Garuda di Dada Bangsa

Stadion Gelora Bung Karno bergetar oleh nyanyian “G-A-R-U-D-A…D-I…D-A-D-A-K-U”…. G-A-R-U-D-A…K-E-B-A-N-G-G-A-A-N-K-U….” Malam ini, 21 November 2011, gaung “GARUDA DI DADAKU” akan kembali menggema, bahkan lebih dahsyat, karena inilah partai puncak final cabang sepakbola SEA GAMES XXVI 2011. Terlebih, lawan yang dihadapi adalah Malaysia. Negeri jiran yang dilahirkan “menjadi seteru” bagi Indonesia.

Garuda, lambang negara, kini menjadi ikon penting. Bukan saja menjadi sebutan bagi Timnas U-23 yang sedia melakoni laga final, tetapi juga simbol negara yang begitu diagungkan rakyat Indonesia. Ini adalah sekilas riwayat lambang negara kita.

Lambang ini dibuat oleh Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Sultan Hamid II lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam darahnya mengalir garis Indonesia-Arab. Sebagai putra kerajaan, dia termasuk bumiputera yang mendapat keistimewaan pemerintahan Hindia Belanda, untuk bersekolah.

Jenjang ELS (sekolah dasar-menengah) ditempuhnya di sejumlah kota: Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Selepas ELS, dia melanjutkan ke jenjang HBS juga di Bandung. Kemudian kuliah di THS (sekarang ITB), kampus mana Bung Karno juga menimba ilmu hingga beroleh gelar “tukang insinyur” di sana.

Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Sukarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota.

Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Sukarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Sukarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Sukarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul”. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Sukarno memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak di Hotel Des Indes Jakarta 15 Februari 1950. Penyempurnaan lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul”. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan, atas masukan Presiden Sukarno.

Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini. (roso daras)

About these ads
Published in: on 21 November 2011 at 05:19  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: http://rosodaras.wordpress.com/2011/11/21/garuda-di-dada-bangsa/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bung Roso….secara tak sengaja saya menemukan web berikut (http://dimas-imam.blogspot.com/2010/01/perancang-lambang-negara-garuda.html) yang mana pada tulisan yang anda posting memiliki kemiripan dengan beberapa alinea tulisan pada blog tersebut. Tulisan pada blog dipostingkan pemilik blog atas nama Dimas pada hari hari Rabu, Januari 27, 2010. Setidaknya informasi itulah yg saya dapatkan apa adanya. Apakah tidak lebih baik jika anda mencantumkan sumber asal tulisan tersebut, yang bisa jadi berasal dari blog tersebut atau sumber-sumber lainnya. Salam

  2. Sungguh Pak Roso, Meski kata-kata Garuda di dada sering kita dengarkan tetapi sungguh miris sekali tidak sedikit dari anak anak muda yang tidak mengetahui siapa sesungguhnya yang membuat lambang negara kita, termasuk pelajar pelajar di daerah saya sekaligus juga daerah asal Sultan Hamid II itu tersendiri yaitu Pontianak. Bahkan pernah kutanya anggota paskibra yang mengaku sebagai pasukan pengibar bendera yg cinta Tanah Air di sekolah saya bahkan tidak tau. Sultan Hamid II hanya di sebut sebut dalam mata pelajaran sejarah dalam keterlibatanya dalam APRA westerling, Tak di Imbangi dengan penghargaan kepada beliau bahwa kita juga harus mengetahuinya sebagai pembuat lambang negara. sebelum mampu untuk memberikan penghargaan yg baik kita terlebih dahulu harus bisa mengenangnya. Bagaimana bisa mengenangnya jika di sekolah saja tak diajarkan ?

  3. Dear Mass Roso….ijin jiplak gih…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 350 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: