Bung Karno Sang Pertapa

Bung Karno sang pertapa? Hendaknya jangan dilihat sebagai sosok begawan, pendeta, atau kaum pertapa zaman Majapahit. Jika kita mendengar legenda, ephos, atau bahkan mitos tentang kakek-moyang kita, istilah “bertapa” sangatlah lazim. Sebuah kegiatan meditasi di tempat nun sunyi. Bayangan kita terlempar pada sesosok manusia duduk bersila di bawah pohon raksasa, dengan rambut menjuntai, duduk terpekur mata terpejam berhari-hari, berpuluh-puluh hari, bahkan berbulan-bulan….

Ihwal aktivitas bertapa, sempat menggelitik tanya, “Bagaimana mungkin manusia bisa tetap hidup tanpa makan-minum berhari-hari?” Saya pribadi baru menemukan jawabnya setelah mengikuti kelas “meditasi usada” Merta Ada sekitar selusin tahun yang lalu. Memang agak susah dicerna awam, terlebih bagi yang belum pernah mengikuti kelas meditasi.

Saat manusia bermeditasi, aktivitas ragawi mati total. Semua fungsi diambil-alih oleh “kesadaran”, buah konsentrasi penuh yang menggumpal menjadi sebuah kekuatan nyata di luar kemampuan fisik. Stop dulu!!! Saya berpikir, kalimat barusan sangat sulit dicerna. Hingga di sini, saya sempat break menarikan jari-jemari di tuts laptop. Mencoba mencari bahasa yang mudah dicerna, untuk menjelaskan bagaimana proses “moksa”, proses melepaskan kesadaran dari raga.

OK. Baiklah. Saya memutuskan untuk tidak memperpanjang penjelasan tentang proses bertapa, bermeditasi. Point yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa di saat meditasi, raga memang tidak membutuhkan asupan nasi atau air. Partikel-partikel yang terkandung di dalam udara (oksigen), sangat kaya. Ia masuk melalui pori-pori dalam kulit, terserap ke sel-sel darah, dan mengalir menjadi energi.

Kapan terakhir kali Anda melihat butiran embun di dedaunan? Tanpa hujan, butiran embun tercipta, mewujud menjadi air dengan segala khasiatnya. Bersamaan terbitnya sang surya, embun pun menguap (atau terserap daun?). Itu ilustrasi kongkrit, betapa tubuh seorang pertapa, juga mendapatkan embun yang merausk ke raganya, dan menjadikan energi yang dibutuhkan bagi proses metabolisme tubuh, sehingga tahan tidak makan, tidak minum berhari-hari, berpuluh-puluh hari….

Sukarno adalah salah satu “kakek-moyang” bagi kita di generasi kini. Tentu menjadi tidak aneh jika dia melakukan meditasi, bertapa di tempat-tempat sunyi. Ihwal aktivitasnya ini, suatu hari Bung Karno pernah mengatakan, bahwa yang dia lakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik. Sama sekali bukan aktivitas mistik. “Itu (meditasi) adalah bagian dari kehidupan manusia yang ranahnya ada di dalam hati. Yang tentu saj tidak terpisahkan dari kehidupan dan akal yang ada.”

Bertapa, bermeditasi, adalah olah batin, olah rasa, olah hati. Aa Gym menggatakan “manajemen qolbu”. Di luar kepercayaan atau stigma yang mendampingkan aktivitas bertapa dengan mencari kekuatan supranatural, maka bisa ditegaskan di sini, bahwa satu hal pasti, dengan bermeditasi, maka jiwa, hati, perasaan seseorang jauh lebih tertata. Wujudnya bisa menjadi maha bijaksana, pandai mengendalikan emosi atau perasaan.

Sang pertapa, akan memiliki kemampuan me-manage sebuah perisitwa buruk dalam satu genggaman. Di sana ada menyatu antara peristiwa buruk, sebab-akibat perisitwa itu terjadi, dampak dari peristiwa buruk yang mungkin terjadi, serta solusi atau kebijakan yang harus diambil. Nah, keseluruhan tadi, tertangkap dalam kesadaran seketika.

Contoh mudah… saat kita mengendari sepeda motor atau mobil. Tiba-tiba terjadi insiden (entah menabrak, entah ditabrak), nah bersamaan dengan terjadinya perisitiwa tadi, muncul kesadaran, bahwa yang baru saja terjadi adalah sebuah kecelakaan. Kita tidak menghendaki, si korban atau pelaku juga tidak menghendaki. Menyikapi dengan emosi, marah, kecewa, cemas, sama sekali bukan jalan keluar. Sebaliknya, jika kita menabrak, kita harus minta maaf dan bertanggung jawab. Jika kita yang ditabrak, sebaik-baiknya sikap adalah memaafkannya. Dan… berlalulah. Sebab, marah-marah tidak akan memperbaiki kerusakan, sebaliknya justru bikin lalu lintas tambah macet, lebih-lebih jika sampai berkelahi, maka kita bisa mencelakai orang lain, atau kita yang celaka. Jadi, so simple bukan? Itulah sebagian kecil dari cara berpikir alumni kelas meditasi… (ehemmm)….

Dalam konteks dahulu kala, orang bermeditasi di tengah hutan, jauh dari keramaian. Dalam konteks kekinian, masih ada yang melakukannya di tengah hutan, di tepi sungai jauh dari keramaian, tetapi ada juga yang dilakukan di kelas-kelas ber-AC, di dalam tempat peribadatan (misalnya berdzikir di masjid), dan aneka cara lain. Tetapi esensinya adalah “olah batin”, manajemen qolbu.

Jadi, mari kita bertapa…. (roso daras)

 

 

 

Diterbitkan di: on 26 Januari 2012 at 16:59  Komentar (2)  
Tags: , , ,

Villa, Buku, dan Tulang Berserakan

Haji Achmad Notosoetardjo, sering ditulis singkat HA Notosoetardjo, adalah seorang penulis, sejarawan, dan tentu saja Sukarnois (ehemm…). Namanya tidak sebesar Adam Malik atau Sayuti Melik atau Jusuf Ronodipuro atau BM Diah… tetapi sesungguhnya Notosoetardjo adalah satu nama yang patut dikenal dan dikenang.

Ada banyak karya buku yang dia tulis, tetapi sayangnya, saya hanya punya satu saja karya dia: “Bung Karno dihadapan Pengadilan Kolonial”. Ini buku yang cukup lengkap memuat proses persidangan Landraad, dan kemudian dikenal dengan “Indonesia Menggugat”. Itulah pengadilan kolonial Belanda kepada empat sekawan aktivis PNI: Bung Karno, Gatot Mangkupraja, Maskoen Soemadiredja, dan Supriadinata.

Tanya jawab antara Bung Karno dan pesakitan lain dengan Hakim Pengadilan Mr Siegenbeek van Heukelom dituang runtut pada setiap persidangan. Termasuk, tentu saja, memuat pledoi (pembelaan) Bung Karno yang terkenal itu (Indonesia Menggugat). Persidangan ini bukan saja menggemparkan kaum Republiken, tetapi juga bergema sampai ke Den Haag. Pusat pemerintahan Belanda menaruh perhatian khusus. Kaum oposisi di Belanda sana, mengangkat kasus ini besar-besar sebagai kritik atas kegagalan pemerintah Belanda mengendalikan salah satu negara koloninya, Hindia Belanda.

Guna menyusun buku ini, Notosoetardjo tampak betul telah mendedikasikan dirinya penuh guna terhimpunnya bahan-bahan yang relevan. Bahkan dalam kata pengantar, Notosoetardjo sedikit “curhat”, bahwa untuk keperluan penyusunan buku, penghimpunan data, ia harus berkorban tidak hanya pikiran, tenaga, dan waktu, tetapi juga dana. Bahkan ia mengilustrasikan, jika mau, dana yang dikeluarkannya cukup untuk membangun sebuah villa di Puncak, untuk beristirahat bersama keluarga.

Apa yang dilakukan Notosoetadjo? Ia konsisten dengan pekerjaan menyusun buku. Terlebih ketika ia sudah bertemu satu per satu pelaku sejarah yang ia tulis. Dari Maskoen misalnya, ia mendapat wejangan yang membuatnya bersemangat. Begini kalimat Maskoen saat bertemu dengannya:

“Penangkapan-penangkapan, hukuman penjara, hukum gantung-tembak sampai mati, pembuangan dan lain-lain siksaan yang dilakukan oleh si penjajah terhadap kaum pergerakan sudah biasa dan setiap pemimpin pergerakan revolusioner di waktu itu sudah memperhitungkan sebelumnya. Sebab itu penjara dan penderitaan-penderitaan merupakan batu ujian terhadap iman dan watak para pemimpin. Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia banyak berlumuran darah dan air mata, menimbulkan kesengsaraan dan malapetaka. Sebab itu ia melahirkan Amanat Penderitaan Rakyat, suatu Amanat yang ditaati secara patuh oleh patriot-patriot Indonesia yang tulangnya kini berserakan di atas pangkuan Ibu Pertiwi.”

Bahwa sesungguhnya, kemerdekaan yang kita hirup, tak lepas dari tulang-tulang patriot bangsa. Bahwa kebebasan yang kita rasakan, tak lepas dari kekuatan iman dan watak revolusioner para pahlawan kita.

Maka, terkutuklah pejabat dan wakil rakyat yang tidak pernah belajar sejarah! Semoga laknat bagi mereka yang mengemban amanah rakyat tetapi menyalahgunakannya.  (roso daras)

Diterbitkan di: on 24 Januari 2012 at 03:24  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

… there is no journey’s end

Ada yang menyebut character and nation building… ada yang mengucap nation and character building. Salah satu dari sekian banyak ajaran Sukarno yang cukup penting. Jika kita membaca sejarah ataupun mendengarkan kisah heroik masa lalu, kebanggaan berbangsa dan bernegara pada masa lalu, maka bisa dikatakan, itulah buah dari pembangunan karakter dan mental kebangsaan oleh Presiden Sukarno.

Dalam berbagai kesempatan, baik saat memberi wejangan, pidato, ataupun obrolan ringan bersama para ajudan, Bung Karno sering menyelipkan muatan-muatan pembangunan karakter bangsa. Ia menjadi begitu penting, karena di mata Sukarno, sebuah bangsa yang telah dijajah 3,5 abad (lebih) lamanya, tentunya meninggalkan banyak sekali kerusakan.

Yang nyata adalah, kerusakan mental. Mental bangsa terjajah yang terbiasa menjadi budak. Jika tidak dibangkitkan mental dan karakter kebangsaan Indonesia, maka kita akan tetap menjadi bangsa budak di antara bangsa-bangsa di dunia. Sukarno tampil tanpa lelah ke seluruh pelosok negeri. Membakar jiwa rakyatnya.

Membakar dan membunuh mental budak di setiap jiwa dan otak bangsanya. Ia berorasi… ia mengajak bernyanyi… ia mendongeng ephos Mahabharata… ia berbagi mimpi tentang kejayaan Indonesia… ia menggandeng lengan rakyatnya untuk bangkit, menyingsingkan lengan-baju, bekerja keras bangkit dari keterpurukan bangsa terjajah, menjadi bangsa yang bermartabat dan disegani dunia.

Kerusakan material, mental, dan moral rakyat Indonesia akibat 3,5 abad dijajah Belanda, dan 3,5 tahun dijajah Jepang, adalah “musuh” terbesar Bung Karno saat didaulat bangsa ini menjadi Presiden pertama Republik Indonesia. Ia tahu benar, membangun karakter kebangsaan, bukan perkara mudah dan butuh seribu langkah.

Singkat kelimat, lihatlah sejarah. Tengok periode 1945 – 1965. Dalam berbagai pasang surut kehidupan politik, sosial, ekonomi negara yang baru merdeka, Bung Karno melesat bak mercu suar, menjadi ikon dunia, menjadi pahlawan bangsa-bangsa Asia – Afrika. Pemimpin negara mana yang tidak respek kepada Bung Karno? Negara mana yang berani “macam-macam” kepada Bung Karno dan Indonesianya? Ia hadapi pemimpin-pemimpin negara adi-kuasa (waktu itu Amerika Serikat dan Uni Soviet) benar-benar dengan posisi berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, bangsa yang tadinya bernama Hindia Belanda, terjajah, bermental budak, kini bangkit menjadi sebuah bangsa besar. Ditambah kharisma Presiden yang begitu cerdas, ditunjang kemampuan berorasi yang menggelegar, menghipnotis sidang PBB, sidang Asia-Afrika, sidang negara-negara Islam, hingga rapat-rapat akbar di seluruh pelosok negeri.

Di Amerika, nama Sukarno berkibar-kibar. Baik dari perspektif buruk maupun baik. Bahkan (menyimpang cerita), manta presiden Clinton pun (saat ia kecil) pernah terinspirasi oleh sosok Sukarno. Di Soviet dan di Cina ia dielu-elukan sebagai orang besar. India begitu memuja. Pakistan, Mesir, Arab Saudi, … sampai-sampai di Italia, sekelompok sopir menyambut Bung Karno dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.

… serasa takkan habis bertutur tentang kejayaan Sukarno dan kisah suksesnya membangun karkter kebangsaan Indonesia. Membangun mental rakyat jajahan, menjadi rakyat yang begitu bermartabat. Cinta Indonesia, dan tak gentar menghadapi negara mana pun. Itu karena presidennya. Ingat kata-kata Bung Karno saat berseteru dengan dunia Barat?  “Inggris kita linggis… Amerika kita setrika!!!”

Presiden dengan sederet mukjizat lepas dari sederet usaha percobaan pembunuhan, baik dari ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, yang semuanya didalangi negara-negara adi kuasa yang tak suka dengan Sukarno. Apakah itu mengendurkan dan menyurutkan Sukarno? Sama sekali tidak. “Hidup mati ada di tangan Tuhan,” ujarnya enteng, menanggapi usaha-usaha pembunuhan terhadap dirinya.

Pertanyaannya adalah, “ke mana karakter kebangsaan kita yang dulu begitu heroik, cinta tanah air, dan bersatu untuk maju?” Sejatinya sudah dikubur bersamaan dengan sukses besar CIA bersama sejumlah jenderal kita yang terkutuk, melengserkan dan menistakan Sukarno di akhir kekuasaannya. Mengubur dalam-dalam semua ajaran Bung Karno. Memenjarakan semua orang Sukarno. Dan membelokkan sejarah tentang Sukarno.

Dengan sedih, pasca G-30-S/PKI, Bung Karno pernah berkata, “Bangsa kita mundur 20 tahun….” Itu artinya kembali ke titik proklamasi…. Lantas pondasi apa yang dibangun pasca tahun 1965 sampai hari ini? Liberalisme…. Hasilnya? Utang negara yang membuat bulu roma berdiri…. Pola hidup liberal yang mengikis nilai-nilai ke-Timur-an kita…. Mental bobrok abdi negara (semakin banyak dibentuk lembaga anti korupsi, semakin banyak kasus korupsi baru)…. Silakan dilanjutkan sendiri.

Izinkan saya merenungkan kata-kata Bung Karno, “Revolusi adalah suatu hal yang harus dijalankan dengan aksimu dan idemu sendiri. For a fighting nation there is no journey”s end…”. (roso daras)

Diterbitkan di: on 23 Januari 2012 at 07:21  Komentar (1)  
Tags: , ,

Ki Ageng Suryomentaram

Ada apa dengan Ki Ageng Suryomentaram? Ada Bung Karno di balik sosok Kejawen yang satu ini. Nama Ki Ageng Suryomentaram, melekat begitu dalam bagi siapa pun pengkaji “ilmu kaweruh”, ilmu kejiwaan ala Jawa. Petuah-petuahnya, wejangan-wejangannya sangat berisi. Lahir dari sebuah endapan penjiwaan yang panjang.

Sedikit introduksi, Ki Ageng Suryomentaram adalah sosok darah biru dari kasultanan Yogyakarta. Dia adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Pria yang lahir di Keraton Yogyakarta pada 20 Mei 1892 itu, juga dikenal sebagai paman dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Raja Yogya paling berpengaruh, dan terkenal dengan bukunya, “Tahta untuk Rakyat”.

Sebagai putra raja, maka Ki Ageng Suryomentaram dengan sendirinya merupakan seorang Pangeran. Pewaris tahta kerajaan. Akan tetapi, ia meninggalkan status ke-Pangeran-an, juga meninggalkan kehidupan keraton dan minggir ke wilayah Bringin, Salatiga. Di sana ia hidup sebagai petani. Di kesejukan Salatiga, Ki Ageng Suryomentaram memusatkan seluruh daya dan perhatiannya untuk menyelidki masalah-masalah kejiwaan.

Dalam masa itu, ia menggunakan dirinya sendiri sebagai “kelinci percobaan”. Banyak hasil kontemplasinya yang kemudian dituang dalam bentuk “serat” atau tulisan. Tidak berhenti di situ, Ki Ageng Suryomentaram kemudian memiliki “pengikut”. Bahkan kemudian Ki Ageng Suryomentaram acap melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk memberikan wejangan dalam bentuk ceramah-ceramah, dengan jumlah pengikut yang terus bertambah. Salah satu nama sesi ceramahnya adalah Junggring Salaka Agung (pertemuan besar antara pelajar-pelajar Ilmu Jiwa dari Ki Ageng Suryomentaram).

Beberapa materi ceramah bahkan sudah dibukukan dan diterbitkan oleh Yayasan Idayu. Misalnya serial tentang Mawas Diri, Ilmu Jiwa Kramadangsa, dan Wejangan Pokok Ilmu Bahagia.

Nah, tahukah Anda… Bung Karno termasuk orang yang menggemari pemikiran-pemikiran Ki Ageng Suryomentaram. Keduanya acap melakukan dialog tentang Ilmu Jiwa, Ilmu Mawas Diri dan lain sebagainya. Jika keduanya sudah berbicara, maka semua bentuk protokoler hilang. Ki Ageng Suryomentaram akan menerima Bung Karno dengan sangat santai, berkaos oblong, bersarung… sekalipun Bung Karno (misalnya) datang dengan busana kepresidenan.

Ingin rasanya mengutip tulisan-tulisan Ki Ageng Suryomentaram di blog ini. (roso daras)

Diterbitkan di: on 21 Januari 2012 at 08:39  Komentar (4)  
Tags:

Rakyat, Separuh Nafas Bung Karno

Ada begitu banyak kutipan dan kalimat yang diucap lebih dari sekali oleh Bung Karno. Ya, repetisi. Misal soal humanismenya Gandhi. Misal tentang anti imperialisme dan kolonialisme. Termasuk tentang “rakyat” sebagai separuh nafasnya. Rakyat bagi Bung Karno, ibarat rahim ibu yang telah melahirkannya ke dunia.

Tidak heran jika naluri, instink kerakyatannya begitu tajam. Tidak dalam arti harfiah, tetapi ibarat satu orang rakyatnya tersakiti nun di pedalaman negeri, jeritannya terdengar hingga ke relung hati Sukarno. Sama sekali tidak heran jika body language Sukarno seirama benar dengan genderang kemauan rakyat.

Protokol bisa ia terabas. Penjagaan bisa ia kelabui. Apa pun ia tabrak, jika alasannya adalah untuk “dekat dengan rakyat”. Karena itu, mengalir cerita nyata kebiasaan Sukarno menyelinap di malam buta beserta dua-tiga orang pengawal, berpakaian ala kadarnya, dan membaur di tengah hiruk-pikuk Pasar Senen. Atau kebiasaannya menyelinap keluar, berkaus oblong, bersandal jepit, dan mencegat penjual sate ayam keliling. Memesannya, dan menyantapnya di trotoar jalan.

Dengan kapasitasnya sebagai seorang presiden, seorang kepala negara, ia bisa sewaktu-waktu bertemu rakyatnya. Setidaknya, menyelipkannya di antara kepadatan aktivitas. Seperti peristiwa awal tahun 60-an. Usai menerima kunjungan seorang duta besar, seperti biasa, Bung Karno mengantar hingga ke tangga istana.

