Sukarno dan “Sukarno”

Meniru Sukarno

Hampir dalam setiap agenda pertemuan kaum nasionalis (Sukarnois), selalu muncul orang yang berpakaian ala Sukarno. Ia muncul dalam suatu seminar kebangsaan di Gedung Pancasila Pejambon. Dia muncul dalam acara rally sejarah peringatan HUT Proklamasi yang di antaranya diikuti mobil kepresidenan yang pertama. Dia muncul dalam orasi kebangsaan di altar Tugu Proklamasi.

Pendek kalimat, “Sukarno” ini senantiasa muncul lengkap dengan segala atribut yang biasa melekat pada sosok Sukarno. Ia berkopiah, simbol nasionalisme yang digaungkan Sukarno. Ia berkaca-mata hitam, kacamata yang banyak dicari-cari “pemburu” benda-benda peninggalan Sang Proklamator. Ia berbusana serba putih lengkap dengan aneka emblem dan bedge sebagai Panglima Tertinggi, Pemimpin Besar Revolusi. Tak lupa, ia juga menenteng tongkat komando.

Kehadirannya, tentu saja menyedot perhatian. Bagi yang sudah sering hadir pada agenda-agenda kebangsaan, kehadiran “Sukarno” tadi, relatif dianggap biasa. Ia hadir sebagai pelengkap suasana. Suasana memang menjadi bergairah, terlebih ketika terjadi pemandangan saling lempar pekik perjuangan: “Merdeka!!!” antara “Sukarno” dan para hadirin. Sebaliknya bagi yang belum terbiasa, kehadiran “Sukarno” belum afdol kalau belum diajak foto bersama.

“Sukarno” pun meladeni setiap permintaan berfoto bersama orang-orang, entah menggunakan kamera digital, atau kamera handphone. Setelah rentetan acara digelar, seseorang yang berkostum ala Sukarno itu, tentu saja kemudian menjadi pendengar yang baik. Ia duduk di antara para tamu undangan. Atau ada kalanya berdiri di belakang. Melihat pemandangan itu, tahulah kita, bahwa ia seorang “Sukarnois”. Saja. (roso daras)

Published in: on 2 Agustus 2009 at 03:32  Komentar (1)  
Tags: ,

Naik Kereta Api ke Rangkasbitung

Sebagai sebuah sejarah, Sukarno pun bisa dibelah-belah. Belahan pertama adalah periode tahun 1920-an, ketika ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Sebagai pendiri dan pemimpin PNI, Sukarno berhasil memberikan arah baru nasionalisme Indonesia. Belahan kedua adalah periode 1940-an, di era pendudukan Jepang. Pada era ini, Sukarno menjadi pemimpin terbesar dalam perjuangan nasional Indonesia.

Penggalan ketiga adalah era 1956 – 1959, saat ia melahirkan demokrasi terpimpin ala Sukarno. Nah, sekelumit sejarah berikut ini adalah penggalan peristiwa tahun 1957, periode unjuk pengaruh bagi bangsa yang terus dirundung konflik internal. Konflik politik yang melelahkan.

Turun dari KA di Rangkasbitung 1957

Awal tahun 1957, Bung Karno berkunjung ke belahan Banten yang lain. Ia mengunjungi Rangkasbitung dan Serang. Perjalanan ke Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak sekarang, dilakukan menggunakan kereta api uap, menempuh jarak 83 kilometer melewati jalur Serpong dan Parungpanjang.

BK di Stasiun Rangkasbitung 1957

Kota ini, tidak kalah pamor dibanding kota-kota di sekitar Jakarta seperti Buitenzorg (Bogor) di selatan Jakarta, maupun Rengasdengklok dan Karawang-Bekasi di timur Jakarta. Nama besar penulis Multatuli atau Max Havelaar memberi kontribusi berarti bagi Rangkasbitung. Benar, Multatuli pernah tinggal di kota ini.

Begitu tiba di stasiun, massa menyambutnya dengan gegap gempita. Lautan massa juga tumpah ruah di alun-alun kota Rangkasbitung. Di sini pula, Bung Karno melancarkan orasinya. Di tengah suhu politik yang bergelombang, Bung Karno terus dan terus menyuarakan pesan persatuan.

BK dan lautan massa

Kabinet boleh jatuh bangun, tetapi rakyat Indonesia tetap kokoh berdiri di belakang Bung Karno. Kabinet Wilopo hanya bertahan setahun (1952-1953), disusul Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955), kemudian Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1966), menyusul kemudian Kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957), dipungkasi dengan Kabinet Djuanda (1957-1959). Setelah itu, barulah era Demokrasi Terpimpin yang didahului dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Angklung dan Debus

Setelah perjalanan yang melelahkan, Bung Karno cukup puas dengan sajian budaya tradisi kita: Seni angklung Badui dan atraksi debus yang mendebarkan…. (roso daras)

Published in: on 31 Juli 2009 at 03:55  Komentar (11)  
Tags: , , ,

Rapat Raksasa “Persatuan” di Banten

Jalannya Republik Indonesia mengalami pasang-surut. Banyak kepentingan asing masih berniat mengobok-obok negara yang kaya sumber daya alam ini. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mendongkel pemerintahan yang sah. Salah satunya dengan menyokong pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwirjo yang mengusung idealisme mendirikan Negara Islam Indonesia.

Basis mereka adalah hutan-hutan Priangan. Mereka turun gunung melakukan aksi-aksi teror, dengan harapan mendapat publikasi internasional. Kesan yang hendak digalang adalah, pemerintah tidak becus mengelola keamanan rakyatnya.

Sementara itu, Bung Karno dengan pengaruhnya yang sangat besar, terus mengonsolidasikan persatuan dan kesatuan bangsa. Ia melakukan kunjungan ke wilayah Jawa Barat yang lain, yakni ke wilayah Banten, meliputi Rangkasbitung, Serang, dan Pandeglang. Di sini, Bung Karno menggelar rapat raksasa bertema “Persatuan”.

Rapt raksasa di alun alun serang, 1951

BK-rakyat Badui

Seperti biasa, dalam setiap kunjungan, Presiden Sukarno secara spontan akan mendatangi rakyatnya. Seperti ketika di Rangkasbitung, ia pun menyempatkan diri untuk berkenalan lebih dekat dengan masyarakat Suku Badui. Giliran para pengawal yang harus pandai-pandai mengamankan situasi, dan menghindarkan Bung Karno dari “serbuan” rakyatnya.

cenderamata dan kapal kovert

Dalam kunjungannya ke Serang, 1951 itu, Bung Karno menggunakan kapal perang jenis kovert milik Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Tampak pula, Bung Karno dihadiahi cendera mata berupa kerajina tangan tradisional masyarakat Pandeglang. (roso daras)

Saatnya Shalat di Amerika Serikat

Masih dalam rangka kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat tahun 1956. Ketika tiba saatnya shalat, Bung Karno dan rombongan menuju salah satu masjid di sana untuk bersujud. Foto-foto berikut terasa sejuk kalau kita resapi dalam hati. Karenanya saya merasa tidak perlu berpanjang kata mengomentari ataupun memuji. Kita nikmati saja deretan foto di bawah ini, sambil membenamkan imaji sedalam-dalamnya….

Bung Karno Sholat1

Bung Karno, dengan tongkat komandonya berjalan kaki melintasi koridor masjid. Para pengawal correct menjaga Presidennya, lantas mengiringkannya masuk ke dalam masjid.

Bung Karno Sholat2

Bung Karno Sholat3

Usai shalat berjamaah, Bung Karno berdoa sejenak. Sejurus kemudian, ia bangkit berdiri lagi untuk kembali melaksanakan shalat sunah dua raka’at…. Anggota rombongan lain, ada yang mengikuti Bung Karno shalat sunah, ada yang tekun berdzikir, ada pula yang beringsut mundur, dan menunggu di luar masjid.

