Seputar Kabar Burung Terbunuhnya Sukarno-Hatta

Bisa dibayangkan, belum genap setahun proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, situasi kota Jakarta chaos. Tentara Sekutu yang sudah mendarat, melakukan aksi polisionil. Mereka tidak saja menafikan kemerdekaan Indonesia, melainkan menangkap siapa saja yang ditengarai sebagai aktivis, tokoh pergerakan. Sukarno – Hatta adalah dua nama di urut paling atas yang harus ditangkap.

Hari demi hari, situasi tidak tambah reda, melainkan makin genting. Laskar-laskar pejuang sering melakukan pencegatan patroli tentara Sekutu, dan melakukan pertempuran jarak pendek yang heroik. Tidak sedikit pemuda Indonesia terkapar timah panas, tidak sedikit pula prajurit Sekutu yang berkalang tanah kena sabet golok, parang, atau bambu runcing.

Dalam pada itu, Sukarno pun melakukan aksi penggalangan kekuatan dengan cara-cara yang super hati-hati, untuk menghindari Sekutu. Sebagai manusia yang paling dicari oleh para intel Sekutu, Sukarno terpaksa harus berpindah-pindah domisi. Malam ini menginap di rumah si A, besok di rumah si B, lusa di rumah si C dan seterusnya.

Situasi tidak menguntungkan ini, dimanfaatkan oleh Tan Malaka dan teman seide dan seperjuangan untuk membuat testamen palsu. Testamen politik itu menyebutkan antara lain bahwa jika Sukarno – Hatta terbunuh atau berhalangan tetap, maka kekuasaan dipegang di tangan Tan Malaka. Bukan hanya versi itu, tetapi ada sejumlah testamen sejenis yang menyebut empat nama sebagai penerus jalannya Republik Indonesia yang baru merdeka, manakala proklamator terbunuh atau tertangkap Belanda.

Salah satu testamen yang beredar (atau diedarkan) di tengah masyarakat berbunyi, Kami, Ir Soekarno, Ketua Republik Indonesia dan Drs. Moh. Hatta, Ketua Muda Pemerintah tersebut dengan suci dan ikhlas hati kami menyerahkan pimpinan Pemerintah Republik Indonesia kepada sdr. Datuk Tan Malaka, pemegang surat ini.

Dokumen palsu itu beredar luas, dan makin membuat kacau Republik muda bernama Indonesia. Atas peristiwa tersebut, Hatta menuding tokoh pemuda Chaerul Saleh sebagai jenius jahat di balik dokumen palsu tadi. Dasarnya, sebuah penelitian dinas penyelidikan militer dan sipil.

Tan Malaka sendiri, dikabarkan telah memalsukan testamen tersebut, dan mengedarkan keliling Pulau Jawa. Dalam perjalanan keliling Jawa, Tan Malaka memperlihatkan testamen tadi kepada tokoh-tokoh berpengaruh di daerah-daerah yang ia singgahi.

Kepada para tokoh tadi, Tan Malaka mengatakan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta tertangkap polisi Inggris dan ditawan. Dengan sendirinya, proklamator tadi tidak mungkin bisa meninggalkan kota Jakarta. Nah, karena kedua proklamator itu ditawan Inggris, maka sudah menjadi tugasnyalah untuk mengambil alih kekuasaan, seperti yang mereka minta kepadanya, apalagi mereka tak lagi mampu. Begitu ujar Tan Malaka.

Berita tersebut jelas mengakibatkan suasana yang serba tak pasti. Rakyat di berbagai daerah menjadi resah. Sementara di Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta masih segar-bugar. Keduanya tetap menjalankan pemerintahan dengan berbagai cara. Dalam pada itu, keduanya menerima kabar adanya testamen palsu yang beredar.

Kisah testamen palsu itu berakhir dengan fakta bahwa Bung Karno dan Bung Hatta tidak terbunuh… tidak pula tertangkap tentara Inggris. Bahkan keduanya berhasil mengadakan perjalanan “hijrah” ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946 dengan aman dan selamat.

Selanjutnya, Bung Karno dan Bung Hatta mau tak mau harus melakukan perjalanan keliling daerah untuk menjumpai tokoh-tokoh jaringan pejuang. Bukan saja mengabarkan bahwa dirinya (dan Hatta) tidak terbunuh, dan tidak pula tertangkap, tetapi bahwa Republik Indonesia masih tegak berdiri, dan Sukarno – Hatta masih sebagai Presiden dan Wakil Presiden. (roso daras)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 351 pengikut lainnya.