Saat Bung Karno melihat sang Duta Besar sempat menghentikan sedetik-dua pandangannya ke arah helikopter yang terparkir, spontan Bung Karno bertanya, “Pernahkah Tuan naik helikopter?” Kebetulan si duta besar menjawab, “Belum.” Sontak, Bung Karno bukannya berbalik masuk kembali ke Istana, melainkan menggandeng lengan duta besar itu ke arah helikopter.

Diajaknya sang dubes naik helikopter. Pilot dan pengawal yang senatiasa sigap dan siaga, tidak perlu waktu lama untuk membuat capung besi itu mengudara. Arah yang dituju adalah Sukabumi. Tidak terlalu jauh dari Ibukota. Pada sebuah lapangan terbuka, pilot diperintahkan untuk mendarat.

Bayangkan. Tahun 60-an, di saat penduduk desa masih gemar mencium sensasi aroma asap knalpot, tiba-tiba kedatangan helikopter. Seketika massa pun berdatangan ke arah lapangan. Dalam waktu sekejap, suasana sudah seperti rapat akbar. Bung Karno pun turun dan menghampiri mereka.

Di tengah kerumunan rakyat, bagi Bung Karno, laksana hidup menjadi lebih hidup lagi. Ia bercengkerama. Berdialog. Bahkan mengajak bernyanyi bersama. Satu jam cukup. Bung Karno pun berpamitan dan kembali ke Istana. Moment tadi, laksana suntikan darah segar bagi Sukarno untuk kembali melakoni hari-harinya yang berat. (roso daras)

Diterbitkan di: on 19 Januari 2012 at 05:05  Komentar (6)  
Tags: , ,

Misteri “Cinta Terakhir” Bung Karno

Belum lama ini beredar sebuah buku tentang “cinta terakhir” Bung Karno, yang tertambat pada seorang wanita muda belia bernama Heldy. Tidak sedikit kemudian yang mengonfirmasi informasi yang ada alam buku itu. Saya jujur menjawab, “Tidak tahu”. Atau jawaban senada lainnya, seperti… “Hanya Bung Karno dan Tuhan yang tahu”.

Bicara Bung Karno dan cinta, yang spontan terlintas di benak adalah sebuah julukan baginya, “Bung Karno, manusia bergelimang cinta”. Dari anak-anak, ia sudah berenang di samudera cinta sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben. Kakeknya, Raden Hardjodikromo tak kalah dalam mencurahkan kasih sayang. Ia bahkan sempat menikmati momong Sukarno kecil di Tulungagung.

Sebagai bocah usia sekolah, teman-temannya pun begitu mencintainya. Bukan saja karena Bung Karno begitu murah hati, tetapi ia juga seorang sahabat sejati bagi kawan-kawannya yang dirundung masalah. Memasuki HBS di Surabaya, adalah masa terindah dalam hidupnya. Di Kota Pahlawan itulah cinta pertama bersemi, cinta buta buat Mien Heissels, seorang noni Belanda. Berturut-turut ia memacari tiga noni Belanda yang lainnya.

Saat bersamaan, ia mulai beranjak nalar dan menenggelamkan diri dalam dunia pergerakan bersama HOS Cokroaminoto. Jalan hidup Bung Karno selanjutnya, adalah karpet cinta. Cinta yang meluap-luap dari segenap rakyat Indonesia yang rindu kebebasan. Rakyat mengelu-elukannya dengan penuh cinta dan harap.

Pasca klimaks perjuangan meraih kemerdekaan… kehidupan pribadinya pun begitu berpelangi cinta. Dari Utari ke Inggit. Dari Inggit ke Fatmawati. Dari Fatma ke Hartini. Dari Hartini ke Ratna Sari Dewi. Dari Ratna ke Hariyatie. Dari Hariyatie ke Yurike. Dari Yurike ke Heldy. Benarkah cinta Bung Karno berakhir di Heldy? Sekali lagi, jawabnya hanya Tuhan dan Bung Karno saja yang tahu.

Sekira sebelum lebaran, seorang kawan yang merupakan sahabat kakak saya, menginformasikan sebuah “cinta terpendam” antara Bung Karno dengan seseorang yang saat ini masih hidup, dan tinggal di bilangan Banyumas, Jawa Tengah. Bukan hanya itu… dalam suatu perjalanan ke Surabaya beberapa tahun lalu, seorang sahabat bahkan mengajak saya menjumpai keluarga dari salah satu “cinta” Sukarno yang terkubur dalam.

Cinta itu, konon bersemi sekilat halilintas, dalam fase jeda sejenak di Surabaya, menanti kedatangan kapal yang akan membawanya ke tempat pembuangan di Ende. Ahhh…. Bicara cinta Bung Karno, bikin pusing. Karenanya, cukuplah saya patrikan julukan baginya, “manusia bergelimang cinta”…. Cinta orang tua dan kerabat, cinta sahabat, cinta rakyat, dan… cinta sejuta wanita…. (roso daras)

Diterbitkan di: on 18 Desember 2011 at 05:48  Komentar (4)  
Tags: , , ,

Kepingan Sejarah di Penjara

Lelaki sepuh itu duduk di antara hiruk-pikuk restoran McDonald, Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Sendiri. Malam merambat naik. Para pengunjung tak menghiraukannya. Tentu saja. Jikapun ada yang menatapnya, tentu hanya sekilas. Hampir dapat dipastikan, tidak satu pun pengunjung restoran McD Sarinah malam itu yang mengetahui, bahwa lelaki gaek bertongkat itu adalah Moh. Achadi, mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora (1964-1966).

Untuk kesekian kalinya, kami memang melakukan janji temu. Seperti biasa, selain bertukar pikiran tentang banyak hal, selalu saja ada hal-hal baru yang ia sampaikan. Sekitar tujuh tahun mengenal Achadi, saya cukup paham, sosok yang satu ini menyimpan begitu banyak kepingan sejarah perjalanan bangsa. Selain dia adalah pelaku aktif pejuang mempertahankan kemerdekaan, mengangkat bedil dan berperang dengan Sekutu, Achadi juga seorang intelektual.

Awalnya saya cukup bingung menentukan titik temu pada malam hari itu. Jakarta diguyur hujan, kemacetan di mana-mana, posisi kami ada pada mata arah yang berbeda. Spontan saya usulkan Sarinah. Alasam pertama, karena gedung itu adalah salah satu “karya” Bung Karno. Harapannya adalah ada semburat nostalgi di benak Achadi. Di samping alasan lain, Sarinah adalah titik tengah. Jam 19.00 adalah jam kesepakatan. Apa yang terjadi?

Pria yang masih aktif melakukan aktivitas yoga itu datang tepat waktu. Bukan main! Tepat jam 19.00 beliau sms dan mengabarkan sudah berada di Sarinah, tepatnya di restoran McDonald. Saya sendiri memperkirakan baru 30 menit kemudian. Seperti yang sudah-sudah, dia pun memaafkan keterlambatan saya. Lengkap dengan segala pemakluman tentang “kekurangdisiplinan” generasi sekarang….

Ketika saya datang, dia sudah menyelesaikan santap malam ala junk-food. Berbasa-basi sejenak, langsung larut dalam diskusi menarik terkait kepingan-kepingan sejarah yang ia rekam selama kurang lebih 12 tahun mendekam di penjara. Sebagai tahanan politik bersama sejumlah orang dekat Bung Karno lainnya, ia mencatat banyak fakta sejarah dari pelaku sejarah langsung, yang sayangnya tidak pernah terungkap di persidangan. Banyak sekali tahanan politik ketika itu, dijebloskan ke tahananbertahun-tahun, belasan tahun, tanpa persidangan.

Beruntung, memori pak Achadi masih sangat kuat. Dan lebih beruntung lagi, masih ada insan sejarah yang berkenan membukukannya. Maka lahirlah buku “Moh. Achadi, Informasi Historis dari Penjara”. Buku ini diterbitkan oleh Mitra Juang Pancasila, dengan kata pengantar Drs. H. Eddi Elison, sahabat senior saya.

Buku ini bagus secara materi. Kalaupun ada yang kurang bagus adalah desain cover dan penjudulan yang kurang eye-catching. Di samping, tata letak halaman dalam yang “seadanya”, ditambah kualitas cetak yang tidak lebih baik dari buku stensilan. (roso daras)

Diterbitkan di: on 15 Desember 2011 at 03:57  Komentar (3)  
Tags: , , ,

Surat dari Sahabat

Kepada semua punggawa timnas U-23, ingatlah: sejarah hanya mengabadikan nama para juara. Maka, bertarunglah, menanglah, dan jadikan namamu abadi!

Yeah, sejarah memang kerap tak adil bagi mereka yang kalah, mereka yang mungkin sudah bertarung sekuatnya dan melawan dengan sebaik-baiknya. Tapi, apa boleh bikin, begitulah tabiat sejarah: ia hanya mencatat para pemenang, hanya mau mengabadikan para juara.

Kadang ada yang berkata kemenangan bukan segalanya. Ada juga yang bilang yang terpenting bermain dengan indah dan bertanding dengan penuh kegembiraan.

Perkataan seperti itu tak sepenuhnya salah. Tapi, Kawan, mungkin kau juga sudah sangat tahu: Indonesia sudah terlalu sering kalah dan akhirnya terbiasa menjadi pecundang. Sedihnya lagi, kekalahan yang datang seringkali bukan jenis “kekalahan yang indah”, tapi kekalahan yang sebenar-benarnya kekalahan: kalah secara hasil, kalah secara permainan, dan tragisnya kadang diselimuti bau gajah yang tak sedap .

Dua puluh tahun sudah Indonesia berada dalam situasi seperti itu, 20 tahun sudah Indonesia tak merasakan pengalaman menjadi juara. Indonesia hanya pernah mengendus bau juaranya saja, tapi tak pernah benar-benar bisa merengkuhnya. Setelah 1991, beberapa kali Indonesia “nyaris” jadi juara, tapi tak lebih dari “nyaris”, hanya “nyaris”. Tidak di SEA Games, tidak di Piala AFF/Tiger. Semua serba “nyaris”.

Karena terbiasa dengan “nyaris”, itu pula yang selalu diulang-ulang dan diceritakan: nyaris mengalahkan Uni Soviet di Olimpiade 1956, nyaris lolos Olimpiade 1976, nyaris juara Piala AFF, dan nyaris-nyaris yang lain. Karena terbiasa dengan “nyaris” itu jugalah kita dilenakan oleh julukan-julukan yang simbolik saja: (pernah jadi) Macan Asia, negara gila bola, dll., dkk.

Karena itulah surat ini ingin berterus terang mengatakannya: Indonesia tak bisa terjerembab lebih lama dan terperosok lebih dalam lagi. Indonesia butuh sebuah pencapaian baru, sebuah tonggak, suatu milestone, yang dibangun oleh tangan dan kaki dari generasi terbaru. Karena kita tak bisa lagi terus menerus mengelap-elap peninggalan lama saat para jiran kita sudah melaju dan memancangkan target-target baru yang lebih jauh.

Apa boleh bikin! Beban itu kali ini memang ada di pundakmu. Ya, beban. Aku harus berterus terang mengatakannya karena tak ingin mengenteng-entengkan hanya sekadar untuk membesarkan hati. Lagi pula, aku juga tak ingin berpura-pura, kami tak ingin berpura-pura: Indonesia ingin gelar juara.

Hanya dengan itulah aku (mungkin juga Indonesia) akan mengingat nama kalian, mengenang sampai lama, sampai jauh di kemudian hari!

Sejarah itu, Kawan, hari ini sudah di depan ujung hidungmu. Hanya tinggal sejengkal lagi jaraknya dari jangkauan kedua tanganmu. Apakah kau sudah bisa mulai mencium baunya? Apakah kau sudah mulai dapat mengendus aromanya?

Kesempatan yang sudah amat dekat ini, peluang untuk diingat dan dikenang ini, mungkin tak akan datang sebanyak dua kali. Generasi berikutnya mungkin akan mendapat kesempatan serupa, tapi tak ada yang bisa menjamin kau akan mendapatkan kesempatan seperti ini sekali lagi. Siapa tahu ini akan jadi kesempatanmu satu-satunya.

Kawan, tentu kau tidak akan sudi menukar momen bersejarah ini dengan apa pun juga, bukan?

Jadi, bertandinglah seakan-akan laga final SEA Games 2011 adalah pertandingan terakhirmu. Menderita dan sekaratlah hanya untuk hari ini saja agar selanjutnya kau bisa menjalani sisa hidupmu sebagai seorang juara!

Bung, ayo, Bung!

===========

*Penulis adalah penyuka sejarah, penikmat sepakbola. Beredar di dunia maya dengan akun Twitter @zenrs

Diterbitkan di: on 21 November 2011 at 05:49  Komentar (8)  
Tags: , , , ,

Garuda di Dada Bangsa

Stadion Gelora Bung Karno bergetar oleh nyanyian “G-A-R-U-D-A…D-I…D-A-D-A-K-U”…. G-A-R-U-D-A…K-E-B-A-N-G-G-A-A-N-K-U….” Malam ini, 21 November 2011, gaung “GARUDA DI DADAKU” akan kembali menggema, bahkan lebih dahsyat, karena inilah partai puncak final cabang sepakbola SEA GAMES XXVI 2011. Terlebih, lawan yang dihadapi adalah Malaysia. Negeri jiran yang dilahirkan “menjadi seteru” bagi Indonesia.

Garuda, lambang negara, kini menjadi ikon penting. Bukan saja menjadi sebutan bagi Timnas U-23 yang sedia melakoni laga final, tetapi juga simbol negara yang begitu diagungkan rakyat Indonesia. Ini adalah sekilas riwayat lambang negara kita.

Lambang ini dibuat oleh Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Sultan Hamid II lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam darahnya mengalir garis Indonesia-Arab. Sebagai putra kerajaan, dia termasuk bumiputera yang mendapat keistimewaan pemerintahan Hindia Belanda, untuk bersekolah.

Jenjang ELS (sekolah dasar-menengah) ditempuhnya di sejumlah kota: Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Selepas ELS, dia melanjutkan ke jenjang HBS juga di Bandung. Kemudian kuliah di THS (sekarang ITB), kampus mana Bung Karno juga menimba ilmu hingga beroleh gelar “tukang insinyur” di sana.

Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Sukarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota.

Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Sukarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Sukarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Sukarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul”. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Sukarno memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak di Hotel Des Indes Jakarta 15 Februari 1950. Penyempurnaan lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul”. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan, atas masukan Presiden Sukarno.

Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini. (roso daras)

Diterbitkan di: on 21 November 2011 at 05:19  Komentar (2)  
Tags: , , ,

“Kerawuhan” Pak Achadi

Mochammad Achadi, akrab disapa pak Achadi, adalah Menteri Transmigrasi dan Koperasi pada Kabinet Dwikora, kabinet era terakhir kepemimpinan Bung Karno (1964-1966). Dia bukan saja seorang Sukarnois, tetapi sebagai pembantu Presiden, ia memiliki banyak kesaksian tentang Putra Sang Fajar. Beruntung, dalam usianya yang sudah menginjak kepala delapan, memorinya masih sangat bagus.

Darinya pula saya banyak mendapat pencerahan, baik tentang sosok Sukarno maupun pemikiran-pemikirannya. Di tengah kepadatan jadwal SEA Games, beberapa hari lalu, beliau “rawuh” ke hotel Sultan. Saya sangat-sangat berterima kasih sekaligus memberi apresiasi yang tinggi. Sebagai sesepuh, pak Achadi ringan-kaki untuk “mengalah”, dan bertemu di hotel Sultan.

Seperti biasa, silaturahmi kemudian menjadi ajang bincang-bincang tentang banyak hal. Saya tidak bisa menyebutnya sebagai diskusi, selain terkesan serius, sejatinya momen silaturahmi dengan beliau lebih banyak saya jadikan sarana mengisi dan me-refresh otak dan batin saya. Baik tentang Sukarnoisme maupun konsepsi kebangsaan.

Sekelumit saja saya kabarkan, bahwa pada perbincangan sore hari yang diwarnai mendung pekat dan derai hujan itu, Achadi menyoal “penjajahan ekonomi” yang masih merajalela di Indonesia. Tak lama kemudian, ia memberi saya sebuah paper 17 halaman yang diberinya judul “Perjuangan Membangun Perekonomian Nasional Demokratis di Indonesia”.

Achadi memang masih rajin menulis. Kajian yang acap digelutinya adalah bidang ekonomi-politik. Ini sesuai dengan disiplin ilmu yang ia dalami ketika kuliah di Inggris tahun 60-an. Achadi sangat prihatin dengan amandemen terhadap UUD 1945, yang baginya mengubah substansi signifikan. Bidang politik, ketatanegaraan dan ekonomi menjadi berantakan. Muaranya adalah kehancuran bangsa dan negara ini sebagai sebuah negara kesatuan.

Negara-negara liberal yang mengacak-acak bangsa dan negara ini, begitu tekun dan telaten menggerogoti sendi-sendi bangsa. Mulai dari pembusukan ideologi Pancasila, dan kemudian mengubah konstitusi kita (UUD 1945). Dari generasi ke generasi, upaya menjauhkan dua landasan hidup berbangsa dan bernegara itu dilakukan dengan begitu sistematis, sehingga anak bangsa tidak menyadarinya.

Butir-butir sila dalam Pancasila, banyak yang tidak lagi hafal. Padahal, menghafal saja belum tentu mengamalkan. Belum lagi jika kita bicara UUD. Generasi ke generasi makin dijauhkan dari komitmen konstitusi. Konstitusi seolah menjadi komoditi birokrat dan politisi. Rakyat? Cukup diberi hiburan liberal yang hingar-bingar, cukup diberi persoalan, cukup diberi suguhan drama politik memuakkan.

Achadi menunjuk pasal 27: Tiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Hmmm… kita tentu menjadi geram melihat angka pengangguran yang terus bertambah, dan sulitnya mencari pekerjaan, sehingga banyak anak bangsa yang mencari penghidupan dan pekerjaan di negara orang.

Achadi juga mengutipkan bunyi pasal 33:

(1) Perekonomian disusun berdasarkan asas kekeluargaan

(2) Cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara

(3) Bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk kepentingan sebesar-besarnya bagi rakyat.

Menyimak bunyi utuh konstitusi di atas, teranglah bagi kita, mengapa bangsa dan negara kita tidak bisa lekas menjadi bangsa besar seperti digagas para pendiri bangsa. Jelas bahwa penyelenggara negara sudah menabrak konstitusi. Perekonomian kita tidak disusun atas dasar kekeluargaan, melainkan atas dasar patron kapitalistik. Cabang-cabang produksi penting, sudah dikuasai asing. BUMN-BUMN dijual. Kekayaan bumi, air tidak lagi dikuasai negara bagi kemakmuran rakyat. Lagi-lagi, investor asing sudah mencengkeram bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya bagi kepentingan mereka. Rakyat kita?

Terakhir, pak Achadi menyuguhkan pasal 34: Fakir miskin dan anak-anak terlantar menjadi tanggung jawab negara.

Ahhh… sesungguhnya, betapa tidak satu pun presiden/kepala negara penerus Bung Karno yang hirau dengan Pancasila dan UUD 1945. Kedua landasan berbangsa-bernegara itu, dipinggirkan, di-tidak-pentingkan, dijadikan barang usang. Kita sedang di bawa ke demokrasi liberal dengan tatanan ekonomi kapitalistis, lengkap dengan segala propagandanya.

Kita harus mencegah!!! Cegahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, cegahlah dengan lisan. Jika itu pun dirasa berat, cegahlah dengan hati. Jaga api nasionalisme kita. (roso daras)

Diterbitkan di: on 16 November 2011 at 05:03  Komentar (3)  
Tags: , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 146 pengikut lainnya.