Pengantar Bung Karno ke Gerbang Kemerdekaan

Inggit Garnasih… bukan Inggit Ganarsih. Itu dulu yang pertama harus diketahui. Dia adalah istri kedua Bung Karno, bukan istri pertama Bung Karno. Itu hal lain yang juga penting diketahui.

Mojang Priangan ini sama sekali tidak bisa dihapus dari hidup dan kehidupan Bung Karno. Seperti halnya Bung Karno, maka Inggit pun memiliki banyak sekali sudut pandang. Dari sisi pergerakan, wanita yang selusin lebih tua usianya dari Bung Karno ini, sangat fantastis. Ia tidak saja rela mengeluarkan hartanya buat pergerakan, tetapi ia juga rela berjualan jamu yang hasilnya disumbangkan bagi pergerakan. Bahkan, Inggit dengan lihainya menyelundupkan sandi-sandi intelijen melalui telur, Alquran, dll saat Bung Karno mendekam di penjara.

Lain lagi kalau berbicara roman percintaan mereka. Saat itu, Bung Karno adalah anak kos dan Inggit adalah ibu kosnya di Bandung. Gejolak darah muda Sukarno, berpadu dengan ibu kos yang kesepian, mengalirkan getar cinta. Klimaksnya berujung pada langkah Sukarno “mengembalikan” Utari, putri HOS Cokroaminoto yang dinikahinya secara “nikah gantung”. Di sisi lain, Inggit mengajukan permintaan cerai dari suaminya yang dikenal lebih gemar beraktivitas di luar rumah daripada diam di rumah.

Pernikahan Sukarno – Inggit di era perjuangan, sejatinya sangat penuh romantika dan dinamika. Hanya ada satu Inggit Garnasih di atas bumi ini. Dan satu-satunya Inggit itulah yang paling pas mendampingi Sukarno muda. Ia tahan gempuran gosip, gempuran cemooh, bahkan pelecehan polisi Belanda demi mengetahui dirinya adalah istri musuh nomor satu pemerintah Hindia Belanda, bernama Sukarno.

Inggit juga tabah mendampingi Sukarno hidup di pengasingan, baik selama di Ende maupun Bengkulu. Selama mendampingi Sukarno, Inggit menjadi tulang punggung bagi jiwa Sukarno yang berkobar-kobar, jiwa Sukarno yang frustrasi, jiwa Sukarno yang melo, jiwa Sukarno yang gandrung kemerdekaan bagi bangsanya.

Sejarah kemudian mencatat, di Bengkulu, hati Sukarno tertambat pada gadis belia bernama Fatmawati. Itu adalah tahun-tahun 1940-an, menjelang akhir pendudukan Belanda, dan dimulainya pendudukan Jepang. Di tengah himpitan persoalan kebangsaan, Bung Karno juga dihimpit pertengkaran dengan Inggit yang mulai mencium adanya gelagat suaminya mencintai Fatma.

Pertengkaran demi pertengkaran itu bahkan dibawa sampai ke Jakarta tahun 1943. Bahkan Bung Karno pernah bercerita, saat suatu malam pulang larut begitu pulang disambut dingin Inggit, dan berlanjut ke pertengkaran. Dikisahkan, jika sudah marah karena dibakar cemburu, Inggit bisa menerbangkan barang-barang apa saja yang ada di dekatnya, khususnya barang-barang yang sering kita liat di atas meja makan. Terbayanglah suara piring terbang dan benda-benda terbang lainnya….

Dan… manakala keduanya menyepakati perpisahan, Bung Karno masih sempat mengantarnya ke dokter gigi pagi hari, dan mengantarnya ke Bandung dan membawakan barang-barang Inggit tanpa kecuali. Itulah akhir perpisahan keduanya. Setelah itu, tak lama berselang, Bung Karno melamar dan melangsungkan pernikahan “telegram” dengan Fatmawati, beberapa saat menjelang Indonesia merdeka.

Inggit Garnasih, adalah pengantar Bung Karno ke gerbang kemerdekaan. Inggit memiliki panggilan kesayangan buat Bung Karno, “Engkus”…. Dan panggilan itu ia ucapkan untuk terakhir kalinya, saat menatap jazad Bung Karno di Wisma Yaso. (roso daras)

Published in: on 17 Februari 2010 at 05:47  Komentar (4)  
Tags: , , ,

Berebut Koran dengan Guntur

“Sarapan” koran di pagi hari, adalah hal wajib bagi Bung Karno. Kebiasaan ini, menurun pula pada putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra. Bung Karno, benar-benar membaca satu per satu koran dan majalah, baik terbitan lokal maupun luar. Ini beda dengan kebiasaan pejabat tinggi sampai bupati di era sekarang. Mereka umumnya hanya membaca kliping berita yang menyangkut dirinya saja.

Tak heran, lalapan sejumlah koran dan majalah setiap hari, membuat pemikiran Bung Karno selalu update…. Ia mengetahui setiap detil perkembangan yang terjadi, tidak saja di negaranya, tetapi juga di belahan dunia yang lain. Sejumlah media yang wajib ada di meja teras depan kamar Bung Karno di Istana Merdeka setiap pagi adalah: Bintang Timur, Duta Masyarakat, Suluh Indonesia, Merdeka, Harian Rakyat, Berita Indonesia, Bulettin Antara, Time, Life, Newsweek, dll.

Adalah Guntur, yang juga menuruni kegemaran bapaknya, “sarapan” koran di pagi hari. Bahkan, agar tidak keduluan bapaknya, ia bangun lebih pagi. Jam 06.00 ia sudah rebahan di kursi panjang teras depan kamar bapaknya, dan mulai membaca koran dan majalah yang menumpuk.

Nah, ini cuplikan peristiwa tahun 1960, saat usia Guntur 16 tahun. Saat sedang asyik membaca, ia dikejutkan kedatangan bapaknya yang setengah tergopoh menuju teras kamar dan hendak mengambil koran. Hanya berkaus oblong dan bercelana kolor, ekspresi wajah Bung Karno tampak seperti orang yang kebelet buang hajat… yang di keluarga Bung Karno, mereka mengistilahkan o’ok. Ya, pagi itu, Bung Karno kebelet o’ok dan hendak menyambar koran-koran yang antara lain sedang dibaca Guntur.

“Heh, ayo cepat itu koran semua! Aku mau baca di kakus!”

“Yang ini sebentar ya pak,” Guntur menahan salah satu koran, Suluh Indonesia, koran favorit Guntur yang pagi itu masih dan sedang ramai membicarakan pembangunan jalan by pass, sebagai “tukar guling” dengan pembebasan pilot CIA, Allan Lawrence Pope yang berhasil ditembak jatuh ABRI. Pada posting terdahulu sudah dikisahkan bagaimana pilot swasta Amerika Serikat yang disewa CIA itu ditembak jatuh. Pope, tentunya sepengetahuan dan seizin CIA (baca: Amerika Serikat) membantu pemberontak PRRI/Permesta mengebom Ambon dan sekitarnya.

Rupanya, Guntur sedang asyik mengikuti berita itu, hingga Bung Karno menukas, “Kamu ini.. apa yang kamu baca?!”

“Soal By Pass, apa benar bapak tukar By Pas dengan Pope.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Di luar orang-orang ngomong begitu kok….”
“He…he…he… (Bung Karno tertawa), ayo sini Suluh-nya.”

Tanpa panjang kata, Bung Karno merebut koran Suluh Indonesia dari tangan Guntur. Setelah itu, dengan berjingkat setengah berlari kecil, Bung Karno masuk kamar. Pikir Guntur, “Bapak benar-benar sudah kebelet o’ok….”

Guntur pun mengempaskan tubuhnya di kursi panjang… pandangan menerawang, melamun, menikmati kicau burung dan segarnya udara pagi. Tiba-tiba, pecah keheningan suasana oleh teriakan sang bapak, “Toook….!” (begitu Bung Karno memanggil Guntur).

“Ya Pak….” Guntur melompat berdiri hendak mendatangi sumber suara, ketika Bung Karno menyahut dari dalam kamar mandi, “Mudah-mudahan Amerika kirim Pope yang lain yaaa… supaya kalau sudah kutangkap aku bisa minta tukar sama Ava Gardner dan Ivonne de Carlo….”

Dua nama yang disebut Bung Karno itu, tahun 1960-an adalah bintang Hollywood yang aduhai. Mulus dan seksi. Demi mendengar canda bapaknya, Guntur balik ke kursi panjang dan mendengus… “Aaahhh… lagi-lagi cewek!” (roso daras)

Published in: on 9 Februari 2010 at 01:27  Komentar (5)  
Tags: , , ,

Bandelnya Sukarno Kecil

Jamak, anak kecil bandel. Wajar, anak-anak nakal. Tidak aneh bocah suka bermain-main. Nah, Sukarno kecil termasuk anak-anak kebanyakan. Yang membedakan barangkali, sikap orang tua menghadapi kenakalan anak. Yang membuat lain barangkali, setting situasi dan zaman yang berbeda.

Ini tahun 10-an… saat Sukarno masih belum genap sepuluh tahun. Keseharian Sukarno adalah bermain dan bermain. Bahkan, ketika sang ayah, R. Sukemi Sosrodihardjo memberinya tugas menjaga jemuran padi, sempat-sempatnya Sukarno kecil mangkir. Tergoda keinginan main di kali, ia tinggalkan jemuran padi. Apa yang terjadi? Hampir separuh padi yang dijemur, ludes dipatok kerumunan ayam.

Sukarno? Ia asyik mengail ikan di kali.

Pak Sosro? Ia uring-uringan melihat anaknya membiarkan bulir-bulir padi disantap ayam-ayam dengan lahap. Ia jengkel anaknya mengabaikan tugas menjaga jemuran padi. Spontan muncul di benaknya, untuk menyiapkan hukuman setimpal buat Sukarno.

Tak lama kemudian, Sukarno kecil berlari-lari kegirangan sambil memanggil-manggil ibunya dengan manja. Di tangannya, tertenteng seekor ikan lele hasil pancingannya di kali tadi. Tidak begitu besar ikan itu, tapi sangat menyenangkan hati Sukarno. “Ini Bu… saya dapat ikan lele. Kita masak sekarang ya bu… untuk lauk makan kita bersama dengan ayah, kalau ayah sudah pulang nanti,” kata Bung Karno kepada ibunya.

Tampak rona berbinar di wajah Idayu, sang ibu. Tapi jauh di balik sorot matanya, terpendam kekhawatiran membayangkan Sukarno yang bakal kena hukum ayahnya, karena lalai menjaga jemuran padi. Dan kekhawatiran sang ibu sungguh terjadi.

Saat pak Sosro mendapati Sukarno sudah ada di rumah, serta merta diambilnya sebatang kayu, diseretnya tubuh sukarno kecil, dipeganginya pangkal lengan, dan disabet-sabetkannya batang kayu itu ke pantat Sukarno. Belum sampai sabetan ketiga, Sukarno sudah menangis meraung-raung, melolong-lolong meminta tolong sang ibu, dan mengiba-iba kepada sang ayah memohon ampun.

Tak tega demi melihat putra tercinta menangis, ibunda datang mencegah, “Sudah Pak…. Sudahlah…”

Pak Sosro tak menggubris, dan terus mengomeli dan mencambuki Sukarno. Idayu kembali menyergah, “Sudahlah Pak, sudahi engkau menghajar anak itu. Tidak seimbang dengan kesalahannya. Maklumilah, dia masih kecil, masih gemar bermain-main….”

Yang terjadi selanjutnya justru perang mulut antara ayah dan ibu. Sang ayah bersikeras menghajar anaknya agar tidak nakal lagi, sang ibu mencegah si ayah memukul lagi dan lagi pantat Sukarno. Tidak mau berlarut-larut betengkar dengan suami soal hukuman buat Sukarno, segera saja Idayu merengkuh tubuh kecil Sukarno dan dibimbingnya menjauh sambil mendiamkan tangisnya, “Sudahlah No… diamlah… Mari masuk, mari kita masak ikanmu itu, biar nanti kita makan sebagai lauk…. Diamlah anakku sayang… diamlan intan….”

Masih dengan sesenggukan, Sukarno memeluk erat tubuh ibunya. Bahkan sambil memasak ikan, sang ibu masih terus menenangkan Sukarno agar diam dari tangis. Sejurus kemudian, ikan lele itu sudah masak, dan mereka pun –ibu dan anak tercinta– makan bersama. (roso daras)

Published in: on 2 Februari 2010 at 03:40  Komentar (11)  
Tags: , , ,

Ibu… Ibu… Ibu…

Sebuah hadis meriwayatkan seorang sahabat yang bertanya, ihwal kepada siapa kita harus berbakti. Nabi SAW menjawab, “Ibumu…”. Sahabat bertanya lagi, “Setelah itu, berbakti kepada siapa lagi ya Nabi?”, dan Nabi SAW kembali menjawab, “Ibumu…”, begitu sampai tiga kali, baru yang keempat Nabi menjawab, “Bapakmu…”.

Bung Karno sang proklamator, paham betul itu. Ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai menempati tahta tertinggi di hatinya. Dalam banyak kesempatan, baik sehabis kembali dari pembuangan, atau dari tugas apa pun, orang pertama yang ia jumpai adalah ibunda. Ia bersimpuh dan “sungkem”, menghaturkan bakti kepada sang ibu, serta memohon doa restu. Itu “ritual” yang tidak pernah ditinggalkan Bung Karno, selama ibunda masih hidup.

Tidak hanya itu. Dengan ibunda, Bung Karno bisa “curhat” apa saja, mulai dari soal pergerakan, tanah air, sampai ke soal-soal percintaan (baca: perempuan). Tidak ada satu orang pun di atas bumi, yang mengetahui rahasia Bung Karno selengkap Idayu. Terkadang, hanya dengan tatapan lembut ibu, cukup bagi jiwa Sukarno yang bergolak-golak. Ada kalanya, usapan lembut telapak tangan ibu, mampu meluluhkan jiwa gundah Sukarno.

Saya, baru saja menemukan buku tua “Bung Karno, Anakku”, meriwayatkan sang ibunda Sukarno, Ida Ayu Nyoman Rai. Buku itu tadinya berjudul “Pengukir Jiwa Soekarno” yang dicetak pertama kali tahun 1949. Seperti apa isi buku itu? Tunggu postingan berikutnya. (roso daras)

Published in: on 1 Februari 2010 at 17:06  Komentar (9)  
Tags: , ,

Surat Bung Karno kepada Fidel Castro

Persahabatan Bung Karno (Indonesia) dengan Fidel Castro (Kuba), sudah terjalin sangat baik. Bahkan secara pribadi, Bung Karno dan Fidel Castro memiliki beberapa persamaan karakter. Di antara sekian banyak karakter, salah satunya adalah sama-sama berjiwa progresif revolusioner. Keduanya orang-orang kiri, orang-orang sosialis, anti Nekolim. Karenanya, tentu saja, keduanya juga menjadi musuh atau setidaknya dimusuhi Amerika Serikat dan sekutunya.

Pasca tragedi Gestok (Gerakan Satu Oktober) atau yang oleh Orde Baru disebut Gerakan 30 September/PKI itu, terjadi dialog cukup intens antara Bung Karno dan Castro, antara lain melalui perantara Dubes Hanafi, orang kepercayaan Sukarno yang menjadi duta besar Indonesia di Kuba.

Nah, surat Bung Karno kepada Fidel Castro berikut ini, sedikit banyak menggambarkan situasi ketika itu.

Presiden Republik Indonesia

P.J.M. Perdana Menteri Fidel Castro, Havana

Kawanku Fidel yang baik!

Lebih dulu saya mengucapkan terima kasih atas suratmu yang dibawa oleh Duta Besar Hanafi kepada saya.

Saya mengerti keprihatinan saudara mengenai pembunuhan-pembunuhan di Indonesia, terutama sekali jika dilihat dari jauh memang apa yang terjadi di Indonesia – yaitu apa yang saya namakan Gestok dan yang kemudian diikuti oleh pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kaum kontra revolusioner, adalah amat merugikan Revolusi Indonesia.

Tetapi saya dan pembantu-pembantu saya, berjuang keras untuk mengembalikan gengsi pemerintahan saya, dan gengsi Revolusi Indonesia. Perjuangan ini membutuhkan waktu dan kegigihan yang tinggi. Saya harap saudara mengerti apa yang saya maksudkan, dan dengan pengertian itu membantu perjuangan kami itu.

Dutabesar Hanafi saya kirm ke Havana untuk memberikan penjelasan-penjelasan kepada saudara.

Sebenarnya Dutabesar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia, tetapi saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Kuba dan Indonesia adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadap musuh, yaitu Nekolim.

Sekian dahulu kawanku Fidel!

Salam hangat dari Rakyat Indonesia kepada Rakyat Kuba, dan kepadamu sendiri!

Kawanmu

ttd

Sukarno

Jakarta, 26 Januari 1966

Surat Bung Karno kepada Fidel Castro itu menggambarkan betapa revolusi Indonesia mundur ke titik nol. Betapa Bung Karno tengah menyusun kekuatan untuk memulihkan keadaan. Sejarah kemudian mencatat, ia digulingkan Soeharto. (roso daras)

Published in: on 30 Januari 2010 at 02:57  Komentar (19)  
Tags: , , , ,

Buat Bung Karno…, Semua Mungkin

Teramat banyak ceceran peristiwa menarik yang menyelimuti Bung Karno. Nah, dari yang banyak itu, Oei Tjoe Tat menukil sejumlah ketidaklaziman. Semua peristiwa “aneh” alias tidak lazim itu, dikutip Tjoe Tat para periode antara tahun 1963 – 1965. Periode Oei Tjoe Tat menjadi orang dekat Bung Karno, baik sebagai menteri atau sahabat.

Catatan pertama ia torehkan saat mendampingi Bung Karno dalam suatu lawatan ke Asia Pasifik. Syahdan, Bung Karno dan rombongan berada di Tokyo, hendak melanjutkan lawatan ke Pyongyang (Korea Utara). Masalahnya adalah, untuk keamanan, Bung Karno harus singgah dulu ke negara ketiga yang tidak bermusuhan dengan Korea Utara maupun Jepang. Terlebih, udara Korea sangat rawan, karena adanya daerah no man’s air. Mudah terjadi insiden antara kedua Korea, yang melibatkan Uni Sovyet (di belakang Korea Utara), Amerika Serikat dan Jepang (di belakang Korea Selatan).

Persoalannya adalah, Bung Karno tidak mau ribet. Ia mau terbang langsung dari Tokyo ke Pyongyang… dua kota yang sedang bermusuhan. Ajaib dan tidak sulit. Entah melalui cara bagaimana, akhirnya justru angkatan udara Jepang dan Korea Utara sepakat melakukan pengawalan bersama terhadap Bung Karno sampai mendarat selamat di Pyongyang, Korea Utara, November 1964.

Di Korea Utara, Bung Karno dielu-elukan rakyat setempat. Tak terkecuali Presiden Kim Il Sung. Selain disambut tari-tarian Korea, juga diarak keliling Pyongyang, dan berakhir di sebuah stadion. Massa membludak, bahkan membentuk konfigurasi di tribun bertuliskan “Hidup Presiden Sukarno”…. Sambutan yang luar biasa, melebihi sambutan mereka terhadap pemimpin dunia lainnya.

Setelah kurang lebih satu minggu di Korea Utara, Presiden Sukarno hendak melanjutkan lawatan ke Shanghai, RR Cina, dan langsung ke Jakarta. Teknis perjalanan ini, lagi-lagi musykil dilakukan, tanpa singgah dulu di Hongkong, misalnya. Bung Karno juga tidak sudi menjejakkan kaki di Malaysia yang waktu itu sedang berkonftrontasi dengan Indonesia. Satu-satunya kemungkinan stop-over lain di Okinawa, sebuah teritori Jepang tetapi merupakan pangkalan militer Amerika Serikat penting, yang tentu saja tertutup bagi penerbangan sipil.

Sekali lagi, tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang Sukarno. Begitulah, hingga akhirnya ia tertawa lebar saat menginjakkan kaki di karpet merah yang digelar untuknya, di pangkalan militer Amerika Serikat di Okinawa. Malahan dia disambut dengan kehormatan militer oleh Angkatan Laut AS.

Walikota Okinawa, demi melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala seraya berbisik kepada Oei Tjoe Tat: “Your President is wonderful. I never dream it would be possible….”

Nah, ulah eksentrik Bung Karno sebelumnya juga ditunjukkan ketika singgah di Shanghai. Dalam perjalanan dari bandara ke penginapannya di kota Shanghai, ia duduk berdampingan dengan Perdana Menteri Chou En Lai. Di sepanjang jalan, rakyat Shanghai mengelu-elukan mobil yang ditumpangi Bung Karno dan Chou En Lai. Sontak Bung Karno minta kepada Chou En Lai sahabatnya untuk membuka kap mobil, karena ia ingin berdiri dan membalas sambutan rakyat Cina.

Chou sempat berdiskusi sejenak dengan petugas keamanan. Sebab Chou benar-benar tidak menghendaki terjadi insiden terhadap diri Bung Karno. Apa lacur, Bung Karno memaksa. Maka dibukalah kap mobil, dan segera berhamburanlah rakyat Cina mengerubuti mobil Bung Karno. Mereka ada yang menyalami, ada yang menyerahkan bunga, sehingga dalam waktu sekejap, ribuan tangkai mawar ada di pangkuan Bung Karno. Massa yang lain, ada yang sekadar berteriak-teriak ke arah Bung Karno, dalam bahasa Cina yang tentu saja Bung Karno tidak paham. (roso daras)

Published in: on 29 Januari 2010 at 04:23  Komentar (15)  
Tags: , , ,

Tentang “Pemuda Mengguncang Dunia”

Rrrruuuaaaarrrr biasa… Itu kata-kata paling pas untuk menggambarkan antusiasme para pemuda yang menyatakan berminat untuk bergabung dalam komunitas “Pemuda Mengguncang Dunia”. Posting tentang undangan bagi para pemuda Sukarnois untuk berhimpun beberapa waktu lalu, ternyata mendapat sambutan dan dukungan di luar dugaan.

Di antara pengirim biodata ke alamat email mengguncangdunia@yahoo.com terdapat aneka latar belakang, aneka asal-usul, dan barangkali aneka angan-angan. Bersamaan dengan itu, tidak sedikit pula yang bernada protes, karena pada postingan awal, ada batasan usia. Di luar dugaan pula, sukarnois-sukarnois di atas 30 th, bahkan di atas 40 th ternyata banyak sekali yang ingin berpartisipasi.

Nah, di antara yang sudah berkirim biodata serta tulisan ringkas mengenai Bung Karno dan pemikiran-pemikirannya, tidak sedikit pula yang bertanya ihwal “untuk apa dan mau ke mana arahnya”.

Alhasil, saya terpikir untuk mengklarifikasinya sekali lagi. Bahwa usia 20 – 30 tahun bukanlah batasan mutlak. Kami terbuka untuk yang di atas 30 tahun, bahkan yang di bawah 20 tahun. Tujuan utama adalah menyatukan segenap elemen bangsa yang memilki ideologi dan pemikiran yang sama, ihwal ajaran Bung Karno.

Tentang ke mana arah dan tujuan setelah berhimpun? Ada banyak arah dan tujuan… dan bukan saya yang menentukan, melainkan kesepakatan floor. Yang jelas, kiprah sekumpulan manusia dengan landasan ideologi sama, tentu bisa menjadi sangat efektif. Baik itu berupa LSM, paguyuban, bahkan partai politik.

Karena itu, silakan bagi yang berminat gabung, segera berhimpun dan nyatakan melalui email ke mengguncangdunia@yahoo.com saya masih menanti. Ada rencana saya untuk memfasilitasi pertemuan pertama sekitar bulan Juni. Kepastian tanggal dan tempat, menyusul.  (roso daras)

Published in: on 25 Januari 2010 at 17:29  Komentar (2)  
Tags: , , ,

Rahasia Terbesar Hartini Sukarno

Dengar ungkapan Hartini tentang Bung Karno. Coba renungkan dalam-dalam kata demi kata berikut:

Saya cinta pada orangnya, pada Bung Karno-nya, bukan pada presidennya…. Saya akan perlihatkan kepada masyarakat, bahwa saya bisa setia, dan akan mendampingi Bung Karno dalam keadaan apa pun, juga dalam kedudukannya. Dan saya (Hartini), telah membuktikannya.”

Begitulah Hartini, yang bernama lengkap Siti Suhartini, wanita lembut, bergerak-gerik anggun. Ia, begitu dipuja oleh Bung Karno. Ia begitu dimanja oleh Bung Karno. Ia, begitu dibanggakan oleh Bung Karno.

Kita boleh menebak, apa gerangan yang membuat Hartini begitu istimewa? Bahkan Bung Karno bergeming menyunting Hartini, meski hal itu mengakibatkan Fatmawati meninggalkannya. Dalam buku Srihana-Srihani, Biografi Hartini Sukarno, ia mengemukakan salah satu rahasia terbesar, mengapa Bung Karno begitu mencintainya.

Ada banyak rahasia besar tentunya, dalam konteks hubungan lelaki dan perempuan. Akan tetapi, tentu saja tidak semua bisa dibagi. Alhasil, ia membagi satu saja rahasia buat kita, yakni ihwal kebiasaannya bertutur kata lembut, halus kepada Bung Karno. Ia, dalam keadaan santai, resmi, atau saat-saat memadu cinta, tetap menggunakan bahasa Jawa srata tertinggi yang disebut “kromo inggil”.

“Di situlah kelebihan saya,” kata Hartini suatu hari, seraya melanjutkan, “Mana ada orang sedang intim, masih juga ber-kromo inggil. Ini rahasia terbesar yang pernah saya buka. Sebaliknya, Bapak sendiri amat memperhatikan kepentingan wanita. Sama sekali tidak egois.”

Selebihnya, Hartini benar-benar mengabdikan diri sebagai seorang istri bagi lelaki Jawa dengan watak-watak khas. Watak-watak lelaki Jawa yang umumnya manja, suka dilayani bukan saja dalam hal fisik, tetapi juga perasaannya. Itu semua didapatkan dengan sempurna dari seorang Hartini. (roso daras)

Published in: on 23 Januari 2010 at 04:30  Komentar (13)  
Tags: , ,

Demi Ibu Oei, Bung Karno Makan Es Krim

Ini kisah mirip drama dua babak….

Babak Pertama

Tahunnya 1967. Tersebutlah Oei Tjoe Tat yang masih mendekam dalam tahanan pemerintahan Soeharto. Ia, suatu hari mendapat berita istrinya tergolek sakit. Sakit keras. Menteri yang juga orang dekat Bung Karno itu, diizinkan penguasa untuk menjenguk istrinya, tentu saja dengan pengawalan ekstra ketat. Lebih ketat dari pengawalan teroris.

Berapa waktu yang diberikan kepada mantan pejabat negara, yang ditahan hanya karena ia Sukarnois? Tidak lama, 15 menit saja. Itu pun tanpa privasi. Kelompok pengawal ikut masuk ke kamar, mengiringi Oei Tjoe Tat. Para pengawal bahkan dengan ketat menguping apa pun yang dikatakan Oei kepada istrinya yang tergolek lemas.

Demi melihat sang suami datang, Ny. Oei hendak bangun, tapi segera dicegah dokter. Oei begitu terpukul melihat istrinya tergolek sakit, sementara ia tak bisa berbuat banyak. Tidak banyak pula dialog yang terjadi dalam pertemuan yang begitu mengharukan, tetapi berlangsung pendek itu. Praktis, sepanjang waktu pertemuan, yang tampak adalah saling tatap Oei Tjoe Tat dan istrinya…. Mata keduanya berlinang air mata penuh makna.

Babak kedua

Sekitar hari itu, Bung Karno diam-diam bertandang ke rumah sepupunya, keluarga Mualiff Nasution di Jl. Jawa, Menteng, Jakarta Pusat.  Dalam suasana prihatin, Bung Karno ditemani Hartini, hanya kumpul dan makan bersama dua-tiga  ibu-ibu lainnya. Ny Oei yang tahu peristiwa itu, di tengah kondisi tubuh yang lemah, mengirim setermos es krim, disertai pemberitahuan tidak bisa hadir karena kondisinya yang sakit.

Es krim kiriman Ny. Oei sampailah pada Bung Karno. Seperti dituturkan Ny. Sutomo, istri bekas Menteri Perhubungan yang ikut hadir, Bung Karno, demi melihat es krim kiriman Ny. Oei, dan demi mengetahui Ny. Oei sedang tergolek sakit, serta merta minta diambilkan. Ya… Bung Karno ingin segera mencicipi es krim kiriman Ny. Oei.

Padahal, dokter pribadi Bung Karno melarang. Es krim akan memperparah sakit Bung Karno. Apa yang terjadi? Bung Karno sam sekali tidak mempedulikan larangan dokter. Ia tetap memakan es krim kiriman Ny. Oei.

Dan atas larangan dokter, ia menyanggah, “Kalau Jeng Oei sehat dan mengantar sendiri es krimnya, tentu saja saya tidak makan, karena dilarang dokter. Tetapi, Jeng Oei sedang susah, dipisahkan dari suami dan sekarang sedang sakit sehingga tidak bisa datang…. Aku takkan lebih parah atau mati karena es krimnya.” (roso daras)

Published in: on 18 Januari 2010 at 01:35  Komentar (10)  
Tags: , ,

Suatu Sore di CityWalk Sudirman

Ini kabar tentang peluncuran buku, Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer, Sabtu 9 Januari 2010 di CityWalk Sudirman, Lantai 1, Jakarta Pusat. Acara yang diisi talk show dengan pembicara tunggal sang penulis, dipandu dengan cantik oleh Lia, sang penyiar RRI Pro 2 FM Jakarta.

Dalam kesempatan itu, hadir tokoh nasionalis H. Amin Aryoso, SH, didampingi putranya, Azis Aryoso. Dalam salah satu kesempatan dialog, H. Amin Aryoso bahkan menyampaikan informasi menarik seputar Bung Karno dan para wanita. Spontan informasi tadi disambar hadirin yang lain dengan mengusulkannya menjadi sebuah buku baru.

Membahas Bung Karno dan para wanitanya, tidak akan pernah kering. Dalam forum itu, Agus Salim, pentolan Insan Muda Indonesia bahkan mengemukakan informasi yang pernah diterimanya. Sebagai generasi belia, ia pernah mendapat informasi tentang “kenakalan” Bung Karno ihwal perempuan. “Saya pernah mendengar, kalau Bung Karno berpidato, dan tangannya sudah menunjuk ke satu arah beberapa kali, maka sang ajudan atau pengawal harus tanggap… itu artinya di lokasi yang ia tunjuk ada wanita yang ditaksir Bung Karno…,” ujar Agus Salim sambil terkekeh.

Saya, tidak dalam posisi membenarkan ataupun menyanggah. Dalam hati saya hanya berimajinasi, berorasi di atas podium sambil melirik ke kanan dan ke kiri –di balik kacamata hitam– mencari wanita untuk ditunjuk. Apa mungkin? Di sisi lain, Bung Karno terbukti banyak melakukan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Jadi? (roso daras)

Published in: on 13 Januari 2010 at 02:33  Komentar (3)  
Tags: ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya.