Benoe Merinding Memegang Baju Kebesaran Bung Karno

benoebuloeIngat host kocak acara kuliner Benoebuloe di Trans TV beberapa waktu lalu? Lelaki hitam manis berdarah Aceh ini, bernama asli Ibnu Sakdan. Dia sempat merintis karier jurnalistik di Tanah Rencong antara 1999 – 2004. Konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI menjadi ajang liputan rutin baginya.

Tahun 2004, adalah tahun hijrah Benoe, begitu ia akrab disapa. Tahun itu, ia meninggalkan Aceh untuk bergabung dengan Trans TV Jakarta menjadi video journalist (VJ). Dua tahun setelahnya, ia dipercaya menjadi host sekaligus reporter untuk acara kuliner Benoebuloe di Trans TV hingga tahun 2013.

Acara kuliner yang bisa dibilang lepas dari mainstream ini, tidak begitu lama menyedot perhatian pemirsa. Kostum yang unik, cara pembawaan yang atraktif, serta gaya makan khas benoebuloe, membuat acara yang dipandunya bertahan cukup lama.

Cukup menarik menyorot sosok yang satu ini. Setidaknya menarik bagi saya, ketika ia menghampiri dan menyinggung tentang Bung Karno. Ya, ternyata Benoe itu pengagum berat Putra Sang Fajar. Saya bertemu dia di Kompas TV, menjelang dan usai perekaman acara Three in One, yang mengangkat topik “Warisan Soekarno”.

Kompas TV? Benar, sejak 2014, Benoe bergabung dengan Kompas TV, setelah sebelumnya sempat membintangi tiga judul film produksi Maxima Picture. Rupanya, break sejenak dari TV, ia menjajal kemampuan akting dalam film antara lain “Lihat Boleh Pegang Jangan” dan “Kakek Cangkul”. “Itu kegiatan tahun 2013, sebelum akhirnya, tahun 2014 saya kembali ke televisi,” ujar Benoe.

Kembali ke soal Benoe dan Bung Karno…. Ia pertama dan yang utama mengagumi Bung Karno karena kharismanya. “Benar! Bung Karno sangat kharismatik. Sampai-sampai, saya merinding ketika memegang salah satu baju kebesaran beliau,” ujar Benoe.

Adalah Romi Soekarno, cucu Bung Karno dari Rachmawati Soekarnoputri, yang hari itu hadir di Kompas TV menjadi salah satu narasumber bersama Puti Guntur Soekarno. Romi membawa baju kebesaran Bung Karno yang disimpannya dengan sangat baik, sebagai salah satu warisan tak ternilai harganya. Jas kebesaran warna hijau tua itu, lengkap dengan atribut dan pangkat kebesaran sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata/Pemimpin Besar Revolusi Republik Indonesia.

“Demi Tuhan saya merinding ketika memegang salah satu baju kebesaran beliau lengkap dengan atribut kepangkatannya, “ ujar Benoe, dengan ekspresi serius, tapi tetap lucu….

Saking semangatnya berbicara tentang Sukarno, Benoe berandai-andai, “Seandainya saya lahir di zaman beliau, maka yang saya lakukan adalah berjuang sampai titik darah penghabisan demi tegaknya NKRI,” ujarnya berapi-api seraya menambahkan, “kemampuan beliau membakar semangat pemuda dan para pejuang kita adalah bukti bahwa Presiden Sukarno adalah bapak bangsa sejati.”

Published in: on 7 November 2014 at 07:50  Comments (8)  
Tags: , , ,

“Warisan Soekarno” di Three in One Kompas TV

three in one kompas tv

Program “Three in One” Kompas TV, sekilas, saya kutip dari website-nya adalah sebagai berikut:

“Melalui bincang-bincang hangat, kami menggali informasi dari beragam nara-sumber. Kami akan mengajak Anda untuk mengenal lebih dalam sosok-sosok yang selama ini hanya dikenal luarnya saja. Tokoh yang kami dekati seringlah terlihat di televisi dan bekerja dengan prestasi, hati nurani, bahkan hingga sekedar menjaga citra dan gengsi.

Bagaimana reaksi para tokoh tersebut jika kemudian ditanya mengenai hal yang paling sederhana hingga yang paling sensifit? Saksikan Three In One bersama Dentamira Kusuma (jurnalis), Tara De Thouars (psikolog), Kamidia Radisti (presenter).”

Tersebutlah seorang Asti Wulan dari Kompas TV berkirim email menyatakan niatnya ingin ngobrol seputar “warisan Soekarno”. Singkat kata, saya penuhi permintaan Aci –begitu ia akrab disapa. Suatu siang, saya pun terlibat bincang-bincang di “Kedai 63″ Gedung Pers Pancasila, Palmerah, tak jauh dari markas Kompas TV. Aci bersama Dimas, mengajak diskusi tentang topik dan narasumber yang akan didatangkan untuk program “Warisan Soekarno”.

Terbersit niatan mendatangkan putra-putri dan cucu-cucu Bung Karno sebagai narasumber. Saya senang dan mengapresiasi setiap program (apa pun, di media mana pun) yang mengangkat topik Bung Karno. Karenanya, saya pun antusias memberi masukan.

Kewajiban sudah saya tunaikan. Plong rasanya. Hingga keesokan harinya, Aci menghubungi dan menyatakan, “Bang Ju meminta kesediaan Bang Roso sebagai salah satu narasumber.”

Yang disebut “Bang Ju” oleh Aci, tak lain adalah Julius Sumant. Saya mengenalnya ketika ia menggawangi program Mata Najwa di Metro TV. Setidaknya, dua kali “Bang Ju” ini meminta saya menatap mata indah si Najwa. Pertama dalam program Mercu Suar Bung Karno, dan kedua kronik seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dua topik tadi, bersinggungan langsung dengan Bung Karno, karenanya saya antusias. Tetapi untuk program “Warisan Soekarno” dengan narasumber cucu-cucu dan anak Bunng Karno? “Enggak-lah… Coba kontak si A… atau si B….” Ya, saya mulanya memang keberatan. Pertama, janji awal, kita hanya ngobrol tentang konten program, sehingga tidak menjurus ke pendaulatan saya sebagai nara sumber. Yang kedua, berbicara trah, atau garis keturunan yang kedua atau ketiga, saya tidak terlalu tertarik, mengingat untuk “menyelami” Bung Karno saja saya masih terus belajar.

Apa daya, sejumlah calon narasumber yang lebih kompeten, sedang tidak berada di Jakarta. Saya pun meng-iya-kan request Bang Ju… setidaknya buat “pelengkap”… Maka, terkonfirmasilah narasumber siang itu adalah dua cucu Bung Karno: Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno (putra Rachmawati). Narasumber ketiga adalah Totok Suryawan (putra Bung Karno dari Kartini Manopo), dan saya (yang kemudian di-label-i predikat Sukarnois).

Puti dan Romy yang berbicara di segmen awal, sungguh menarik. Bukan saja karena Puti memang cantik, dan Romy yang ngetop sebagai DJ papan atas, tetapi kombinasi busana nuansa merah saa itu, membuat suasana begitu hangat. Puti dengan kematangannya sebagai seorang trah ketiga Bung Karno, berbicara lugas tentang banyak hal terkait kakek, bapak, serta om dan tante-tantenya. Romy tak kurang menarik. Dia hadir menenteng busana kebesaran Bung Karno sebagai salah satu “benda” sakral yang diwarisinya dari sang kakek.

Sedangkan, mas Totok hadir membawa cerita kelahirannya di Jerman, dengan latar belakang kondisi Indonesia yang tak menentu. Sang ibu, terpaksa harus “menjauh” dari Indonesia demi keselamatan benih Bung Karno yang dikandungnya. Bukan hanya itu, mas Totok juga membawa dan menunjukkan foto-foto kenangan serta benda kenangan berupa pelat mobil “RI-1″ dari salah satu mobil dinas Bung Karno.

Acara “Three in One” di Kompas TV, hadir setiap hari Selasa, pukul 22.00 WIB. Hingga tulisan ini diposting, Senin, 3 November 2014, belum didapat konfirmasi, kapan rekaman itu akan ditayangkan. (roso daras)

three in one kompas tv-2three in one kompas tv-3

Published in: on 3 November 2014 at 09:01  Comments (1)  
Tags: , , , , ,

Sekilas Puti Soekarno

Puti-RosoNama Puti Soekarno sudah berkibar di jagat politik Tanah Air. Sejak 2009, dia sudah duduk menjadi Wakil Rakyat dari Fraksi PDIP. Dia bertugas di Komisi X yang antara lain membidangi pendidikan, kepemudaan, dan olahraga. Sebagai kader partai opisisi, “suara” Puti memang kurang memekakkan telinga penguasa. Setidaknya, kalau ukurannya adalah frekuensi publikasi di media massa.

Buat saya, nama Puti bukanlah nama yang asing. Bukan karena sudah lama mengenalnya, lebih karena ia adalah putri tunggal dari “si sulung” Guntur Soekarnoputra. Namanya kemudian sayup-sayup hinggap ke telinga saya dalam nada yang positif. Jika lama kemudian tidak juga berkesempatan jumpa Puti, lebih karena tidak adanya kesempatan.

Adalah Kompas-TV yang kemudian memberi kesempatan saya jumpa Puti di Studio Orange, bilangan Palmerah Selatan, 30 Oktober 2014. Program mereka, “3 in 1″, siang itu membahas segmen “Warisan Soekarno”. Acara yang tayang setiap Selasa malam pukul 22.00 WIB itu, menghadirkan empat narasumber: Puti Soekarno, Romy Soekarno, Totok Suryawan, dan Roso Daras.

Rehat sejenak di ruang tunggu studio sebelum memulai taping, pertemuan saya dan Puti pun terjadi. Wanita bernama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri itu, mengaku sudah “mengenal” saya. Bisa saya pastikan, yang dia maksud adalah “membaca blog” ini.

Betapa pun, kami merasa “sudah saling kenal”. Maka obrolan pun lekas mengalir, mulai dari isu politik, tentang buku Di Bawah Bendera Revolusi, concerrn Bung Karno terhadap dunia pendidikan, dan banyak lagi (untuk ukuran waktu yang tidak terlalu lama).

Puti-Roso-RomyDi ruang itu juga tampak Romy Soekarno. Dia adalah putra dari Rachmawati Soekarnoputri, dus sepupu Puti. Sedikit berbeda dengan Puti, Romy sejauh ini lebih dikenal sebagai seorang DJ (disk jockey) papan atas Indonesia. Sebagian lagi mengenal sebagai suami model Dona Harun. Ia datang membawa “warisan” yang benar-benar “warisan” kakeknya, yakni jas kebesaran Bung Karno berwarna hijau tua.

Romy dalam ingar-bingar Pilpres yang lalu, tampak pula berhimpun dengan Puti dan sepupu-sepupu yang lain dalam gerakan dukungan terhadap Jokowi – JK. Tentu saja, sikap itu berbeda dengan sikap sang ibu, Rachmawati yang justru memihak Prabowo Subianto. Ditanya ihwal afiliasi dan sikap politik yang berbeda, Romy hanya mesem dan berkata singkat, “No comment”.

Keengganan berkomentar tentang sikap politik Romy, bisa jadi karena di keluarga trah Sukarno, memang telah mendarah-daging hal-ihwal tentang demokrasi dan prinsip-prinsip menghargai perbedaan sebagai sebuah rahmat. Jika hingga hari ini Romy belum menerjunkan diri di bidang politik, bukan berarti Romy “a-politik”. “Tunggu saja,” begitu komentar singkat ketika ditanya, “apakah tidak tertarik terjun ke politik?”

Syahdan, menari-narilah sebuah bayangan, tentang cucu-cucu Bung Karno yang berkiprah di bidang politik. Sudah ada Puan Maharani, Puti Soekarnbo, Prananda (meski tidak mengemuka), menyusul kemudian Romy dan cucu-cucu Bung Karno yang lain. Baiknya kita jangan dulu bertanya ihwal “kapasitas”, karena mereka belum lagi memegang “lakon kunci”. (roso daras)

Published in: on 2 November 2014 at 06:22  Comments (2)  
Tags: , , ,

Idayu Nyoman Rai Srimben, Sang Pusaka

BK sungkem ibunda

Ida Ayu Nyoman Rai Srimben… nama yang begitu diagungkan oleh seorang Sukarno. Ia adalah seorang ibu yang telah menumpahkan seluruh restu bagi perjuangan anaknya.Seorang ibu yang memangkunya di saat fajar menyingsing, seraya memeluk dan membisikkan kata, “Jangan lupa nak… engkau adalah Putra Sang Fajar”.

Tak pernah Bung Karno lupakan, momentum pagi hari sebelum keberangkatannya ke Surabaya, untuk melanjutkan sekolah di HBS. “Rebahlah nak… rebahlah di tanah…,” perintah sang ibu. Tanpa bertanya, apalagi memprotes, Sukarno kecil pun segera rebah di tanah menghadap langit semesta. Sang bunda segera melangkahi tubuh kecil Sukarno hingga tiga kali bilangannya. Itulah bentuk seluruh restu yang ia tumpahkan bagi sang putra.

Bung Karno sadar… Idayu Nyoman Rai Srimben tidak kalah sadar… sejak itu, mereka harus “berpisah”. Sejarah pun kemudian mencatat, Bung Karno sekolah di Surabaya, menumpang dan digembleng oleh HOS Cokroaminoto. Perjalanan selanjutnya adalah Bandung untuk menggapai titel insinyur di THS (sekarang ITB). Jika dideret rentetan sebelum dan setelahnya, akan tebentang sejarah panjang Sukarno yang dramatis.

Sang ibu, yang kemudian berdiam di Blitar, adalah seorang ibu yang tidak pernah putus merestui dan mendoakan anaknya. Ada kalanya pula, Sukarno yang sowan ke Blitar, menjemput restu. Ya, dalam segala hal, Sukarno terus meng-up-date restu sang bunda. Dalam hal apa pun…. Entah ketika mengawali pelajaran, ketika mengawali kehidupan berumah-tangga, ketika ini dan itu… restu bunda nomor satu.

Dokumen tutur dan foto menggambarkan, betapa tradisi sungkem dilakukan Sukarno dari kecil hingga akhir kehidupan sang bunda. Pertama-tama, ia bersimpuh, lalu mengatupkan kedua telapak tangan dengan gerakkan menempelkannya di depan wajah, turun ke dada, lantas menyangga lutut ibunda seraya wajahnya merunduk mencium lutut sang ibu… Itulah bentuk hormat dan bakti setinggi-tingginya dari seorang putra kepada sang bunda. Idayu pun menumpahkan seluruh restu seraya mendekap anak tercinta….

Adalah takdir seorang putra, yang senantiasa wajib berbakti kepada ibu hingga putus usia. Itu pula yang dilakukan Bung Karno.

Jika ada yang mengaitkan “kesaktian” Bung Karno dengan jimat, tongkat, dan benda-benda apa pun, niscaya sebuah pemahaman keliru. “Kesaktian” Bung Karno justru terletak pada restu sang ibu, disertai kesadaran tinggi, bahwa takdir, termasuk kapan maut menjemput, adalah mutlak milik Tuhan.

Di antara sekian banyak keteladanan dari seorang Sukarno, rasanya keteladanan “bakti kepada ibu” ini merupakan keteladanan yang patut disemai. (roso daras)

Published in: on 30 September 2014 at 04:23  Comments (1)  
Tags: , , , ,

Bung Karno Putra Maninjau

danau maninjau

Ah, ada-ada saja Bung Karno ini. Mengaku diri sebagai putra Maninjau, bukankah berlebihan? Bukankah dia lahir di Surabaya, berayahkan Jawa dan beribukan Bali? Dari mana silsilah mesti ditelusur, untuk membenarkan pernyataan Si Bung Besar ini?

Kiranya, inilah “risiko menjadi anak rakyat”. Dia banyak direngkuh sebagai anak. Dirangkul sebagai saudara. Dipinang bak putra mahkota. Tahun 1948, ketika mengunjungi Maninjau, sebagai presiden dari republik yang masih tertatih-tatih jalannya, Bung Karno menjlentrehkan asal-usulnya sebagai “putra Maninjau”.

Di hadapan rakyat yang menyemut, dia pun berpidato, “Maninjau yang indah permai,” kata Bung Karno seraya melanjutkan, “dengan danaunya yang dahsyat, dengan sawahnya bersusun, dengan jalannya berkelok, terlukis dalam sanubari Bung Karno sebagai negerinya sendiri. Tahukah Saudara-saudara, bahwa Bung Karno ini adalah anak Maninjau?” Nah, itulah awal dia menyebut diri putra Maninjau. Sontak, ribuan pasang mata saling beradu tatap. Orang pun heran!

Segera dia melanjutkan pidatonya, “Bung Karno tidak main-main. Bung Karno adalah anak emasnya orang Maninjau, eere burger-nya orang Maninjau. Ketika Almarhum Haji Rasul, Dr. A Karim Amrullah masih hidup di Jakarta, dia telah berkata kepadaku, ‘Engkau adalah anakku hai Karno!’ Sebab itu, pandanglah Bung Karno sebagai memandang orang Maninjau sendiri.”

Begitulah, dia menjelaskan asal-usulnya sebagai “orang Maninjau”. Eere burger, artinya warga kehormatan. Sedangkan almarhum Haji Rasul, adalah tokoh Maninjau, Agam, Sumatera Barat yang sangat disegani. Terlahir dengan nama Muhammad Rasul. Dia bergelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Haji Rasul dikenal juga sebagai Dr. A. Karim Amrullah. Salah satu putranya, adalah HAMKA (nama pena dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Itu artinya, Bung Karno dan Hamka “bersaudara” bukan? Ini menarik, karena mereka juga memiliki kisah unik yang patut dikenangkan seluruh anak bangsa. Tapi, kita kembali dulu ke Bung Karno dan Maninjau, danau dengan luas 99,5 km persegi yang disebut Bung Karno “dahsyat” itu.

Bahkan khusus untuk Maninjau, Bung Karno spesial membuatkan sebuah pantun, sebagai berikut:

“Jika adik memakan pinang

Makanlah dengan sirih yang hijau

Jika adik datang ke Minang

Jangan lupa datang ke Maninjau”

Berbahagialah Maninjau, pemilik Sukarno. Seperti halnya Ende dan Bengkulu tempat sebagian hidupnya dihabiskan sebagai interniran. Juga Brastagi, Parapat yang nyaris menjadi hari terakhir dalam hidupnya. Itu artinya, jangan lagi kita heran, jika suatu hari, sejarah merilis bahwa ternyata, Bung Karno juga putra Aceh, anak Kalimantan, putra Sulwesi, Maluku, bahkan Papua. Dialah sebenar-benarnya putra Ibu Pertiwi. (roso daras)

roso daras di maninjau

Tan Malaka, Bung Hatta, dan Hamka

Alhamdulillah…. Terima kasih Tuhan, yang telah memperkenankan saya menjejakkan kaki di bumi kelahiran para bapak Bangsa di Sumatera Barat. Sejumlah tokoh kemerdekaan dari ranah Minang tak cukup dihitung dengan jari. Sejumlah nama yang banyak dikenal adalah Agus Salim, Tan Malaka, Bung Hatta, Sjahrir, Buya Hamka, dan masih banyak lagi lainnya.

20140628_181825

Rumah Tan Malaka adalah yang pertama saya tuju. Alasannya sederhana, di antara Hatta, Tan Malaka, dan Hamka, maka rumah Tan Malaka-lah yang terjauh. Hitungan terjauh diukur baik dari Padang, ataupun Bukittinggi. Lokasi persisnya di Desa Pandan Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota. Akan tetapi, masyarakat setempat lebih akrab menyebut kawasan itu Suliki.

20140629_090355

Berada di rumah Tan Malaka hingga larut, sebelum memutuskan kembali ke Bukittinggi. Keesokan paginya, berbekal peta kota Bukittinggi, saya berjalan kaki menuju situs rumah kelahiran Bung Hatta. Letaknya persis di pinggir jalan raya. Persisnya di Jalan Soekarno-Hatta No. 37, Bukittinggi, Sumbar. Tidak jauh dari rumah itu, terdapat pasar kota. Saya spontan bergumam, “Kalau Tan Malaka wong ndeso, maka Hatta anak kota….”

20140629_132257

Sebuah rumah gadang yang sangat-sangat indah…. Di sinilah Buya Hamka dilahirkan. Bangunan yang sudah menjadi aset bersejarah itu, masih terawat rapi. Berisi benda-benda peninggalan keluarga Hamka. Yang lebih istimewa adalah lokasi rumahnya yang terletak di bibir danau Maninjau. Jika mengunjungi kediaman Hamka dari Bukittinggi, maka kita akan melalui jalan Kelok-44 yang fantastis.

Sekian pengantar tentang ketiga orang besar yang selama hidupnya juga mengalami persinggungan dengan Bung Karno. Insya Allah, pada postingan berikut, kita bisa melihat dari dekat ketiga situs tersebut. Bagaimana dengan Agus Salim dan Sjahrir? Sayang, kedua pendiri bangsa itu “hanya” memiliki kampung kelahiran, tetapi tidak memiliki rumah petilasan. (roso daras)

Published in: on 20 Juli 2014 at 07:04  Comments (2)  
Tags: , , , ,

5 Fakta Tentang Buku ‪#‎TotalBungKarno2‬

Buku Total BK-2Hari ini (17/7) sekira pukul 13.00, akun FB Penerbit Imania tiba-tiba saja menampilkan posting sebagai berikut:

5 Fakta tentang buku ‪#‎TotalBungKarno2:

1. Total Bung Karno 2, adalah seri lanjutan dari buku dengan judul yang sama yang terbit setahun lalu

2. Total Bung Karno 2 berasal dari tulisan-tulisan yang diposting di blog sang penulis, Roso Daras

3. Total Bung Karno 2 berisi kisah pembuangan Bung Karno di Ende, marhaenisme, dan kisah-kisah human interest lainnya

4. Total Bung Karno 2 dapat pujian dari Sujiwo Tejo, Iman Brotoseno, dan Tofik Pram

5. Total Bung Karno 2 sudah bisa kamu dapatkan di toko buku & toko buku online. Harganya Rp73.000

Segera saya hubungi Bung Faried Wijdan dari Penerbit Imania penerbit buku-buku Bung Karno (serial “serpihan sejarah yang tercecer). Dia membenarkan, informasi tersebut, sekaligus mengabarkan kabar baik tentang sambutan pembaca yang sangat antusias. Karena sebagai penulis, saya sendiri baru mengetahui informasi itu. Artinya saya belum memiliki buku tersebut. Berarti pula, saya tidak tahu persis apa-apa saja komen dari rekan Sujiwo Tejo, Iman Brotoseno, dan Tofik Pram dalam buku itu. Saya pun meminta Bung Faried mengirim endorsement ketiga penulis hebat itu. Berikut tiga komen mereka:

sujiwo tejo copyBuku ini ingin menyatakan kebesaran Bung Karno melalui hal-hal kecil dan seolah remeh-temeh. Buku ini juga baik untuk bacaan guru-guru Sejarah agar jutaan murid mereka kelak selalu sadar bahwa semegah dan setinggi apa pun mercu suar selalu disusun oleh unsur-unsur kecil semisal mur dan baut.” (Sujiwo Tejo, Dalang dan Penulis)

tofik pram copy“Pada diri Bung Karno terangkum semua sifat keindahan pria: romantis, kadang melankolis, namun kukuh sebagai nasionalis yang siap melinggis sifat bengis kaum kapitalis. Bung Roso Daras mengemas dan menyuguhkan sisi-sisi dramatis itu dengan manis.” (Tofik Pram, Penulis dan Sukarnois)

iman brotoseno“Roso Daras memberikan serpihan kisah hidup dan pemikiran Bung Karno yang selama ini tidak banyak terlihat. Dari situ kita bisa memahami pergulatan hidup sekaligus perjuangan Bung Karno untuk membawa bangsanya menjadi bangsa yang merdeka.  Namun banyak penulis atau penafsir yang gagal, karena tidak bisa memahami perspektif pribadi Sukarno yang bisa jadi sangat subyektif. Perpindahan minat Sukarno dari panggung politik ke panggung teater, semasa di pembuangan Ende, dianggap sebagai pertobatan seorang Sukarno. Padahal ia menggunakan kelompok sandiwara ini untuk menyusupkan ide-ide perjuangannya. Di sini justru Roso Daras bisa menjelaskan semuanya dengan runtun, dari kepingan-kepingan perjalanan hidup Bung Karno.

Bung Karno adalah sosok menarik untuk dikupas dalam pergulatan sejarah perjuangannya. Setelah sekian lama sejarah ditulis oleh pemenang (baca: orde baru). Kini saatnya kita menikmati sejarah yang ditulis dengan jujur dan bersahaja. Bagaimanapun juga, inspirasi Bung Karno akan selalu hadir dalam perjalanan semangat kebangsaan kita. Dia selalu mencintai rakyatnya. Dengan membaca buku ini, seolah olah membuatnya hadir di tengah kita dengan caranya sendiri.” (Iman Brotoseno, Blogger, Sutradara, dan Sukarnois)

Bismillah… semoga buku Total Bung Karno 2 mendatangkan manfaat bagi pembacanya.***

“Bintang Lenin” buat Bung Karno

4 Type Bintang Lenin

Ini adalah tulisan terakir dari serial tulisan tentang kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet, pada tanggal 28 Agustus – 12 September 1956. Setelah berkeliling negara besar (sebelum terpecah-belah 8 Desember 1991), Bung Karno dan rombongan tiba kembali di Kremlin. Di ibukota negara Soviet ini pula kunjungan ditutup dengan perundingan bilateral yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan.

Perundingan meliputi isu-isu internasional, dan secara spesifik membahas kerjasama kedua negara. Sebelum meninggalkan Uni Soviet, tuan rumah menggelar rapat raksasa di stadion utama W.I. Lenin, yang merupakan demonstrasi persahabatan Soviet-Indonesia. Malamnya, 11 September 1956, Ketua Presidium Soviet Tertinggi UR2SS K.E. Worosjilov mengadakan resepsi agung di Istana Besar Kremlin.

Dalam pidatonya, K.E. Worosjilov antara lain mengatakan, “Dengan menyambut tamu-tamu Indonesia secara meriah dan ramah tamah, rakyat negeri kami memperlihatkan rasa persahabatannya yang setulus-ikhlasnya terhadap rakyat Indonesia serta pengharapan sukses bagi rakyat Indonesia dalam perjuangannya mencapai kemerdekaan nasional yang penuh, dan membangun suatu masyarakat yang adil dan sejahtera.”

Dalam bagian lain sambutannya, Worosjilov menambahkan, “Tamu-tamu yang tercinta, perkenankanlah saya menyatakan keyakinan bahwa kunjungan saudara-saudara ke negeri kami ini pasti akan besar gunanya untuk memperkembangkan pesahabatan dan kerjasama antara Uni Soviet dan Indonesia di segala lapangan. Kami, para pemimpin Soviet, merasa gembira berkenalan dengan saudara Presiden dan tokoh-tokoh Indonesia yang mengantar beliau dengan mengadakan suatu kontak persahabatan yang baik. Kami berkeyakinan bahwa kontak itu pasti akan besar faedahnya bagi kedua negeri kita dan akan mempunyai arti penting untuk memperjuangkan perdamaian dunia.”

worosjilov dan bung karno

K.E. Worosjilov menambahkan, bahwa mengingat jasa-jasa tamu yang terhormat itu dalam memperjuangkan perdamaian dunia serta pekerjaan yang besar guna persahabatan antar-bangsa-bangsa umumnya dan antara bangsa-bangsa Uni Soviet dan bangsa Indonesia khususnya, pihaknya menaruh homat setinggi-tingginya. Di akhir sambutannya, Worosjilov mengadiahi Bung Karno bintang Uni Soviet yang tertinggi, “Bintang Lenin”.

Usai menerima bintang penghargaan tertinggi itu, Presiden Sukarno menyatakan: “Resepsi ini adalah kejadian besar bagi saya. Malam ini selalu akan saya kenangkan. Ini bukan saja malam perpisahan yang diberikan oleh PJM Worosjilov. Malam ini tidak bisa saya lupakan karena pada malam inilah saya diberi suatu hadiah yaitu Bintang Lenin, hadiah tertinggi di Uni Soviet. Waktu memberikan hadiah itu kepada saya, Presiden Worosjilov mengharapkan makin eratnya persahabatan antara rakyat Soviet dan rakyat Indonesia. Saya juga ingin supaya persahabatan ini lebih erat lagi.”

Selanjutnya, Bung Karno menambahkan, “Besok saya meninggalkan Uni Soviet dengan membawa kepercayaan bahwa persahabatan antara rakyat Indonesia dan rakyat Uni Soviet pasti akan berkembang, bahwa persahabatan itu tidak dapat dilenyapkan oleh siapa pun juga.” (roso daras)

Bung Karno, Profesor Universitas Moskow

BK Mampir di Turkmenistan

Perjalanan panjang di negara raksasa itu, menapaki hari-hari terakhirnya. Pada tanggal 9 September 1956 malam utusan-utusan Indonesia kembali ke Ibukota Moskow. Jarak yang mereka lewati selama kunjungan tidak kurang dari 11.000 km. Tamu-tamu Indonesia itu berjumpa dengan banyak orang Soviet dari bermacam-macam bangsa: Rusia, Uzbek, Turkmen, Tartar, Kazakh, Azerbaidjan, Georgia, Abhkazia.

Semua bangsa-bangsa itu menerima Bung Karno dan rombongan, sebagai saudaranya sendiri. Dalam banyak kesempatan Bung Karno selalu menyatakan bahwa selama kunjungan ke Uni Soviet mendapat suatu keyakinan bahwa rakyat Soviet sungguh-sungguh cinta damai dan ingin bersahabat dengan bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia.

Presiden Sukarno bahkan mengatakan, tali persahabatan antara Indonesia dan Uni Soviet itu berasal dari zaman perjuangan bersenjata. Kedua bangsa seperti merasakan sebuah spirit yang sama. Rakyat kedua negara sama-sama berjuang untuk kemerdekaannya. Tak lupa, Bung Karno beberapa kali menyampaikan rasa terima kasihnya, atas sikap Uni Soviet yang selalu menyokong Indonesia dalam perjuangannya itu. Termasuk ketika menerima Indonesia menjadi anggota PBB.

Syahdan, di Moskow Presiden sukarno tinggal selama beberapa hari lagi.

Rombongan Indonesia mengunjungi Stasiun Pembangkit Tenaga Listrik, atom, dan lapangan terbang Kubinka dekat Moskow. Di sana, mereka melihat angkatan udara dan penerbangan pesawat-pesawat jet.

Sementara di gedung pencakar langit Universitas Moskow di Bukit Lenin, Presiden Sukarno bertemu dengan ahli-ahli ilmu, para guru dan para pelajar di universitas itu. Dalam sebuah upacara di Ruangan Besar yang dihadiri oleh dua ribu orang, Presiden Sukarno menerima diploma honoris causa dan diploma yang menetapkan beliau menjadi profesor kehormatan Universitas Moskow. (roso daras)

BK Profesor Univ Moskow

Kenangan Berdarah di Bukit Mamayev

Bung Karno diterima Bulganin

Masih dalam lawatan yang panjang ke Uni Soviet, Presiden Sukarno pada tanggal 8 September 1956 bertamu ke rumah Ketua Dewan Menteri Uni Soviet N.A. Bolganin yang sedang bercuti di Sotji bersama keluarganya. Mereka pun terlibat ramah tamah yang penuh kehangatan laksana dua sahabat karib.

Sebagai penutup perjalanan berkeliling Uni Soviet, Presiden Sukarno mengunjungi Stalingrad. Di situ menteri Luar Negeri Indonesia, Ruslan Abdulgani yang sebelumnya mengunjungi Moskow dan Leningrad menggabungkan diri dengan rombongan Presiden.

Sewaktu rombongan melewati jalan-jalan dan lapangan-lapangan Stalingrad tampaklah betapa besar hasil pembangunan kota pahlawan itu sehabis peperangan hebat tahun 1942. Di bukit Mamayev yaitu tempat pertempuran yang amat sengit melawan tentara Hitler pada waktu pertahanan Stalingrad mereka menghormati mendiang pahlawan-pahlawan benteng besar di Wolga itu dengan upacara menghentingkan cipta. Di atas salah satu pekuburan saudara tamu agung dari Indonesia meletakkan karangan bunga dengan tulisan: “Dari Presiden Indonesia Sukarno”.

Jika kita berkunjung ke sana hari ini, lokasi yang terletak di selatan Rusia itu telah menjadi kota bersejarah dengan patung perempuan raksasa yang sedang menghunus pedang ke atas. Kota yang ketika Bung Karno berkunjung masih bernama Stalingrad, kini bernama Volgograd.

Pertempuran hebat yang pecah di Stalingrad terjadi 13 September 1942. Guna membendung serbuan tentara Jerman, maka bala tentara Soviet membangun benteng pertahanan di bukit ini. Mereka memasang kawat berduri, menebar ranjau, dan membangun parit-parit. Sejarah telah menuliskan, tentara Hitler berhasil menerobos benteng itu dan menewaskan banyak korban jiwa.

Ketika perang berakhir, tanah di atas bukit ini menjadi bergejolak oleh tembakan meriam. Sekira 500-1.250 serpihan logam ditemukan per meter persegi di bukit ini. Bahkan, hingga kini fragmen tulang dan logam masih terkubur di seluruh bukit. Dua puluh empat tahun setelah pertempuran, pada Oktober 1967, dibangunlah monument yang tampak sekarang.

Bung Karno sendiri merasakan kenangan heroik di Mamayev. Kesan itu begitu mendalam, bahkan terbawa hingga saat rombongan Bung Karno berlayar di sepanjang Kanal Wolga-Don dengan kapal “Alexander Polezhaev”. Di sepanjang tepian kanal dan di dekat pintu air, tampak berpuluh-puluh ribu orang menyambut Presiden dengan gembira.

Sementara itu, wakil-wakil kotapraja menganugerahkan kepada Presiden sebuah peti indah berisi tanah yang diambil dari Bukit Mamayev. Dengan menerima tanda peringatan itu Presiden Sukarno menyatakan bahwa rakyat Indonesia yang juga telah menumpahkan darahnya untuk kemerdekaan negerinya menjunjung tinggi peranan Stalingrad sebagai bentuk perjuangan untuk kemerdekaan. Nilai yang dipetik, bukan saja kemerdekaan rakyat Rusia tetapi juga untuk kemerdekaan negeri-negeri lain. (roso daras)

Monumen Mamayev

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 372 pengikut lainnya.