Bung Karno Sholat4

Bung Karno Sholat5

Bung Karno Sholat6

Bung Karno Sholat7

Usai shalat, tak pernah lupa Bung Karno khusuk berdoa. Tampak di sebelah kiri Bung Karno adalah Roeslan Abdulgani. Diplomat muda, pahlawan pada pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya. Ia kemudian diangkat menjadi Menteri Luar Negeri, dan termasuk tokoh di balik Konferensi Asia Afrika Bandung yang bersejarah itu. Roeslan Abdulgani wafat 29 Juni 2005 dalam usia 91 tahun.

Bung Karno Sholat8

Bung Karno Sholat9

Bung Karno Sholat10

Seperti umumnya jemaah masjid, begitu pula Bung Karno. Di dalam masjid, tidak ada presiden, tidak ada menlu, tidak ada pejabat. Yang ada hanya imam dan makmum. Begitu pula usai shalat, Bung Karno dengan santai duduk di tangga masjid untuk mengenakan sepatu, seperti halnya jemaah yang lain.

Usai shalat, ia kembali melanjutkan protokol kunjungan kenegaraannya. Antara lain menggelar pembicaraan bilateral dengan Presiden Dwight Eisenhower yang dikisahkan “kurang mesra”. (roso daras)

Published in: on 28 Juli 2009 at 18:19  Komentar (85)  
Tags: , ,

Tiga Srikandi Bung Karno

U1355827

Dalam banyak kesempatan, Bung Karno begitu spontan menunjukkan kasih sayangnya kepada tiga srikandinya. Tiga srikandi yang tak lain adalah tiga orang putri yang tinggal bersamanya di Istana Merdeka, setelah Ibu Negara Fatmawati meninggalkan Istana. Mereka adalah Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati. Foto di atas diambil saat Bung Karno menciumi ketiga putri tercinta, Mega (kiri), Rachma (tengah) dan Sukma (sedang dicium), sebelum Bung Karno berangkat melawat ke Jepang selama tiga minggu.

Di tengah kesibukannya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, Bung Karno senantiasa meluangkan waktu bagi putri-putrinya, mulai dari menemaninya belajar, hingga bercengkerama dan berjalan-jalan. Bahkan, dalam agenda-agenda rutin di Istana, seperti pemutaran film atau pertunjukan wayang kulit, harus ada kursi kosong yang diperuntukkan bagi putri-putrinya, di sebelah kursi Bung Karno.

Bahkan, posisi ini bisa mengalahkan posisi seorang Harjatie, gadis penari Istana yang sedang “ditaksir” Bung Karno. Kisah ini akan saya tuturkan bersamaan kisah-kisah menarik percintaan Bung Karno dan Harjatie. (roso daras)

Tukang Beca pun Disapa Bung Karno

BK pidato di depan istana

Sekembali dari pembuangan tahun 1949, di depan Istana Merdeka, Bung Karno disambut massa yang mengelu-elukannya. Di hadapan rakyat yang dicintainya, Bung Karno berpidato singkat. Pertama-tama dan tak pernah lupa, Bung Karno menyapa para tukang becak, para tukang sayur, pada pegawai yang serendah-rendahnya…, “Alhamdulillah… kita sudah merdeka!!!”

Apa yang tersirat dari sapaan Bung Karno. Ia tidak pernah memuja dan memihak “wong cilik” hanya dalam retorika, tetapi ia menyayangi “wong cilik”, kaum proletar dari lubuk hati paling dalam. Ia memahami denyut hati abang becak, karena Bung Karno sering keluar malam, menyamar dan membaur dengan mereka. Ia menyelami kehidupan tukang sayur karena dalam penyamarannya, ia juga masuk-keluar pasar. Ia mengasihi pegawai rendahan, karena Bung Karno tidak pernah sungkan untuk makan dari periuk nasi yang sama. (roso daras)

Kemesraan Bung Karno – Kennedy

Berikut sederet foto, sejumput kenangan, kemesraan Bung Karno dan John F. Kennedy. Di mata Sukarno, hanya Kennedy presiden Amerika Serikat yang “mengerti dan menghormati” Indonesia, di saat blok Barat dan Blok Timur tebar pesona meraih simpati dari negara-negara yang baru merdeka, termasuk Indonesia. Kepada Bung Karno di Amerika Serikat, Kennedy berjanji akan berkunjung ke Jakarta. Sayang, pembunuh keji telah memupus nyawa Kennedy, memupus sejarah hadirnya Kennedy di Indonesia. (roso daras)

Bersama Kennedy

BK disambut Kennedy

bersama keneddy2

bersma Kennedy3

Kennedy-Megawati-12_9_1961

n839663683_1384155_8558

Apa Komentar Anda?

bk-hollywood

Bung Karno adalah pecinta keindahan…. Dalam bahasa yang terus terang kepada Cindy Adams, dia mengatakan, di antara yang termasuk keindahan itu adalah kecantikan seorang wanita….

Memang, ia juga mengatakan bahwa setiap memandang hamparan sawah, hijaunya pegunungan, ia spontan akan menarik nafas panjang mengagumi keindahan alam, mensyukuri nikmat Tuhan.

Perasaan yang kurang lebih sama ketika ia memandang “keindahan” seorang wanita. Tak ayal, pers Barat pernah menjadikan Bung Karno bulan-bulanan. Ia ditudingnya sebagai hidung belang… tak bisa memalingkan muka dari wanita cantik.

Menurut saya, Bung Karno adalah laki-laki normal dengan sikap yang spontan (jujur). Lebih dari itu, dalam banyak literatur, Bung Karno diakui oleh banyak wanita, sebagai “gentleman”. Tak heran bila ia laksana magnet bagi kebanyakan kaum Hawa. Anda bisa maknakan sendiri, bagaimana kehebatan seorang Bung Karno, bukan saja dari sisi negarawan, tetapi sebagai seorang laki-laki, sehingga begitu banyak istrinya… dan begitu banyak wanita memujanya. (roso daras)

Published in: on 18 Maret 2009 at 10:32  Komentar (4)  

Foto Bung Karno (1)

bk-baca-bukuPengunjung blog yang budiman… break sejenak, buat kita nikmati foto Bung Karno yang tengah tekun membaca. Foto ini tidak bisa dibilang eksklusif. Saya memilki sejumlah teman, teman diskusi, atau yang sudah terkategori sebagai tokoh masyarakat, foto Bung Karno dengan pose ini, acap saya lihat di dinding ruang tengah, atau ruang kerja mereka. Saya sendiri mendapati foto ini di lapak kaki lima di bilangan Senen, Jakarta Pusat, beberapa tahun yang lalu.

Niat semula, ingin saya pigura. Kemudian muncul lagi niat lain untuk menyerahkan kepada teman pelukis saya, untuk dilukis di atas kanvas. Dan hingga saya membuat blog ini, poster itu masih tergulung di sudut ruang kerja. Berdebu. Belum saya pigura, belum pula saya mintakan untuk dipindah ke bidang kanvas. Segera saya pindahkan ke blog ini.

Demi mengundang interaksi dengan Anda semua, mohon yang mengetahui latar belakang foto ini, sudi dan berkenan menuliskan dalam kolom komentar. Saya pribadi belum sempat berburu informasi ihwal foto yang satu ini. Saya hanya menduga-duga, dilihat dari konfisi fisik Bung Karno, kiranya foto ini diambil pada era perjuangan, pra kemerdekaan. Saya menduga foto ini diambil di kediaman/kos-kosan BK di rumah Bu Inggit di Bandung. Tapi sungguh, itu hanya tebakan. Barangkali Anda lebih detail mengetahu asal-usul foto ini, silakan berbagi. Thanks! (roso daras)

Published in: on 8 Maret 2009 at 08:42  Komentar (3)  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya.