Bung Karno dan Kartosuwirjo, Saling Ejek, Saling Bunuh

Bung Karno dan Kartosoewirjo

Jika panggung sejarah hanya berisi dua tokoh: Bung Karno dan Kartosoewirjo, maka yang terjadi adalah sebuah drama tragedi kehidupan yang sangat dramatis. Bahkan, hampir bisa dipastikan, jauh lebih mencekam dibanding lakon “Lawan Catur”, sebuah naskah drama karya Kenneth Arthur (Kenneth Sawyer Goodman) yang diterjemahkan dengan apik oleh almarhum Rendra.

Lakon “Lawan Catur”, hanya menyuguhkan tokoh Samuel dan Antonio. Keduanya terlibat permainan catur yang penuh trik, penuh strategi, penuh konflik, dan… secara keseluruhan begitu memukau, mencekam, dan pada akhirnya menghibur. Sedangkan tokoh Oscar dan Verka lebih sebagai pemain figuran. Repertoar itu begitu memukau di tangan sutradara handal seperti Rendra.

Tak ubahnya Bung Karno dan Kartosuwirjo. Sejak tahun 1918 keduanya terlibat jalinan pertemanan yang kental di rumah HOS Cokroaminoto, Surabaya. Mereka bahu-membahu berjuang demi kejayaan negeri bersama Cokro. Akan tetapi, di bagian akhir, keduanya terlibat perbedaan paham yang keras. Bung Karno yang nasionalis berselubungkan Pancasila. Karwosoewirjo bergaris Islam ekstrim, dan menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Dengan sutradara Tuhan Yang Maha Agung, “drama” keduanya benar-benar mencekam, dengan ending yang tragis.

Melayang ke tahun 1918, 1919 …  dan masa-masa di sekitar itu, Bung Karno dan Kartosoewirjo benar-benar berkarib. Di luar konteks kebangsaan, mereka bergaul layaknya anak muda pada zamannya. Termasuk, saling ledek, saling ejek, dan saling lempar canda dan tawa.

Ingat kebiasaan Bung Karno berpidato di depan kaca di dalam kamar yang pengap dan gelap? Ya, di satu kamar paling ujung, satu-satunya kamar tak berjendela sehingga siang-malam Bung Karno harus menyalakan pelita, Bung Karno acap berpidato berapi-api. Dari luar kamar, teriakan-teriakan Bung Karno membahana. Sekali-dua, rekan-rekan satu pemondokan menegurnya. Akan tetapi, ketika Bung Karno tidak juga menghentikan kebiasaannya berpidato di depan cermin… mereka pun mengabaikan.

Nah, salah satu penghuni rumah yang tak bosan berkomentar atas ulah Bung Karno hanyalah Kartosoewirjo. “Hei Karno… buat apa berpidato di depan kaca… seperti orang gila saja….” Kartosoewirjo tak bosan mengejek dan melempar ledekan kepada Bung Karno? Atas itu semua, Bung Karno tak menggubris. Ia melanjutkan orasinya, meski hanya didengar tembok dan sekawanan cicak, nyamuk, dan keremangan suasana.

Usai berpidato, barulah Bung Karno membalas ledekan Kartosoewirjo. Pertama-tama, Bung Karno akan mengatakan apa yang ia lakukan adalah salah satu persiapan menjadi orang besar…. Jika Kartosoewirjo meladeni, maka aksi saling ledek pun berlanjut. Ibarat “lawan catur” langkah skakmat Bung Karno untuk membungkam ejekan Kartosoewirjo adalah kalimat menusuk seperti ini, “… tidak seperti kamu…. udah kurus, kecil, pendek, keriting… mana bisa jadi orang besar!”

Lakon terus bergulir. Keduanya terus memperjuangkan ideologinya. Keduanya bertujuan memberi yang terbaik buat bangsanya. Sampailah Bung Karno pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sedangkan Kartosoewirjo, meski pernah direkrut Bung Karno sebagai Wakil Menteri Pertahanan, tetapi ideologi garis kanan tak luntur.

