Tan Malaka, Bung Hatta, dan Hamka

Alhamdulillah…. Terima kasih Tuhan, yang telah memperkenankan saya menjejakkan kaki di bumi kelahiran para bapak Bangsa di Sumatera Barat. Sejumlah tokoh kemerdekaan dari ranah Minang tak cukup dihitung dengan jari. Sejumlah nama yang banyak dikenal adalah Agus Salim, Tan Malaka, Bung Hatta, Sjahrir, Buya Hamka, dan masih banyak lagi lainnya.

20140628_181825

Rumah Tan Malaka adalah yang pertama saya tuju. Alasannya sederhana, di antara Hatta, Tan Malaka, dan Hamka, maka rumah Tan Malaka-lah yang terjauh. Hitungan terjauh diukur baik dari Padang, ataupun Bukittinggi. Lokasi persisnya di Desa Pandan Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota. Akan tetapi, masyarakat setempat lebih akrab menyebut kawasan itu Suliki.

20140629_090355

Berada di rumah Tan Malaka hingga larut, sebelum memutuskan kembali ke Bukittinggi. Keesokan paginya, berbekal peta kota Bukittinggi, saya berjalan kaki menuju situs rumah kelahiran Bung Hatta. Letaknya persis di pinggir jalan raya. Persisnya di Jalan Soekarno-Hatta No. 37, Bukittinggi, Sumbar. Tidak jauh dari rumah itu, terdapat pasar kota. Saya spontan bergumam, “Kalau Tan Malaka wong ndeso, maka Hatta anak kota….”

20140629_132257

Sebuah rumah gadang yang sangat-sangat indah…. Di sinilah Buya Hamka dilahirkan. Bangunan yang sudah menjadi aset bersejarah itu, masih terawat rapi. Berisi benda-benda peninggalan keluarga Hamka. Yang lebih istimewa adalah lokasi rumahnya yang terletak di bibir danau Maninjau. Jika mengunjungi kediaman Hamka dari Bukittinggi, maka kita akan melalui jalan Kelok-44 yang fantastis.

Sekian pengantar tentang ketiga orang besar yang selama hidupnya juga mengalami persinggungan dengan Bung Karno. Insya Allah, pada postingan berikut, kita bisa melihat dari dekat ketiga situs tersebut. Bagaimana dengan Agus Salim dan Sjahrir? Sayang, kedua pendiri bangsa itu “hanya” memiliki kampung kelahiran, tetapi tidak memiliki rumah petilasan. (roso daras)

Published in: on 20 Juli 2014 at 07:04  Comments (2)  
Tags: , , , ,

5 Fakta Tentang Buku ‪#‎TotalBungKarno2‬

Buku Total BK-2Hari ini (17/7) sekira pukul 13.00, akun FB Penerbit Imania tiba-tiba saja menampilkan posting sebagai berikut:

5 Fakta tentang buku ‪#‎TotalBungKarno2:

1. Total Bung Karno 2, adalah seri lanjutan dari buku dengan judul yang sama yang terbit setahun lalu

2. Total Bung Karno 2 berasal dari tulisan-tulisan yang diposting di blog sang penulis, Roso Daras

3. Total Bung Karno 2 berisi kisah pembuangan Bung Karno di Ende, marhaenisme, dan kisah-kisah human interest lainnya

4. Total Bung Karno 2 dapat pujian dari Sujiwo Tejo, Iman Brotoseno, dan Tofik Pram

5. Total Bung Karno 2 sudah bisa kamu dapatkan di toko buku & toko buku online. Harganya Rp73.000

Segera saya hubungi Bung Faried Wijdan dari Penerbit Imania penerbit buku-buku Bung Karno (serial “serpihan sejarah yang tercecer). Dia membenarkan, informasi tersebut, sekaligus mengabarkan kabar baik tentang sambutan pembaca yang sangat antusias. Karena sebagai penulis, saya sendiri baru mengetahui informasi itu. Artinya saya belum memiliki buku tersebut. Berarti pula, saya tidak tahu persis apa-apa saja komen dari rekan Sujiwo Tejo, Iman Brotoseno, dan Tofik Pram dalam buku itu. Saya pun meminta Bung Faried mengirim endorsement ketiga penulis hebat itu. Berikut tiga komen mereka:

sujiwo tejo copyBuku ini ingin menyatakan kebesaran Bung Karno melalui hal-hal kecil dan seolah remeh-temeh. Buku ini juga baik untuk bacaan guru-guru Sejarah agar jutaan murid mereka kelak selalu sadar bahwa semegah dan setinggi apa pun mercu suar selalu disusun oleh unsur-unsur kecil semisal mur dan baut.” (Sujiwo Tejo, Dalang dan Penulis)

tofik pram copy“Pada diri Bung Karno terangkum semua sifat keindahan pria: romantis, kadang melankolis, namun kukuh sebagai nasionalis yang siap melinggis sifat bengis kaum kapitalis. Bung Roso Daras mengemas dan menyuguhkan sisi-sisi dramatis itu dengan manis.” (Tofik Pram, Penulis dan Sukarnois)

iman brotoseno“Roso Daras memberikan serpihan kisah hidup dan pemikiran Bung Karno yang selama ini tidak banyak terlihat. Dari situ kita bisa memahami pergulatan hidup sekaligus perjuangan Bung Karno untuk membawa bangsanya menjadi bangsa yang merdeka.  Namun banyak penulis atau penafsir yang gagal, karena tidak bisa memahami perspektif pribadi Sukarno yang bisa jadi sangat subyektif. Perpindahan minat Sukarno dari panggung politik ke panggung teater, semasa di pembuangan Ende, dianggap sebagai pertobatan seorang Sukarno. Padahal ia menggunakan kelompok sandiwara ini untuk menyusupkan ide-ide perjuangannya. Di sini justru Roso Daras bisa menjelaskan semuanya dengan runtun, dari kepingan-kepingan perjalanan hidup Bung Karno.

Bung Karno adalah sosok menarik untuk dikupas dalam pergulatan sejarah perjuangannya. Setelah sekian lama sejarah ditulis oleh pemenang (baca: orde baru). Kini saatnya kita menikmati sejarah yang ditulis dengan jujur dan bersahaja. Bagaimanapun juga, inspirasi Bung Karno akan selalu hadir dalam perjalanan semangat kebangsaan kita. Dia selalu mencintai rakyatnya. Dengan membaca buku ini, seolah olah membuatnya hadir di tengah kita dengan caranya sendiri.” (Iman Brotoseno, Blogger, Sutradara, dan Sukarnois)

Bismillah… semoga buku Total Bung Karno 2 mendatangkan manfaat bagi pembacanya.***

“Bintang Lenin” buat Bung Karno

4 Type Bintang Lenin

Ini adalah tulisan terakir dari serial tulisan tentang kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet, pada tanggal 28 Agustus – 12 September 1956. Setelah berkeliling negara besar (sebelum terpecah-belah 8 Desember 1991), Bung Karno dan rombongan tiba kembali di Kremlin. Di ibukota negara Soviet ini pula kunjungan ditutup dengan perundingan bilateral yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan.

Perundingan meliputi isu-isu internasional, dan secara spesifik membahas kerjasama kedua negara. Sebelum meninggalkan Uni Soviet, tuan rumah menggelar rapat raksasa di stadion utama W.I. Lenin, yang merupakan demonstrasi persahabatan Soviet-Indonesia. Malamnya, 11 September 1956, Ketua Presidium Soviet Tertinggi UR2SS K.E. Worosjilov mengadakan resepsi agung di Istana Besar Kremlin.

Dalam pidatonya, K.E. Worosjilov antara lain mengatakan, “Dengan menyambut tamu-tamu Indonesia secara meriah dan ramah tamah, rakyat negeri kami memperlihatkan rasa persahabatannya yang setulus-ikhlasnya terhadap rakyat Indonesia serta pengharapan sukses bagi rakyat Indonesia dalam perjuangannya mencapai kemerdekaan nasional yang penuh, dan membangun suatu masyarakat yang adil dan sejahtera.”

Dalam bagian lain sambutannya, Worosjilov menambahkan, “Tamu-tamu yang tercinta, perkenankanlah saya menyatakan keyakinan bahwa kunjungan saudara-saudara ke negeri kami ini pasti akan besar gunanya untuk memperkembangkan pesahabatan dan kerjasama antara Uni Soviet dan Indonesia di segala lapangan. Kami, para pemimpin Soviet, merasa gembira berkenalan dengan saudara Presiden dan tokoh-tokoh Indonesia yang mengantar beliau dengan mengadakan suatu kontak persahabatan yang baik. Kami berkeyakinan bahwa kontak itu pasti akan besar faedahnya bagi kedua negeri kita dan akan mempunyai arti penting untuk memperjuangkan perdamaian dunia.”

worosjilov dan bung karno

K.E. Worosjilov menambahkan, bahwa mengingat jasa-jasa tamu yang terhormat itu dalam memperjuangkan perdamaian dunia serta pekerjaan yang besar guna persahabatan antar-bangsa-bangsa umumnya dan antara bangsa-bangsa Uni Soviet dan bangsa Indonesia khususnya, pihaknya menaruh homat setinggi-tingginya. Di akhir sambutannya, Worosjilov mengadiahi Bung Karno bintang Uni Soviet yang tertinggi, “Bintang Lenin”.

Usai menerima bintang penghargaan tertinggi itu, Presiden Sukarno menyatakan: “Resepsi ini adalah kejadian besar bagi saya. Malam ini selalu akan saya kenangkan. Ini bukan saja malam perpisahan yang diberikan oleh PJM Worosjilov. Malam ini tidak bisa saya lupakan karena pada malam inilah saya diberi suatu hadiah yaitu Bintang Lenin, hadiah tertinggi di Uni Soviet. Waktu memberikan hadiah itu kepada saya, Presiden Worosjilov mengharapkan makin eratnya persahabatan antara rakyat Soviet dan rakyat Indonesia. Saya juga ingin supaya persahabatan ini lebih erat lagi.”

Selanjutnya, Bung Karno menambahkan, “Besok saya meninggalkan Uni Soviet dengan membawa kepercayaan bahwa persahabatan antara rakyat Indonesia dan rakyat Uni Soviet pasti akan berkembang, bahwa persahabatan itu tidak dapat dilenyapkan oleh siapa pun juga.” (roso daras)

Bung Karno, Profesor Universitas Moskow

BK Mampir di Turkmenistan

Perjalanan panjang di negara raksasa itu, menapaki hari-hari terakhirnya. Pada tanggal 9 September 1956 malam utusan-utusan Indonesia kembali ke Ibukota Moskow. Jarak yang mereka lewati selama kunjungan tidak kurang dari 11.000 km. Tamu-tamu Indonesia itu berjumpa dengan banyak orang Soviet dari bermacam-macam bangsa: Rusia, Uzbek, Turkmen, Tartar, Kazakh, Azerbaidjan, Georgia, Abhkazia.

Semua bangsa-bangsa itu menerima Bung Karno dan rombongan, sebagai saudaranya sendiri. Dalam banyak kesempatan Bung Karno selalu menyatakan bahwa selama kunjungan ke Uni Soviet mendapat suatu keyakinan bahwa rakyat Soviet sungguh-sungguh cinta damai dan ingin bersahabat dengan bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia.

Presiden Sukarno bahkan mengatakan, tali persahabatan antara Indonesia dan Uni Soviet itu berasal dari zaman perjuangan bersenjata. Kedua bangsa seperti merasakan sebuah spirit yang sama. Rakyat kedua negara sama-sama berjuang untuk kemerdekaannya. Tak lupa, Bung Karno beberapa kali menyampaikan rasa terima kasihnya, atas sikap Uni Soviet yang selalu menyokong Indonesia dalam perjuangannya itu. Termasuk ketika menerima Indonesia menjadi anggota PBB.

Syahdan, di Moskow Presiden sukarno tinggal selama beberapa hari lagi.

Rombongan Indonesia mengunjungi Stasiun Pembangkit Tenaga Listrik, atom, dan lapangan terbang Kubinka dekat Moskow. Di sana, mereka melihat angkatan udara dan penerbangan pesawat-pesawat jet.

Sementara di gedung pencakar langit Universitas Moskow di Bukit Lenin, Presiden Sukarno bertemu dengan ahli-ahli ilmu, para guru dan para pelajar di universitas itu. Dalam sebuah upacara di Ruangan Besar yang dihadiri oleh dua ribu orang, Presiden Sukarno menerima diploma honoris causa dan diploma yang menetapkan beliau menjadi profesor kehormatan Universitas Moskow. (roso daras)

BK Profesor Univ Moskow

Kenangan Berdarah di Bukit Mamayev

Bung Karno diterima Bulganin

Masih dalam lawatan yang panjang ke Uni Soviet, Presiden Sukarno pada tanggal 8 September 1956 bertamu ke rumah Ketua Dewan Menteri Uni Soviet N.A. Bolganin yang sedang bercuti di Sotji bersama keluarganya. Mereka pun terlibat ramah tamah yang penuh kehangatan laksana dua sahabat karib.

Sebagai penutup perjalanan berkeliling Uni Soviet, Presiden Sukarno mengunjungi Stalingrad. Di situ menteri Luar Negeri Indonesia, Ruslan Abdulgani yang sebelumnya mengunjungi Moskow dan Leningrad menggabungkan diri dengan rombongan Presiden.

Sewaktu rombongan melewati jalan-jalan dan lapangan-lapangan Stalingrad tampaklah betapa besar hasil pembangunan kota pahlawan itu sehabis peperangan hebat tahun 1942. Di bukit Mamayev yaitu tempat pertempuran yang amat sengit melawan tentara Hitler pada waktu pertahanan Stalingrad mereka menghormati mendiang pahlawan-pahlawan benteng besar di Wolga itu dengan upacara menghentingkan cipta. Di atas salah satu pekuburan saudara tamu agung dari Indonesia meletakkan karangan bunga dengan tulisan: “Dari Presiden Indonesia Sukarno”.

Jika kita berkunjung ke sana hari ini, lokasi yang terletak di selatan Rusia itu telah menjadi kota bersejarah dengan patung perempuan raksasa yang sedang menghunus pedang ke atas. Kota yang ketika Bung Karno berkunjung masih bernama Stalingrad, kini bernama Volgograd.

Pertempuran hebat yang pecah di Stalingrad terjadi 13 September 1942. Guna membendung serbuan tentara Jerman, maka bala tentara Soviet membangun benteng pertahanan di bukit ini. Mereka memasang kawat berduri, menebar ranjau, dan membangun parit-parit. Sejarah telah menuliskan, tentara Hitler berhasil menerobos benteng itu dan menewaskan banyak korban jiwa.

Ketika perang berakhir, tanah di atas bukit ini menjadi bergejolak oleh tembakan meriam. Sekira 500-1.250 serpihan logam ditemukan per meter persegi di bukit ini. Bahkan, hingga kini fragmen tulang dan logam masih terkubur di seluruh bukit. Dua puluh empat tahun setelah pertempuran, pada Oktober 1967, dibangunlah monument yang tampak sekarang.

Bung Karno sendiri merasakan kenangan heroik di Mamayev. Kesan itu begitu mendalam, bahkan terbawa hingga saat rombongan Bung Karno berlayar di sepanjang Kanal Wolga-Don dengan kapal “Alexander Polezhaev”. Di sepanjang tepian kanal dan di dekat pintu air, tampak berpuluh-puluh ribu orang menyambut Presiden dengan gembira.

Sementara itu, wakil-wakil kotapraja menganugerahkan kepada Presiden sebuah peti indah berisi tanah yang diambil dari Bukit Mamayev. Dengan menerima tanda peringatan itu Presiden Sukarno menyatakan bahwa rakyat Indonesia yang juga telah menumpahkan darahnya untuk kemerdekaan negerinya menjunjung tinggi peranan Stalingrad sebagai bentuk perjuangan untuk kemerdekaan. Nilai yang dipetik, bukan saja kemerdekaan rakyat Rusia tetapi juga untuk kemerdekaan negeri-negeri lain. (roso daras)

Monumen Mamayev

Merah Putih di Kapal Mikhail Kutuzov

BK di  Samarkand

Kunjungan Bung Karno di Uzbekistan, makin berarti dengan kesempatan melihat dari dekat Samarkand, salah satu kota kuno di Uzbek. Di Samarkand, Bung Karno dan rombongan dari Indonesia, menyaksikan dari dekat bangunan-bangunan kuno semacam candi yang sangat indah dan sarat kisah sejarah.

Masih menggunakan jalan darat, rombongan Bung Karno singgah di Asjhabad yaitu ibu kota Republik Turkmenia. Dari Turkmenia, perjalanan Bung Karno melanjutkan kunjungannya di Negeri Beruang Merah itu menyeberangi Laut Kaspia menuju semenanjung Apsjeron di mana Baku yaitu ibu kota Azerbaijan Soviet terletak.

Sewaktu perjalanannya ke kota Baku, Presiden Sukarno melihat tempat-tempat pengeboran minyak tanah. Pemerintahan setempat memperkenalkan diri dengan cara-cara baru bagaimana mereka memproduksi minyak tanah yang digunakan di Azerbaijan. Di paerik penyaringan minyak tanah Baku tamu agung disambung oleh kaum buruh dan ahli dari pabrik itu. Mereka minta Presiden Sukarno menyampaikan pengharapan mereka yang sebaik-baiknya kepada rakyat Indonesia.

Dalam pidato jawabannya Presiden Sukarno mengatakan bahwa di Indonesia juga ada banyak buruh minyak tanah. Mereka bekerja di Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Juga di Jawa Timur, di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Tak lupa Bung Karno pun berjanji menyampaikan salam persaudaraan dari kaum buruh minyak tanah Baku kepada mereka.

Sesudah Azerbaijan rombongan Presiden Sukarno mengunjungi Sukhumi, ibu kota Republik Otonom Abkhazia (suatu bagian daripada Georgia Soviet). Di pelabuhan Sukhumi mereka naik kapal penjelajah “Mikhail Kutuzov”. Bersamaan dengan itu bendera standar Presiden RI dikibarkan di atasnya. Kapal penjelajah itu dengan diiringi oleh dua kapal pelempar ranjau eskador berjajar di sepanjang pantai Laut Hitam Kaukasus menu Sotji yaitu suatu kota pesanggrahan.

Pada waktu itu di Sotji seperti juga di daerah-daerah lain di bagian Selatan dari UR2SS yang dikunjungi oleh tamu-tamu maka hawanya kebetulan sangat baik. Tanam-tanaman serta alam dari daerah subtropis Soviet itu memperkenangkan tamu-tamu tentang tanah air mereka – Indonesia. Para tamu mengunjungi beberapa sanatorium tempat beristirahat buruh batubara dan buruh perusahaan pembikinan kapal.

Dalam pidatonya di muka rapat raksas yang diadakan khusus untuk menyambut tamu-tamu Indonesia Presiden Sukarno mengatakan:

“Kalau bendera-bendera semua negeri yang progresif akan berkibaran bersama, dan semua negeri itu akan bekerjasama, pasti imperialisme dan kolonialisme itu jatuh dan semua bangsa di dunia dapat kemungkinan untuk penghidupan yang sejahtera dan bahagia.” (roso daras)

Pidato Bung Karno di Pakhtakor

Pidato Bung Karno di Tasjkent

Dari kota Swerdlovsk yang hawanya sejuk, tamu-tamu Indonesia melanjutkan perjalanan ke kota Tashkent. Pada tanggal 4 September 1956, di ibukota Uzbektistan itu belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa musim rontok yang sejuk itu sudah dekat. Matahari yang panas menyinari seluruh kota Tashkent yang penduduknya keluar dari rumahnya masing-masing untk menyambut Presiden Sukarno dan rombongan.

Bunga mawar, karangan bunga yang indah jatuh ibarat hujan di atas mobil Presiden yang maju perlahan-lahan di sepanjang jalanan utama kota Tashkent. Lagu-lagu bangsa Uzbek dimainkan, pekikan-pekikan menyambut Bung Karno terdengar di mana-mana: “Salam Bung Karno!”, “Merdeka”, “Hidup persahabatan Soviet-Indonesia!”.

Sungguh, sebuah pemandangan yang menyisakan kekayaan batin. Sebuah kejadian yang menyisakan gurat rasa bangga di dada. Rasa persahabatan yang dalam antarkedua bangsa itu, menemani rongga dada Bung Karno dan rombongan, dan mengantar mereka ke peraduan malam hari itu.

Keesokan harinya, Presiden Sukarno beserta rombongan mengunjungi salah satu kota industri dari Uzbekistan yaitu kota Chircik. Bung Karno menyaksikan dari dekat pabrik listrik-kimia Chircik. Puas mendapat penjelasan dari kepala pabrik, Bung Karno dan rombongan melanjutkan kunjungan hari itu ke perusahaan pertanian penanaman kapas “Kzil Uzbeksitan” yang terkenal di Republik Uzbekistan itu.

Sekadar mengingatkan sidang pembaca yang mulia, ketika itu (1956), Uzbekistan belum lagi menjadi sebuah negara merdeka. Ia masih menjadi bagian dari Uni Soviet.

Nah, di Uzbek, Bung Karno pun didaulat menghadiri rapat akbar di stadion “Pakhtakor”. Yang istimewa adalah, rapat raksasa itu diadakan spesial untuk menyambut tamu agung dari Indonesia yang dinilai oleh masyarakat Tashkent sebagai peristiwa besar. Sebanyak 75 ribu orang mendengarkan pidato Presiden Sukarno, sebanyak 55 ribu duduk tertib di bangku stadion, sisanya berjubel di tengah lapangan. Kepada kaum muslimin yang hadir di rapat itu, Presiden menyampaikan salam secara Islam: Assalamu’alaikum!

Stadion Pakhtakor adalah stadion termegah di Tashkent, Uzbekistan. Yang menarik adalah, stadion ini dibangun tahun 1954 oleh rakyat Uzbek sendiri. Rakyat Uzbek bergotong royong membangun konstruksi stadion tanpa imbalan, tanpa upah selama dua tahun, dan selesai pada 1956.

Setelah selesai, segera penduduk Tashkend membentuk klub sepakbola yang juga diberi nama Pakhtakor yang berarti “pemetik kapas”. Ini mengenangkan bahwa masyarakat Tashkent mayoritas menggantungkan hidup dari kapas. Dalam sejarahnya, stadion Pakhtakor tempat Bung Karno berpidato pada tahun 1956, mengalami renovasi menyeluruh pada tahun 1996.

Stadion ini diresmikan pada 20 Agustus 1956. Bung Karno berpidato pada 5 September 1956. Patut diduga, Bung Karno-lah yang pertama kali memanfaatkan stadion itu. Sebab, dari catatan sejarah yang ada, pertandingan sepakbola (internasional) pertama yang dipertandingkan di stadion Pakhtakor adalah tanggal 19 September 1956, yang mempertemukan kesebelasan Pakhtakor melawan Dinamo (Albania) yang berakhir dengan kemenangan Pakhtakor.

Di stadion Pakhtakor pula, di hadapan puluhan ribu massa itu, Presiden Sukarno berkata bahwa kota Tashkent banyak persamaannya dengan kota-kota di Indonesia. “Udara di sini seperti di Indonesia, langitnya terang seperti di Indonesia, hawa di sini panas seperti di Indonesia, tanamannya seperti di Indonesia. Tetapi yang paling penting ialah bahwa rakyat saudara-saudara juga seperti rakyat Indonesia,” demikian Presiden Sukarno.

Pesan Bung Karno berikutnya adalah, “Segala manusia yang apa saja warna kulitnya, hendaknya bekerja sama untuk perdamaian dunia.” (roso daras)

stadion pakhtakor

Swerdlovsk, di Antara Besi Baja dan Anak-anak yang Bahagia

Swerdlovsk2

Laporan berikutnya, mengabarkan Bung Karno sudah tiba di Kota Swerdlovsk. Salah satu pusat industry paling besar di Uni Soviet. Bung Karno dan rombongan mengunjungi pabrik Uralmasj Sergo Ordjonikidze di mana dibikin mesin-mesin berat.

Pabrik raksasa itu membikin peralatan bagi industri logam dan pertambangan untuk seluruh negeri Soviet dan juga untuk diekspor. Pabrik itu adalah lambang berkembangnya industri ural, atau salah satu basis industri biji besi di negara itu. Apalagi kalau diingat bahwa sejarahnya, kurang lebih seperempat abad yang lalu, hanya hutan dan rawa saja yang terdapat di situ.

Di Pabrik Uralmasj terdapat mesin-mesin besar, serta dapur yang melelehkan baja yang menyala-nyala. Bising palu uap yang mengetok-ngetok memberikan kesan yang tidak bisa dilupakan. Tamu-tamu berhenti melihat mesin penekan (press) yang besar yang kekuatan tekanannya sampai 10.000 ton. Mesin itu mengolah potongan logam yang 160 ton beratnya. Presiden Sukarno bercakap-cakap dengan seorang buruh yang terkemuka di pabrik itu, bernama Yakov Lipin.

Uralmasj Sergo Ordjonikidze“Kalau perlu buat Indonesia,” demikian Yakov Lipin, “sudilah kiranya kirim buruh Indonesia ke pabrik kami ini. Kami sedia menyampaikan kami punya pengalaman kepada mereka”. Bung Karno tersenyum dan membalas tawaran baik Lipin, “Baik, kalau mungkin nanti kami kirim.”

Rombongan Presiden diantar antara lain oleh seorang tukang palu yang terkenal Timofei Oleinik yang memberi penjelasan-penjelasan. Di salah satu tempat dia mengatakan, “Di bagian pabrik yang kami lewat ini dibikin peralatan bagi mesin walz yang dipesan oleh India”.

Setelah cukup meninjau pabrik peleburan besi terbesar itu, Bung Karno dan rombongan pun berpamitan. Tak disangka, baru saja tamu-tamu meninggalkan lokasi pabrik “Uralmasj” tampak beribu-ribu penduduk dari kampung buruh “Uralmasj” berkumpul di Lapangan “Plan Lima Tahunan Pertama”, yang letaknya di muka pabrik “Uralmasj”. Mereka pun mendaulat Bung Karno untuk berpidato.

SwerdlovskDalam pidatonya di rapat raksasa itu Presiden Sukarno mengatakan antara lain: “Di dalam Uralmasj ini saya melihat mesin-mesin, melihat alat-alat, melihat segala macam mesin-mesin yang diperlukan untuk industri. Mesin-mesin seperti itu pernah dipergunakan oleh bangsa lain untuk menindas rakyat kita, menghisap kita. Itu terjadi karena stelsel, sistemnya masyarakat di negeri yang menjajah kami itu adalah salah. Tetapi mesin-mesin yang ada di ‘Uralmasj’ bukan untuk menghisap manusia, bukan untuk menindas bangsa-bangsa lain. Mesin-mesin itu diperuntukkan buat membawa kesejahteraan dan kemakmuran untuk segala bangsa di Uni Soviet dan bahkan untuk menyumbang kepada kemakmuran dan kesejahteraan bangsa-bangsa lain.”

Di Swerdlovsk tamu-tamu melihat museum geologi di mana distelongkan beribu-ribu macam batu yang terdapat di dalam bumi Ural yang kaya itu. Secara meriah utusan-utusan Indonesia disambut oleh pelajar-pelajar sekolah di Istana Pionir Swerdlovsk. Sesudah melihat kamar-kamar yang terang dan besar di mana terdapat segala apa saja untuk mengembangkan bakat angkatan muda Soviet, maka Presiden Sukarno mengatakan, “Anak-anak berbahagia di sini”.

Dalam buku kesan, Presiden Sukarno menulis bahwa beliau ingin membangun istana-istana seperti di Swerdlovsk itu bagi anak-anak di Indonesia. Kesan itu ditandatangani Bung Karno. Tak lupa, murid-murid sekolah Soviet minta sampaikan salamnya yang hangat kepada anak-anak di Indonesia. (roso daras)

Di Petrodvorets, Bung Karno Terkenang Revolusi Rusia 1917

petrodvorets-10

Sebelum banyak terselip oleh postingan yang lain, ibarat mister Tukul berkata, “kembali ke laaaap…toppp!!!” maka kita kembali ke kisah kunjungan Presiden Sukarno (dan rombongan) ke Moskow, Uni Soviet, tahun 1956. Ya, kunjungan Bung Karno antara tanggal 28 Agustus – 12 September 1956 itu menjadi kunjungan yang sangat membekas bagi kedua bangsa ketika itu.

Perjalanan berkeliling negara yang sangat besar itu, baru dimulai tanggal 31 Agustus malam waktu utusan-utusan Indonesia berangkat dari Moskow ke Leningrad dengan naik kereta api. Pada kisah terdahulu, tergambar betapa besar pengaruh Bung Karno di negara itu. Bahkan dalam rapat akbar, puluhan ribu rakyat memadati stadion tempat acara itu digelar. Dengan pidato yang berapi-api, tak lupa, Bung Karno membakar semangat massa dengan mengajak meneriakkan pekik ‘MER-DE-KA”. Lima kali bilangannya.

Tamu-tamu Indonesia tinggal di Leningrad selama dua hari. Tempat lain yang dikunjungi adalah pabrik pembuat alat-alat turbin air dan uap untuk pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Berikutnya, mengunjungi museum Ermitas yang kesohor, di mana diperlihatkan budaya adiluhung, tidak saja budaya Soviet, tetapi juga dari manca negara.

Museum itu terletak di bangunan tua yang disebut Petrodvorets. Bangunan yang dibangun tahun 1711 oleh Peter Agung atau Pyotr Alexeyevich (1672 – 1725), yang terkenal. Bangunan yang berada di kota St Petersburg itu, sangat megah dan indah, dengan pancaran airnya yang terletak di Park Bawahan.

“Di sini sejarahlah yang nampak di mana-mana,” demikian utusan-utusan bangsa Indonesia berkata waktu melewati jalanan-jalanan Leningrad yang datar dan indah. Rombongan Bung Karno terkagum melihat kompleks gedung-gedung di Leningrad yang dari sudut seni bangunanya tiada bandingannya. Nama St Petersbug dan Leningrad, ada sejarahnya sendiri. Dua nama ini sejatinya menunjuk lokasi yang sama. Awalnya disebut St Petersbug, kali lain diganti menjadi Leningrad, dan kembali lagi ke St Petersbug. Biasa… romantika sejarah.

Di St Petersbug atau Leningrad, Bung Karno dan rombongan melihat jalanan Nowski, Lapangan Senat, Sungai Newa, dan lain-lain. Yang tak kalah mengesankan adalah kunjungan ke Smolni yaitu pusatnya Revolusi Oktober tahun 1917.

Revolusi Rusia pada tahun 1917 dipicu oleh kombinasi keruntuhan ekonomi, persang saudara, dan ketidak-puasan terhadap sistem pemerintahan otokratis. Bersatunya kaum liberal dan moderat sosialis, berhasil merebut kekuasaan dari dominasi kekaisaran pada revolusi yang pertama, Februari 1917. Akan tetapi tidak lama, terjadi perebutan kekuasaan oleh komunis Bolshevik pada 25 Oktober 1917. Dukungan kaum buruh makin memudahkan kaum komunis Bolshevik menggulingkan Tsar dan mengakhiri sistem monarki yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Revolusi Rusia 1917, juga bisa disebut sebagai tonggak berdirinya Uni Soviet.

revolusi bolshevik

Karena itulah, Bung Karno tidak henti-henti menyebut kota St Petersbug atau Leningrad sebagai kota yang sangat bersejarah. Tidak heran jika Bung Karno dan rombongan relatif lebih lama tinggal di kota ini dibanding kota-kota lain yang dikunjunginya. Di kota itu, tepatnya di stadion S.M. Kirov tamu-tamu dengan penuh perhatian menonton pertandingan sepakbola antara kesebelasan Leningrad dan kesebelasan Indonesia.

Dalam perjalanan lanjutan berkeliling Soviet, maka pada tanggal 2 September 1956 utusan-utusan dari Indonesia sampai di salah satu kota yang letaknya lebih dari 2.000 km sebelah timur dari Leningrad yaitu kota Swerdlovsk. Ada apa di sana? (roso daras)

Prabowo atau Jokowi?

capres-cawapres

Pertanyaan “seksi”, “Bagaimana menurut Bung Roso, Prabowo atau Jokowi?” Sungguh, pertanyaan itu bertubi-tubi ditujukan ke saya, baik melalui kontak BBM, sms, FB, telepon, bahkan saat bertemu-muka. Atas itu semua, pada 22 April 2014, saya menulis di akun FB begini: “Saudara-saudara… bersama ini saya tegaskan, sebagai manusia yang sedang dan terus belajar menjadi Sukarnois, saya bukan dan tidak identik dengan PDIP dan segala turunannya. Saya tidak berada di parpol apa pun! Tidak berada di kubu tim sukses siapa pun. Sukarno itu bapak bangsa. Milik semua rakyat Indonesia. Terima kasih.”

Mestinya cukup jelas bukan? Entah mengapa, masih juga banyak kawan yang menyeret-nyeret saya untuk mendukung salah satu kandidat capres. Dalam skala yang paling kecil, ya itu tadi, sekadar bertanya, tentang siapa calon presiden pilihan saya. Tentu saja saya masih berusaha konsisten untuk tidak terjebak pada politik praktis.

Meski begitu, bukan berarti saya berbeda dengan Anda, sidang pembaca blog yang mulia. Bahwa saya, seperti halnya Anda, juga memiliki pemikiran terhadap Prabowo dan Jokowi. Pemikiran saya bisa sama persis, bisa mirip, bisa berbeda, bahkan bisa bertentangan sama sekali dengan pemikiran Anda. Akan tetapi, bukankah perbedaan adalah rahmat?

Tetapi meruncingkan perbedaan, bukan ide yang baik, terlebih saat ini, saat bangsa sedang dalam tensi tinggi jelang Pilpres. Akibat sistem demokrasi liberal hasil amandemen UUD 1945, kita menjadi bangsa yang terjebak pada politik ugal-ugalan. Mencermati “perang-opini” yang ada di sosial-media, terkadang saya miris. Mengapa hanya untuk mendukung salah satu Capres (yang ironisnya, capres itu tidak kenal dengan orang-orang itu), harus tega mengeluarkan kata-kata kasar. Sadis, menurut saya.

Gelar Pilpres akan selesai (diperkirakan satu putaran) pada 9 Juli 2014. Ya, tidak lama lagi. Setelah itu, suka atau tidak suka, salah satu di antara Prabowo dan Jokowi akan menjadi Presiden RI ke-7. Kemudian, kita akan “menikmati” kepemimpinan satu di antara mereka. Puaskah? Ada yang puas dan ada yang tidak. Sama seperti para pemilih SBY yang kemudian tidak puas dengan kinerja SBY. Di sisi  lain, tentu saja ada yang puas dengan kepemimpinan SBY.

Pada 21 September 2012, saya menulis di blog ini, Bung Karno: Jangan Jadi Salon Politisi. Isinya, menyitir Bung Karno (seperi biasa), dan menyandingkan dengan pendapat saya tentang kemenangan Jokowi atas Fauzi Bowo dalam Pilkada DKI Jakarta. Tulisan itu, dengan sadar saya posting setelah Jokowi menang, dan tinggal menunggu tanggal pelantikan. Artinya, dengan sadar pula saya membuat tulisan itu tidak akan mempengaruhi hasil Pilkada DKI.

Apa yang terjadi? Pasukan pembela Jokowi memberondong saya dengan komentar-komentar yang beraneka ragam. Dari yang nyinyir sampai sumpah serapah. Saya toh harus menggumam, “Indahnya perbedaan”… sambil tersenyum kecut, meratapi segelintir anak negeri yang kurang cerdas.

Sama seperti momen Pilpres ini. Tanpa diseret, tanpa ditanya, saya pun akan membuat tulisan tentang Prabowo atau Jokowi dari perspektif saya, dengan cantelan Bung Karno, tentunya. Ya, supaya jelas koridornya, saya harus membingkai dengan Bung Karno. Tetapi bukan sekarang. Bukan hari ini, dan bukan besok. Tapi SETELAH tanggal 9 Juli. Mengapa? Ya, karena saya tidak ingin, apa pun tulisan saya tentang Prabowo atau Jokowi, mempengaruhi opini publik, dan diangggap saya berkampanye untuk kepentingan salah satu di antara keduanya.

Alhasil, sedikit saja imbauan saya buat sidang pembaca blog yang mulia…. Jaga kerukunan bangsa. Jaga persatuan nasional. Berkata menyakiti, kadang dengan mudah akan dimaafkan (pada akhirnya), tetapi bekas itu tidak akan segera hilang. Luka-luka bekas pertikaian sesama anak negeri, sesungguhnya suatu bentuk penggerogotan atas jiwa dan semangat gotong-royong kita sebagai bangsa. Bangsa besar bernama Indonesia. (roso daras)

Published in: on 8 Juni 2014 at 04:29  Comments (7)  
Tags: , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 350 pengikut lainnya.