Tan Malaka alias “Hussein dari Banten”

Mengapa nama Tan Malaka tidak boleh dilenyapkan dari benak bangsa Indonesia? Selain posisinya yang unik dalam perjuangan menggapai kemerdekaan, juga sepak terjang gerakan politiknya yang super radikal. Karenanya, tak bisa mengenang Bung Karno dengan melupakan Tan Malaka, begitu pula sebaliknya.

Tan Malaka bernama asli Ibrahim. Sebagai putra bangsawan Minangkabau, ia bergelar Datoek Tan Malaka. Gelar itu diberikan tahun 1913 dalam suatu upacara adat yang khidmat. Ia lahir (kemungkinan) tahun 1894 di desa kecil bernama Pandan Gadang, tak jauh dari Suliki, Minangkabau, Sumatera Barat.  Tata kemasyarakatan di tempat kelahirannya, akan mewarnai radikalitas gerakan yang ia lakukan di kemudian hari.

Dalam serial posting terdahulu sempat disinggung, betapa Tan Malaka-lah tokoh pejuang Indonesia yang pertama kali mempublikasikan gagasan Indonesia Merdeka, jauh sebelum gagasan yang sama disuarakan Hatta dan Sukarno.

Berbeda dengan Sukarno… berbeda dengan Hatta… berbeda dengan Soedirman… Tan Malaka memilih jalannya sendiri. Aliran kiri yang dianut, serta kiprahnya dalam pusaran komunis dunia, mengakibatkan nama Tan Malaka tidak lebih kecil dari nama Sukarno. Ia bukan saja diburu intel pemerintah Hindia Belanda, tetapi juga diburu oleh intel-intel negara-negara di belahan dunia yang lain.

Karena itulah, Tan Malaka sering menyamar menjadi orang lain. Termasuk saat hari-hati penting sedang berlangsung di kota Jakarta, menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sejumlah orang, bukan… bukan sejumlah orang, tetapi banyak orang yang menanyakan di mana Tan Malaka berada saat Sukarno membacakan teks proklamasi di Jl. Pegangsaan Timur?

Ternyata, ia ada di sekitar kota Jakarta. Ia datang dari Banten, bukan sebagai Tan Malaka, melainkan sebagai pemuda Banten bernama Hussein… lengkapnya Iljas Hussein. Ia bahkan sempat menemui sejumlah tokoh pergerakan dari kalangan pemuda, antara lain Soekarni. Bahkan Soekarni yang tidak tahu sedang berbicara dengan Tan Malaka, sempat menyuruh Hussein pulang ke Banten dan menghimpun para pemuda guna menyambut proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus tak lama lagi.

Selain Soekarni, Tan Malaka yang menyamar sebagai Hussein itu juga menemui Chaerul Saleh. Yang menarik adalah, bahwa Chaerul dan Soekarni dalam hati masing-masing paham benar dengan semua gagasan dan pemikiran Hussein. Sadar dan menyadari bahwa Hussein sedang mengemukakan ide-ide Tan Malaka. Tapi sungguh keduanya tidak menduga bahwa Hussein itulah Tan Malaka!

Dan… dalam biografinya, Tan Malaka juga sempat menyinggung peristiwa pembacaan teks proklamasi. Ia menuliskan begini, “Rupanya, sejarah Proklamasi 17 Agustus tiada mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tiada mempedulikan  penyesalan seseorang manusia, ataupun segolongan manusia”. (roso daras)

Published in: on 6 Mei 2010 at 14:05  Comments (3)  
Tags: , ,

Karikatur pun Jadi Senjata Konfrontasi

Bung Karno tidak saja pandai berorasi. Bung Karno bukan saja seorang propagandis yang jempolan. Lebih dari itu, ia juga melakukan media massa sebagai alat konfrontasi melawan imperialisme Belanda. Melalui majalah Fikiran Ra’jat yang ia pimpin, juga koran Suluh Marhaen dan lain-lain, Bung Karno adalah seorang penulis yang produktif.

Bukan hanya melalui tulisan, Bung Karno juga membuat coretan karikatur sebagai senjata konfrontasi menentang penjajahan. Kepeloporannya, bahkan mengundang karikaturis amatir lain di berbagai pelosok negeri untuk mengirim karya, buah ekspresi jiwa menentang Belanda. Karikatur-karikatur berikut adalah beberapa contoh:

Karikatur di atas, dimuat di majalah Fikiran Ra’jat nomor 6 – 7, tanggal 12 Agustus 1932. Latar belakang situasi politik ketika itu adalah terjadinya perpecahan golongan nasionalis yang memuncak pada dua kubu, PNI dan Partindo. Bung Karno gagal menuntaskan konflik itu dengan Bung Hatta, sehingga akhirnya Bung Karno memilih masuk Partindo.

Sekalipun begitu, Bung Karno (gambar tengah) tetap mengulurkan tangannya kepada PNI. Karikatur itu pun dilengkapi teks yang bunyinya, “Kasih tangan saudara! Bung Karno masuk P.I. tetapi terus berpolitik persatuan. Kaum Marhaen yang sengsara, Bersatulah”.

Dan, dalam majalah Fikiran Ra’jat itu juga dikeluarkan “Maklumat dari Bung Karno Kepada Kaum Marhaen Indonesia” yang merupakan ajakan Bung Karno agar kaum Marhaen tetap bersatu.

Nah, simak karikatur kedua di bawah ini:

Karikatur ini dimuat dalam Fikiran Ra’jat nomor 9 tanggal 26 Agustus 1932. Karikatur tersebut dikutip dari “Nieuws van den Dag”, koran yang berafiliasi ke pemerintah Hindia Belanda yang menggambarkan Bung Karno sedang berteriak: “Kamu Marhaen bersatulah, musuh lagi mengamuk”, sedangkan ditandaskan oleh koran N.v.D. “musuh sama sekali tidak mengamuk, sebaliknya ia ada baik hati dan asih….” Dua pendapat yang kontras ini dikomentari oleh Fikiran Ra’jat hanya dengan dua huruf…. Hm….

Kita simak karikatur ketiga berikut:

Karikatur di atas dimuat dalam Fikiran Ra’jat nomor 10 – 11, tanggal 9 September 1932. Situasi politik yang melatarbelakangi keadaan waktu itu adalah adanya bahaya nyata imperialisme yang melahirkan “zaman malaise”. Sementara, para pemimpin pergerakan saling cekcok. Bung Karno senantiasa memperingatkan: “Buat keseribu kalinya Bung Karno berteriak…. Kaum Marhaen Bersatulah!!!”.

Simak pula karikatur berikut:

Karikatur ini dimuat dalam majalah Fikiran Ra’jat nomor 17, tanggal 21 Oktober 1932. Saat itu Bung Karno sangat giat melakukan aksi propaganda politik kemerdekaan Indonesia. Karikatur ini merupakan kontribusi pembaca. Di bawah gambar dibubuhi tulisan, “Bung Karno dengan 1.900 mijls laarzen, plus… botol karbol” Maksudnya adalah, dengan 1.900 mijls laarzen itu ialah jarak perjalanannya menggembleng rakyat yang telah dilakukan Bung Karno. Botol karbol dimaksudkan sebagai upaya Bung Karno menasihati kaum cecunguk.

Yang berikut, tidak kalah menariknya….

Karikatur ini dimuat Fikiran Ra’jat nomor 29, tanggal 9 Desember 1932. Saat itu pemerintah Belanda terus mengincar Bung Karno dan menyiapkan tempat pembuangan untuk pemimpin-pemimpin pergerakan Indonesia dengan semboyan “openhare orde”. Dalam nomor itu juga Bung Karno menulis artikel “Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi: yang menitikberatkan tentang sikap rakyat Indonesia untuk tidak membantu dan tidak berkooperasi dengan pemerintah jajahan.

Karikatur berikutnya….

Karikatur ini dimuat Fikiran Ra’jat nomor 28, tanggal 6 Januari 1933, di saat keadaan gawat. Belanda mulai menunjukkan kekejamannya terhadap setiap gerakan kemerdekaan. Sedangkan Bung Karno bertambah berapi-api menentang penjajahan. Simak, gambaran stelsel imperialisme yang hendak membawa lari “Ibu” (Indonesia), dikepung oleh rakyat. Pun dalam edisi tersebut, Bung Karno memuat tulisannya yang berjudul “Cooperatie tidak bisa mendatangkan massa actie dan maschtsvorming“.

Menarik pula karikatur yang berikut ini….

Karikatur ini dimuat Fikiran Ra’jat nomor 23, tanggal 2 Desember 1932. Saat itu Bung Karno secara berani dan tandas melalui rapat-rapat Partindo mengobarkan usaha mencapai Indonesia Merdeka, dan menunjukkan cara-cara bagaimana mengakhiri penjajahan Belanda di Indonesia. Koran-koran yang merupakan antek-antek Belanda seperti Java Bode – AID – Preanger Bode – dan Nieuws van den Dag telah berteriak-teriak meminta agar pemerintah kolonial Belanda menangkap Bung Karno dan membuangnya.

Terakhir, nikmati karikatur berikut:

Karikatur di atas merupakan kiriman pembaca majalah Fikiran Ra’jat dari Klaten, dan dimuat dalam penerbitan nomor 36, tanggal 3 Maret 1933. (roso daras)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 372 pengikut lainnya.