Alih-alih menopang republik yang baru seumur jagung, Kartosoewirjo nyempal dan mendirikan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII). Bahkan tahun 1948, Kartosoewirjo memakulmatkan perang kepada Bung Karno (pemerintah yang sah). Lalu dua tahun kemudian, 1950, ia menyalakkan api perang dengan statemennya, “Bunuh Sukarno. Dialah penghalang pembentukan Negara Islam.”

Sejak itu, sejumlah usaha pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilakukan oleh para teroris anak buah Kartosoewirjo. Peristiwa penggranatan Cikini 30 November 1957 adalah salah satu saja dari sekian banyak rentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno oleh anak buah Kartosoewirjo. Masih ada peristiwa lain seperti penembakan Istana oleh Maukar. Kemudian penembakan waktu Bung Karno sedang shalat Idul Adha di masjid Istana, dan lain-lain upaya yang semuanya gagal.

Sebaliknya, TNI berhasil mendesak DI/NII, menangkap gembong Kartosoewirjo… dan ia pun dihukum mati. Akan tetapi, sebelum Bung Karno menandatangani surat persetujuan eksekusi mati, juga tersimpan kisah menarik yang sungguh mengharukan. Bagaimana kisahnya? (roso daras)

About these ads
Published in: on 17 Oktober 2009 at 02:47  Comments (24)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: http://rosodaras.wordpress.com/2009/10/17/bung-karno-dan-kartosuwirjo-saling-ejek-saling-bunuh/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mereka berdua adalah proto dan beta..
    jika ada satu manusia sempurna didunia ini adalah Kartosuwirjo (proto) dan Sukarno (beta).. kira2 ini rumusannya : proto -> insanul kamil <- beta

    namun proto dan beta ini tidak pernah bisa bersatu krn mereka adalah Yin dan Yang
    … Baca Selengkapnya
    oh ya Om.. bagi aku mereka berdua adalah "Presiden"

    proto adalah Presiden Negara Hisbullah DII dan Beta adalah Presiden Negara Pancasil RI.. yang hingga detik ini mereka berdua msh dijunjung tinggi oleh para rakyat dr masing2 warga "negara"nya.. dan hingga detik inilah drama tragedi masih terjdi di negara ini..

  2. Di DI/TII nggak ada Presiden yang ada Imam

    • Presiden (Latin: “prae” = sebelum dan “sedere” = menduduki) adalah suatu nama jabatan yang digunakan untuk pimpinan suatu organisasi, perusahaan, perguruan tinggi, atau negara. Pada awalnya, istilah ini dipergunakan untuk seseorang yang memimpin suatu acara atau rapat (ketua); tapi kemudian secara umum berkembang menjadi istilah untuk seseorang yang memiliki kekuasaan eksekutif dan berkembang sebagai pimpinan militer tertinggi. Lebih spesifiknya, istilah “Presiden” terutama dipergunakan untuk kepala negara suatu republik, baik dipilih secara langsung, ataupun tak langsung.
      (http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden)

      “Imam” berarti pemimpin atau orang yang di depan. Kata “imam” dalam bahasa Arab tidak menunjukkan arti kesucian hidup. Dan imam adalah orang yang punya pengikut, tak soal dengan fakta apakah dia saleh atau tidak. Al-Qur’an sendiri menggunakan kata ini dalam kedua arti itu. “Kami tunjuk mereka sebagai Imam yang memberikan panduan dengan izin Kami.” (QS. al-Anbiyâ': 73). Dan “Imam-imam yang mengajak orang ke neraka.” (QS. al-Qashash: 41). Mengenai Fir’aun, Al-Qur’an menggunakan frase yang mengandung arti yang sama dengan arti imam atau pemimpin. Dikatakan: “Pada Hari Pengadilan dia akan membawa kaumnya ke api neraka.” (QS. Hûd: 98)
      Dan pada akhir hayatnya para pengikut DI/TII menyakini bhw dalam Madhab Imam mrk adalah Imam Syafi’i, Hambali, malik, Abu Dawud, dan didalam aqidah Imam mereka adlh Ashari dan Mansur al-Maturidi, dan Imam dalam Hadist bagi mereka ada Bukhari, Abu Dawud dan Fakhr al-Razi. Dan mungkin didalam sebuah “negara” mereka menyebut Kartosuwiryo sbg “imam”.(dr berbagai sumber)

      jadi apabila kita lihat secara arti kata antara “presiden” dan “imam” apakah berbeda..? namun yg kita bicarakan disini adalah sebuah “negara”. yang pada umumnya pemimpin negara saat ini dikenal sebagai “presiden”. Dan apakah sy salah jika saya menyebut kartosuwiryo sebagai “presiden” bagi para jama’ahnya. bahkan Bpk Sukarno pernah berkata pada pidatonya “even God does not sleep when our nation was colonized by the colonizer!” (pidato Front Nasional 1963. beliau mengatakan “Tuhan” dengan kata “God”.. Imam atau presiden terserah perspektif anda untuk melihatnya dr dunia mana.. :-)..

      Salam juang saya..

      • Dalam Proklamasinya SMK menyebut dirinya sebagai Imam NII,dalam NII tidak ada demokrasi karena bersifat absolut,dalam kenyataannya mereka anti demokrasi hingga sekarang jadi Imam sama dengan Raja,Amir begitulh pendapat saya,dan NII tidak pernah berjuang melawan Belanda tetapi memberontak terhadap Republik Indonesia.

      • bagi kami, Kartosuwiryo dan pasukan hizbullah adalah pejuang yang istiqomah. Pasukan mana yang khianat dan lari dari peperangan? Kartosuwiryo dan pasukannya, tidak mau mengikuti terbentuknya RIS tetap berada ditempatnya. Sementara yang lain, dengan meminjam istilah islam “Hijrah” ke Yogya. Jadi menurut saya, Indonesia saat itu sebenarnya hanya sebatas Yogya. Saya tidak sependapat, kalau kartosuwiryo adalah sempalan/pemberontak. Dari mulai SD, SMP s/d SMA banyak sejarah yang ditutupi. Kebenaran sejarah banyak diputarbalikan hanya demi kekuasaan…..

    • Om…Roso… pro dan kontra, sukarno dan karto suwiryo, NKRI dan NII, SDI dan SI menjadi PSII, merah dan putih, Kanan dan kiri, Boedi utomo dan selanjutnya…
      pahami seluruhnya jangan sepenggal sehingga kabarkan kebenaran bukan pola pandang, tapi ya sah-sah aja manusia punya pemikiran…

      Kalau ingin mempertahankan persatuan, hindarkan friksi dari sebuah komparasi. jadikanlah perbedaan itu sebagai hikmah untuk kemajuan bersama dari yang telah diperjuangkan.

      Dan Jika kita adalah ciptaan tentunya ada Sang Maha Pencipta, maka jika tak lurus kita maka akan diluruskan oleh Sang Maha Lurus.

      salam
      Wong Ciliek

  3. Pada hari ini 17 Oktober 1952 Suatu Peristiwa TNI mengepung Istana Merdeka dan mengarahkan meriam ke Istana untuk memaksakan Bung Karno untuk mengikuti kehendaknya dipimpin oleh Nasution dkk,namun Bung Karno dengan tenang menghadapinya dan memerintahkan Tentara untuk kembali ke barak karena Bung Karno tidak mau dipaksa dengan senjata

  4. ohm Roso….. klo gak salah yg memimpin tentara, mengarahkan meriam ke istana negara ialah “Kemal Idris”.

    • Itu peristiwa lain… klimaks perseteruan Nasution – Bung Karno. Yang penembakan oleh Maukar, adalah penembakan dengan pesawat tempur. Bung Karno selamat karena “kebetulan” pagi itu duduk di kursi yang tidak biasanya.

  5. masih saja spt dulu ya Om.. yang muda yg tidak didengar.. namun jika kita kembali kepada “JASMERAH” bangsa ini merdeka oleh yang muda.. yang “tua” sih doanya aja banyakin buat yang muda biar sehat dan kuat untuk tetap melanjutkan perjuangan, karena revolusi tidak pernah berakhir selama masih ada rakyat yg merintih dan mengadu ttg penderitaannya

    “kembalilah kepada sumber amanat penderitaan rakyat kita yang “conren consious men*”.. kembalilah pada sumber itu, sebab disanalah sodara akan menemukan kembali sumber “Real”nya revolusi..” (Pidato Gesuri HUT RI 1963) *(maaf jika salah kata krn sy dengar pidato dr rekaman sebuah kaset tua, harap maklum :-))

    salam juang selalu ah.. \:-D

  6. Seperti cersil saja. Satu guru satu ilmu yang secara tragis mesti bertarung di lembah persilatan. Btw, artikelya dilanjutin dong om roso. Endingnya kurang jelas.

  7. NII secara de facto maupun de yure tidak ada karena untuk mendirikan suatu negara diperlukan wilayah,Rakyat dan pemerintahan yang tertib,sehingga NII adalah Pemberontak secaea diam diam didalam Negara Republik Indonesia yang semua ini merugikan bangsa sendiri,memecah belah bangsa sendiri.Sudah terlalu banyak korban perang antar saudara sendiri sementara penjajahan terhadap bangsa Indonesia telah kembali dalam bentuk penjajahan ekonomi,penjajahan budaya,hutang luar negeri yang semakin menjerat kita dalam jalan kebangkrutan,sampai kapan? Sampai seluruh rakyat ini sadar bernegara sebagai suatu sistem negara bukan berpegang pada tokoh.

    • Silahkan baca sejarah sekali lagi mengenai hal ini. Agresi Militer Belanda 1 melahirkan perjanjian Renville yang isinya adalah wilayah RI hanya Yogyakarta dan sekitarnya oleh karena itu semua alat negara RI termasuk tentara harus hijrah ke Yogyakarta. Isinya yang lain adalah pembentukan negara-negara bagian (Federasi). Jadi wilayah Jawa Barat secara de facto dan dejure bukan wilayah RI. Oleh karena itu Kartosoewiryo memproklamirkan NII. Secara de facto saat itu wilayah Jawa Barat kosong dan kekosongan ini diisi oleh Kartosoewiryo.
      Agresi militer Belanda 2, wilayah RI makin sempit, pemimpinnya ditangkap.

  8. Menurut saya, seandainya pada zaman itu Soekarno dan Kartosoewiryo saling bekerja sama maka Indonesia sekarang akan sejahtera. Tidak salah Indonesia menjadi negara Islam, karena mayoritas penduduk adalah muslim. dan islam dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh ummat. sedangkan demokrasi adalah produk yahudi, kekuasaan ditangan rakyat. tapi nggak jelas rakyat yang mana? yang kaya apa yang miskin? yang ada sekarang yang kaya makin kaya yang miskin tambah melarat… apabila hukum yang dipakai adalah hukum islam. saya menjamin takkan ada yang namanya korupsi dipemerintahan karna dari awal berdirinya diisi dengan orang-orang yang berakhlak dan kompeten. takkan ada istilah kabinet “balas budi”, setelah 64 tahun Indonesia merdeka kita masih saja terjajah dinegeri sendiri…, sampai kapanpun Indonesia nggak akan maju karna sudah menjadi watak orang Indonesia suka “dijajah”.=>Dalam arti yang lebih luas.

    • Setuju… hukum buatan manusia, tidak ada yang relevan. Apalagi bila hukum itu mengacu kepada Yahudi. So, bila islam ada suri tauladan lewat Rusulullah. Kalau Pancasila, siapa yang jadi suri tauladan…..????? Siapakah contoh nama manusia indonesia yang berpancasila…???

      • Gak pernah dengar ibnu suud dan dinastinya perang sama orang kafir. Yg ada ibnu suud perang sesama muslim. Saudi arabia itu sekutu Amerika.

  9. mas agung saputra…
    saya juga gak suka dijajah lho.. termasuk oleh sempitnya pemahaman terhadap islam, shg ingin mendirikan negara islam indonesia, krn merasa paling berjasa dlm ratusan tahun terakhir… ingin negara bersyariat mirip arab.. Lha wong kita ini dari bumi pertiwi yg juga punya budaya yg terbentuk sejak ribuan tahun silam dan punya panutan hidup versi sendiri yg digali bung karno dan para pendiri RI ini.. yg mampu merangkul berbagai isme diseluruh dunia..
    nuwun sewu.. itulah jati-diri kita.. maaf jati-diri saya.. perasaan terjajah terjadi krn ‘tak tahu jati-diri’ sendiri.. setiap ciptaan Tuhan pasti akan mengalami era ke-emasan.. apakah manusia atau bangsa.. pasti akan mengalami era ke-emasannya itu..
    bangsa yahudi sekarang jaya.. arab pernah jaya.. indonesia?.. pasti jaya..

  10. MERDEKA ATAU MATI!!!

  11. Jasa umat Islam jauh lebih besar dalam membebaskan dari belenggu penjajahan di Negeri ini. Para pelaku Peristiwa 10 Nopember/ pertempuran surabaya adalah para ulama dan santri. Nama Hizbullah (belakangan ditiru mungkin oleh saudara kita di Libanon) adalah komponen utama pasukan TKR / BKR. Bagi saya perjuangan Kartosuwiryo sebagai pelanjut cita-cita Haji Umar Said Ckoroaminoto lebih mulia ketimbang Sukarno. Kartosuwiryo membela Agama Allah yang juga pemilik sah Bumi ini (termasuk Indonesia). Sekarang perjuangannya diteruskan oleh umat Islam baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Umat yang taat pasti akan pilih bergabung Mendirikan Negara Khilafah dan menerapkan syariat Islam. Terkecuali kaum teroris yang berkedok Islam semacam Nurdi Top semoga laknat Allah atas dia yang disinyalir ditunggangi konspirasi kaum kafir untuk mendiskreditkan Islam dan kaum muslimin yang cinta damai.

    Ingat pembukanan UUD 1945 “Atas berkat dan Rahmat Allah”. Bukan atas berkat Tuhan yang ga jelas tuhan yang mana (tuhan bisa siapa saja). Yang tuhannya cuma Allah tidak salah lagi cuma umat Islam. Maaf yah buat yang non muslim/penganut kepercayaan. Tapi ini fakta. Makanya orang indonesia itu ga konsisten (termasuk Sukarno) ngaku muslim, pake kopiah, naik haji eeeeh giliran hukum syariat Allah diabaikan. maah pake sistim demokrasi warisan imprelis.. Pantas aja 60 tahun jadi negara terkorup didunia… rakyat miskin.
    Mari kita disini termasuk Bung Roso Selamatkan Indonesia dengan Syariat!!!!! Amin

    wassalam,

  12. Sejarah adalah sebuah pelajaran berharga, mengapa kita selalu cendrung untuk ‘mengadili’ sejarah itu sendiri tanpa mencoba memahami dan mempelajari hikmah yang terkandung di dalamnya…
    dari sejarah kita mendapat fakta bahwa Ir.Soekarno bukanlah orang yang sempit pemikiranya,kenyang wawasan dan pengalaman. demikian juga SMK, beliau pun termasuk lingkungan orang2 terpelajar saat itu yang aktif dalam pergerakan pra kemerdekaan, dan seperjuangan dengan bung Karno.
    Bukan soal salah dan benar, tapi itulah politik dan ideologi…
    keduanya konsisten di jalur politik dan ideologinya masing2,

    hanya satu faktor yang berbeda antara keduanya..
    Sukarno menjunjung tinggi nilai persatuan Bangsa ini , SMK tidak.
    Bukankankah Sukarno sudah menawarkan rekonsiliasi, sebelum opsi militer diambil. bahkan setelah tertangkap pun opsi ini masih berlaku,
    Bukankah Sukarno juga beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan yang diperintahkan SMK,tetapi beliau tidak mendendam secara pribadi terhadap SMK.

    Soal keabsahan proklamasi NII secara hukum dan fakta..tinggal dilihat dari sudut pandang mana..?
    Ingatlah… kejadian politik tingkat tinggi tahun 40-50 an terjadi saat bangsa ini masih sangat minim jumlah orang yang berpendidikan saat itu.,
    Kalaulah saat itu NII ‘benar’ mengapa rakyat ( umat islam) tidak seluruhnya mendukung..? faktanya sebagian besar rakyat di jawa waktu itu masih menganggap RI sebagai negaranya dan Bung Karno sebagai pemimpinya..

    Bung Karno semenjak jaman pergerakan (1920-an) konsisten dengan nasionalismenya dengan PNI untuk mencita-citakan ‘Indonesia Merdeka’ dan ini dilakukan terang-terangan terhadap pemerintah kolonial Belanda yang kemudian memenjarakan dan membuanganya.
    Apakah SMK juga semenjak jaman pergerakan sudah membuat wacana terang-terangan untuk mencita-citakan ‘NII Merdeka’….?
    Wajarlah rakyat menilai seorang Sukarno sebagai pemimpinya..

    Faktanya lagi, cobalah kita tanyakan kepada Orang-orang tua kita di daerah yang pernah jadi ‘basis daerah NII’ dulu, tentang kesan-kesan yang didapatkan dari pergerakan mereka (DI/TII)….

    Sekali lagi bukan soal benar atau salah, tapi persoalan politik harus dilihat dari kacamata politik.
    ingatlah agama pun kadang dibawa-bawa untuk kepentingan politik..

    salam damai buat semuanya
    piss….:)

  13. Bagaimana mungkin kita bisa bersatu apabila masih mempersoalkan dasar negara dan agama yang jelas berbeda,pertengkaran yang tak habis habisnya inilah yang menyebabkan negara kita semakin mundur mudah dikuasai modal asing dan utang luar negeri ini suatu penjajahan gaya baru yang disebut Bung Karno dengan Neo Kolonialisme dan terorisme.
    Kedaulatan dibidang Politik,Berdikari dibidang Ekonomi dan Berkepribadian dibidang Kebudayaan adalah cita cita bangsa Indonesia yang Ini agar terlepas dari Penjajahan antar manusia oleh siapapun.
    Ingatlah sejak jaman Belanda menjajah kita politik memecah belah bangsa ini sudah dilakukan agar kita tetap terjajah.
    Bersatulah bangsaku,jagalah negara ini dari perpecahan,apapun pandangan politikmu,apapun agamamu,apapun suku bangsamu kita harus bersatu melakukan perubahan sikap hidup untuk merdeka,untuk menegakkan hukum dinegara ini secara adil dan bermartabat sesuai dengan tujuan Proklamasi 17 Agustus 1945

  14. gmana mas kelanjutan kisahnya?
    penasaran nh .,
    saya pengagum bung karno .

    keep posting yh mas .salam

  15. pemikiran sekulerlah yang membuat orang2 kehilangan ideologinya!!!moral kita bisa berpikir secara sehat karena dari kecil kita sering dididik keagamaan!!!dalam Al-Qur’an udah tersaji lengkap kebutuhan manusia apabila mau mendalami dan mengamalkannya!!! ada yang membahas jihad u/ membela diri, ada yang membahas sosialisme, dll. ada banyak negara yang menggunakan agama sebagai pedoman bernegara dan berhasil bertahan ditengah tekanan negara2 bangsat seperti amerika Cs. tetapi seperti Indonesia yang ngaku2 memiliki ideologi terbaik malah sekarang menjadi bangsa yang tercabik2!!!yang penting kalo setiap orang memegang ideologinyna secara bertanggung jawab dan bukan hanya sebagai kedok seperti suharto pasti Indonesia makmur!!! Intine mo Pancasila kek mo islam kek, yang psti harus konsisten bro!!!Indonesia sekarang ini memiliki slogan: apapun pandangan politikmu,apapun agamamu,apapun suku bangsamu, tidak masalah tapi yang penting siapapun penjajahmu terima sajalah!!!

  16. Hahahhaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,, Sejarah merupakan cerita lalu, yang bukan berarti “berlalu”. Sejarah tidak selalu lurus, dan tidak berati sejarah juga berliku dan hilang, Jika saat ini kita masih saja saling mengatakan “Akulah Paling Benar”, dan mengungkit masa lalu, kembalilah ke masa lalu (itu juga klo bisa).

    Sekarang… Sejahterakan Rakyat, Bahagiakan Bangsa, tidak ada lagi kemiskinan, tidak ada lagi buta huruf, tidak ada lagi bentrokan bentrokan mengatasnamakan SARA.

    Tunjukan INDONESIA BISA…!!!!!!
    Sekali lagi “INDONESIA”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 355 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: