Lambert Giebels memberi penekanan, bahwa di antara agama-agama dunia tadi, Sukarno paling banyak mempersembahkan energinya untuk mendalami agama Islam. Caranya, menjalin korespondensi intensif engan ulama bernama A. Hasan. “Guru” Bung Karno di bidang Islam ini dikenalnya di Bandung. Hasan adalah seorang India dari Madras yang dalam tahun 1924 pindah ke Bandung, kemudian memimpin Persatuan Islam (Perkumpulan Islam) atau disingkat Persis yang reformis.

Korespondensi antara Sukarno dan Hasan dimulai 1 Desember 1934. Surat pertama Sukarno adalah permintaan dia untuk dikirimi buku-buku pelajaran tentang Islam. Salah satu kalimat Sukarno yang dikutip Giebels adalah, “Tidak ada agama yang lebih mendukung kesamaan manusia daripada Islam.”

Alquran bagi Sukarno adalah final. Ia membaca, meresapi, dan mengamalkan dengan ketaatan penuh. Di sisi lain, ia juga menenggelamkan diri dalam lautan hadits. Dari diskusi korespondensi dengan gurunya itulah diketahui, Sukarno pun sangat kritis terhadap kebekuan dalam Islam.

“Adalah keyakinan saya yang terdalam (….) bahwa dunia Islam terbelakang karena banyak orang terlalu memperhatikan hadits-hadits yang tidak berisi dan palsu. Dengan demikian agama Islam diselubungi oleh kabut konservatisme, tahayul, fitnah, antirasionalisme, dsb. Padahal, tidak ada agama yang lebih rasional dan sederhana daripada Islam.”

Begitu ungkapan Sukarno dalam suratnya kepada Hasan. Kritik Sukarno juga berlaku untuk pelaksanaan fiqih. “Islam telah ketinggalan seribu tahun,” tulis Sukarno kepada gurunya di Bandung.

Begitulah pergulatan Bung Karno dengan agama-agama dunia, serta pendalamannya terhadap agama yang ia anut, Islam. Di Ende pula Sukarno menjadi seorang muslim yang aktif menjalankan syariat Islam. Di sisi lain, ia menjadi manusia dengan toleransi keagamaan yang tinggi.

Giebels mengutip pula salah satu kalimat dalam surat Sukarno kepada pater Van der Heijden. Katanya, “Seorang Hindu Sanyasin berkata bahwa pengikut-pengikut Krisus, Budha maupun Muhammad adalah ombak-ombak di samudera luas. Samudera luas itulah Aku.” (roso daras)

Published in: on 22 Juli 2009 at 01:59  Komentar (10)  
Tags: , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 181 pengikut lainnya.